Nella sudah jadi istri, ini ajaib.
Tidak terima dan kecewa adalah kesan pertama tapi, karena ini keputusan keluarganya ia harus terima dengan terpaksa dan siapa suaminya sekarang Nella sama sekali tak kenal.
Kehidupannya berubah drastis saat memilih menerima suaminya menjadi sah untuk dirinya bersamaan dengan rasa kecewa itu.
Selama waktu berjalan Nella akhirnya tahu suami yang menikahi dirinya bahkan seluruh kekurangannya adalah orang yang sama sekali tak pernah Nella bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau mengubahnya
Sudah hampir dua Minggu Nella tidak mengajak Javier bicara sama sekali bahkan meliriknya pun Nella tidak melakukannya.
Sekarang ia harus menatap wajahnya dan bicara langsung padanya. Apa ini termasuk ide yang gila? Nella stres didepan pintu kamar Javier sejak tadi.
Mengetuk, iya sebagai permulaan Javier bicara dengannya adalah Nella harus mengetuk pintu kamar ini.
Terbuka sebelum di ketuk sosoknya berdiri tegap sama SMA diam, bedanya Nella terlihat kaget sedangkan Javier santai datar dan tegap.
"Javier, aku... Aku mau kerja aku mau ngajuin syarat kontrak nikahnya."
Javier merunduk menyamakan tinggi badannya dan mengangkat dagu Nella agar menatap wajahnya.
"Tidak terima kontrak nikah, mau bekerja kerja dengan ku, sekertaris pribadi yang kamu bilang." Senyum miring Javier, jari telunjuk yang menyentuh ujung hidung Nella
"Aku tidak mau, aku mau kamu menerima permintaan kontrak nikahnya." Jawab cepat menepis tangan Javier dari menunjuk wajahnya.
"Tidak." Berubah ekspresi nya jadi serius, ucapan singkat dan pergi menjauh, tangannya sedikit menggeser bahu Nella agar menyingkir dari jalan keluarnya.
"Izin kan aku bekerja aku mohon, hanya untuk kesibukanku." Jujurnya ia takut dan canggung pada Javier tapi, ia tak mau mati kebosanan, bicara membuang wajah sambil tangan Nella menarik jas Javier.
Matanya turun kebawah melihat jasnya di tarik.
Tangannya langsung di tarik nya sebelum Javier marah padanya.
Tatapannya tajam, melangkah pelan mendekat dan Nella mundur perlahan saat Javier mendekat.
"Tidak."
Mengecup kening Nella, dengan suasana yang aneh dan kecupan di dahinya.
"Kenapa ini benar-benar sulit... Cuman minta izin kerja karena kamu suamiku, apa salahnya jawab iya."
"Tidak Nella sayang."
"Javier izinkan aku bekerja aku minta maaf kalo kemarin aku minta di habisi olehmu." Tidak ada pilihan lain Nella harus meluluhkan hatinya walau ia menjatuhkan harga diri tingginya didepan suami kuasa yang tegas galak dan cemburuan.
"Hem."
"Cuman itu aja, aku kan udah siapin semua sarapan keperluan walaupun aku gak ngomong sama kamu selama dua Minggu, aku juga sehat jaga makan jaga terus kesehatan."
"Tidak."
Javier meminum kopi dan juga roti bakar yang sudah Nella siapkan tapi saat kopi yang baru di seruput dan niat ingin memakan roti, suara ponsel membuatnya teralihkan menyentuh bibir Nella untuk berhenti bicara.
Nella menepis dan pergi dari Javier tapi, ia tetap berbalik badan penasaran kemana Javier akan pergi.
"Kalo tau dia mau kemana dan tau apa yang bakalan dia lakuin kalo aku pake buat ancaman bisa diizinin buat kerja kan..."
"Niat mu gak akan pernah kejadian, di rumah saja lebih aman."
Javier pergi hanya menghabiskan kopinya tanpa makan. Duduk di kursi bekas Javier dan memakan roti yang belum Javier makan.
Saat asik makan Javier kembali lagi menyambar Roti di mulutnya yang masih besar belum semua masuk kedalam mulutnya.
Tanpa ekspresi senyum ia pergi saja meninggalkan Nella.
Diam cegukan ia merasa kalo Javier memberikannya ciuman sekaligus memakan roti langsung dari mulutnya.
****
Satu dua jam Nella mulai mengambil keputusan. Akhirnya ia harus menyusul Javier dari pada ia di rumah terus ia akan membuat masalah sekarang.
Baru saja memakai jaket keluar dari rumah seseorang berhenti didepannya, Shinta.
"Nyonya, kemana anda akan pergi?"
"Kebetulan kamu disini, Ayo Shinta pergi susul Javier."
Shinta mundur menatap Nella.
"Tidak bisa nyonya karena Tuan tidak mengizinkan kita pergi apapun yang nyonya mau asal tidak menyusul beliau."
Nella tersenyum miring.
"Baiklah ayo."
Shinta menghela nafasnya melirik ke samping dimana Daman memperhatikan mereka.
Javier disini setelah memenuhi panggilan ayahnya.
Rencananya hari ini ia akan mengajak Nella berlibur jauh tapi, acara orang tua ada saja dan panggilan ini membuatnya gerah.
"Kenapa?"
"Apa seperti itu sopan santun mu menghadap ayahmu."
"Anda tidak pantas di sebut ayah."
"Kau hanya menikahi perempuan biasa karena perusahaan keluarganya ada di ujung tanduk, jadikan selir saja, kau menikah dengan Renata itu lebih baik." Javier yang datang dan mendengar ayahnya bicara sambil memakan camilan didepannya buah segar yang baru saja di potong dan juga jus buah.
"Duduklah aku memanggil putraku kemari bukan bawahanku."
Mata ayahnya tetap risih melihat putranya berdiri disana tidak duduk.
Meletakkan alat makannya kasar dan berdiri menghadap putranya.
"Orang yang tidak pantas menurutmu di sebut ayah ini memberikanmu kehidupan sampai sekarang dan kau tidak berterima kasih malah membangkang dari perjanjian."
"Aku tidak ingkar janji, aku hanya mencari kebahagiaanku, kau tak perlu repot-repot mengurusnya."
"Kau di larang memilih kebahagian di keluarga ini, apapun kau itu sudah di tentukan keluarga ini."
Javier diam ia tidak mau mengatakan kalimat kasar terus menerus tapi, ayahnya terus memprovokasinya.
"Ibu juga mati karena peraturan keluarga ini untuk membunuh selir yang berhasil melahirkan anak untuk keluarga ini dan yang berhasil melahirkan putra harus di singkirkan dengan cara apapun."
"Javier!" Mata ayah langsung merah marah karena ucapan yang mengatakan tentang kematian Shellia.
"Cih.. Kau memanggil namaku saja membuatku muak... Apapun keinginan Kayla untuk tetap terlihat lebih baik aku tidak perduli, jika kalian menyingkirkan ku singkirkan saja... Aku bisa melawannya, asal jangan sentuh mereka saja itu membuatmu terlihat lebih jantan dan berani."
Merunduk sedikit dan pergi setelah berpamitan.
"Sialan anak kurang ajar itu."
"Ah satu lagi, kita tidak pernah terlihat akur dan baik-baik saja jadi silakan bersikap santai saja." Javier pergi sambil membuka kancing jasnya.
Kayla melihat dari kejauhan jika pembicaraan ayah dan anak sangat tidak berhasil.
"Apa yang di lakukan merek belakangan ini kenapa aku melihat wajah putra tersayangku bahagia." Tanya Kayla pada Ghina yang siap melaporkan sesuatu jika Kayla memintanya.
Ghina menyerahkan laporan dengan di bacanya jika setelah kejadian kecelakaan itu. Nella meminta cerai pada Javier secara terus menerus tapi, Nella di tolak oleh Javier hingga meminta di habisi.
Kayla tersenyum, Ghina berhenti membacanya.
"Lanjutkan."
Ghina kembali membacanya dan satu laporan terakhir adalah kalo Nella meminta Javier mengizinkannya bekerja dan mereka tetap bersikap pasangan walaupun dua minggu tidak bicara atau menyapa.
Nella benar-benar membuat Javier berubah.
Duduk Javier di kursi taman yang sepi, malam masih lama tapi, cuaca sudah sangat redup bahkan hanya ada awan hitam tanpa hujan, angin kencang.
"Matikan." Suara itu dari seseorang.
"Maila?"
"Yaap ini aku." Tersenyum manis ia seperti bunga di taman yang pertama kali menarik perhatian Javier dan membuatnya menjaganya tapi, sayang bung itu pergi bersama kenangan.
"Aku barusan kembali tapi, kau malah hanya menanyakan nama yang ekspresi wajahmu bodoh?"
Berdiri Javier dari sana.
"Tunggu Jav, aku hanya mau bicara karena kita sudah lama tidak bicara, kenapa kamu disini dan kemana kamu merorok bukannya kamu tidak pernah ?"
"Lima tahun itu lama, aku bukan Javier yang kamu kenal, aku harus berubah dan kamu datang untuk membuatku seperti dulu, kau bermimpi Maila?"
Tidak suka cara Javier bicara dengannya.
Seorang wanita dari kejauhan melihat mereka mata Javier memperhatikan ekspresi Maila yang melihat kebelakang nya tajam.
Berbalik badan Javier melihat Nella dan Shinta.
"Sayang..."
"Sayang?" Ulang Maila bingung.