NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 27: KONSPIRASI TERUNGKAP

Pagi itu Mahira terbangun dengan badan pegal. Kejadian semalam—Isabelle yang hampir membunuh Khaerul—masih membekas jelas di kepalanya. Dia menyentuh tasbih yang kini selalu dia gantung di leher. Hangat. Menenangkan.

Ponselnya berdering. Zarvan.

"Mahira, kita harus ketemu. Sekarang. Aku dapat sesuatu tentang Isabelle."

"Sesuatu seperti apa?"

"Bukan lewat telepon. Kantor, satu jam lagi. Jangan sendirian."

Sambungan terputus sebelum Mahira sempat bertanya lebih lanjut.

***

Ruang kerja Zarvan di gedung Al-Hakim Corporation berantakan. Kertas-kertas berserakan di meja. Laptop menyala dengan puluhan tab terbuka. Wajah Zarvan kusut—seperti belum tidur semalaman.

"Kamu tidak tidur?" tanya Mahira saat masuk, diikuti Raesha yang dia ajak.

"Tidak sempat." Zarvan langsung menunjuk layar laptopnya. "Setelah kejadian semalam, aku tidak bisa diam. Aku terus menggali informasi tentang Isabelle—atau siapapun dia sebenarnya. Dan aku menemukan ini."

Di layar, foto artikel lama dari arsip koran Prancis tahun 1920-an. Judul artikelnya: *"Keluarga De Montfort: Dinasti yang Jatuh dalam Skandal"*.

"De Montfort?" Mahira mengernyit. "Isabelle bilang nama keluarganya Lavigne."

"Itulah masalahnya." Zarvan membuka tab lain—silsilah keluarga. "Lavigne Consortium memang nyata. Tapi Isabelle Lavigne tidak pernah ada dalam catatan keluarga Lavigne. Yang ada adalah Isabeau de Montfort—wanita Prancis yang menghilang di Nusantara tahun 1724."

Raesha menarik kursi dan duduk. "Tahun yang sama dengan kematian Aisyara."

"Tepat." Zarvan membuka dokumen lain—catatan pelayaran tua yang dipindai. "Isabeau de Montfort berlayar ke Batavia tahun 1723 dengan alasan perdagangan. Tapi catatan keluarganya menyebut dia pergi karena 'mengikuti pria yang dicintai'. Pria itu—" dia membuka foto lukisan tua, "—Pangeran Danial."

Mahira menatap lukisan itu. Wajah yang familiar. Terlalu familiar. Itu wajah Damian—pamannya.

"Jadi Isabelle sekarang adalah reinkarnasi Isabeau," simpul Raesha pelan. "Dan dia datang ke sini untuk—"

"Untuk melindungi Danial. Atau lebih tepatnya, Damian." Zarvan menutup laptopnya. "Aku juga menemukan ini." Dia mengeluarkan map cokelat tebal dari laci. "Dokumen transfer properti. Damian sudah mulai memindahkan aset-aset keluarga Qalendra ke nama perusahaan offshore miliknya. Tanpa sepengetahuan ayahmu, Mahira."

Mahira meraih map itu dengan tangan gemetar. Membuka. Membaca. Dan dadanya sesak.

"Ini... ini penggelapan."

"Dan pengkhianatan," tambah Raesha dengan suara dingin. "Paman Damian berencana mengambil alih semua warisan keluarga. Sama seperti Danial yang dulu membantu Khalil membunuh Aisyara demi tahta."

Mahira menutup map itu. Kepalanya pusing. "Kita harus kasih tahu Papa."

"Belum." Zarvan menggeleng. "Kalau kita langsung confrontasi, Damian dan Isabelle bisa kabur atau malah mempercepat rencana mereka. Kita butuh bukti lebih kuat. Bukti yang tidak bisa dibantah."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

Zarvan berpikir sejenak. Lalu matanya menyala. "Kita masuk ke kantor Damian. Cari dokumen asli. Dan—kalau beruntung—kita bisa temukan hubungan dia dengan Isabelle."

"Maksudmu bobol kantor Paman Damian?" Mahira menatapnya tidak percaya.

"Bukan bobol kalau kita punya akses resmi." Zarvan tersenyum tipis. "Ayahmu pernah bilang semua direktur punya akses ke lantai eksekutif, kan? Termasuk kamu."

Mahira terdiam. Itu benar. Tapi—

"Ini berbahaya, Zarvan."

"Aku tahu. Makanya aku yang akan ikut. Kita masuk malam ini. Saat semua orang sudah pulang."

***

Pukul sepuluh malam, gedung Qalendra Group sepi. Hanya satpam dan cleaning service yang masih berkeliaran. Mahira dan Zarvan masuk lewat pintu belakang—menggunakan kartu akses Mahira.

"Lantai dua puluh tiga," bisik Mahira sambil menekan tombol lift. "Ruang kerja Paman Damian di ujung koridor."

Lift naik dengan bunyi dengung pelan. Jantung Mahira berdegup keras. Tangannya berkeringat. Zarvan menggenggam tangannya—memberi kekuatan.

"Tenang. Kita akan baik-baik saja."

Pintu lift terbuka. Koridor gelap. Hanya lampu darurat yang menyala redup di sudut-sudut.

Mereka berjalan perlahan menuju ruang kerja Damian. Mahira menempelkan kartu aksesnya—pintu terbuka dengan bunyi klik pelan.

Ruangan itu besar. Mewah. Tapi ada sesuatu yang salah. Aura di sini—dingin. Mencekam.

Zarvan langsung menuju meja kerja dan membuka laci satu per satu. Mahira mengecek lemari arsip di pojok ruangan.

"Mahira, lihat ini."

Mahira menghampiri. Zarvan menunjuk dokumen di tangannya—surat perjanjian antara Damian dan Lavigne Consortium. Tertanggal tiga bulan lalu.

"Perjanjian kerjasama investasi," baca Mahira pelan. "Dengan jaminan 40 persen saham Qalendra Group."

"Saham yang belum resmi jadi milik Damian," tambah Zarvan. "Dia sudah janji sesuatu yang bukan miliknya."

Mahira membuka lemari arsip—dan menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan. Map berlabel *"Ritual Pemutusan Kutukan—Plan B"*.

Tangannya gemetar saat membuka map itu.

Di dalamnya—diagram ritual. Tapi bukan ritual yang Ustadz Hariz jelaskan. Ini berbeda. Gelap. Ada simbol-simbol yang Mahira tidak mengerti tapi entah kenapa membuatnya merinding.

"Zarvan—"

"Aku tahu." Zarvan berdiri di sampingnya, membaca dokumen itu dengan wajah pucat. "Ini ritual ilmu hitam. Ritual untuk memperkuat kutukan—bukan memutuskannya."

Mahira membaca lebih detail. Dan dadanya sesak.

"Ritual ini butuh... darah. Darah keturunan Aisyara dan Zarvan. Yang harus ditumpahkan saat bulan purnama—"

"Tanggal tujuh belas Februari," Zarvan melanjutkan dengan suara serak. "Tanggal yang sama dengan ritual kita."

Mereka saling menatap. Paham sekarang. Damian dan Isabelle tidak mencoba menghentikan ritual—mereka mencoba membajak ritual untuk tujuan mereka sendiri.

"Kalau darah kita tertumpah di ritual gelap ini—" Mahira tidak bisa melanjutkan.

"Kutukan tidak akan putus. Malah akan makin kuat. Dan kita—" Zarvan menarik napas panjang, "—kita akan terikat selamanya. Dalam kegelapan."

Mahira menutup map itu dengan tangan gemetar. "Kita harus—"

Lampu ruangan tiba-tiba menyala.

Dan suara familiar terdengar dari pintu.

"Kalian tidak seharusnya ada di sini."

Damian berdiri di ambang pintu. Wajahnya datar. Tapi matanya—matanya bersinar dengan sesuatu yang mengerikan.

Mahira dan Zarvan mundur. Zarvan menyembunyikan dokumen di balik punggungnya.

"Paman—kami hanya—"

"Jangan bohong, Mahira." Damian melangkah masuk. Menutup pintu. Dan Mahira mendengar bunyi kunci berputar. "Aku tahu kalian mencari bukti. Aku tahu kalian mulai curiga."

"Lalu kenapa kamu diam saja?" tanya Zarvan. Suaranya tenang tapi tubuhnya tegang—siap bertindak kapan saja.

Damian tersenyum—senyum yang membuat bulu kuduk Mahira berdiri.

"Karena aku ingin kalian tahu. Ingin kalian paham seberapa besar rencanaku." Dia berjalan mengelilingi meja—seperti predator mengitari mangsa. "Tiga ratus tahun, Mahira. Tiga ratus tahun aku dan Khalil—atau sekarang Khaerul—terjebak dalam siklus reinkarnasi yang menyiksa. Terjebak karena kutukan egois Aisyara yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia bukan satu-satunya yang dicintai."

"Aisyara tidak egois!" bantah Mahira dengan suara keras. "Dia dibunuh! Oleh orang yang dia percaya!"

"Dia dibunuh karena dia menolak cinta Khalil!" Damian membentak. Emosinya mulai tumpah. "Khalil mencintainya! Lebih dari Zarvan! Tapi Aisyara—Aisyara memilih pangeran asing yang bahkan tidak mengerti budaya kita!"

Zarvan melangkah maju—menghalangi Mahira dari Damian.

"Aisyara punya hak memilih siapa yang dia cintai. Dan dia memilih Zarvan. Itu bukan salah siapa-siapa."

"SALAH!" Damian menunjuk Zarvan dengan jari gemetar. "Salahnya Zarvan yang datang! Salahnya Sultan yang menjodohkan mereka! Dan salahnya Aisyara yang tidak bisa lihat—tidak bisa menghargai—cinta tulus Khalil!"

"Cinta tulus tidak membunuh," kata Mahira pelan. "Cinta tulus merelakan."

Damian tertawa—tawa yang terdengar seperti isak tangis.

"Kalian tidak mengerti. Kalian tidak pernah mengerti." Dia menarik napas—mencoba tenang. "Makanya aku buat Plan B. Ritual yang akan memperkuat kutukan. Ritual yang akan pastikan kali ini—kali ini—Khalil bisa mendapatkan Aisyara. Dengan cara apapun."

"Kamu gila," bisik Mahira.

"Atau aku setia." Damian menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Setia pada adik yang aku cintai. Yang menderita setiap kali bereinkarnasi karena cinta yang tidak pernah terbalas."

"Lalu bagaimana dengan aku?" tanya Mahira. Suaranya bergetar. "Bagaimana dengan Zarvan? Kami juga menderita, Paman. Kami juga terjebak dalam siklus yang sama."

"Kalian berdua punya satu sama lain," jawab Damian dingin. "Khalil tidak punya siapa-siapa."

Keheningan.

Lalu Zarvan bersuara—suaranya rendah tapi tegas.

"Kalau begitu—kalau kamu begitu yakin Khalil pantas dapat Aisyara—kenapa tidak biarkan dia membuktikan sendiri? Kenapa harus pakai ritual gelap? Kenapa harus paksa?"

Damian terdiam.

"Karena kamu tahu," lanjut Zarvan, "di lubuk hati paling dalam, kamu tahu Khalil salah. Kamu tahu dia tidak pantas. Dan kamu tidak bisa terima itu."

"DIAM!" Damian berteriak—dan tiba-tiba angin bertiup kencang di dalam ruangan tertutup itu. Kertas-kertas beterbangan. Jendela bergetar. "JANGAN BERANI KAMU MENILAI ADIKKU!"

Mahira menggenggam tasbih di lehernya. Tasbih itu mulai hangat—pertanda ada energi negatif.

"Paman, kumohon—" Mahira mencoba dengan suara lembut meskipun dia ketakutan. "Kumohon berhenti. Ini tidak akan—"

Pintu terbuka dengan keras.

Isabelle masuk. Wajahnya pucat—matanya menatap Damian dengan tatapan aneh.

"Mereka tahu," katanya datar. "Mereka sudah tahu semuanya."

Damian menoleh. Dan ekspresinya berubah—dari marah jadi... pasrah.

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kamu biarkan mereka—"

"Karena tidak ada gunanya sembunyi lagi." Damian menatap Mahira dan Zarvan. "Ritual akan tetap terjadi. Mau mereka tahu atau tidak. Karena aku sudah siapkan segalanya. Dan tanggal tujuh belas Februari—dua minggu lagi—semua akan berakhir. Sesuai caraku."

Isabelle tersenyum—senyum mengerikan yang membuat Mahira ingin lari.

"Dan kalau kalian coba menghalangi—" suara Isabelle berubah jadi bisikan berbahaya, "—aku akan pastikan kalian tidak sampai ke tanggal itu. Hidup-hidup."

Mahira merasakan kakinya lemas. Tapi Zarvan menggenggam tangannya—memberi kekuatan.

"Kami tidak akan diam," kata Zarvan. "Kami akan lawan. Dengan cara apapun."

Damian menatap mereka lama. Lalu mengangguk perlahan.

"Kalau begitu—" dia berbalik menuju pintu, "—bersiaplah untuk perang."

Dia dan Isabelle keluar. Meninggalkan Mahira dan Zarvan sendirian dalam ruangan yang terasa mencekam.

Mahira langsung merosot—kakinya tidak kuat lagi menahan. Zarvan menangkapnya—memeluknya erat.

"Kita harus—kita harus kasih tahu yang lain—" suara Mahira tercekat.

"Aku tahu. Kita akan—" Zarvan terdiam. Matanya menatap sesuatu di meja Damian.

Sebuah foto. Foto keluarga lama. Ada Damian. Ada Khaerul. Dan ada—

Mahira mengambil foto itu dengan tangan gemetar.

Ada wanita di foto itu yang wajahnya persis seperti Isabelle.

Tapi foto ini diambil sepuluh tahun lalu.

"Ini tidak mungkin—" bisik Mahira.

Di belakang foto, ada tulisan tangan:

*"Untuk Danial tersayang. Aku akan selalu ada. Selamanya. —Isabeau"*

Mereka saling menatap—dan paham sekarang betapa berbahayanya musuh yang mereka hadapi.

Isabelle bukan hanya reinkarnasi. Dia sudah ada—mengawasi—menunggu—selama sepuluh tahun.

Dan mereka baru menyadarinya sekarang.

***

**BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!