"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Runtuhnya Tahta Sang Raja
Pintu apartemen itu jebol dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Dua pengawal berbadan besar merangsek masuk, namun langkah mereka terhenti seketika saat melihat moncong senjata Arkan sudah mengarah tepat ke arah mereka. Wajah Arkan yang biasanya tenang kini memancarkan aura kematian yang nyata.
"Satu langkah lagi, dan aku tidak akan ragu mengirim kalian ke neraka menyusul dosa-dosa Kakek," geram Arkan.
Kakek Arkan tertawa hambar, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu kering. "Arkan, Arkan... Kamu benar-benar sudah dibutakan oleh gadis rakyat jelata ini. Kamu mau menghancurkan pilar yang menopang hidupmu selama ini? Siapa yang memberimu pendidikan terbaik? Siapa yang menjagamu saat orang tuamu tiada?!"
"Kakek tidak menjaga aku!" Arkan berteriak, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. "Kakek hanya menjaga aset Kakek! Kakek membesarkanku untuk menjadi robot pemuas ambisi Kakek! Dan Kakek membiarkan aku menikahi Lana hanya karena Kakek takut pada bayang-bayang dosa Kakek sendiri!"
Alana mencengkeram lengan Arkan, mencoba menenangkannya. Ia melihat ke arah pintu. Suara sepatu bot polisi yang berderap di lorong semakin dekat. "Kek, mending Kakek duduk manis deh. Daripada nanti encoknya kambuh pas diseret polisi. Kakek bilang aku rakyat jelata? Betul. Dan rakyat jelata inilah yang bakal nganterin Kakek ke hotel prodeo."
"Lana, diam kamu!" bentak Kakek. Pria tua itu menatap Arkan dengan tatapan memohon yang palsu. "Arkan, pikirkan perusahaan. Kalau Kakek ditangkap, saham kita akan hancur! Ribuan karyawan akan kehilangan pekerjaan!"
"Saham bisa dibangun lagi, Kek. Tapi nurani yang mati tidak bisa dihidupkan kembali," jawab Arkan dingin.
Tepat saat itu, pasukan Brimob merangsek masuk ke dalam ruangan. "Angkat tangan! Jangan bergerak!"
Kakek Arkan perlahan mengangkat tangannya yang gemetar. Tongkat mahoninya jatuh ke lantai dengan bunyi brak yang seolah menandai berakhirnya sebuah dinasti. Saat polisi memborgol tangan tuanya, Kakek menatap Alana dengan kebencian yang murni.
"Kamu... kamu akan menyesal sudah masuk ke keluarga ini, Alana," bisiknya tajam.
"Nggak akan, Kek. Penyesalan terbesar aku itu cuma satu: telat tahu kalau Kakek itu penjahatnya. Tapi tenang aja, aku bakal kirimin rendang paling alot ke penjara tiap minggu buat Kakek," balas Alana dengan senyum "julid" andalannya.
Setelah apartemen itu bersih dari polisi dan pengawal, keheningan yang menyakitkan kembali melanda. Arkan duduk di sofa, menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Alana mendekat, ia duduk di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu Arkan.
"Mas... Mas gapapa?" tanya Alana lembut.
Arkan menghela napas panjang, ia menarik Alana ke dalam pelukannya. "Aku merasa seperti baru saja meruntuhkan gunung yang selama ini aku daki, Lana. Ternyata puncaknya tidak seindah yang aku bayangkan."
"Gunungnya emang runtuh, Mas. Tapi sekarang kita bisa bangun rumah di tanah yang rata, tanpa perlu takut ada longsor rahasia lagi," Alana mengusap punggung Arkan. "Mas hebat. Mas milih kebenaran daripada darah."
Arkan menatap mata istrinya. "Aku memilih kamu, Lana. Karena kamu adalah kebenaran satu-satunya dalam hidupku."
Satu bulan berlalu.
Dunia bisnis Indonesia masih dihebohkan dengan skandal "Arkananta Group". Namun, Arkan melakukan langkah berani. Ia menjual sebagian besar aset perusahaan yang kotor, memberikan kompensasi kepada korban-korban penggelapan dana di masa lalu, dan mengubah fokus perusahaan menjadi yayasan sosial yang mandiri.
Alana kini resmi menjadi direktur yayasan panti asuhan yang baru saja dibangun kembali. Ia tidak lagi memakai baju-baju yang membuatnya sesak napas. Hari ini, ia hanya memakai kaos komunitas dan celana jins, sibuk mengatur anak-anak panti yang sedang asyik bermain dengan Mochi.
"Mbak Lana! Mbak Lana! Ada tamu tuh!" teriak salah satu anak panti.
Alana menoleh. Di gerbang panti, Arkan berdiri dengan kemeja santai, membawa beberapa kotak martabak manis. Di sampingnya, Malik—ayah Alana—tersenyum lebar sambil memegang keranjang berisi mainan.
"Wah, pasukan bantuan datang!" seru Alana senang. Ia menghampiri suaminya dan ayahnya.
"Gimana hari ini, Nyonya Besar? Masih sanggup ngadepin anak-anak atau mau nyerah aja?" goda Arkan sambil mencium pipi Alana kilat.
"Dih, kalau cuma anak-anak mah gampang, Mas. Lebih susah ngadepin CEO yang kaku kayak Mas dulu!" balas Alana sambil mengambil satu kotak martabak. "Ayah, sini makan dulu!"
Malik tertawa. "Ayah senang melihat kalian begini. Ibu kamu pasti bangga di sana, Lana."
Mereka duduk bersama di rumput taman panti yang hijau. Sinar matahari sore yang hangat menyinari wajah-pilih mereka. Tidak ada lagi bom, tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi rahasia.
"Mas," panggil Alana di sela- mengunyah martabak kacangnya.
"Ya?"
"Mas bahagia nggak sekarang? Harta Mas kan jadi berkurang banyak gara-gara aku suruh sumbangin sana-sini?"
Arkan merangkul pinggang Alana, menatap anak-anak panti yang sedang tertawa riang. "Harta aku emang berkurang di angka, Lana. Tapi saldo kebahagiaan aku sekarang unlimited. Dan itu semua gara-gara seorang gadis yang nyasar di kondangan mantan dan narik dasi aku."
Alana tersenyum manis, lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. "Makasih ya, Mas. Udah mau jadi suami 'nyasar' aku yang paling keren."
"Sama-sama, Sayang."
Mochi melompat ke pangkuan mereka, mendengkur keras seolah setuju dengan kebahagiaan yang akhirnya mereka temukan. Cerita yang dimulai dari bumbu rendang dan dendam, akhirnya berakhir dengan rasa manis martabak dan cinta yang tulus.