Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk Tersembunyi di Kotak Kayu Tua
Shen Yi membuka kotak kayu kecil yang dibawa Chen Hao dari desa utara. Kotak itu sederhana—kayu jati tua berukir motif teratai sederhana di tutupnya, tapi ada sesuatu yang aneh: ukiran itu tak simetris, seolah ada pola yang disembunyikan. Di dalam kotak hanya ada beberapa benda: botol obat pecah yang sudah kosong (yang dulu berisi “penghangat tubuh” palsu), sehelai kain lusuh bertuliskan huruf kuno, dan sebuah liontin perak kecil berbentuk teratai dengan mata batu hitam di tengahnya.
Lian'er memegang liontin itu di bawah cahaya lilin. Batu hitam di tengahnya tidak berkilau seperti permata biasa—malah menyerap cahaya, membuatnya tampak seperti lubang kecil yang menarik pandangan.
“Ini… bukan liontin biasa,” kata Lian'er pelan. “Aku rasakan energi dingin samar di dalam batu. Seperti inti es hitam yang sangat kecil, tapi terkendali.”
Shen Yi mengambil kain lusuh itu. Tulisan di kain sudah pudar, tapi masih bisa dibaca dengan susah payah:
*“Tiga kunci membuka pintu dingin abadi:
Darah yang lahir dari teratai pertama
Air yang tak pernah membeku meski dingin
Batu yang menyimpan hati kegelapan”*
Di bawah tulisan ada gambar kecil: teratai dengan tiga kelopak yang berbeda—satu emas, satu putih, satu hitam—dan di tengahnya ada simbol seperti kunci yang terbuat dari tiga bagian.
Chen Hao memandang kain itu dengan mata membesar. “Kain ini… dari botol obat yang dibeli ibu. Pedagang itu bilang ini ‘petunjuk kuno’ untuk obat mujarab. Tapi setelah adik minum, malah semakin parah.”
Shen Yi menatap gambar itu lama. “Ini bukan petunjuk obat. Ini petunjuk ritual. Tiga kunci… mirip ramalan teratai yang pernah dibaca Elder Mei Ling dulu. Darah teratai pertama—itu aku. Air yang tak pernah membeku—mungkin Air Teratai Murni dari pulau. Dan batu yang menyimpan hati kegelapan… itu batu hitam di gua kemarin.”
Lian'er mengerutkan kening. “Tapi kalau ini petunjuk ritual, kenapa pedagang itu sebarkan? Dan kenapa obatnya malah bikin sakit?”
Shen Yi menggeleng. “Mungkin pedagang itu bukan penjual biasa. Mungkin dia bagian dari sisa kelompok Xue Han atau Lan Xue. Mereka sengaja sebarkan ‘obat’ yang mengandung es hitam encer supaya orang sakit, lalu muncul lagi sebagai ‘penyelamat’ dengan obat yang sebenarnya memperkuat inti dingin di tubuh pasien. Kalau banyak orang sakit, mereka bisa kumpulkan ‘energi dingin’ dari korban untuk ritual baru.”
Chen Hao mengepal tangan. “Pedagang itu… namanya Lao He. Dia bilang dia dari kota kabupaten, tapi aku lihat dia pergi ke arah utara setelah jual obat. Mungkin dia masih di sekitar desa kami.”
Shen Yi memandang liontin itu lagi. Batu hitam di tengahnya tiba-tiba berdenyut pelan—seperti menjawab kehadiran Shen Yi. Cahaya emas dari meridian teratai murninya bereaksi: batu itu memancarkan dingin yang menusuk, tapi juga ada suara samar seperti bisikan.
“Cari tiga bagian… atau dingin akan ambil semuanya.”
Shen Yi menutup kotak itu cepat. “Liontin ini… seperti kunci. Aku rasa ini bagian dari peta atau petunjuk yang disembunyikan. Kita harus cari dua bagian lain—darah teratai pertama dan air yang tak membeku. Tapi darah itu ada di tubuhku, dan air itu di botol kita. Mungkin liontin ini hanya ‘pemicu’.”
Lian'er mengangguk. “Kalau begitu, pedagang Lao He tahu lebih banyak. Kita harus temukan dia. Tapi adiknya, Xiao, masih lemah. Kita tak bisa tinggalkan dia.”
Chen Hao langsung bicara. “Aku akan jaga adikku di sini. Kalian cari pedagang itu. Aku percaya kalian. Kalau perlu, aku ikut nanti setelah Xiao lebih kuat.”
Shen Yi memandang anak kecil yang masih terbaring lemas di tikar. “Baik. Kami akan cari Lao He. Kalau dia bagian dari jaringan es hitam, kita harus hentikan sebelum lebih banyak orang sakit.”
Lian'er mengambil liontin itu, membungkusnya dengan kain teratai kering. “Aku bawa ini. Mungkin bisa jadi penunjuk arah kalau kita dekat dengan bagian lain.”
Mereka mulai persiapan. Shen Yi mengemas keranjang dengan ramuan penghangat, jarum akupunktur, dan botol Air Teratai Murni yang tersisa. Lian'er membawa daun dewa dan bunga bulan salju untuk ramuan darurat. Chen Hao akan tinggal di gubuk, menjaga Xiao dan membantu merawat tanaman obat selama mereka pergi.
Saat matahari mulai condong ke barat, mereka berdua berangkat menyusuri jalur menurun gunung menuju desa Chen Hao di lereng utara Gunung Tianwu. Perjalanan diperkirakan tiga hari kaki—jalan berbatu, melewati hutan dan sungai kecil.
Di jalan, Lian'er berjalan di samping Shen Yi, tangannya sesekali menyentuh liontin yang dibungkus kain di sabuknya.
“Shen Yi… kalau liontin ini benar-benar petunjuk, dan ada tiga bagian… apa yang akan terjadi kalau ketiganya bersatu?”
Shen Yi memandang ke depan. “Mungkin membuka ritual baru. Mungkin membuka pintu ke sumber es hitam yang lebih besar. Atau… mungkin membuka cara untuk bersihkan sisa es hitam di dunia ini selamanya. Kita tak tahu. Yang pasti, kita tak boleh biarkan jatuh ke tangan orang seperti Lao He atau paman bupati dulu.”
Lian'er mengangguk. “Aku percaya kita akan tahu saat waktunya tiba. Seperti dulu di pulau—kita tak tahu, tapi kita tetap maju.”
Mereka berjalan terus. Malam pertama mereka menginap di bawah pohon besar di pinggir hutan. Api unggun kecil menyala, Lian'er menyeduh teh dari daun dewa untuk hangatkan tubuh.
Shen Yi memandang liontin itu lagi di bawah cahaya api. Batu hitam di tengahnya berdenyut pelan—seperti jantung kecil yang hidup.
“Lian'er… kalau nanti kita temukan dua bagian lain, dan ritual ini ternyata membutuhkan pengorbanan… aku nggak mau kau jadi bagian dari itu.”
Lian'er memandangnya tajam. “Jangan bicara begitu. Kalau ada pengorbanan, kita cari cara lain. Kita selalu cari cara lain. Itu yang bikin kita berbeda dari Xue Han dan Lan Xue.”
Shen Yi tersenyum lelah. “Benar. Kita selalu cari cara lain.”
Mereka tidur bergantian menjaga. Di tengah malam, saat Lian'er jaga, liontin itu tiba-tiba bergetar lebih kuat. Batu hitam menyala samar, dan suara bisikan kecil terdengar—bukan Xue Han, tapi suara lain, lebih lembut, lebih tua.
“Cari di kuil teratai yang tenggelam… di bawah danau kabupaten. Tiga bagian akan bersatu… tapi hanya hati yang tak takut kehilangan yang bisa membuka.”
Lian'er tersentak. Dia membangunkan Shen Yi.
“Shen Yi… liontin bicara. Ada kuil teratai yang tenggelam di bawah danau kabupaten. Itu… mungkin tempat dua bagian lain disembunyikan.”
Shen Yi bangkit, memandang liontin yang kini diam lagi. “Danau kabupaten… itu Danau Teratai Kuno yang sekarang jadi tempat wisata kecil di kota. Kalau benar ada kuil tenggelam di bawahnya… kita harus ke sana setelah selesai cari pedagang Lao He.”
Lian'er mengangguk. “Tapi dulu kita stabilkan Xiao. Lalu cari Lao He. Lalu… ke danau.”
Shen Yi memeluk Lian'er. “Langkah demi langkah. Seperti selalu.”
Mereka melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Di kejauhan, Gunung Tianwu mulai terlihat. Desa Chen Hao sudah dekat.
Tapi di dalam liontin, batu hitam itu diam—menunggu. Seperti tahu bahwa petualangan baru baru saja dimulai.