Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!
16. TGD.16
Kepulangan Shelly ke desa setelah wisuda bukan sebagai tamu yang berlibur, melainkan sebagai seorang pejuang yang pulang ke medan tempur yang sesungguhnya. Jika dulu ia datang membawa sensor dan kabel, kini ia datang membawa visi besar: mengubah wajah desa dari sekadar produsen gabah menjadi pusat industri beras organik mandiri.
---
Minggu pertama setelah kelulusan, Shelly tidak berleha-leha. Ia mengumpulkan Bapak, Abangnya, dan beberapa petani muda di teras rumah. Di atas meja kayu, ia menggelar sebuah peta desa yang sudah ia beri tanda warna-warni.
"Pak, Bang, kita tidak bisa terus-menerus menjual gabah ke tengkulak," buka Shelly sambil meletakkan segelas teh hangat. "Setiap panen, mereka yang tentukan harga. Kita yang berkeringat, mereka yang ambil untung paling besar."
Bapak menghisap rokok lintingannya dalam-dalam. "Lalu mau bagaimana, Nduk? Dari zaman kakekmu, ya begini caranya. Gabah dipanen, ditimbang, uangnya cair buat bayar utang pupuk."
"Itulah masalahnya, Pak," potong Shelly cepat. "Kita harus punya penggilingan sendiri. Kita kemas beras kita sendiri. Shelly sudah pelajari pasarnya di kota. Beras organik tanpa pestisida kimia harganya tiga kali lipat di supermarket. Dan sawah Bapak sudah memenuhi syarat itu."
Abangnya, yang biasanya hanya diam, mulai tertarik. "Tapi Shel, mesin giling itu mahal. Modal dari mana? Kita ini cuma punya tenaga."
"Itulah gunanya Koperasi, Bang. Shelly sudah siapkan berkasnya. Kita ajukan bantuan ke kabupaten lewat program UMKM. Shelly yang akan urus administrasinya, tapi Bapak-bapak semua yang punya sahamnya. Kita beri nama: **Maju Makmur Sejahtera**."
---
Mendirikan koperasi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat Shelly memaparkan idenya di balai desa, suara sumbang kembali terdengar. Terutama dari Pak Kardi yang masih merasa cara lama adalah yang terbaik.
"Shelly, kamu ini sarjana. Kenapa nggak kerja di kantor saja yang gajinya pasti?" tanya Pak Kardi dengan nada meremehkan. "Koperasi itu biasanya cuma buat pinjam uang, ujung-ujungnya macet. Mana bisa petani kayak kita jadi pengusaha beras?"
Shelly berdiri di depan podium dengan tenang. Ia tidak lagi merasa kecil seperti saat pertama kali pulang. "Pak Kardi, saya tidak ingin hanya saya yang punya gaji pasti. Saya ingin bapak-bapak semua punya kepastian harga. Selama ini, saat panen raya, harga gabah dijatuhkan oleh tengkulak, benar atau tidak?"
"Ya benar!" sahut petani lain di pojok ruangan.
"Dengan koperasi, kita simpan gabah di lumbung kita. Kita giling sendiri sedikit demi sedikit sesuai permintaan pasar. Kita yang tentukan harga. Saya sudah punya kontrak dengan tiga jaringan restoran sehat di Jakarta. Mereka siap menampung beras kita dengan harga premium, asal kualitasnya terjaga seperti yang saya ajarkan."
Mendengar kata "Jakarta" dan "kontrak", suasana ruangan berubah riuh.
"Tapi Shelly," tanya seorang petani muda bernama Danu, "Apa kami sanggup memenuhi standar kualitas mereka? Katanya harus tanpa bahan kimia sama sekali?"
"Itulah tugas saya, Mas Danu," jawab Shelly dengan senyum yakin. "Saya akan bimbing tiap hari di sawah. Saya tidak akan pindah ke kota. Saya akan di sini, bersama kalian, di lumpur yang sama."
---
Enam bulan pertama adalah masa-masa terberat. Shelly menghabiskan waktunya dari subuh hingga maghrib di sawah anggota koperasi. Ia memakai caping pemberian Ibu, membawa botol berisi mikroba pengurai tanah, dan tak henti-hentinya mengedukasi para petani.
Suatu sore, ia mendapati Pak Kardi diam-diam membawa botol pestisida kimia ke sawah karena takut melihat beberapa ekor belalang.
"Pak Kardi! Jangan!" teriak Shelly sambil berlari di atas galengan.
Pak Kardi terkejut dan hampir menjatuhkan botolnya. "Aduh, Nduk, ini belalangnya banyak sekali. Nanti kalau gagal panen bagaimana? Kamu mau tanggung jawab?"
Shelly mengatur napasnya, lalu mendekat dengan lembut. "Pak, kalau Bapak semprot ini, sertifikat organik kita batal. Kontrak dengan Jakarta bisa diputus. Percayalah sama Shelly, kita pakai agen hayati yang kita buat kemarin. Belalang itu akan pergi sendiri karena bau yang tidak mereka suka, tapi tanah kita tetap sehat."
"Tapi rasanya aneh, Nduk, bertani nggak pakai racun," gumam Pak Kardi ragu.
"Memang aneh di awal, Pak. Tapi lihat tanah ini," Shelly berlutut dan mengambil segenggam tanah. "Lihat, cacing-cacing sudah mulai muncul lagi. Tanah Bapak jadi empuk lagi, nggak keras kayak semen. Itu tandanya tanah ini mulai hidup. Tanaman yang hidup di tanah yang sehat tidak akan gampang sakit."
Perlahan, Pak Kardi memasukkan kembali botol kimianya ke dalam tas plastik. "Ya sudah, Nduk. Kakek ikut katamu. Tapi kalau sampai gagal, kamu harus masakkan kakek opor ayam setiap hari selama sebulan!"
Shelly tertawa renyah. "Setuju, Pak! Sepuluh ekor ayam pun Shelly siapkan!"
Setelah setahun berjuang, dana bantuan dari pemerintah kabupaten akhirnya cair. Sebuah mesin penggilingan padi modern dengan sistem pemutih beras otomatis tiba di desa. Seluruh warga berkumpul saat truk pengangkut itu masuk ke halaman koperasi.
Bapak berdiri di samping Shelly, menatap mesin besar itu dengan mata berkaca-kaca. "Nduk... ini beneran milik kita?"
"Milik semua anggota koperasi, Pak. Mulai besok, kita nggak perlu lagi bawa gabah ke kota sebelah buat digiling."
Malam itu, Shelly lembur bersama para pemuda desa untuk mendesain kemasan. Mereka membuat kemasan plastik vakum berukuran 2 kg dan 5 kg. Di bagian depan kemasan, Shelly memasang logo gambar padi dan gunung dengan tulisan besar: **BERAS ANINDYA - Dari Tangan Petani Desa Untuk Kesehatan Bangsa.**
"Kenapa pakai nama 'Anindya', Shel?" tanya Abangnya sambil menempelkan stiker.
"Karena itu nama yang Bapak kasih buat Shelly. Biar Shelly selalu ingat, keberhasilan ini adalah doa Bapak yang mewujud jadi beras," jawab Shelly tulus.
---
Bulan pertama pemasaran adalah ujian sesungguhnya. Shelly membawa sampel berasnya ke Jakarta, menemui manajer-manajer restoran yang dulu ia hubungi saat masih kuliah.
"Beras Anda memang bagus, Mbak Shelly," ujar Pak Heru, seorang pemilik jaringan restoran organik. "Tapi bagaimana dengan kontinuitasnya? Saya butuh 1 ton per bulan. Apa desa kecil Anda sanggup?"
"Kami sudah punya 50 hektar sawah anggota yang sudah tersertifikasi organik, Pak," jawab Shelly dengan data di tangannya. "Kami juga punya sistem gudang yang modern. Saya jamin, kualitas butir pertama akan sama dengan butir keseribu."
Keyakinan Shelly membuahkan hasil. Kontrak pun ditandatangani. Saat truk pertama berisi beras kemasan "Anindya" berangkat dari desa menuju Jakarta, Bapak dan Ibu mengadakan syukuran kecil-kecilan.
Dua tahun kemudian, Koperasi Maju Makmur Sejahtera berkembang pesat. Desa mereka yang dulunya tertinggal kini menjadi "Desa Wisata Organik". Banyak mahasiswa dari kota datang untuk belajar pada Shelly—dan yang lebih membanggakan, belajar pada Pak Kardi yang kini sudah menjadi ahli pupuk organik desa.
Suatu sore, Shelly duduk bersama Bapak di teras rumah yang kini sudah direnovasi menjadi lebih kokoh namun tetap mempertahankan nuansa kayu tradisionalnya. Di depan rumah, sebuah mobil kabin ganda (double cabin) terparkir—kendaraan operasional koperasi yang sering digunakan Shelly untuk berkeliling lapangan.
"Pak," panggil Shelly.
"Iya, Nduk?"
"Ingat nggak waktu Shelly pulang dari Jepang dulu? Shelly bilang sawah kita aman dan jangan dijual lagi."
Bapak tersenyum, wajahnya tampak jauh lebih muda dan segar dibandingkan lima tahun lalu. "Ingat, Nduk. Waktu itu Bapak pikir kamu cuma menghibur Bapak biar nggak sedih."
"Sekarang bukan cuma sawah kita yang aman, Pak. Sawah Pak Kardi, Pak RT, dan hampir semua orang di sini sudah nggak terlilit utang tengkulak lagi. Adek juga sudah masuk kuliah kedokteran pakai uang beasiswa dari koperasi."
Bapak terdiam, menatap hamparan sawah yang hijau di bawah semburat cahaya oranye matahari terbenam. "Kamu tahu, Nduk? Waktu kamu kecil, Bapak sering sedih tiap lihat tangan Bapak yang kotor dan pecah-pecah karena lumpur. Bapak nggak mau kamu kayak Bapak."
Bapak memegang tangan Shelly, lalu melanjutkan dengan suara parau. "Tapi sekarang, Bapak bangga tangan Bapak kotor. Karena lumpur ini yang buat kamu jadi orang hebat. Dan tanganmu... meski sekarang sering pegang laptop dan mesin, Bapak lihat masih ada sedikit lumpur di kukumu. Itu yang paling Bapak suka. Kamu nggak pernah benar-benar meninggalkan tanah ini."
Shelly memeluk Bapak erat-erat. Air mata kebahagiaan menetes di pipinya.
"Shelly nggak akan ke mana-mana, Pak. Di sini tempat Shelly tumbuh, di sini juga Shelly akan terus mengabdi."
Di kejauhan, terdengar suara mesin penggilingan padi yang terus berputar, irama kemajuan yang kini menjadi musik harian di desa mereka. Shelly telah membuktikan bahwa kemiskinan bisa diputus bukan dengan meninggalkan desa, melainkan dengan membawa cahaya ilmu kembali ke pangkuan ibunda pertiwi.
---
Malam itu, di balai desa, Shelly kembali mengumpulkan anak-anak desa. Kali ini, ia tidak lagi bercerita tentang keajaiban kota. Ia bercerita tentang keajaiban tanah mereka sendiri.
"Siapa yang mau jadi petani?" tanya Shelly.
Dulu, mungkin tidak ada yang mengangkat tangan. Namun sekarang, belasan anak berebut mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Saya, Kak! Saya mau jadi petani yang punya mesin robot!" teriak salah satu dari mereka.
Shelly tersenyum. Mimpinya sudah lengkap. Ia tidak hanya membangun ekonomi, tapi ia telah membangun martabat dan kebanggaan baru bagi generasi mendatang. Ia telah berhasil menjadikan lumpur sebagai permata, dan sawah sebagai masa depan.