NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah Chen Hao

Chen Hao ingat hari itu dimulai seperti hari biasa di desa kecil mereka di lereng utara Gunung Tianwu. Pagi masih gelap ketika dia bangun untuk membantu ayahnya memancing di sungai kecil yang mengalir di belakang rumah. Angin dingin menusuk tulang, tapi itu biasa—musim gugur di utara selalu seperti ini. Adiknya, Chen Xiao, masih tidur di tikar dalam rumah bambu, selimut tipis menutupi tubuh kecilnya yang sering menggigil sejak kecil.

Ayahnya, Chen Wei, sudah menunggu di tepi sungai dengan jaring kecil dan tongkat bambu. Wajahnya yang sudah keriput karena matahari dan angin gunung tersenyum tipis saat melihat Chen Hao datang.

“Pagi, Hao. Xiao masih tidur?”

Chen Hao mengangguk. “Iya, Ayah. Dia batuk lagi semalam. Tapi setelah minum ramuan dari ibu, dia tenang.”

Chen Wei menghela napas. “Batuknya semakin sering. Kita harus bawa ke tabib di kota kalau tak membaik minggu ini.”

Mereka mulai memancing. Air sungai dingin, tapi ikan-ikan kecil masih banyak. Chen Hao senang membantu ayah—ini rutinitas mereka berdua sejak ibunya sakit tiga tahun lalu dan meninggal karena demam yang tak kunjung reda. Sejak itu, Chen Hao jadi tulang punggung keluarga kecil mereka, meski baru enam belas tahun.

Siang itu, setelah pulang dengan keranjang ikan penuh, seorang pedagang keliling datang ke desa. Orang-orang memanggilnya Lao He—pria paruh baya dengan senyum lebar dan mata yang selalu bergerak cepat, seperti orang yang tak pernah benar-benar percaya pada siapa pun.

Lao He membuka gerobak kayunya di tengah desa. Di dalam ada botol-botol kaca kecil berlabel “Penghangat Tubuh dari Pegunungan Utara – Obat Mujarab Dingin Abadi”. Harganya murah—hanya tiga koin perak per botol.

“Ibu-ibu, bapak-bapak! Obat ini spesial! Bisa hangatkan tubuh dari dalam, hilangkan dingin yang menempel di tulang, cocok untuk anak-anak yang sering batuk atau demam musim gugur. Dijamin dari resep kuno para tabib pegunungan!”

Chen Hao dan ibunya mendekat. Ibu Chen Hao, seorang wanita kurus yang sudah lemah sejak ditinggal suaminya sakit-sakitan, memegang tangan Chen Hao erat.

“Xiao sering batuk akhir-akhir ini. Dingin di dadanya tak hilang meski sudah minum ramuan biasa. Mungkin obat ini bisa bantu.”

Lao He tersenyum lebar ke arah mereka. “Tentu bisa, Bu. Ini obat khusus untuk dingin yang menempel. Minum satu botol, dinginnya hilang dalam tiga hari. Kalau tak sembuh, uang kembali.”

Chen Hao ragu. “Tapi… obat ini dari mana? Ada cap atau tanda resmi?”

Lao He tertawa. “Anak muda sekarang curiga sekali. Ini obat tradisional, bukan dari istana atau sekte besar. Tapi hasilnya sudah terbukti di desa-desa utara. Lihat ini—” Dia mengeluarkan kain lusuh dengan tulisan kuno dan gambar teratai. “Ini petunjuk kuno dari nenek moyang. Tiga kunci untuk dingin abadi. Obat ini salah satu kuncinya.”

Ibu Chen Hao memandang kain itu dengan mata berbinar. “Kalau begitu… aku beli satu botol untuk Xiao.”

Chen Hao ingin protes, tapi melihat harapan di mata ibunya, dia diam saja. Mereka pulang dengan botol kecil berisi cairan hitam pekat yang berbau aneh—seperti air danau dingin bercampur logam.

Malam itu, ibunya memberi minum pada Xiao satu sendok kecil. Anak itu minum dengan susah payah, lalu tertidur. Ibu Chen Hao tersenyum lega.

“Besok pasti lebih baik.”

Tapi besoknya, Xiao semakin lemas. Demamnya naik, tubuhnya menggigil hebat. Bintik hitam kecil muncul di lehernya—seperti noda tinta yang merembes pelan. Ibu Chen Hao panik. Dia beri minum lagi botol itu, berharap efeknya baru muncul.

Tiga hari kemudian, Xiao tak bisa bangun lagi. Napasnya pendek, bibirnya kebiruan, bintik hitam menyebar ke dada seperti jaringan akar mati.

Ibu Chen Hao menangis di samping ranjang. “Obat itu… malah bikin lebih parah.”

Chen Hao memeluk ibunya. “Ibu… kita harus bawa Xiao ke tabib di kota kabupaten.”

Tapi ibunya sudah terlalu lemah. Dia jatuh sakit juga—demam tinggi, batuk darah hitam kecil. Dalam seminggu, ibunya meninggal. Chen Hao mengubur ibunya sendirian di belakang rumah, di bawah pohon pinus tua.

Xiao semakin buruk. Tabib desa datang, menggeleng kepala. “Ini penyakit dingin abadi. Tak ada obatnya. Bawa ke kota besar kalau masih ada harapan.”

Chen Hao tak punya pilihan. Dia jual semua barang berharga—kain ibunya, pisau ayahnya, bahkan ayam terakhir mereka. Dia dapat cukup koin untuk perjalanan panjang. Dia bawa adiknya di keranjang punggung, berjalan tiga hari tiga malam tanpa henti, hanya berhenti untuk beri minum dan lap keringat Xiao.

Di jalan, dia bertemu pedagang obat lain yang bilang, “Kalau penyakit dingin abadi, cari Tabib Shen di Gunung Qingyun. Dia pernah selamatkan bupati dari penyakit serupa. Katanya dia punya teratai murni yang bisa lawan dingin apa pun.”

Chen Hao tak punya pilihan lain. Dia terus jalan. Kakinya lecet, punggungnya sakit membawa keranjang, tapi dia tak berhenti. Setiap malam dia berbisik pada Xiao yang setengah sadar.

“Bertahan ya, Xiao. Kakak bawa kau ke tabib hebat. Dia pasti bisa sembuhkan kau. Kakak janji.”

Saat akhirnya sampai di lereng Gunung Qingyun, kakinya hampir tak bisa jalan lagi. Dia melihat gubuk kecil dengan danau teratai di belakangnya—seperti mimpi yang jadi nyata.

Dia mengetuk pintu dengan tangan gemetar.

Dan ketika pintu terbuka, Shen Yi dan Lian'er muncul—seperti harapan terakhir yang masih tersisa di dunia Chen Hao.

Saat itu, Chen Hao tak tahu bahwa perjalanan ini bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang lebih besar: petunjuk tersembunyi, pedagang misterius, dan rahasia dingin yang masih tersimpan di liontin kecil yang dia bawa tanpa sadar.

1
aleena
sepertinya seruu
Ekodjuni suharto
tammat💪💪💪
Ekodjuni suharto
diulang
Kashvatama: terimakasih masukannya
total 1 replies
Soeryono Tangerang
enak di baca dan lucu
Kashvatama: Terimakasih supportnya 🫡
total 1 replies
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!