Belva Kalea harus menelan kekecewaan saat mengetahui calon suaminya berselingkuh dengan saudara tirinya tepat di hari pernikahannya. Bukan hanya itu saja, Glory diketahui tengah mengandung benih Gema Kanaga, calon suaminya.
Di sisi lain, seorang pengusaha berhati dingin bernama Rigel Alaska, harus menelan pil pahit saat mengetahui istrinya kembali mengkhianatinya. Disakiti berulang kali, membuat Rigel bertekad untuk membalas rasa sakit hatinya.
Seperti kebetulan yang sempurna, pertemuan tak sengaja nya dengan Belva membuat Rigel menjadikan Belva sebagai alat balas dendam nya. Karena ternyata Belva adalah keponakan kesayangan Roland, selingkuhan istrinya sekaligus musuhnya.
Akankah Rigel berhasil menjalankan misi balas dendam nya?
Ataukah justru cinta hadir di tengah-tengah rencananya?
Mampukah Belva keluar dari jebakan cinta yang sengaja Rigel ciptakan?
Ataukah justru akan semakin terluka saat mengetahui fakta yang selama ini Rigel sembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Ting tong
Ting tong
"Sial tidak dibuka."
Sudah beberapa kali pria itu menekan bell kamar yang ditempati Kalea, namun sama sekali tidak mendapatkan jawaban, apalagi di buka kan pintu. Sampai akhirnya Rigel memutuskan untuk menggunakan cara lain untuk bisa masuk ke dalam kamar itu.
"Saya mau kunci kamar nomor 69, darurat," ucapnya pada resepsionis.
Wajah Rigel tetap terlihat datar padahal hatinya sangat malu melakukan ini. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘝𝘢𝘯𝘥𝘦𝘳 𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘢𝘥𝘪, 𝘴𝘪𝘢𝘭!"
Umpatan demi umpatan keluar dari mulutnya begitu sadar dengan apa yang dilakukannya saat ini. Lihatlah resepsionis pun berusaha menahan tawanya, pasti mereka berpikir ada sesuatu antara Rigel dan pemilik kamar 69.
"Ini Tuan." Resepsionis memberikan kunci kamar itu sambil mengernyitkan keningnya. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Bosnya itu, namun Rigel keburu menghilang dari pandangannya.
Ceklek
"Abel!"
Rigel menyapu pandangannya ke setiap sudut ruangan, namun ia tidak menemukan Abel nya. Bahkan di kamar mandi pun wanita cantik itu tidak ada.
"Hah... kosong?"
Rigel mengepalkan erat tangannya, saat menyadari seseorang yang ia cari memang tidak ada di kamar itu. Lebih tepatnya sudah check-out.
"Sial!"
Rigel pergi dari kamar itu dengan terburu-buru, ia harus bergerak cepat sebelum kembali kehilangan wanitanya.
"Sejak kapan pemilik kamar nomor 69 keluar dari sini?" Tanya Rigel saat kembali berdiri di depan meja resepsionis. Pemilik Alaska hotel itu menyerahkan kembali kunci kamar yang beberapa waktu lalu ia minta.
"Sudah check-out dari semalam, Pak."
Rigel hanya mengangguk lalu meninggalkan tempat itu. Langkahnya begitu tegap dan terarah tujuannya hanya satu, Abel. Ia tidak boleh kehilangan jejak Abel lagi.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘈𝘣𝘦𝘭!"
...----------------...
Sementara itu Farez dan Kalea baru sampai di kota Bandung. Keduanya memutuskan untuk singgah dulu di kota kembang itu sebelum kembali ke Paris.
Sebenarnya Kalea ingin langsung kembali ke Paris malam itu juga, tapi Farez beralasan ada sesuatu yang harus di urus di perusahaannya. Akhirnya Kalea mengalah dan menuruti keinginan Farez. Walaupun sebenarnya Kalea bisa saja kembali ke Paris sendiri, hanya saja lagi-lagi Farez tidak mengijinkannya.
"𝘏𝘢𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨..."
Kalea sebenarnya belum siap kembali ke kota ini. Menyebut namanya saja membuatnya kembali teringat dengan semua yang pernah terjadi di masa lalunya, di sini, di kota indah ini.
Hatinya berdebar tanpa alasan, getaran yang sama, pada orang yang sama.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢? 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭, 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘬𝘩𝘪𝘢𝘯𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘎𝘦𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘪𝘯𝘪."
Pelariannya seperti sia-sia, sekuat apa pun Kalea melupakannya, nama itu tidak pernah hilang dari ingatannya. Semakin mencoba melupakan, justru malah semakin mengingatnya.
"Kamu kenapa, Lea?"
Keduanya baru sampai di apartemen Roland, tempat tinggal Kalea. Sepanjang perjalanan, Farez terus memperhatikan Kalea yang terlihat seperti menahan kesedihan. Namun lagi-lagi Kalea menutupinya membuat Farez semakin curiga.
"Aku gak apa-apa. Mungkin hanya lelah." Kalea tersenyum tipis menyembunyikan perasaan yang sempat bergejolak untuk beberapa saat.
Setelah Kalea bertemu dengan Rigel, Farez merasa ada yang berubah dari sikap Kalea, seperti ada yang disembunyikannya. Karena alasan ini juga lah Farez menunda keberangkatannya, ia ingin memastikan sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
"Kalau begitu, Kamu istirahat. Aku harus ke kantorku dulu."
...----------------...
Tok tok tok
"Bagaimana tugas Kamu?" Tanya Roland tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkasnya.
"Lancar, Bos. Tapi---"
"Tapi apa?" Roland langsung menatap seseorang yang berdiri tegap di hadapannya dengan sorot tegasnya.
"I--itu ... Semenjak Nona bertemu Tuan Rigel, Nona sedikit aneh."
"Rigel? Maksudmu Rigel Alaska?"
Pria itu menganggukkan kepalanya.
Huhfttt
Roland menghembuskan napasnya berat, tangannya terlihat mengusap wajahnya kasar. "Apa dia masih mencintai pria sialan itu?" Gumamnya lirih.
Namun, gumaman Roland itu cukup mengusik pendengaran pria yang masih berdiri di hadapannya itu.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘯?"
"Ada satu hal lagi, Bos. Nona tiba-tiba mengatakan, aku ini adalah calon suaminya, di depan Tuan Rigel."
Roland melebarkan bola matanya nyaris keluar dari kelopak matanya. Sekarang ia benar-benar yakin keponakannya itu masih mencintai mantan sahabatnya.
Roland memijat pelipisnya yang semakin berdenyut. "Aku harus apa, sekarang?"
Roland sebenarnya sudah tidak mempermasalahkan jika Kalea kembali berhubungan dengan Rigel. Apalagi, selama tiga tahun terakhir ini Roland sudah melihat perjuangan Rigel. Hanya saja ada satu hal yang membuat Roland sangat takut jika Kalea mengetahui keluarga Rigel sebenarnya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵."
"Bos, aku boleh bertanya sesuatu?" Pria yang sudah penasaran sejak tadi akhirnya memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Bos nya. Setelah melihat anggukan dari Roland pria itu pun mengutarakan keingintahuan nya. "Apa Nona memiliki hubungan dengan Tuan Rigel, sebelumnya?"
Roland mengangguk, "ya, Rigel adalah penyebab Abel melarikan diri selama ini."
"𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘶𝘨𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳."
Tidak ada keterkejutan di wajah pria itu, karena sebelumnya ia sudah lebih dulu menduga.
"Bos, apa aku boleh---"
"Tidak! Dengar Farez, aku hanya memintamu untuk menjaga Abel selama dia jauh dari keluarganya. Bukan untuk mendekatinya apalagi mencintainya," ucap Roland dengan tegas.
Ya, Farez sebenarnya adalah orang kepercayaan Roland yang sengaja Roland tugaskan untuk menjaga Abel. Roland sangat tahu keponakannya itu tidak mau diawasi, karena itu Roland mengirimkan seseorang untuk pura-pura menjadi rekannya.
Fasilitas yang dimiliki Farez, termasuk Areksa Corp Entertainment, itu juga sebenarnya perusahaan milik Roland. Pria itu hanya mengganti Nama Areksa yang sebenarnya adalah Aldero.
"Tapi, Bos. Nona yang lebih dulu memulai. Bukan salahku, kan? Aku hanya mengikuti permainannya," ucap Farez tanpa keraguan. Ada seringai tipis di wajahnya, dan Roland menyadari itu.
"Baiklah, tapi Kamu jangan menyesal kalau sampai terjebak dengan perasaanmu sendiri. Aku sudah memperingatkan mu!"
Farez mengangguk mantap, bibirnya sedikit tertarik membentuk lengkungan.
"Jadi, Bos mengijinkan ku?"
"Ya, aku mengijinkan mu. Tapi Kamu harus ingat, jangan pernah memaksa Abel, biarkan dia memilih pilihannya sendiri."
"𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘭𝘦𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩𝘬𝘶," 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘻. 𝘗𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪.
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
rigel udh lega setelah meluapkan emosinya dan akupun jg ikutan lega krn semuanya telah terbongkar.., 😇
🤭👍❤🌹
Lalu ... awas aja kalau Gema berusaha untuk ngerebut Kalea dari Om Rigel/Curse/
Biar dia menua di penjara