Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang di balik langit
Pesan misterius itu seperti es batu yang dipaksa masuk ke dalam kerongkonganku—dingin, tajam, dan membuatku tersedak dalam diam. Aku menatap punggung Biru yang masih menghadap laut, siluetnya tampak begitu kokoh dan menenangkan di bawah siraman cahaya bulan. Namun, dalam sekejap, pria yang baru saja menawarkan samudranya untuk menampung duka-dukaku itu berubah menjadi teka-teki yang berbahaya.
"Jangan terlalu percaya pada langit yang terlihat tenang, Aruna. Dia juga bisa menyimpan petir yang akan menghancurkanmu dua kali lebih hebat."
Kalimat itu berulang-ulang di kepalaku, berdenyut seirama dengan detak jantungku yang mulai tak beraturan.
"Ada apa, Aruna?" Biru berbalik. Dia menyadari perubahan atmosfer di antara kami. Matanya yang tajam menatapku dengan binar kepedulian yang biasanya membuatku luluh, tapi kali ini, binar itu terasa seperti lampu interogasi.
Aku buru-buru menyembunyikan ponsel ke dalam saku jaket, jemariku gemetar. "Bukan apa-apa. Hanya pesan spam dari operator."
Aku berbohong. Dan untuk pertama kalinya sejak aku membiarkan Biru masuk ke dalam lingkaranku, aku membangun kembali satu lapis dinding es. Kali ini lebih tebal, lebih rapat.
"Wajahmu pucat sekali. Kamu kedinginan?" Biru melangkah mendekat, hendak menyentuh keningku dengan punggung tangannya.
Refleks, aku mundur selangkah. Gerakanku begitu cepat dan kasar hingga Biru mematung di tempatnya. Tangannya menggantung di udara, sebuah ruang kosong yang tiba-tiba terasa sangat lebar memisahkan kami.
"Aku... aku hanya butuh udara segar. Sendirian," kataku dengan suara yang kuusahakan tetap datar.
Biru menurunkan tangannya perlahan. Ada gurat kekecewaan yang melintas di wajahnya, namun dia tetap diam. Ketenangan Biru yang biasanya terasa seperti pelabuhan, kini terasa seperti topeng yang sangat rapi. Aku mulai memperhatikan detail yang sebelumnya luput dari analisaku yang tumpul karena emosi.
Aku teringat bagaimana mudahnya dia masuk ke proyek esai foto di kantor. Pak Hendra, pimpinanku yang kolot dan sangat selektif, tiba-tiba menerima fotografer lepas tanpa portofolio resmi di meja redaksi. Mengapa Biru selalu ada di kafe itu di jam yang sama denganku? Mengapa dia tahu persis bagaimana cara memicu emosiku seolah dia sudah mempelajari manual tentang diriku bertahun-tahun lamanya?
"Na," panggil Biru lembut, "kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, kamu bisa membaginya denganku. Ingat? Samudra."
Aku menatapnya, mencari kebohongan di matanya, tapi yang kutemukan hanyalah ketenangan biru yang dalam. Samudra, pikirku pahit. Samudra memang luas, tapi dia juga tempat paling mudah untuk menenggelamkan rahasia sedalam-dalamnya hingga tak ada yang bisa menemukannya.
"Aku ingin pulang, Biru," kataku dingin.
Perjalanan pulang di dalam mobil Biru terasa seperti berada di dalam peti mati yang bergerak. Tak ada musik, tak ada percakapan filosofis tentang fajar atau senja. Hanya suara mesin dan deru angin yang menghantam kaca. Biru beberapa kali melirikku, mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, namun ia selalu mengatupkannya kembali.
Setibanya di depan apartemen, aku keluar bahkan sebelum dia sempat mematikan mesin.
"Aruna!" Biru memanggil dari jendela mobil yang terbuka. "Istirahatlah. Besok kita punya banyak jadwal di kantor."
Aku tidak menoleh. Aku terus berjalan masuk ke lobi, merasakan berat ponsel di sakuku seperti sebuah bom waktu. Di dalam lift yang bergerak naik, aku membuka kembali pesan itu. Aku melihat foto Biru yang sedang memotretku di dermaga. Sudut pengambilannya sangat jauh, diambil dari balik pohon atau mobil lain.
Seseorang sedang mengawasi kami. Seseorang ingin aku tahu bahwa Biru Laksmana Langit bukanlah pahlawan tanpa pamrih yang datang menyelamatkanku.
Malam itu, di dalam kamarku yang gelap, fajar dalam diriku tidak hanya membeku, ia mulai dihantui oleh bayang-bayang langitnya sendiri. Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan: Abhinara yang menghancurkanku secara terang-terangan, atau Biru yang mungkin sedang menyusun kepingan kehancuranku dengan cara yang paling halus.
Besok, aku bersumpah pada diriku sendiri. Aku tidak akan lagi menjadi pendengar yang pasif. Aku akan mencari tahu siapa sebenarnya Biru Laksmana Langit, meskipun itu artinya aku harus masuk ke dalam badai yang lebih besar daripada yang pernah kualami sebelumnya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...