Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik kemudi
Ekspansi nasional bukan sekadar memindahkan barang dari satu pulau ke pulau lain; itu adalah tentang memindahkan kepercayaan. Dengan dukungan pemerintah, Koperasi Kurir Jujur (K.KJ) kini harus merekrut ratusan tenaga kerja baru. Namun, di tengah gelombang pelamar yang membanjiri kantor pusat di Bogor, muncul sebuah duri dari masa lalu yang mengancam ketenangan yang baru saja mereka bangun.
Hujan di Bogor sore itu turun tipis-tipis, menciptakan kabut yang menyelimuti gudang baru K.KJ yang kini luasnya lima kali lipat dari garasi pertama mereka. Reza duduk di ruang kerjanya sebuah ruangan dengan dinding kaca yang memungkinkannya melihat aktivitas para kurir di lantai bawah. Di depannya, tumpukan berkas pelamar kerja menggunung.
"Za, ada satu orang yang keras kepala. Dia sudah tiga hari menunggu di depan gerbang, tapi tidak mau menyerahkan formulir lewat admin. Katanya, dia hanya mau bicara denganmu," Budi masuk ke ruangan dengan wajah heran, rambutnya sedikit basah terkena tempias hujan.
Reza meletakkan pulpennya. "Siapa? Mantan kurir Metro Express lagi?"
"Bukan. Dia tidak terlihat seperti kurir. Wajahnya keras, ada bekas luka di pelipisnya, dan dia memakai jaket militer lama. Namanya Aris."
Reza menghela napas. "Suruh dia masuk. Kita tidak bisa membiarkan orang kedinginan di depan gerbang."
Beberapa menit kemudian, pria bernama Aris itu masuk. Langkah kakinya berat dan mantap. Ia tidak duduk sebelum Reza mempersilakannya. Saat ia membuka helmnya, Reza merasa pernah melihat wajah itu, tapi di tempat yang jauh lebih gelap daripada gudang ini.
"Saya ingin bekerja, Mas Reza. Bukan sebagai kurir paket biasa. Saya dengar K.KJ akan mulai mengantar logistik medis ke daerah konflik di pedalaman Papua dan Sulawesi. Saya punya pengalaman di sana," suara Aris berat, tanpa basa-basi.
Reza menatapnya tajam. "Pengalaman apa? Militer?"
Aris terdiam sejenak. "Saya mantan orang lapangan Gery. Saya yang dulu bertugas memastikan 'jalur aman' untuk pengiriman uangnya. Tapi setelah dia ditangkap, saya sadar saya telah menghabiskan sepuluh tahun hidup saya untuk iblis. Saya punya anak perempuan yang sakit, dan saya ingin dia makan dari uang yang bukan hasil memeras orang."
Reza merasa otot-otot di bahunya menegang. Ini adalah pria yang mungkin dulu berdiri di balik perintah-perintah yang hampir menghancurkan hidupnya dan Anya. Namun, ia teringat pada prinsip K.KJ: Memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang dianggap gagal oleh dunia.
"Kenapa saya harus mempercayai orang yang pernah bekerja untuk Gery?" tanya Reza.
"Karena saya tahu siapa saja orang-orang Gery yang masih berkeliaran di luar sana, Mas. Mereka tidak senang dengan kesuksesan K.KJ. Mereka menganggap Anda sebagai penyebab bos mereka mendekam di penjara. Jika Anda kirim paket ke daerah terpencil, mereka akan merampoknya hanya untuk mempermalukan Anda di depan pemerintah. Anda butuh orang yang tahu cara mereka berpikir."
Reza terdiam. Ia menatap Budi yang berdiri di ambang pintu, yang juga tampak ragu. Namun, di mata Aris, Reza melihat sesuatu yang sangat ia kenali: rasa haus akan penebusan dosa. Rasa sakit yang sama yang ia rasakan saat memegang tali jemuran kuning itu dulu.
"Baik. Kamu diterima sebagai koordinator keamanan logistik jalur sulit. Tapi satu kesalahan, satu saja informasi yang bocor, aku sendiri yang akan memastikan kamu kembali ke jalanan," kata Reza tegas.
Aris mengangguk pelan, seulas rasa lega melintas di wajahnya yang kaku. "Terima kasih, Mas Reza. Anda tidak akan menyesal."
Masuknya Aris ke dalam tim K.KJ menimbulkan riak di internal. Banyak kurir yang merasa tidak nyaman bekerja dengan "mantan musuh". Namun, Reza tetap pada pendiriannya. Ia memberikan Aris tugas pertama: mengawal pengiriman vaksin dan obat-obatan menuju daerah terpencil di kaki Gunung Halimun, sebuah rute yang baru saja dilaporkan rawan pembegalan.
Malam sebelum keberangkatan, Anya mendatangi Reza di gudang. Ia membawakan bekal makan malam. "za, aku dengar soal Aris. Apa kamu yakin? Dia orang berbahaya."
Reza menarik Anya ke dalam pelukannya. "Dunia ini berbahaya, Anya. Tapi jika kita terus menutup pintu bagi orang yang ingin berubah, kita tidak ada bedanya dengan sistem yang dulu ingin membunuh kita. Aku melihat diriku di matanya. Orang yang hanya butuh satu alasan untuk tidak menjadi jahat lagi."
Anya mengusap lengan Reza. "Aku percaya instingmu. Tapi tolong, hati-hati. Fajar baru saja mulai bisa berjalan, dia butuh ayahnya pulang utuh."
Keesokan paginya, konvoi dua truk K.KJ berangkat. Aris berada di truk paling depan, sementara Reza secara mengejutkan memutuskan untuk ikut di truk kedua. Ia ingin melihat sendiri bagaimana Aris bekerja.
Perjalanan itu mulus hingga mereka mencapai jalanan sempit yang diapit tebing dan jurang. Tiba-tiba, sebuah batang pohon besar melintang di tengah jalan. Truk berhenti mendadak. Dari balik semak-semak, muncul enam orang pria bermasker dengan parang di tangan.
"Turun! Tinggalkan muatannya!" teriak
salah satu perampok.
Reza hendak turun, tapi Aris menahannya. "Tetap di kabin, Mas. Biar saya yang bicara. Saya kenal gaya mereka."
Aris turun dengan tenang, tanpa senjata. Ia berjalan mendekati pemimpin perampok itu. Keheningan yang mencekam terjadi. Reza melihat dari kaca spion, Aris membisikkan sesuatu ke telinga pria bermasker itu. Wajah sang perampok berubah, matanya yang tadi penuh amarah kini menunjukkan ketakutan.
Tanpa ada satu pukulan pun, para perampok itu menyingkirkan batang pohon tersebut dan menghilang kembali ke dalam hutan. Aris kembali ke truk, wajahnya tetap datar.
"Apa yang kamu katakan pada mereka?" tanya Reza saat truk kembali berjalan.
"Saya hanya bilang kalau saya masih punya nomor telepon keluarga mereka, dan saya tahu di mana mereka tidur tiap malam. Kadang, untuk melindungi kebaikan, kita harus menggunakan sedikit kegelapan dari masa lalu," jawab Aris dingin.
Reza terdiam. Ia menyadari sesuatu yang penting. Kejujuran memang mata uang utama mereka, tapi di dunia yang masih dipenuhi "Gery-Gery" lainnya, kejujuran butuh pelindung yang tahu bagaimana cara menghadapi duri.
Pengiriman vaksin itu sampai dengan selamat. Ratusan anak di pedalaman mendapatkan hak mereka. Saat mereka kembali ke Bogor, berita tentang keberhasilan K.KJ menembus rute rawan itu langsung menjadi buah bibir. Kepercayaan pemerintah semakin menguat.
Sore itu, di gudang, Reza melihat Aris sedang duduk sendirian sambil melihat foto seorang gadis kecil di ponselnya yang retak. Reza mendekat dan meletakkan amplop gaji pertama Aris, ditambah bonus yang cukup besar.
"Ini untuk operasi anakmu," kata Reza.
Aris mendongak, matanya berkaca-kaca. "Ini terlalu banyak, Mas."
"Itu harga dari nyawa anak-anak yang mendapatkan vaksin hari ini karena kamu. Di K.KJ, kami tidak hanya bayar tenaga, kami bayar pengabdian."
Reza berjalan keluar gudang, merasa bahwa ini adalah tentang menutup lubang-lubang di masa lalu. Ia telah belajar bahwa musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang menyerang dari depan, melainkan rasa takut kita untuk memaafkan.
Saat ia sampai di rumah, ia melihat Fajar sedang mencoba melangkah menuju arahnya dengan tawa yang riang. Reza menangkap putranya itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kita sudah melakukannya, Fajar. Kita sudah mengubah tali jemuran menjadi jembatan," bisik Reza.
Kehidupan masih akan memberikan banyak badai yang mungkin datang, tapi dengan Budi yang ceria, Aris yang menjaga kegelapan, dan Anya yang menjadi pelabuhan, Reza yakin: ia tidak akan pernah butuh kursi plastik dan tali kuning itu lagi.