Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Lydia yang berniat membuang sampah dibuat bingung oleh orang-orang yang berdiri di depan apartemen Arion. Terlebih setelah Liam menyebutnya sebagai gebetan Arion.
Ia ingin mengabaikannya, tapi sekarang tatapan orang-orang tertuju padanya. Sepertinya mereka salah paham karena perkataan Liam.
"Selamat malam, Pak," ucap Lydia kikuk. Ia akhirnya memutuskan menyapa, meski sadar sikapnya barusan mungkin terlihat aneh di mata mereka.
"Malam, Lydia," balas Calvin. Bagaimanapun, mereka pernah menjadi partner kerja, sehingga ia tidak segan membalas sapaan itu.
Haikal dan Nathan ikut membalas sapaan Lydia dengan senyuman, sementara Arion hanya menatap datar ke arah perempuan itu.
"Saya duluan," ujar Lydia sambil menunjuk plastik sampah di tangannya, lalu ke arah tempat yang akan ia tuju untuk membuang sampah.
Ia tidak ingin berlama-lama di sana, jadi memilih segera menyelesaikan urusannya dan kembali ke apartemennya.
Saat berbalik, tubuhnya tanpa sengaja menabrak seseorang. Hampir saja ia terjatuh, beruntung orang yang ia tabrak sigap menangkap tubuhnya.
"Hati-hati," ucap Jevan memegang pinggang Lydia.
Lydia tanpa sadar menelan ludahnya. Posisi mereka sekarang membuatnya bisa melihat dengan jelas wajah tampan Jevan.
Namun, ia tidak bisa menatapnya terlalu lama, karena tiba-tiba ia teringat Arion yang mengira ada sesuatu antara dirinya dan Jevan.
"Maaf, Pak," ujar Lydia sambil menjauhkan diri dari Jevan, sebelum akhirnya melirik ke arah Arion.
Laki-laki itu membuang muka dari Lydia, lalu berbalik dan masuk ke dalam apartemennya. Padahal sebelumnya ia berniat pergi, tapi sekarang ia mendadak malas keluar.
Calvin, Haikal, dan Nathan tampak bingung melihat pemandangan tersebut. Namun, satu hal yang jelas, ada sesuatu antara Arion dan Lydia.
"Permisi, Pak." Tidak nyaman dengan tatapan orang-orang di sana, Lydia memilih segera pergi membuang sampah, sesuai tujuan awalnya keluar dari apartemen.
Ia sadar semua orang semakin salah paham terhadap hubungannya dengan Arion, tapi ia tidak bisa melakukan apa pun selain pergi dari sana.
Setelah selesai membuang sampah, Lydia tidak melihat siapa pun di depan apartemennya maupun apartemen Arion. Mungkin mereka sudah pulang, atau mungkin masuk ke dalam apartemen Arion.
Tanpa memikirkannya lebih jauh, ia bergegas masuk ke dalam apartemennya dan memilih beristirahat. Hari ini sudah cukup banyak hal yang ia lewati, dan ia perlu menyiapkan diri untuk hari esok.
***
Arion mengusap wajahnya. Ia tidak tahu kenapa ia kesal melihat Jevan memeluk Lydia seperti tadi. Ada rasa tidak terima dalam dirinya, tapi ia sadar perasaannya salah dan ia tidak berhak untuk kesal akan hal itu.
"Apa kamu cemburu melihat Lydia dan Paman Jevan tadi?" tanya Calvin. Bukan bermaksud menginterogasi, ia hanya ingin memastikan sudah sejauh apa perasaan Arion.
Haikal, Nathan dan Jevan sedang berada di ruangan lain sekarang, sehingga mereka bisa saling terbuka sebagai paman dan keponakannya.
"Aku tidak tahu," jawab Arion, kali ini tidak langsung menyangkalnya. Bukti bahwa perasaan itu memang ada, dan semakin tumbuh.
Arion masih belum menyadarinya. Mungkin karena ini pertama kalinya ia memiliki perasaan terhadap perempuan. Namun, orang-orang di sekitarnya, termasuk Calvin, sangat menyadarinya.
"Jatuh cinta tidak salah, Kak. Tidak apa-apa juga kalau kamu memiliki perasaan terhadap Lydia. Asal kamu sudah siap dengan segala konsekuensinya," ucap Calvin memberi nasihat.
"Maksud Paman harus siap ditolak?" tanya Arion, yang entah kenapa langsung memikirkan kemungkinan itu.
Lydia pernah mengatakan ingin mencari duda kaya yang bisa menunjang hidupnya. Perempuan itu juga sepertinya belum move on dari Marvin. Jika benar Arion memiliki perasaan terhadap Lydia, sangat besar kemungkinan ia akan ditolak.
"Jangan pesimis dulu, Kak. Belum tentu juga Lydia menolak kamu," kata Calvin.
Dibalik Calvin yang selalu menuruti keinginan keponakannya ini, ia adalah laki-laki yang memperjuangkan cintanya sampai titik darah penghabisan.
Bahkan, dulu ia sempat ditolak karena alasan tidak masuk akal, karena terlalu kaya. Namun, ia tetap berjuang hingga akhirnya menikah dan sekarang ia sudah memiliki satu anak.
"Lydia pernah mengatakan kalau dia menginginkan duda kaya, dan dia juga memuji Paman Jevan di depanku," ungkap Arion mendadak lemas, seperti sudah kehilangan harapan akan sesuatu.
"Jadi itu alasan kamu cemburu?" Calvin terkekeh mengetahui keponakannya semakin dewasa, dan bahkan sudah mengenal rasa cemburu.
Meski Arion belum mengakuinya, tapi Calvin bisa menyimpulkan bahwa itulah yang sedang keponakannya rasakan sekarang.
"Aku tidak pernah mengatakan kalau aku cemburu," sangkal Arion cepat.
Tepat saat itu terdengar suara orang terjatuh. Haikal dan Nathan ternyata diam-diam menguping pembicaraan mereka.
Calvin dan Arion langsung menatap tidak suka ke arah mereka. Tidak seharusnya mereka berada di sana dan mengganggu obrolan.
"Kenapa kalian di sini? Gue sudah minta kalian nunggu di ruang tamu," ucap Calvin mengomeli kedua sahabatnya itu.
Ia sudah mengingatkan mereka untuk tetap berada di ruang tamu karena ia ingin berbicara berdua dengan Arion, tapi mereka tidak mengindahkannya.
Kedua orang itu mengangkat dua jari membentuk huruf V sambil menyengir kuda dan mengucapkan kata maaf.
“Apa yang diharapkan dari mereka?” batin Arion sambil memutar mata, terlalu jengah dengan kelakuan sahabat paman dan ayahnya itu.
***
Lydia baru memejamkan mata ketika ponselnya di atas meja tiba-tiba berdering. Ia terpaksa membuka mata, lalu duduk dan meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya tengah malam.
"Marvin?" gumamnya pelan saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Laki-laki itu tidak pernah benar-benar pergi dari hidup Lydia, meski pertunangan mereka sudah resmi berakhir. Sejak pertemuannya dengan Marvin di coffeeshop hari itu, hampir setiap hari Marvin menelepon atau mengirim spam chat.
"Ada apa lagi Marvin menelpon malam-malam?" tanya Lydia, masih menatap layar ponselnya.
Jika ditanya soal perasaan, ia sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Marvin. Melupakan tidak semudah itu, namun Lydia bisa dengan mudah melupakan perasaannya karena sudah terlalu sering dikecewakan.
Dulu, Lydia sangat bergantung pada Marvin karena hanya Marvin yang ia miliki. Namun kini, seiring berjalannya waktu, dan semakin dewasa pikirannya, ia tidak pernah bergantung lagi.
Hubungan mereka terus berjalan hanya karena Lydia ingin memberi Marvin kesempatan. Sayangnya, Marvin kembali berkhianat dan mengecewakannya.
“Sepertinya besok aku sudah harus mengganti nomor teleponku,” ujarnya sebelum mematikan ponselnya agar tidak ada lagi yang mengganggunya.
***
Marvin tertawa pelan ketika nomor Lydia tidak bisa dihubungi, nomornya tidak aktif. Padahal, tadi ia masih bisa menghubungi nomor itu, tapi sekarang tiba-tiba saja tidak aktif.
"Apa kita sudah benar-benar berakhir?" gumamnya lirih.
Ia tidak bisa melepaskan Lydia begitu saja. Mereka memiliki sejarah yang tidak semudah itu untuk dilupakan. Lydia adalah orang yang menemaninya ketika ia baru menjabat sebagai CEO di perusahaan keluarganya dan diragukan oleh banyak orang.
Dulu, perusahaan keluarga Marvin nyaris gulung tikar. Sang CEO, ayah Marvin, mengalami kerugian besar setelah kehilangan salah satu investor besar.
Semua semakin parah saat ayah Marvin terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Jika saja waktu itu Lydia tidak meyakinkan Marvin untuk mengambil alih perusahaan, mungkin Marvin tidak akan sampai di titik ini.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkanku," lirihnya pelan.