NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Sore itu, langit mulai berubah warna menjadi jingga saat motor sport Arsen menderu masuk ke halaman rumah. Namun, ada yang berbeda kali ini. Di teras rumah, duduk seorang gadis kecil berumur sekitar lima tahun dengan kuncir dua yang lucu, sedang asyik bermain boneka.

Araluna menyipitkan mata saat turun dari motor. Ia melepaskan helmnya dan menatap bocah itu dengan penuh tanya.

"Itu siapa, Kak? Ponakan lo? Perasaan lo nggak punya kakak selain gue—maksud gue, kakak kandung," tanya Luna sambil merapikan rambutnya.

Arsen mematikan mesin motor, wajah kakunya terlihat sedikit melunak saat melihat bocah itu. "Bukan. Itu Berlian. Adik tiri gue dari suami kedua Mama yang dulu, sebelum Mama ketemu sama Papa Arga. Dia lagi dititipin di sini sebentar karena tantenya yang jaga lagi ada urusan."

Luna melongo. Oh, jadi ini "cabang" keluarga Arsen yang lain. Luna segera menghampiri bocah itu dengan gaya cerianya yang biasa. Ia berjongkok di depan Berlian, menyamakan tinggi badan mereka.

"Hai, adek kecil! Namanya siapa? Aku Araluna, adik kesayangannya Kak Arsen," ucap Luna sambil mengulurkan tangan, sengaja menekankan kata 'kesayangan' agar Arsen yang berdiri di belakangnya mendengar.

Berlian menatap Luna dengan mata bulatnya yang polos, lalu tersenyum malu-malu. "Aku Berlian..."

Misi Rahasia Bersama Berlian

Dalam waktu singkat, Luna dan Berlian sudah terlihat akrab. Jiwa "cegil" Luna ternyata punya sisi keibuan yang cukup asyik kalau diajak bermain. Mereka duduk di karpet ruang tengah, dikelilingi mainan bongkar pasang. Arsen sendiri memilih untuk duduk di meja belajar di pojokan ruangan, mencoba fokus pada tugas kuliahnya yang menumpuk.

"Aduh, kamu lucu banget sih, Berlian! Jangan pulang dulu ya, temenin Kak Luna di sini selamanya," celetuk Luna sambil mencubit gemas pipi Berlian.

Berlian tertawa cekikikan. "Nanti Kak Arsen marah kalau aku nggak pulang."

Luna melirik Arsen yang sedang serius menatap layar laptop. Sebuah ide nakal muncul di kepala "cegil"-nya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Berlian, membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat pelan.

"Berlian... Kakak punya misi rahasia buat kamu. Kamu main di lantai atas dulu ya, di kamar Kak Luna? Di sana banyak boneka beruang gede. Kakak ada urusan 'penting' banget sama Kak Arsen yang nggak boleh diliat anak kecil. Oke?"

Berlian mengangguk antusias. "Oke, Kak Luna!"

Bocah kecil itu langsung berlari menuju tangga dengan riang. Luna memperhatikan sampai Berlian benar-benar menghilang di balik pintu kamar lantai atas. Sekarang, suasana ruang tengah mendadak sepi. Hanya terdengar suara ketikan keyboard dari sudut ruangan.

Luna berdiri, melangkah dengan sangat pelan—hampir tanpa suara—seperti seekor kucing yang sedang mengincar mangsanya. Ia berjalan memutar hingga sampai tepat di belakang kursi kerja Arsen.

Arsen sedang sangat fokus. Dahinya berkerut, kacamata bertengger di hidungnya, benar-benar sosok yang kaku dan serius [cite: 2025-12-26]. Ia tidak menyadari bahwa "bahaya" sedang mengintai tepat di tengkuknya.

Luna mencondongkan tubuhnya ke depan. Bibirnya hanya berjarak beberapa milimeter dari leher belakang Arsen yang terbuka. Kemudian, dengan sengaja, Luna meniup leher itu dengan napas yang hangat dan panjang.

Pfffuuuhhh...

Arsen tersentak hebat. Ia nyaris melompat dari kursinya, tangannya refleks memegang lehernya yang tiba-tiba meremang. Ia menoleh dengan cepat dan mendapati wajah Luna yang sudah nyengir lebar tepat di depan matanya.

"ARALUNA! Lo apa-apaan sih?!" bentak Arsen, suaranya naik satu oktav. Wajah kakunya mendadak memerah sampai ke telinga.

"Kenapa, Kak? Kaget ya? Tegang banget sih ngerjain tugasnya," goda Luna tanpa rasa bersalah. Ia malah semakin berani, menyandarkan kedua tangannya di pundak Arsen, mengunci cowok itu di kursinya.

"Minggir, Lun! Gue lagi fokus, tugas ini harus dikumpul besok pagi!" Arsen mencoba melepaskan tangan Luna, tapi Luna justru memberikan tekanan lebih kuat.

"Fokus ke tugas mulu, kapan fokus ke gue? Lagian Berlian udah gue 'ungsikan' ke atas. Jadi sekarang cuma ada kita berdua," bisik Luna dengan nada yang menggoda, matanya menatap Arsen dengan tatapan "cegil" andalannya yang membuat Arsen salah tingkah.

Arsen mendengus, mencoba kembali menatap layar laptop meski konsentrasinya sudah hancur lebur. "Lo itu bener-bener gila ya. Tadi sok manis depan anak kecil, sekarang malah kumat lagi."

"Gue emang manis, tapi cuma lo yang boleh liat sisi gila gue," balas Luna sambil mencubit pelan telinga Arsen yang masih memerah. "Gimana? Enak nggak ditiup tadi? Mau lagi?"

Arsen memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napasnya yang mendadak tidak beraturan. Sifat kakunya benar-benar diuji habis-habisan oleh kelakuan adik tirinya ini. Ia tahu, kalau ia tidak segera menghentikan Luna, jantungnya bisa meledak saat itu juga.

"Kalau lo nggak berhenti sekarang, gue bakal bilang ke Papa buat pasang kunci gembok di kamar lo dari luar!" ancam Arsen, walau suaranya terdengar tidak bertenaga sama sekali.

Luna tertawa puas, ia akhirnya melepaskan rangkulannya tapi tetap berdiri sangat dekat di samping Arsen. "Ancaman lo basi, Kak. Bilang aja lo deg-degan. Jujur itu baik buat kesehatan loh!"

Malam itu, tugas Arsen yang seharusnya selesai dalam satu jam, akhirnya memakan waktu tiga jam karena gangguan-gangguan kecil dari Araluna yang terus-menerus mencari celah untuk menggoda sang kakak tiri. Bagi Luna, melihat Arsen yang kaku menjadi kikuk adalah hiburan terbaik di dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!