NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yin dan Yan

Keramaian pasar ibu kota menyambut Wu Zetian dengan hiruk-pikuk yang kontras tajam dengan keheningan istana. Teriakan pedagang saling bersahutan, menawarkan kain sutra, rempah-rempah, hingga perhiasan murah. Aroma cabai kering bercampur dengan bau daging panggang yang mengepul dari warung-warung kecil, berpadu dengan wangi tanah basah sisa hujan semalam. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah tergesa, wajah-wajah penuh urusan, harapan, dan juga keputusasaan. Inilah pusat nadi kekaisaran.

Wu Zetian berjalan di antara kerumunan dengan langkah tenang. Pakaiannya sederhana, terlalu sederhana untuk seorang nona dari keluarga Perdana Menteri. Jubahnya berwarna kusam, tanpa sulaman berharga, dan wajahnya tertutup cadar tipis yang hanya memperlihatkan garis matanya. Ia sengaja memilih penampilan ini. Di pasar seperti ini, perbedaan sekecil apa pun bisa mengundang perhatian yang tak diinginkan.

Tatapan orang-orang melewatinya tanpa curiga.

Bagus, batinnya. Aku tidak ingin dikenali. Di dalam benaknya, pikirannya bergerak cepat, menimbang setiap kemungkinan.

Ia telah memiliki sedikit tabungan hasil menjual sayuran yang selama ini ia tanam sendiri. Hari ini, ia datang ke pasar bukan untuk berbelanja. Ia datang untuk mengamati, mencari tempat, dan mencari peluang.

Langkahnya terhenti di dekat sebuah gang kecil yang sempit, nyaris tersembunyi di antara dua deretan kios kayu tua. Gang itu gelap, lembap, dan jarang dilewati orang.

“Cepat serahkan semua yang kau punya!”

Bentakan kasar itu memecah kebisingan pasar. Wu Zetian menoleh.

Di dalam gang sempit itu, seorang laki-laki berpakaian sederhana terpojok di sudut tembok. Bajunya lusuh dan sobek di beberapa bagian, wajahnya kotor oleh debu dan darah kering. Namun sorot matanya tajam, menyala dengan perlawanan yang keras kepala. Di sekelilingnya, lima orang preman pasar mengurungnya rapat, masing-masing menggenggam pedang pendek dan belati yang telah ternoda karat dan darah lama.

“Kau pikir bisa kabur dari kami?” ejek salah satu preman sambil tertawa kasar.

Wu Zetian mengamati mereka dari kejauhan. Preman pasar biasa. Langkah mereka berat. Pegangan pedang mereka tidak stabil. Gerakannya ceroboh, lebih mengandalkan jumlah daripada keterampilan. Keserakahan jauh lebih besar daripada kemampuan.

Mereka tidak akan berhenti sampai orang itu mati

Wu Zetian menarik napas perlahan.

Baiklah. Anggap saja ini latihan.

Dalam sekejap, ia melangkah masuk ke gang itu.

Langkah kakinya ringan, hampir tak terdengar. Namun begitu ia melewati batas gang, udara di sekeliling mereka tiba-tiba berubah menjadi berat. Para preman itu terhenti seolah tubuh mereka mendadak ditarik ke bawah oleh sesuatu yang tak kasat mata.

“Apa-apaan ini…?” salah satu dari mereka mengerang, lututnya mendadak melemah dan menghantam tanah.

Wu Zetian berdiri di tengah gang dengan tenang. Cadar tipisnya berkibar pelan tertiup angin yang bahkan belum ia panggil. Satu tangannya terangkat sedikit, jemarinya membentuk gerakan hampir tak terlihat.

Sihir gravitasi menyebar perlahan.

“Gadis sialan!” seorang preman memaksa mengangkat pedangnya dan mencoba mengayunkannya ke arah Wu Zetian.

Namun lengannya berhenti di udara seperti terikat ribuan batu.

Wu Zetian tidak menunggu.

Dengan gerakan halus jari-jarinya, angin berputar cepat di sekeliling gang. Bukan angin besar yang mencolok, melainkan pusaran terkontrol yang bergerak presisi. Dalam sekejap mata, satu per satu tubuh para preman terangkat dari tanah.

Mereka menjerit panik. Namun Wu Zetian tidak melempar mereka menjauh. Ia memindahkan mereka. Satu per satu, tepat ke hadapan rekan mereka sendiri. Semua terjadi begitu cepat hingga mata manusia tak mampu mengikutinya.

Crassshh!

Tubuh-tubuh itu saling bertabrakan dengan suara keras. Pedang-pedang yang semula mereka genggam dengan susah payah kini terarah ke dada, perut, dan leher kawan mereka.

Wu Zetian melepaskan tekanan gravitasi itu secara tiba-tiba. Dan,

Suara daging tertusuk menggema di gang sempit itu. Satu per satu, para preman terdiam. Mata mereka membelalak. Pedang rekan mereka sendiri tertancap pada tubuh mereka masing-masing. Darah mengalir deras, membasahi tanah gang yang kotor, meresap ke celah batu.

Wu Zetian menatap mereka tanpa emosi.

Sangat gampang.

Ia berbalik, melangkah pergi seolah baru saja menghindari genangan air di jalan.

Pria yang tadi diserang berdiri terpaku. Napasnya tersengal hebat, dada naik turun tak beraturan. Matanya membelalak penuh keterkejutan. Bukan hanya karena ia selamat, melainkan karena apa yang baru saja ia saksikan.

Ia menatap gadis bercadar itu, ingin bertanya, ingin mengejar, ingin tahu siapa penyelamatnya.

“Siapa kau”

Namun sebelum kata-katanya selesai, tubuh Wu Zetian berpendar samar. Waktu di sekelilingnya seolah terlipat. Dalam sekejap, ia menghilang begitu saja, meninggalkan gang itu dalam keheningan berdarah. Pria itu mengepalkan tangannya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum menyeringai yang penuh minat.

“Liotin itu…” gumamnya pelan. “Aku pasti akan menemukanmu, gadis kecil.”

Di sisi lain kota, Wu Zetian muncul kembali di balik sebuah kios tua yang tak lagi beroperasi. Dindingnya retak, papan kayunya lapuk, dan pintunya berderit saat tersentuh angin.

Ia menoleh ke kios di sebelahnya. Sebuah toko kecil yang masih buka, menjual peralatan rumah tangga. Seorang pria paruh baya duduk di depan, menghitung uang receh dengan wajah lelah namun jujur.

“Permisi, Tuan,” sapa Wu Zetian sopan.

Pria itu mendongak. “Ada apa, Nona?”

“Apakah kau tahu pemilik kios di sebelah ini?”

“Oh, itu?” pria itu terkekeh kecil. “Kebetulan kios itu milik saya sendiri. Kios itu sudah lama tidak saya gunakan karena fokus ke usaha yang satu ini.”

Wu Zetian mengangguk pelan. “Apakah saya boleh membeli kios itu?”

Pria itu terkejut, lalu tersenyum ramah. “Tentu saja boleh. Mari kita bicarakan di dalam.”

“Ah, tidak apa-apa, Tuan, Aku hanya sebentar.” jawab Wu Zetian cepat.

Tak lama kemudian, transaksi selesai. Sebagian besar uang hasil jerih payahnya berpindah tangan. Kini, kios itu sudah menjadi miliknya.

Sore itu, Wu Zetian berjalan menuju sebuah taman kecil di pinggir pasar. Di bawah pohon rindang, ia melihat dua pemuda kembar duduk bersandar. Pakaian mereka lusuh, dan kulit mereka pucat.

Wu Zetian melangkah lebih dekat, berhenti tepat di hadapan dua pemuda kembar yang masih duduk bersandar di bawah pohon. Angin sore menggerakkan dedaunan di atas kepala mereka, menjatuhkan bayangan-bayangan tipis yang menari di wajah mereka yang kurus dan pucat. Dari jarak sedekat ini, Wu Zetian bisa melihat jelas betapa cekung pipi mereka, betapa kering bibir mereka, dan betapa kosong tatapan mata mereka.

Ia tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri di sana beberapa detik, memastikan suaranya nanti tidak terdengar mengasihani.

“Apa aku bisa bergabung dengan kalian?” tanyanya akhirnya, nada suaranya ringan, seolah ia hanya seorang gadis biasa yang ingin beristirahat di taman. Kedua pemuda itu tersentak, jelas tidak menyangka akan diajak bicara. Yang duduk di sebelah kiri refleks berdiri setengah, lalu buru-buru duduk kembali.

“T-tapi, Kak kami kotor. Kami takut mengotori dirimu.” katanya gugup. “

Wu Zetian tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia justru duduk di antara mereka, tanpa ragu menyentuh tanah yang sama, lalu meraih tangan keduanya sekaligus. Kulit mereka dingin, kasar, dan penuh bekas luka kecil.

“Itu sama sekali tidak masalah bagiku,” ucapnya lembut. “Yang terpenting adalah aku ingin berteman dengan kalian.”

Yan dan Yin saling berpandangan. Untuk pertama kalinya setelah entah berapa lama, ada seseorang yang menyentuh mereka tanpa jijik, rasa canggung perlahan mencair.

“Oke,” kata Wu Zetian sambil tersenyum kecil. “Sekarang kita perkenalan diri. Kamu dulu.”

Ia menunjuk Yan secara acak.

“Namaku… Yan,” jawabnya pelan.

“Dan namaku, Yin.”

Wu Zetian mengangguk. “Namaku Zetian. Mulai hari ini, kita berteman.”

“Setuju!” jawab mereka berdua hampir bersamaan, suara mereka terdengar lebih hidup daripada sebelumnya.

“Oh ya,” katanya kemudian. “Kalian tinggal di mana?”

Yan dan Yin terdiam. Hening beberapa detik.

Akhirnya Yin menarik napas dalam-dalam. “Kami tidak punya tempat tinggal.”

Yan melanjutkan dengan suara nyaris tak terdengar, “Sejak kecil, kami hidup di jalanan. Kadang tidur di kolong jembatan, dan kadang di gang kosong.”

Begitu muda… dan sudah dipaksa hidup seperti ini. Batin Wu Zetian.

“Aku minta maaf,” ucapnya tulus.

Yan menggeleng cepat. “Tidak apa-apa, Kak. Kami sudah terbiasa.”

Wu Zetian berdiri. “Kalau begitu, ayo ikut aku.”

Keduanya refleks ikut berdiri. “Ke mana?”

“Merayakan persahabatan,” jawab Wu Zetian ringan.

Mereka berhenti di depan sebuah warung makan sederhana. Meja kayunya sudah aus, kursinya tidak seragam, dan atapnya ditopang bambu. Namun aroma makanan panas yang keluar dari dapur membuat perut Yan dan Yin berkontraksi tanpa bisa ditahan.

“Ayo masuk,” kata Wu Zetian.

Yan langsung menggeleng panik. “Ah, tidak, Kak. Kami tidak punya uang.”

“Lain kali saja”

“Kali ini aku yang traktir,” potong Wu Zetian tegas namun hangat. “Pesan sampai kalian kenyang.”

“Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapi,” katanya sambil mendorong mereka masuk. “Uang masih bisa dicari.”

Akhirnya mereka duduk.

Saat makanan datang. Yan dan Yin menatapnya sejenak, seolah memastikan ini bukan mimpi. Lalu mereka makan. Cepat, tapi tidak rakus.

Wu Zetian memperhatikan mereka sambil minum tehnya. Aku memilih orang yang tepat, batinnya.

Beberapa jam kemudian, mereka keluar dari warung dengan wajah jauh lebih hidup. Warna di pipi mereka mulai kembali, dan langkah mereka tak lagi terseok.

“Aku masih ingin menunjukkan kalian sesuatu,” kata Wu Zetian.

Yan langsung mengangkat tangan. “Kak, kalau harus menguras dompetmu lagi...”

“Tidak,” jawab Wu Zetian singkat. “Aku hanya ingin menunjukkan.”

Mereka berhenti di depan kios kosong yang tadi dibeli Wu Zetian. Pintu kayunya tertutup rapat, catnya mengelupas, namun strukturnya kokoh.

Yan dan Yin menatapnya bingung.

“Kak?” Yin menoleh. “Kenapa kita berhenti di sini?”

Wu Zetian berbalik menghadap mereka. “Karena ini adalah kios milikku.”

“Milik Kakak?” Yan terbata.

Wu Zetian mengangguk. “Aku berencana membuka toko obat-obatan di sini. Kios ini punya kamar, dapur, dan kamar mandi di dalam.”

Ia menatap mereka berdua lurus-lurus.

“Aku ingin kalian bekerja denganku. Dan aku ingin kalian tinggal di sini. Supaya kalian tidak tidur di jalanan lagi.”

Yan dan Yin membeku.

Beberapa detik berlalu.

“Benarkah…?” suara Yin bergetar. “Kakak serius?”

Wu Zetian tersenyum kecil. “Serius. Tidak ada paksaan. Kalau kalian mau.”

Yan mengangkat wajahnya. Matanya basah. “Kami tidak pernah bermimpi mendapatkan kesempatan seperti ini. Kami beruntung bisa bertemu dengan kakak."

Wu Zetian terdiam sejenak, lalu menepuk bahu mereka. “Kalau begitu, anggap saja ini adalah awal yang baru untuk kehidupan kalian.”

Malam itu, Wu Zetian kembali ke kediamannya dengan perasaan yang berbeda.

______________

Yuhuu~🌹

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖

See you~💓

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!