Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*7
Dion bergelut dengan batinnya sekarang. Yah, meskipun dia tidak bersama dengan Rain sejak kecil, tapi, dia sudah sangat banyak mendengarkan kisah Rain dari si bibi. Kisah masa kecil yang sering bi Tari ceritakan dengan air mata yang menjadi pelengkapnya. Karena itu, Dion bisa ikut merasakan sekeras apa kehidupan kecil Rain saat itu.
Tidak semua yang lahir di keluarga kaya itu hidup dengan bahagia. Bagi sebagian mereka, masa kecilnya justru terasa sangat menyedihkan. Mulai dari kekurangan kasih sayang dari orang tua, hingga harus menjalani beban pelajaran yang berbeda dari anak sebaya mereka, karena tanggung jawab sebagai penerus yang sedang mereka pikul.
Begitulah kehidupan yang Rain jalani sebagai anak orang kaya. Masa kecilnya tergolong tidak bahagia. Selain harus memikul beban pelajaran yang besar, dia juga kekurangan kasih sayang dari orang tua. Terutama dari papanya. Singkatnya, Rain sangat kekurangan cinta dari keluarga walau dia adalah anak dari orang kaya di kota tersebut.
"Tuan muda."
Rain hanya terdiam. Dion semakin cemas saja sekarang. Sejak beberapa jam yang lalu, tepatnya setelah sadar dari pingsan, Rain tidak bicara. Dia hanya diam sambil meringkuk di ranjang rumah sakit.
Dokter mengatakan, tekanan batinlah yang membuat Rain berubah. Dion jadi semakin gelisah. Dia tidak ingin tuan mudanya kenapa-napa. Tapi, apa yang bisa ia lakukan. Rain sangat terpukul sekarang. Batinnya sedang sangat terguncang akibat kepergian orang yang paling dia sayangi.
Pintu kamar rawat terbuka. Papa Rain muncul dari balik pintu tersebut dengan langkah tegap. "Dion."
"Tuan besar."
"Bagaimana kondisinya sekarang?"
"Dokter bilang, tuan muda, akan ada kemungkinan mengalami gangguan jiwa. Jika terus tidak bisa menerima kenyataan yang sedang dia alami, maka, tidak akan menutup kemungkinan."
Papa Rain tidak menjawab lagi. Langkah kaki besar bergerak semakin mendekat ke sisi ranjang Rain.
"Rainer!"
Panggilan pertama masih Rain abaikan. Tapi, panggilan berikutnya, Rain mulai menoleh. Sayangnya, menoleh bukan dengan tatapan sayu. Tapi malah sebaliknya. Tatapan tajam yang penuh dengan kemarahan ia perlihatkan.
"Semua gara-gara kamu," ucap Rain pada papanya dengan nada berat. "Gara-gara kamu dia pergi. Gara-gara kamu aku menyakiti dia."
Rain perlahan bagun. Tatapan matanya tidak berubah sedikitpun. Gerakan cepat langsung mencengkram kerah baju papanya. "Kenapa! Kenapa kamu membunuhnya? Padahal, aku sudah meninggalkan dia. Tapi kenapa kamu masih menyakiti dia sampai mengambil nyawanya? Kenapa?"
Rajang Rain terlihat menegang. Matanya kini sudah di banjiri dengan air mata. Sang ayah pun tidak ingin kalah dari anaknya. Cengkraman tangan Rain langsung Reno tepis.
"Apa yang kamu katakan? Jangan bicara sembarangan, Rain. Aku tidak membunuhnya. Jangan sembarangan kamu."
"Kamu membunuhnya! Semua gara-gara kamu! Dia tidak akan mengalami hal buruk itu jika bukan karena kamu."
"Rainer! Jangan keterlaluan. Aku ini papa kamu."
"Aku benci kamu! Aku tidak punya orang tua yang seburuk dirimu. Pergilah!"
Belum sempat Reno memberikan jawaban, Rain malah memperlihatkan gejala anehnya lagi. Dia langsung menyentuh dadanya yang terasa semakin sesak. Seketika, pria itu terbatuk, lalu kembali memuntahkan darah segar dati mulutnya.
Hal yang langsung membuat Reno dan Dion merasa panik. "Tuan muda. (Rain)." Keduanya berucap serentak.
Lagi. Untuk yang kesekian kalinya, Rain jatuh pingsan karena emosi. Guncangan batin yang sedang dia alami semakin parah saja sekarang. Begitu pula dengan kondisi fisiknya yang semakin memburuk. Rain benar-benar sedang berada dalam kondisi terburuk dalam hidupnya.
Sementara itu, Aina sedang memulai perjalan hidupnya yang baru. Ya, dia baik-baik saja. Kalung yang Rain temukan adalah kalung yang tanpa sengaja Aina tinggalkan di bus pertama yang ia tumpangi.
Dia juga termasuk orang yang sangat beruntung. Bus pertama meninggalkan dirinya ketika dia sibuk di kamar mandi. Alhasil, nyawanya pun berhasil terselamatkan. Kecelakaan fatal yang menewaskan semua penumpang, berhasil ia hindari karena dirinya ditinggalkan oleh supir bus tersebut.
Nah, benar bukan? Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Ketika kita mendapatkan masalah, cobalah untuk melihat dari sisi yang berbeda. Jangan langsung mengeluh. Karena pasti, Allah punya jalan yang lebih baik untuk kita.
*
"Tuan muda."
Mata Dion membulat sempurna saat melihat ranjang kamar rawat Rain kosong. Dia bergegas mencari keberadaan tuan mudanya yang langsung menghilang saat dia tinggalkan beberapa menit yang lalu.
"Tuan muda. Anda di mana?"
"Tuan muda."
"Suster."
"Ya."
"Pasien di kamar ini, apakah anda melihat dia pergi?"
Si suster langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas."
"Ya Tuhan. Tuan muda. Anda ke mana?"
Dion pun terus mencari, hingga akhirnya, dia datangi ruang keamanan untuk melihat ke mana Rain pergi. Dari cctv pengawasan rumah sakit, Dion bisa melihat Rain yang keluar dari rumah sakit.
Gegas Dion meminta bantuan anak buahnya buat menemukan Rain. Beberapa waktu berlalu, mereka akhirnya tahu di mana Rain berada.
"Pak Dion. Tuan muda ada di kediaman tua milik nona Aina."