NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertaruhan Harga diri

Perjalanan pulang dari rumah Abah Kamad di Banten terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan. Di boncengan motor Fajar, Bimo hanya terdiam dengan tatapan kosong, membiarkan angin kencang menerpa wajahnya yang kuyu. Kata-kata Abah Kamad terus bergema di kepalanya, beradu dengan suara bising mesin motor.

"Temui wanita yang kamu sakiti...."

Bagi pria seperti Bimo, yang selama ini hidup dengan membusungkan dada dan memandang rendah orang lain, meminta maaf dengan Ratih adalah sebuah hukuman yang lebih berat daripada kematian. Bayangan Ratih wanita yang dulu ia panggil "babu", yang ia peras tenaganya, dan ia ludahi martabatnya kini muncul sebagai pemegang kunci nyawanya.

Perang Batin Sang Pecundang

Sesampainya di kontrakan, Bimo langsung mengunci pintu. Ia duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke pintu yang kayu-kayunya sudah mulai lapuk. Rasa sakit di bawah sana masih ada, meski dalam mode "pasif", rasanya seperti ada ribuan semut yang sedang tidur di dalam dagingnya, siap bangun kapan saja ia berpikiran kotor.

"Sialan! Kenapa harus Ratih?!" teriak Bimo frustrasi, memukul lantai dengan tangan gemetar.

Pikirannya mulai berputar liar. Ada dua ketakutan besar yang menghimpitnya. Pertama, jika ia menemui Ratih dan meminta maaf, Ratih pasti akan menuntut uang empat puluh tujuh juta itu kembali. Uang yang sudah ia habiskan untuk DP motor, baju-baju mahal, dan foya-foya di tempat hiburan malam. Uang itu sudah tidak ada. Bagaimana ia bisa membayarnya?

Kedua, egonya menolak untuk kalah. "Abah Kamad mungkin cuma dukun kelas teri. Pasti ada dukun lain yang lebih sakti, yang bisa nyabut santet ini tanpa gue harus nundukin kepala ke perempuan itu," gumamnya dengan nada penuh kebencian.

Gelisah yang luar biasa mulai menggerogoti jiwanya. Ia mondar-mendir di dalam kamar, merokok satu demi satu hingga ruangan itu dipenuhi asap putih yang menyesakkan. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia melihat wajah Ratih yang berlumuran darah ulat, menatapnya dengan senyum dingin.

Karier yang Diujung Tanduk

Seminggu telah berlalu , namun Bimo tidak lagi secerah biasanya. Ia datang ke kantor dengan mata merah dan kemeja yang sedikit kusut sesuatu yang sangat tidak biasa bagi si "pria klimis" kebanggaan divisi pemasaran.

Di meja kerjanya, tumpukan berkas laporan bulanan menanti, namun pikiran Bimo melayang entah ke mana. Ia berkali-kali salah memasukkan data. Konsentrasinya hancur. Setiap kali ia melihat rekan kerja wanita lewat dengan pakaian yang sedikit ketat, ia harus segera memalingkan wajah dan merapal doa karena rasa gatal itu mulai menusuk-nusuk.

"Bimo! Ke ruangan saya sekarang!" suara bariton Pak Hendra, manajernya, menggelegar melalui interkom.

Bimo tersentak, lalu berjalan gontai menuju ruangan atasannya. Di sana, Pak Hendra sudah duduk dengan wajah yang tidak bersahabat. Di depannya tergeletak beberapa laporan yang penuh dengan kesalahan fatal.

"Bimo, apa yang terjadi sama kamu dua minggu terakhir ini?" tanya Pak Hendra tanpa basa-basi. "Laporan vendor berantakan. Client kita di Bandung komplain karena kamu nggak bisa dihubungi. Kamu tahu kan, dedikasi kamu selama ini yang bikin saya masih tahan kamu di sini?"

"Maaf, Pak. Saya... saya sedang tidak enak badan. Ada masalah keluarga di kampung," Bimo berbohong, sebuah kebohongan yang sudah menjadi makanan sehari-harinya.

Pak Hendra menghela napas panjang, sedikit melunak karena ia memang menyukai kinerja Bimo yang dulu lihai. "Saya kasih kamu kelonggaran minggu ini. Tapi kalau sampai Senin depan tidak ada perubahan, dengan berat hati saya harus lapor ke HRD. Kita butuh orang yang fokus, Bimo. Bukan orang yang bengong kayak kehilangan nyawa."

"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Bimo lemah.

Keluar dari ruangan manajer, Bimo berpapasan dengan Diana. Wanita itu menatap Bimo dengan tatapan dingin dan penuh penghinaan. Kejadian "kompor belum mati" di malam hujan itu benar-benar merusak reputasi Bimo di mata Diana.

"Hai, Mbak Di..." sapa Bimo mencoba mencairkan suasana.

Diana hanya meliriknya sekilas, lalu berjalan melewati Bimo tanpa sepatah kata pun. Bau parfum mawarnya masih sama, namun bagi Bimo, aroma itu kini terasa seperti racun. Dulu ia mungkin akan mengejar dan merayu, tapi sekarang? Membayangkan menyentuh tangan Diana saja sudah membuat selangkangannya terasa seperti ditusuk jarum panas.

"Terserahlah! Wanita di luar sana banyak! Kalau gue udah sembuh, gue bisa dapet yang lebih cakep dari lu!" desis Bimo pelan, mencoba menghibur egonya yang terluka.

Pengintaian yang Semakin Dekat

Bimo tidak sadar bahwa di gedung parkir seberang kantor, di balik pilar beton lantai dua, Ratih sedang berdiri mengamatinya melalui teropong kecil yang ia beli di pasar loak. Ratih melihat Bimo yang keluar dari ruangan manajer dengan wajah frustrasi. Ia melihat bagaimana Bimo diabaikan oleh Diana.

Ratih tersenyum. Sebuah senyuman yang tidak lagi mengandung sisa-sisa cinta.

"Kamu mulai kehilangan duniamu, Bimo," bisik Ratih. "Pekerjaanmu, wanitamu, martabatmu... satu per satu akan tanggal seperti kulitmu yang nantinya akan membusuk."

Ratih melihat Bimo turun ke parkiran motor lebih awal dari jam pulang. Ia melihat pria itu duduk di atas motornya, termenung lama sambil memegang kepalanya. Ratih tahu, Bimo sedang berada di titik nadir. Ia tahu Bimo sedang mempertimbangkan untuk mencarinya.

"Cari aku, Bimo. Cari aku di tempat di mana kita dulu pertama kali berjanji. Aku sudah menyiapkan 'hadiah' untuk mu nanti," kata Ratih sambil melipat payung hitamnya.

Malam yang Penuh Halusinasi

Malam harinya, Bimo kembali ke kebiasaan lamanya: melarikan diri pada alkohol. Ia tidak ingin mencari Ratih. Ia merasa jika ia bisa mabuk sampai pingsan, ulat-ulat itu tidak akan bisa menyakitinya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Dalam keadaan mabuk berat di kamarnya, Bimo mulai mengalami halusinasi pendengaran. Ia mendengar suara mesin cuci yang berputar kencang di sudut kamarnya yang kosong.

Sreg... sreg... sreg...

"Siapa di sana?!" teriak Bimo sambil melempar botol minumannya ke arah sudut ruangan.

Tidak ada siapa-siapa. Namun, bau sabun colek yang sangat menyengat—bau yang selalu identik dengan Ratih—tiba-tiba memenuhi hidungnya. Bau itu begitu kuat, menutupi bau alkohol dan asap rokok.

"Ratih? Lu di sini?" Bimo merangkak, matanya yang merah mencari-cari di kegelapan.

Tiba-tiba, ia melihat tumpukan baju kotor di pojok ruangan bergerak. Dari balik tumpukan kain itu, muncullah ulat-ulat besar yang berwarna putih pucat. Ulat-ulat itu tidak menyerangnya, mereka hanya berbaris membentuk sebuah kalimat di lantai semen:

"DIMANA UANG IBUKU?"

Bimo menjerit, ia menutup matanya rapat-rapat. "Pergi! Pergi kalian! Besok gue cari dukun lain! Gue nggak akan sujud sama lu, Ratih! Nggak akan!"

Kesombongan Bimo ternyata belum patah sepenuhnya. Rasa sakit fisik memang menyiksanya, namun egonya masih mencoba mencari celah untuk menang tanpa syarat. Ia merasa bahwa dengan uang yang ia miliki di sisa tabungannya (yang sebenarnya adalah uang Ratih), ia bisa membeli kesembuhan dari dukun manapun di tanah Jawa ini.

Bimo tertidur di lantai dengan sisa-sisa tangisan frustrasi. Besok, ia berencana untuk membolos kerja dan mencari "Dukun Sakti" lain yang ia temukan infonya dari internet di daerah Gunung Salak. Ia lebih memilih menghabiskan sisa uangnya untuk dukun daripada mengembalikannya pada Ratih.

Di kejauhan, Ratih yang kembali ke kosnya, melihat cahaya lampu di kamar Bimo padam. Ia tahu, sang mangsa masih mencoba melawan takdir.

"Bermainlah sesukamu, Bimo. Sampai uangmu habis, sampai tenagamu habis. Pada akhirnya, kamu akan merangkak di depanku sambil menciumi debu di kakiku," gumam Ratih sebelum ia memejamkan mata dengan tenang.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!