Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Sesi Foto Pre-wedding
Aroma hairspray yang menyengat bercampur dengan dinginnya udara AC menyambut indra penciuman Nadinta begitu ia melangkah masuk ke ruang rias Lensa Abadi Photography.
Ruangan itu tidak terlalu besar, didominasi oleh cermin panjang dengan lampu-lampu bohlam di sekelilingnya yang memancarkan cahaya kuning hangat.
Nadinta duduk tenang di kursi rias, membiarkan seorang makeup artist muda memoleskan bedak tabur ke wajahnya. Sesuai konsep casual intimate yang terpaksa disepakati.
Dari pantulan cermin, Nadinta bisa melihat Arga duduk di sofa beludru merah di belakangnya. Pria itu sudah mengenakan kemeja linen sage green mahal yang dibeli Nadinta kemarin—kemeja yang dibeli dengan uang "operasional kantor" fiktif.
Kemeja itu membalut tubuhnya dengan pas, memberikan ilusi kesuksesan yang selama ini mati-matian ia bangun.
Namun, bukan penampilan Arga yang menarik perhatian Nadinta, melainkan tingkah lakunya.
Sejak mereka tiba lima belas menit lalu, Arga tidak lepas dari ponselnya. Kakinya yang dibalut celana chino baru bergoyang-goyang santai mengikuti irama lagu yang diputar di studio.
Wajahnya yang kemarin kusut dan panik, hari ini terlihat cerah. Sangat cerah.
Jempol Arga menari lincah di atas layar. Sesekali, dia tersenyum lebar—senyum lega, senyum pria yang merasa beban hidupnya sudah terangkat.
Nadinta tahu persis kenapa. Arga pasti merasa posisinya sudah aman. Uang sepuluh juta plus bunga sudah dikembalikan ke Maya semalam. Maya sudah tidak marah lagi. Hubungan gelap mereka sudah kembali mesra, dan Nadinta—di mata Arga—masihlah tunangan bodoh yang bisa dimanipulasi.
"Mas," panggil Nadinta pelan, matanya tetap menatap pantulan Arga di cermin tanpa menoleh. "Sibuk banget kayaknya. Senyum-senyum sendiri dari tadi. Ada kabar baik?"
Arga tersentak kaget. Dia buru-buru menurunkan ponselnya ke pangkuan dan mematikan layar, lalu berdeham canggung.
"Eh? Enggak kok, Din," elak Arga cepat, namun senyum di bibirnya masih tersisa. Dia menegakkan punggungnya, berusaha terlihat berwibawa.
"Ini... biasa, lagi becanda sama anak-anak futsal di grup. Si Bambang ngirim meme lucu."
"Oh, grup futsal," ulang Nadinta dengan nada datar. "Kirain lagi chatting sama klien atau siapa gitu. Soalnya intens banget."
"Ya enggak lah, Sayang. Hari ini kan hari libur, harinya kita," Arga bangkit dari sofa, berjalan mendekati Nadinta. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Nadinta, menatap wajah tunangannya di cermin dengan tatapan memuja yang dibuat-buat.
"Liat tuh, calon istri aku cantik banget. Pantesan aku happy, ngebayangin nanti hasilnya pasti bagus banget dipajang di resepsi. Kamu jangan cemberut dong, kan baju udah baru, aku juga udah ada di sini nemenin kamu."
Nadinta membalas tatapan Arga di cermin. Dia melihat pantulan pria yang pandai bersandiwara itu.
"Siapa yang cemberut, Mas? Aku cuma deg-degan aja," jawab Nadinta singkat.
Nadinta kemudian melirik ponselnya sendiri yang tergeletak di meja rias, tepat di samping kotak tisu. Dia menyalakan layarnya sekilas.
Pukul 10.15 WIB.
Seharusnya sebentar lagi.
Nadinta mengecek satu pesan terakhir yang masuk ke ponselnya. Bukan dari Arga, bukan dari kantor. Pesan singkat itu hanya berisi satu kata: OTW.
Sudut bibir Nadinta terangkat tipis. Sangat tipis.
"Mbak, sudah selesai ya," ujar sang makeup artist, mundur selangkah. "Lipstiknya sengaja nude biar kesan natural-nya dapet. Tinggal ganti baju aja."
Nadinta mengangguk. Dia mengambil ponselnya, menggenggamnya erat. "Oke. Yuk, Mas. Mas Rio udah nunggu di set."
Set foto itu didesain cukup estetik. Backdrop polos berwarna abu-abu muda, beberapa tanaman hias kering di pot gerabah besar, dan sebuah bangku kayu minimalis.
Lampu-lampu studio sudah dinyalakan, menyorot area tengah panggung.
Rio, sang fotografer dengan rambut dikuncir, sedang mengatur lighting.
"Oke, lovebirds! Udah siap ya?" sapa Rio ramah saat melihat mereka keluar. "Wih, outfit-nya cakep. Masuk banget sama tone studionya. Kemeja Mas Arga warnanya pop up banget di kamera."
Arga membusungkan dadanya bangga. Dia merasa ganteng, merasa kaya, dan merasa masalahnya sudah selesai.
"Jelas dong, Mas Rio. Pilihan calon istri emang nggak pernah salah."
"Sip. Kita mulai dari pose santai dulu ya. Berdiri berdampingan, tapi jangan kaku. Mas Arga tangan masuk saku satu, Bu Nadinta pegang lengan calon suaminya. Tatap-tatapan mesra, oke?" instruksi Rio sambil membidikkan kameranya.
Arga langsung mengambil posisi. Dia memasukkan tangan kirinya ke saku celana, memiringkan tubuhnya sedikit agar terlihat tegap, dan memasang wajah "cool" andalannya.
Nadinta melangkah mendekat. Dia meletakkan tangannya di lengan Arga. Namun, matanya tidak menatap Arga. Matanya bergerak liar, menyapu ke arah pintu masuk studio yang terbuat dari kaca buram di ujung lorong.
"Bu Nadinta? Fokus ke calonnya ya, Bu. Dagu diangkat dikit," tegur Rio sambil menurunkan kamera sedikit.
"Ah, iya. Maaf, Mas," Nadinta tersenyum canggung, lalu menatap dagu Arga.
"Oke, satu... dua..."
Tepat saat Rio hendak menekan tombol shutter, kepala Nadinta menoleh lagi ke arah pintu masuk, seolah mendengar suara langkah kaki.
Cekrek.
Rio melihat hasil fotonya di layar kamera dan mendecakkan lidah. "Yah, Bu Nadinta nengok lagi. Matanya nggak fokus nih. Miss lagi."
Arga menghela napas panjang, sedikit kesal karena angle terbaiknya jadi sia-sia. Dia menunduk menatap Nadinta.
"Din, kamu kenapa sih?" bisik Arga, nadanya mulai menuntut. "Fokus dong. Sayang lho waktunya. Kamu nyari siapa sih dari tadi?"
Nadinta tersentak pelan. "Enggak, Mas. Nggak nyari siapa-siapa."
"Terus kenapa nengok ke pintu terus? Ada paket yang mau dateng? Atau ada temen kantor?" tanya Arga curiga. Dia mengikuti arah pandang Nadinta ke pintu yang tertutup rapat.
"Ini sesi private, Din. Nggak ada orang lain."
"Iya, Mas. Aku tahu. Cuma perasaan aku aja kayak ada yang mau dateng," elak Nadinta, merapikan rambutnya dengan gerakan gugup yang dibuat-buat. "Udah, yuk lanjut. Maaf ya, Mas Rio."
Rio mengangguk maklum. "Oke, take dua. Rileks aja, Bu. Anggap aja dunia milik berdua."
Sesi foto berlanjut, tapi Nadinta sengaja membuatnya sulit. Dia berkali-kali mengubah posisi di detik terakhir, membuat ekspresi wajahnya datar, atau berpura-pura membenarkan bajunya saat Rio hendak memotret.
Arga mulai kehilangan kesabaran. Dia ingin foto ini terlihat sempurna untuk dipamerkan di Instagram nanti—tentu saja dengan fitur close friends agar Maya tidak lihat, atau mungkin dia akan memblokir Maya dari postingan ini.
"Din, senyum dong. Yang happy," desis Arga sambil meremas pinggang Nadinta pelan. "Kamu mikirin apa sih? Masih mikirin duit belanja kemarin? Kan aku bilang bakal ganti lunas, sayang. Jangan dibawa stres dong."
Nadinta menatap mata Arga. "Aku nggak mikirin uang, Mas. Aku cuma..."
Nadinta menggantung kalimatnya. Matanya kembali melirik jam dinding besar di atas pintu.
Sudah waktunya.
"Oke, lovebirds! Tahan posisi itu! Tatapan matanya bagus, sedikit lagi!" seru Rio, mencoba membangun mood. "Satu... dua..."
KLING.
Suara lonceng pintu depan studio berbunyi nyaring, memecah konsentrasi semua orang.
Bukan hanya bunyi lonceng. Suara langkah kaki heels yang beradu dengan lantai vinyl terdengar mendekat. Langkah yang santai namun percaya diri.
Nadinta yang sedang dalam posisi dipeluk Arga dari samping, seketika menoleh ke arah sumber suara. Tubuhnya yang tadi kaku, mendadak rileks. Bahunya turun. Senyum yang tadi dipaksakan, kini perlahan merekah—senyum yang aneh, penuh kepuasan.
"Siapa sih? Ganggu banget," gerutu Arga. Dia melepaskan pelukannya dan berbalik badan dengan wajah kesal, siap menegur siapa pun yang berani masuk sembarangan ke sesi foto mahalnya.
Namun, kata-kata teguran itu mati di kerongkongan Arga.
Pintu kaca buram itu terbuka.
Aroma vanilla yang manis dan pekat—aroma yang sama yang Arga cium semalam saat dia memohon-mohon pengampunan—kini memenuhi ruangan studio.
Di ambang pintu, berdiri sosok wanita dengan dress bodycon selutut berwarna merah marun yang mencolok. Rambutnya di-blow sempurna, wajahnya full makeup, dan di tangannya dia menenteng sebuah paperbag kecil.
Dia tidak terlihat marah. Justru sebaliknya, dia tersenyum manis. Senyum yang biasanya membuat Arga meleleh, tapi kali ini membuat darah Arga membeku hingga ke tulang sumsum.
Maya.
Wanita itu berdiri di sana, menatap pemandangan di depannya. Dia melihat Arga yang memakai baju baru nan gagah. Dia melihat Nadinta yang cantik dengan riasan minimalis. Dia melihat setting studio foto prewedding yang romantis.
Mata Maya membelalak sedikit, seolah terkejut melihat pemandangan itu, namun senyum di bibirnya tidak luntur.
"Hai!" sapa Maya dengan suara cemprengnya yang khas, melambaikan tangan dengan ceria seolah dia sedang mampir ke kafe biasa.
Jantung Arga rasanya copot dan jatuh ke lantai.
"M-Maya?" suara Arga keluar seperti cicitan tikus terjepit. Wajahnya pucat pasi. Kakinya refleks mundur dua langkah menjauh dari Nadinta, menciptakan jarak sejauh mungkin.
Kenapa Maya ada di sini? Pikir Arga panik.
Entah mengapa, perasaan pria itu mendadak. menjadi tidak enak.
Rio menurunkan kameranya, bingung. "Eh, ada tamu ya Pak Arga?"
Nadinta tidak mundur. Dia justru berdiri tegak di tempatnya. Dia menatap wajah Arga yang ketakutan setengah mati, lalu beralih menatap Maya yang berdiri di pintu dengan gaya sok akrab.
Perlahan, Nadinta melipat kedua tangannya di dada. Senyum kemenangan terukir jelas di bibirnya.
"Ah," ucap Nadinta pelan, suaranya terdengar renyah dan ramah, kontras dengan kepanikan Arga. "Akhirnya sampai juga."
Nadinta melangkah maju, melewati Arga yang masih mematung, menyambut kedatangan wanita yang akan menjadi bom waktu bagi hidup Arga.
"Masuk, May. Kita udah nungguin dari tadi lho."