Buku ini gua tulis sebagai perwujudan eksistensional gua di dunia ini. Karena gua pikir, sebelum gua mati, gua harus ninggalin sesuatu. Untuk bilang ke orang² yang baca buku gua ini: "Ini gua pernah hidup di dunia, dan gua juga punya cerita." Pada dasarnya, buku ini berisi rangkuman hal² penting yang terjadi dalam hidup gua, yang coba gua ingat² kembali, gua gali kembali, di tengah kondisi gua yang sulit mengingat segala hal yang rumit. Juga, kalau² kelak nanti gua lupa dengan semua hal yang tertulis di buku ini, dan gua baca ulang, terus gua bisa bilang: "Oh... ternyata gua pernah begini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Art
Lewat seorang teman, gua diperkenalkan dengan bisnis dropshiper. Kata yang asing buat gua. Jadi, dia jualan barang yang enggak pernah dia miliki. Bahasa kunonya sih "makelar" tapi bukan makelar properti atau otomotif, ini skalanya lebih kecil lagi, bahkan dia bilang sudah memulainya sejak masih kuliah.
Ada satu situs web dari India, yang memang fokus pada penjualan dengan sistem dropshiper. Gua memulainya, berbekal video tutorial dari YouTube, gua mulai mempelajarinya. Sistem dropshiper ini sangat bergantung pada marketing via media sosial. Jadi, sejak itu gua mulai aktif di Facebook dan Instagram, dua media sosial yang gua pilih untuk memasarkan produk yang gua jual.
Awalnya gua pilih barang² eksklusif, seperti perhiasan dan aksesoris wanita, but gagal total, waktu itu gua enggak berpikir terlalu jauh, gua pikir: "Cukup tawarkan pasti ada yang beli."
Enggak semudah itu ternyata... haha.
Tapi, pas gua mulai ganti produk dan fokus ke sepatu lokal, penjualan mulai ada, meskipun enggak sebanyak yang gua pikirin.
Masalah promosi via media sosial, menurut teori² yang dianut oleh orang², mereka sangat bergantung pada ads berbayar untuk memacu algoritma akun media sosial. But, cara itu terlalu banyak makan biaya untuk gua yang kelewat miskin.
Jadi, gua pilih cara super tradisional, tapi gua terapin di media sosial. Gua nyebutnya: "Cara jemput bola."
Dari pada ribet ngurusin algoritma akun dan perhitungan untuk pembayaran ads. Gua memilih men-DM satu² calon pembeli. Jadi gini, sistemnya, akun Facebook dan Instagram gua, gua pakai untuk katolog dan portofolio, gua enggak peduli berapa banyak viewer dan followers, yang penting pas gua DM calon pembeli, dan pembeli ngeliat katalog gua, dia jadi tertarik.
Dengan cara itu, gua berhasil ngedapetin pembeli...
Dan yang lebih penting dari cara gua ini adalah ketika gua, mulai riset untuk menentukan target market. Jadi, gua enggak ngasal nge-DM orang, sia² gua nge-DM orang yang sejak awal dia pasti enggak akan tertarik dengan produk gua. Dalam hal ini, kekuatan analisa dan riset gua sangat penting, dan skill "kepo" gua bisa sangat dimanfaatkan.
Berjalannya waktu, saat gua mulai berpikir kalau jadi dropshiper, mungkin bisa naikin taraf hidup gua, tiba² situs web dropshiping yang gua pakai tutup. Alasannya, terlalu banyak komplain dari pelanggan, karena kualitas barang yang sangat buruk.
Akhirnya gua berhenti...
Gua putar otak lagi, gimana caranya ngasilin duit, tanpa harus gua kerja formal. Ada alasannya kenapa gua enggak mau kerja formal. Pertama, gua ini tanpa skill, kalau gua kerja formal, pada akhirnya gua cuman jadi buruh aja, yang penghasilannya enggak seberapa, dengan jam kerja yang monoton dan enggak bisa diganggu gugat. Kedua, penghasilan gua dari menjadi ojol, setara dengan penghasilan manusia yang kerja formal tapi tanpa skill. Ketiga, dengan menjadi ojol, gua ada keuntungan dalam hal waktu, gua punya kebebasan dalam mengatur waktu gua sendiri dalam bekerja, jadi gua bisa eksplor lebih jauh skill² gua.
Selepas jadi dropshiper, gua pernah ngeriselerin produk zippo milik teman gua, but gagal. Terus akhirnya, melalui teman gua, gua disaranin untuk terjun ke model bisnis print on demand.
Print on demand, ini salah satu model bisnis merchandise yang populer di Amerika Serikat, Eropa dan Australia. Intinya, sistem bisnis ini menghubungkan artist dengan pembeli, melalui pihak ketiga yang berlaku sebagai produsen.
Sistemnya gini, artist membuat karya gambar digital, kemudian gambar digitalnya diunggah di situs web milik produsen, kemudian pembeli mencari produk merchandise yang dia ingin beli di situs web milik produsen, ketika pembeli kemudian membelinya, produsen akan mengurus semuanya, dari mulai mencetak merchandise sampai pengiriman ke pembeli, nah... dari penjualan ini, artist mendapatkan margin yang masuk ke rekening paypal mereka.
Yup... model bisnis print on demand, pada dasarnya diperuntukan untuk artist atau seniman digital. Masalahnya, gua bukan seniman... hahaha.
Gua sempet ngomong ke teman gua yang nyaranin ini ke gua: "Gua enggak bisa gambar, enggak ngerti sama sekali."
Dia bilang: "Enggak penting bisa gambar atau enggak, yang penting lu coba aja dulu, mau bisa gambar atau enggak, kan yang paling penting itu produk kita laku."
Dan ini awalnya kenapa gua bisa tersesat masuk ke dunia Art, dunia yang sangat asing buat gua, yang bener² enggak pernah gua pahami. Sejujurnya, dari dulu gua punya ketertarikan dengan seni, baik seni lukis maupun musik. Tapi, karena gua enggak pernah mempelajari itu, dan enggak pernah sekolah di jurusan seni, pengetahuan gua soal seni, bener² nol besar.
Gua mulai semuanya dengan belajar dari YouTube, kebetulan lah di YouTube gua ketemu channel Painting Explorer, channel yang dibuat oleh salah satu dosen ISI. Di situ dia ngajarin semuanya dari awal, dari dasar²nya sangat detail.
Cuman dengan berbekal smartphone aja, gua mulai membuat gambar digital, dan menguploadnya di salah satu sistus print on demand bernama TeePublic. Waktu itu gua tetapin target untuk diri gua sendiri, yaitu sehari harus upload 10 gambar digital di situs web. Dan nge-DM ke 10 calon pembeli via Instagram.
But, setelah sebulan berjalan, semua berasa sia², karena bener² enggak ada hasil. Hampir menyerah, tapi gua pikir ulang² lagi, menyerah sekarang udah telat. Jadi gua lanjutin, kali ini gua mulai baca², masuk ke komunitas² seniman dan pelaku bisnis print on demand di facebook dan discord.
Gua stop dulu ngetarget penjualan, gua ganti dengan target belajar. Dari situ, gua memahami sesuatu, print on demand itu bukan tentang sekedar menjual produk, tapi menjual value dari karya kita. Jadi sekedar malakukan promosi aja, itu enggak akan terlalu ngefek ke penjualan, karena pada akhirnya pembeli hanya akan membeli produk kita, yang dia pikir cocok dengan perasaan dia.
Dan setelah sekian waktu gua mencoba terus, akhirnya mulai menampakan hasil. Mulai ada penjualan sedikit², gua terus konsisten melakukan promosi dan membuat karya, dan akhirnya penjualan gua tiap bulan mulai stabil. Di titik ini, ojol bener² cuman jadi side job gua. Setelah beberapa lama, gua sampai ke titik penjualan tertinggi gua, sekitar $400 USD/bulan. Tapi, setelah berjalan satu tahun, akun penjualan TeePublic gua diblokir.
Gua kena pelanggaran copyright... Iya, gua goblog banget, waktu itu gua enggak paham sama sekali dengan copyright. Gua pikir, gua cukup enggak bikin karya yang mirip dengan karya orang lain, ternyata enggak sesimpel itu. Gua belajar lagi masalah ini, gua mencoba bangkit lagi, karena gua enggak boleh nyerah.
Terus gua beralih dari situs TeePublic ke RedBubble. Karena menurut beberapa orang di komunitas, situs web TeePublic emang agak ketat dalam hal copyright.
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥