Kehilangan anak saat melahirkan adalah penderitaan terbesar bagi Azelva Raquel Shawn. Bak jatuh tertimpa tangga, Azelva diceraikan, diusir dari rumahnya, dan semua hartanya dicuri oleh suami dan selingkuhannya.
Namun di tengah-tengah penderitanya, Kellano Gavintara, hadir menawarkan pekerjaan untuk wanita malang itu.
"Jadilah Ibu susu putraku. Sebagai imbalannya, aku akan membantumu mengambil kembali semua milikmu." Kellano Gavintara.
Tekadnya untuk balas dendam semakin kuat, tapi di sisi lain, Azelva tidak ingin berhubungan lagi dengan Kellano, yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Apalagi jika Kellano tahu rahasia yang Azelva sembunyikan selama ini.
Namun setelah menatap baby Arlend, perasaan Azelva mulai goyah.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘭𝘦𝘯𝘥?"
Seiring berjalannya waktu, tabir rahasia mulai terkuak. Identitas Arlend mulai dipertanyakan.
Apa yang akan Kellano lakukan saat mengetahui fakta mengejutkan tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
"Ma-maksud Kamu apa? Te-tentu saja aku yang melahirkan Arlend. Me-memangnya siapa lagi?"
Regita berusaha keras menyembunyikan kegugupannya, walaupun percuma saja karena Kellano bisa melihat perubahan wajahnya yang tiba-tiba pias.
Kenapa Kellano bertanya seperti itu? Apa dia--- gak mungkin, dia gak mungkin tahu, gumam Regita dalam hati.
Regita mencoba menepis semua pikiran buruk yang mulai menguasainya. Pertanyaan Kellano itu berhasil membuatnya panik dan takut.
Kellano menyeringai, ia sangat menikmati wajah cemas Regita. Ia sangat yakin wanita itu mulai ketakutan dan mulai merasa tidak tenang.
Kellano sengaja memancing kepanikan Regita, dengan begitu ia tidak perlu repot-repot untuk membongkar kebusukan wanita itu, karena dengan sendirinya Regita lah yang akan membeberkan aibnya sendiri.
Namun tampaknya Regita masih bisa menguasai dirinya, mungkin karena wanita itu berpikir tidak ada saksi yang bisa membuktikan kejahatannya.
"Baiklah, semoga saja ucapanmu itu benar," ucap Kellano dengan seringai di wajahnya. "Kalau begitu, silahkan angkat kaki dari sini!"
Kellano tersenyum sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
"Tega Kamu, Kell! Aku sudah melahirkan putramu, tapi inikah balasannya?" Regita tidak kuasa menahan air matanya. Wanita itu meraung dengan lelehan air mata yang menganak sungai.
Jika Kellano belum mengetahui kebenarannya, mungkin ia akan tertipu dengan tangisan Regita saat ini. Sangat memilukan membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut terenyuh. Namun, untung saja Kellano sudah lebih dulu mengetahuinya.
Gila... aktingnya gak kaleng-kaleng. Kenapa dia gak jadi aktris saja, cibir Kellano.
Sementara itu, Regita pikir, kepulangannya ini akan membuat hubungannya dengan Kellano membaik dan pria itu akan mulai menerimanya. Ia, Kellano dan Arlend akan menjadi keluarga kecil yang bahagia.
Regita tidak peduli walaupun Arlend bukan putra kandungnya, dan justru putra wanita yang Kellano cintai, karena yang terpenting untuknya adalah ia bisa mendapatkan Kellano dan berada di sisi pria itu untuk selamanya.
Namun kenyataannya malah sebaliknya, Kellano justru menceraikannya, mencampakkannya, dan bahkan mengusirnya. Walaupun begitu, Regita tidak menyerah, ia yakin jurus andalannya kali ini akan kembali berhasil.
"Sudahlah, drama mu itu tidak mempan untukku," ucap Kellano. "Lebih baik Kamu pergi dari sini, aku sudah muak melihat wajahmu," tambahnya.
Regita mengepalkan erat tangannya. Padahal ia sudah berusaha akting senatural mungkin supaya terlihat menyedihkan. Namun rupanya Kellano tidak terpengaruh sedikitpun oleh drama murahannya.
"Kamu akan menyesal sudah ngelakuin ini sama aku, Kell. Kamu lihat saja, aku akan mengambil hak asuh Arlend," ucap Regita. Wanita itu terlihat menyeringai, entah hal licik apalagi yang akan wanita itu lakukan.
Regita sedikit paham, anak usia di bawah 17 tahun biasanya pengadilan akan memberikan hak asuh pada ibunya. Dengan begitu Regita akan memanfaatkan ini supaya Kellano mau mengubah keputusan untuk menceraikannya, bagaimanapun caranya.
Regita sangat yakin Kellano akan melakukan apa pun demi Arlend.
"Baiklah, coba saja kalau Kamu bisa," tantang Kellano.
Kellano berusaha menahan tawanya supaya tidak pecah. Mendengar celotehan Regita benar-benar membuat perutnya tergelitik.
Dasar wanita bodoh! Tapi baguslah, teruslah percaya diri sebelum aku mempermalukanmu, batin Kellano.
...----------------...
Sementara itu di tempat yang berbeda. Zidane mengeraskan rahangnya saat membaca laporan hasil audit yang baru saja dilakukan di perusahaannya.
"Panggil Venya ke ruangan ku!" Titahnya pada asistennya.
Tidak lama kemudian, Venya datang dengan wajah tertunduk. Wanita itu memejamkan matanya, ia tidak berani menatap pria yang selama ini menjadi kekasihnya itu.
Prakkk
Zidan melemparkan map di depan Venya. Di dalamnya berisi laporan penggelapan dana yang dilakukan oleh Venya.
"Apa maksud semua ini, Venya? Baru beberapa bulan Kamu menjadi sekertaris di perusahaan ini, tapi sudah berani mencuri uang perusahaan? Dasar tidak tahu malu!"
"Sayang---"
"Ini di kantor, jangan memanggilku seperti itu!"
Zidan tidak menyangka Venya mampu melakukan hal memalukan seperti itu. Padahal Venya baru hitungan bulan saja menjadi sekertaris di kantor itu, dan itu pun atas permintaannya sendiri. Namun Venya sudah berani korupsi hingga ratusan juta.
"Aku bisa jelasin. Aku---"
"Aku tidak mau mendengar penjelasanmu. Sebelum kabar ini sampai ke telinga Tuan Kellano, Kamu aku pecat!"
Deg
Venya menggelengkan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Zidan akan melakukan ini padanya.
"Kamu tega sama aku, Mas. Kamu memecat ku padahal belum mendengar alasanku ngelakuin ini. Ini gak adil, Mas. Kamu tega!"
"Kamu yang tega sama aku, Venya. Kamu mengambil uang perusahaan, padahal Kamu tahu kondisi perusahaan sedang sekarat," geram Zidan.
Walaupun Venya kekasihnya, tapi dalam hal pekerjaan Zidan tetap profesional, kecuali di waktu tertentu. Pria itu tidak akan mentolerir seorang pengkhianat perusahaan. Baginya, maling tetaplah maling.
"Aku minta maaf, Mas. Aku khilaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Venya terus meminta maaf pada Zidan, berharap kekasih sekaligus atasannya itu mau mengubah keputusannya.
Venya menangkup kan kedua tangannya. Zidan baru pertama kalinya bersikap seperti ini padanya, Venya benar-benar takut. Saking takutnya, wanita itu tidak berhenti mengeluarkan air matanya.
"Aku memaafkan mu," ucap Zidan. Pria itu tidak tega melihat Venya menangis di hadapannya. Karena itu Zidan memilih untuk memaafkannya dan tidak memperpanjang kasus ini.
"Terima kasih, Mas." Venya tersenyum senang. Ia tahu Zidan tidak akan tega melihatnya menangis seperti ini.
"Tapi, aku tetap akan memecatmu. Terserah Kamu mau menganggap ini gak adil sekalipun. Karena buatku, korupsi tetaplah korupsi."
Ucapan Zidan itu membuat senyum di bibir Venya perlahan meredup. Ia pikir dengan Zidan memaafkannya, itu berarti Zidan tidak akan memecatnya dari perusahaan. Tapi ternyata pria itu tidak mengubah keputusannya.
Sial! Umpat Venya dalam hati.
"Aku tahu Kamu kecewa, tapi ini salah Kamu sendiri. Bersyukur aku tidak membawa kasus ini ke jalur hukum."
"Jadi, Kamu berniat memenjarakan aku, Mas?" Tanya Venya. Wanita itu menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka Zidan tega ingin memenjarakannya.
"Sudahlah, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi. Lebih baik Kamu kemasi semua barang Kamu."
Venya keluar dari ruangan Zidan dengan wajah tertunduk. Menjadi kekasih Zidan tidak membuatnya lolos menjadi pengecualian. Salah tetaplah salah. Ia harus menerima akibat dari perbuatannya.
"Dasar pelakor tidak tahu diri, sudah merebut suami Bu Azel, sekarang maling di perusahaan Bu Azel. Dasar tidak tahu malu!"
Bisik-bisik karyawan kantor terdengar sangat menyakitkan di telinga Venya.
"Semoga sekertaris baru lebih cantik, syukur-syukur bisa menggoda Pak Zidan," ucap salah satu karyawan.
Deg
Tidak akan, Mas Zidan tidak akan mengkhianati ku," batin Venya.
To be continued