NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Perjalanan pulang dari Bandung berlangsung lebih sunyi dari yang Cyan bayangkan. Gemuruh mesin mobil tahun lama bercampur gemuruh roda yang menghantam aspal mendominasi suara. Meski masih ada suara radio mengalun samar dengan lagu galau Juicy Luicy, dan sesekali terdengar klakson dari pengendara lain, tetapi entah mengapa Cyan menyadari sesuatu yang hilang saat ini.

Magenta.

Cyan duduk di kursi penumpang depan dengan postur tegap seperti biasa. Laptop kerja tersimpan rapi di tas, ponsel selalu berada di genggaman meski layarnya sudah lama gelap. Tidak ada notifikasi yang benar-benar ia baca, pikirannya telanjur penuh tentang beberapa hal. Ciuman semalam. Magenta yang terlalu tenang. Situasi yang canggung, hening dan sunyi.

Cowok itu menyetir fokus. Satu tangan di setir, satu lagi sesekali memindahkan persneling. Tidak ada celetukan tentang jalanan, komentar tentang playlist, atau sindiran receh yang membuat Cyan refleks menghela napas kesal.

Biasanya Magenta akan berkomentar tentang mobil di depan yang nyalip sembarangan atau mengeluh tentang truk yang terlalu makan jalur. Tak jarang sekadar menyenggol topik receh, makanan rest area, atau lelucon yang sama sekali tidak lucu, tetapi tetap ia ulang.

Herannya, jangankan asbun seperti biasa, mengobrol singkat pun belum terdengar sampai detik ini.

“Kamu kenapa deh?” tanya Cyan akhirnya memotong kesunyian.

“Kenapa apanya?”

“Kamu dari tadi diem.”

“Aku cuma capek,” jawabnya singkat.

“Kamu sakit?” tanya Cyan.

“Nggak kok.”

“Ada masalah?”

“Nggak juga.”

“Terus?”

“Aku gak boleh diem sekarang?”

“Boleh,” jawab Cyan cepat, “cuma aneh aja.”

Magenta tersenyum berupa lengkungan tipis di sudut bibirnya sebelum kembali menatap jalan.

Aneh.

Cyan mengalihkan pandangan ke depan. Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia juga bingung apa alasannya. Seharusnya Cyan senang, diamnya Magenta adalah sesuatu yang ia impikan. Namun, ia merasa hening itu seperti ancaman, seolah ada hal yang terkubur dalam.

Mobil melaju memasuki ruas jalan yang bergelombang. Guncangan kecil membuat Cyan mengernyit tanpa sadar. Magenta yang peka pun langsung memperlambat laju.

“Kenapa pelan banget?” tanya Cyan.

“Jalannya jelek, Syan. Nanti kamu kebentur.”

“Aku gak selemah itu, Genta."

“Aku tahu, tapi tetep aja.”

Nada itu lagi.

Cyan membuka mulut, siap membalas. Kata-kata sudah mengantre di ujung lidah. Yang seharusnya akan menyanggah, lalu muncul perdebatan kecil menyusul tentang siapa yang lebih keras kepala atau paling perhatian.

Namun, nada Magenta membuat semua bantahan terdengar tidak lagi penting. Ia memilih diam, membuat Cyan semakin kikuk tak nyaman.

Sinar matahari mulai masuk lewat kaca depan. Terlalu terang sampai Cyan mengangkat tangan menutupi mata dan menggeser sedikit tubuhnya ke arah pintu. Belum sempat ia berkata apa-apa, Magenta sudah menarik sun visor di sisi Cyan.

“Jangan gerak,” katanya singkat.

Cyan menoleh cepat. “Kamu ngapain sih?”

“Nutupin matahari.”

“Aku bisa sendiri, Gen.”

“Tadi kelihatannya nggak, Syan.”

“Ck. Sok perhatian.”

“Aku kan lagi belajar.”

“Belajar apa?”

“Jadi calon suami yang nggak bikin calon istrinya silau.”

“Genta,” potong Cyan cepat, “jangan bahas itu di mobil.”

“Hayo, nada marah kamu naik lagi 10%. Kamu janji loh mau turnin kejutekan kamu itu 30%.”

“Aku belum marah.”

“Nah, sekarang kamu masuk fase nyolot.”

“Bedanya apa?”

“Nyolot itu marah, tapi masih pengen menang.”

“Jelas dong. Aku selalu pengen menang.”

“Itu yang bikin kamu capek,” jawab Magenta.

“Aku atasan kamu, Genta,” ucap Cyan menoleh tajam.

“Benar, tapi di kantor. Kalau di mobil, aku pegang kendali.”

“Berarti sekarang kamu yang atasan aku?”

“Secara teknis, iya. Aku juga calon kepala rumah tangga kita.”

“Cih. Jangan bercanda!”

Cyan menatapnya lama. Jeda beberapa detik yang hampir mengembalikan suasana sunyi tadi.

“Aku bisa nyuruh kamu berhenti kapan aja.”

“Kamu bisa, tapi kamu nggak akan.”

“Kenapa?”

“Kalau berhenti, aku nggak bisa nganter kamu pulang.”

“Iyasih.” Cyan pasrah, tidak ada bantahan. Ia tidak mau diturunkan di tengah jalan dan pulang seperti orang gelandangan.

***

Di rest area, mereka berhenti sebentar. Udara pagi Bandung masih dingin, menusuk ringan ke kulit. Cyan baru sadar ia lupa membawa cardigan. Ia menggosok lengan, berusaha terlihat biasa saja meski beberapa kali tertangkap basah meniup tangan sendiri.

Tanpa banyak kata, Magenta melepas jaket tipisnya dan menyampirkannya ke pundak Cyan.

“Pakai nih.”

“Tapi kamu nanti kedinginan, Genta.”

“Aku cowok Syan, lebih tahan dingin. Kami para lelaki punya kulit yang lebih tebel dari cewek,” balas lelaki itu gentleman.

“Aku nggak minta loh, Gen.”

“Aku tau kamu nggak akan minta dan aku nggak mau juga nunggu kamu minta, Syan.”

Cyan memegang ujung jaket itu. Aroma parfum khas Magenta yang akrab menyapa hidungnya itu terlalu ramah, seolah menyapa kedatangan Cyan setiap kali tiba di kantornya.

Bingung, tidak tahu sejak kapan ia hapal bau Magenta.

“Kamu jangan sering-sering begini,” katanya pelan, peringatan untuk dirinya sendiri.

“Begini kayak gimana?”

“Bikin aku mikir.”

“Aku nggak keberatan kalau kamu mikir.”

“Perhatian berlebih bukan bagian dari sandiwara.” Cyan mengingatkan.

“Emang kok,” jawab Magenta jujur, “aku juga nggak ngerasa lagi akting ke kamu.”

Kembali di mobil, Cyan menyandarkan kepala. Matanya terpejam setengah dan tubuhnya rileks tanpa ia sadari. Tanpa suara, Magenta menurunkan volume radio. Klik kecil itu terdengar, tetapi Cyan tidak membuka mata.

Ia tertidur.

Dalam tidurnya, ia tidak bermimpi. Namun, rasa hangat seolah sedang dipeluk seseorang itu masih ada. Jaket yang ia kenakan menyelimuti sempurna.

Menjelang sampai kantor, Magenta memperlambat mobil dan menepuk ringan lengan Cyan.

“Syan.”

“Hm?”

“Udah sampai.”

Cyan membuka mata dan menatapnya beberapa detik terlalu lama. Ia menyadari sesuatu yang berbeda kali ini. Wajah Magenta yang ternyata cukup tampan jika tidak sedang cengengesan atau memiliki niat jahil.

“Kamu ... kenapa, sih hari ini?” tanyanya lirih.

“Mungkin karena aku sadar, ngomong sama kamu itu nggak perlu selalu keras.”

Mobil berhenti di parkiran kantor. Begitu turun, situasi langsung berubah. Suara langkah kaki, obrolan rekan kerja, dan pintu kaca gedung yang berdenting menarik mereka kembali ke peran masing-masing.

“Mana jaketnya?”

“Makasih,” ucap Cyan menyerahkan.

Begitu jaket itu berpindah tangan, seketika nada bicara Magenta berubah. Seakan-akan ada tombol on off di jaket itu. Ia kembali ke setelan awal, seperti mood perempuan yang mudah berganti layaknya cuaca siang ini.

“Besok jangan lupa bawa cardigan sendiri. Aku bukan lemari berjalan. Jangan nyusahin dan manja, Syan.”

Cyan berhenti melangkah.

“Oh, sekarang kamu balik lagi.”

“Balik ke apaan?”

“Ke versi suara sember khas di kantor.”

“Kan udah sampai. Otomatis balik ke pengaturan pabrik. Pabrik korporat. Hehehe.” Magenta tertawa kuda.

“Tadi aja so soft spoken, udah di sini langsung balik ke mode nyebelin,” gerutu Cyan dalam hati.

“Tuh kan, kamu kebanyakan mikir.” Magenta menimpali sambil melangkah di sampingnya.

“Aku nggak mikir," jawab Cyan cepat tanpa menoleh.

“Kamu mikir. Kelihatan dari alis kamu.”

“Alis aku normal,” bantah Cyan meninggi.

“Alis kamu lagi rapet berkerut gitu kok.”

“Itu namanya fokus!” kilahnya tak mau terlihat ada perubahan raut wajah.

“Fokus mikirin aku ya?”

“Jangan gede kepala,” cerca Cyan mulai muak.

“Enggak kok, emang bener mikirin aku.” Magenta menyeringai.

“Kamu tuh konsisten dikit bisa nggak, sih?”

“Bisa. Aku udah konsisten bikin kamu kesel tiap hari.”

“Iya, betul sekali. Kamu emang selalu berhasil," balas Cyan dengan mata memicing.

“Oh, iya. Tadi kan kamu tidur,” tambah Magenta santai.

“Terus?" Cyan menoleh, ingin memastikan.

“Kamu ngorok dikit.”

“Apa?”

“Ngorok kayak babi. Dikit.” Magenta menahan senyum dan melanjutkan omongannya, “kamu lucu deh.”

“GENTA.”

“Iya, Bos?”

“Kalau kamu nyebarin itu ....”

“Aku pasti simpan. Data ini sensitif dan rahasia negara tapi bisa dipakai buat nanti.”

“Dipakai buat apa?” tanya Cyan penasaran.

“Buat ngingetin kamu kalau kamu juga manusia. Jangan terlalu kaku, Bu Bos.”

Cyan mendengkus, tetapi langkahnya cenderung melambat. Ia tidak lagi berjalan cepat menjauh. Seakan ada sesuatu dari dirinya yang menyesuaikan langkah dengan Magenta.

Nada nyebelin itu sudah kembali. Celetukan cepat, juga sikap santai yang biasa membuatnya ingin membalas tanpa henti.

Namun justru itu yang membuat dadanya terasa kosong. Ia tahu di balik semua itu, ada sisi Magenta yang lain. Soft spoken, act of service, dan terlalu perasa. Tidak juga menuntut apa-apa.

“Tadi suaramu lembut banget dan ... sekarang aku sialnya malah kangen,” batin Cyan.

1
Anisa Saja
ngeri emang kalau sampai kejadian kayak gitu
Anisa Saja
bener banget itu, Raka.
Anisa Saja
jangan-jangan apa? hayooo
Anisa Saja
memang agak aneh kalau orang yang biasanya banyak omong tiba-tiba diem aja
Anisa Saja
padahal udah sama-sama dewasa.
Anisa Saja
kayaknya si genta ada sesuatu sama cyan nih
Aruna02
kok balas budi sih
Aruna02
dih pede 🤣
Anisa Saja
air ngamuk nggak tuh? ada-ada aja bahasanya. hihi
Anisa Saja
emangnya kenapa kalau dikasih tahu ke orang lain?
Alessandro
adududu.... melting meleyot dlm 1 waktu 😍
Anisa Saja
capek emang ya kalau udah bahas "kapan nikah".
Anisa Saja
salut salut salut. percaya dirinya itu, lo, patut ditiru.
Alessandro
jomblo dari bayi 🤣
Shofiyya Nissa
gimana gimana? uninstall punggung? astaga. baru kerja gitu udh pgen uninstall punggung aja.
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣
Heni sarasvati
Seruu banget, romansanya dapet, komedinya juga, kocak kocak banget karakternya jadi bisa menikmati baca cerita ini
Heni sarasvati
heh ciuman tuh enggak masuk ke kategori 'doang' woy, ngadi ngadi lu😭
Heni sarasvati
Genta ini kalo gak jail ya modus mulu, tapi dia kalo lagi mode serius gitu keren juga ya
Heni sarasvati
ternyata pernah di tinggal nikah, kasian amat genta nasib lu😭
Heni sarasvati
kata gue lu berdua beneran pada confess dah cepetan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!