NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 1

Sasya berjalan menyusuri koridor fakultas dengan langkah yang terasa berat, seberat beban database yang belum di-normalisasi. Kejadian di ruangan Pak Alkan tadi benar-benar sebuah bencana nasional dalam hidupnya. Bagaimana mungkin dia sebodoh itu membiarkan file "curhat" berada satu folder dengan draf skripsi?

"Gue emang beneran butuh system restore," gumam Sasya sambil menyandarkan kepalanya di dinding dingin koridor.

Sasya mengeluarkan ponselnya, membuka grup WhatsApp bertajuk "Pejuang Toga & Surga".

Sasya: Guys, fix. Gue mau pindah planet aja. Tadi file 'manifestasi' gue hampir dibuka Pak Alkan.

Putri: Hah?! Demi apa lo, Sya? Terus gimana? Lo langsung di-drop out dari hatinya?

Sasya: Dia hapus filenya depan muka gue. Tapi tatapannya itu lho... dingin banget, kayak server ruang NOC yang AC-nya bocor. Gue ngerasa kayak virus yang lagi di-scanning.

Sasya memasukkan ponselnya kembali ke saku almamater. Ia harus tenang. Secara logika, Pak Alkan adalah profesional sejati. Dia tidak akan mencampuradukkan perasaan (atau ketidaksukaan) dengan nilai akademis. Tapi tetap saja, harga diri Sasya rasanya sudah terjun bebas ke titik nadir.

Sementara itu, di dalam ruangannya, Alkan masih terpaku menatap layar monitor. Kalimat singkat yang sempat tertangkap matanya sebelum tombol delete ia tekan benar-benar mengganggu konsentrasinya.

“Karena Pak Alkan selalu tahu cara memuliakan wanita...”

Alkan menghela napas, lalu bangkit berdiri menuju dispenser di sudut ruangan. Ia menuangkan air hangat, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri. Sebagai dosen muda berusia 27 tahun, ia sudah sering menghadapi mahasiswi yang mencoba mendekatinya—mulai dari yang terang-terangan minta nomor pribadi sampai yang pura-pura rajin bertanya hal yang sudah jelas di buku teks.

Tapi Sasya berbeda.

Sasya adalah mahasiswi yang paling Aktif di kelas, tapi mendadak jadi patung lilin setiap kali berpapasan dengannya di luar jam kuliah. Sasya yang kalau presentasi sangat logis dan terstruktur, namun matanya selalu bicara lebih banyak daripada bibirnya.

"Fokus, Alkan. Dia mahasiswa kamu," bisiknya pada diri sendiri.

Alkan mengambil ponselnya, membuka aplikasi pengingat jadwal. Hari ini, jam lima sore, ada jadwal kajian rutin di Masjid Kampus. Dia adalah salah satu pengurus yayasan di sana. Baginya, kampus bukan hanya tempat transfer ilmu duniawi, tapi juga ladang dakwah.

Ia teringat doa yang selalu ia selipkan di antara zikirnya: "Ya Allah, jika Engkau menitipkan rasa, biarlah ia tumbuh di saat yang tepat, dengan cara yang Engkau ridai. Jangan biarkan jabatan ini menjadi fitnah bagi hamba-Mu."

Sore harinya, Masjid Al-fattah nampak ramai. Sasya duduk di barisan belakang jamaah akhwat, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik mukena hitam kesayangannya.

"Lo ngapain sih sembunyi gini? Kayak buronan aja," bisik Putri yang duduk di sebelahnya.

"Sttt! Ada Pak Alkan di depan, dia lagi ngecek sound system. Gue nggak mau dia liat gue dan mikir gue stalking dia sampai ke sini," sahut Sasya pelan.

"Lah, kan ini rumah Allah, bebas dong siapa aja ke sini. Lagian lo kan emang rutin kajian tiap Rabu sore," bela Putri.

Sasya terdiam. Benar, dia rutin ke sini. Tapi sore ini rasanya beda. Saat Alkan naik ke mimbar hanya untuk mencoba mikrofon, suara "Cek, satu, dua..." dari dosen itu terdengar seperti frekuensi yang langsung sinkron dengan detak jantung Sasya.

Sasya menunduk, membuka catatan di HP-nya. Bukan untuk mencatat materi kajian, tapi untuk menulis satu baris kalimat lagi:

“Logika gue bilang berhenti, tapi doa gue bilang 'loading sebentar lagi'. Pak Alkan, semoga Allah jaga hati Bapak, sampai nanti saya punya cukup keberanian buat bilang... 'Pak, saya sudah siap disidang, bukan cuma skripsinya, tapi juga masa depannya'.”

Tiba-tiba, suara Alkan terdengar memulai mukadimah kajian. "Tema kita sore ini adalah tentang menjaga pandangan dan menjaga hati di era digital..."

Sasya tersentak. Waduh, ini materi kok kayak lagi nyindir gue secara live streaming ya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!