"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
"Kau meninggalkanku satu minggu, Jim! Tujuh hari!" seru Leana begitu pintu terbuka.
Gadis itu berdiri ruang tengah dengan tangan bersedekap, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan, dan ia hanya mengenakan kaus kebesaran yang menutupi separuh pahanya.
Jimmy masuk dengan wajah lelah. Jasnya tersampir di lengan, dasinya sudah longgar, dan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah mata. Ia hanya melirik Leana sekilas sebelum berjalan menuju dapur tanpa sepatah kata pun.
"Jangan abaikan aku! Kau bilang hanya dua hari ke Venesia! Bukan seabad!" Leana mengekor di belakangnya seperti anak ayam yang sedang marah.
"Kau tahu betapa membosankannya dikurung di sini dengan empat patung bernapas di depan pintu?! Aku bahkan tidak bisa pergi ke club karena mereka mengancam akan membius ku jika aku melangkah keluar!" ucap Leana lagi.
Jimmy meletakkan tasnya di atas meja dapur, lalu menghela napas panjang. Ia berbalik, menatap Leana yang tingginya hanya sebahunya.
"Aku punya urusan mendadak dengan kartel di sana. Ada pengkhianatan di jalur distribusi. Kau pikir aku di sana sedang naik gondola sambil makan gelato?"
"Aku tidak peduli! Kau ingkar janji!" Leana memukul dada bidang Jimmy dengan kepalan tangan kecilnya. "Kau sengaja, kan? Kau sengaja menghindari karena kau takut padaku!"
Jimmy menangkap kedua pergelangan tangan Leana dengan satu tangan besarnya, menghentikan serangan brutal namun tidak menyakitkan itu. Lalu, ia menatap mata Leana dalam-dalam.
"Takut padamu? Untuk apa aku takut pada gadis yang bahkan tidak bisa memasak air tanpa menghanguskan panci?"
"Aku serius, Jimmy! Kau pengecut! Kau lari ke Venesia karena kau tidak kuat menahan diri malam itu!" Leana mendongak, menantang mata elang Jimmy. "Ngaku saja! Kau takut kalau kau di sini lebih lama, kau akan berlutut memohon cintaku!"
Rahang Jimmy mengeras. Leana benar, tapi Jimmy tidak akan pernah mengakuinya. Alasan ia memperpanjang kunjungannya di Venesia memang sebagian karena urusan bisnis, tapi sebagian besar karena ia butuh air dingin kanal Venesia untuk mendinginkan kepalanya yang terus-menerus membayangkan kulit mulus Leana.
"Duduk!" perintah Jimmy singkat sambil melepaskan tangan Leana.
"Tidak mau!"
"Leana Frederick, duduk di sofa itu sekarang atau aku akan memerintahkan anak buahku untuk mengunci pintumu dari luar selama seminggu lagi," ancam Jimmy dengan suara rendah yang mematikan.
Leana mendengus keras, menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu duduk di kursi bar dapur.
"Kau kejam. Kau jahat. Kau pria tua yang menyebalkan," umpat gadis itu.
Jimmy tidak membalas. Ia mulai membuka kulkas, mengeluarkan beberapa bahan makanan yang masih segar karena ia sudah memesan pelayan untuk mengisinya sebelum ia tiba.
Dengan gerakan yang sangat cekatan dan maskulin, Jimmy mulai memotong bawang dan daging.
"Kau sedang apa?" tanya Leana dengan ketus meski matanya tak bisa lepas dari otot lengan Jimmy yang bergerak saat memotong bahan makanan.
"Memasak. Aku tahu kau hanya makan mie instan dan snack murahan selama aku pergi," sahut Jimmy tanpa menoleh.
"Aku makan makanan mewah, tau! Aku pesan katering dari hotel bintang lima!" bohong Leana, padahal tempat sampah di kamarnya penuh dengan bungkus cemilan.
Keheningan seketika menyelimuti dapur, hanya terdengar bunyi pisau yang beradu dengan talenan dan desisan wajan yang panas.
Jimmy sedang membuat Pasta Carbonara kesukaan Leana. Bau harum keju dan daging asap mulai tercium, membuat perut Leana yang sedang mogok makan itu berbunyi dengan sangat tidak sopan.
Kruuuk!
Jimmy tersenyum tipis. Senyum yang hampir tidak terlihat.
"Perutmu lebih jujur daripada mulutmu, Lea."
"Diam kau!" Leana membuang muka dengan wajah memerah.
Beberapa menit kemudian, sepiring pasta krim yang tampak sangat menggoda tersaji di depan Leana. Jimmy juga meletakkan segelas jus jeruk segar di sampingnya.
"Makanlah. Setelah itu mandi, kau bau keringat dan amarah," ucap Jimmy sambil melonggarkan kancing kemeja teratasnya, merasa suhu tubuhnya mulai naik hanya karena berdiri terlalu dekat dengan Leana.
Leana menatap pasta itu, lalu menatap Jimmy yang hendak pergi. "Kau tidak makan?"
"Aku sudah makan di pesawat."
"Bohong. Kau pasti belum makan. Kau selalu lupa makan kalau sedang sibuk bekerja," Leana menarik ujung kemeja Jimmy, memaksanya duduk di kursi sebelah. "Makan bersamaku. Atau aku akan membuang semua ini ke tempat sampah."
Jimmy menatap Leana dengan tatapan lelah sekaligus gemas. Gadis ini adalah racun yang paling manis dalam hidupnya.
"Leana, aku butuh istirahat. Aku butuh mandi."
"Makan dulu, Mr. Mafia! Ini perintah!" Leana menyuapkan satu garpu penuh pasta ke depan mulut Jimmy.
Jimmy terdiam sejenak sembari menatap mata Leana yang penuh harap di balik amarahnya yang dibuat-buat. Akhirnya, Jimmy membuka mulutnya dan menerima suapan itu.
Leana tersenyum penuh kemenangan, sebuah senyuman tulus yang membuat jantung Jimmy berdenyut nyeri.
"Gimana? Enak kan? Tentu saja enak, kau yang buat," celoteh Leana, kini amarahnya menguap begitu saja digantikan dengan mode manja. "Jim, jangan pergi lama-lama lagi. Aku tidak suka apartemen ini kalau tidak ada suara langkah sepatumu."
Jimmy berhenti mengunyah. Kalimat sederhana itu menghantamnya lebih keras daripada peluru mana pun. Ia menatap Leana yang kini sibuk makan dengan lahap, hingga noda krim menempel di sudut bibirnya.
Tanpa sadar, tangan Jimmy terangkat, ibu jarinya mengusap noda krim di bibir Leana dengan sangat lembut. Leana membeku, matanya bertemu dengan mata Jimmy yang kini menggelap.
"Lea, jangan katakan hal-hal seperti itu jika kau tidak siap menanggung risikonya," ujar Jimmy dengan suara berat.
"Risiko apa?" bisik Leana dengan nada menantang.
Jimmy segera menarik tangannya kembali, berdiri dengan terburu-buru dari tempat duduknya.
"Risiko melihatku kehilangan kendali," ucap Jimmy sambil berjalan cepat menuju kamarnya.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁