Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Totally Awkward
Sena terkekeh pelan lalu menggeser tubuhnya agar bisa menatap Andy. "Itu ... sebenarnya, aku sempat bilang pada Joana bahwa aku pernah menyukaimu." Dia mengatakannya dengan ekspresi tenang, seolah itu bukanlah masalah besar.
Berbeda dengan Andy, yang menerima informasi tersebut dengan isi kepala yang mendadak kosong. Otaknya seperti sedang mengalami eror, sulit memproses kata demi kata yang didengarnya. Ia menatap Sena dengan ekspresi penuh emosi yang rumit, emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sena... menyukainya? Gadis yang tumbuh bersama dengannya ini.. sempat menyukainya? Suka sebagai apa lebih tepatnya? Apakah Sena sempat melihatnya sebagai seorang pria, alih-alih sekadar teman kecil yang ditemuinya setiap hari? Juga, sejak kapan? Sejak kapan Sena mulai merasakan itu? Ketika mereka masih ada di Kanada, atau setelah dirinya pindah ke Korea dan debut bersama Elements? Apakah yang Sena bilang sempat sukai itu adalah Andy Kim dari Kanada, ataukah Andy Kim si member boy grup yang sedang naik daun?
Banyak pertanyaan yang mencuat begitu cepat di kepala Andy. Semuanya berebut untuk muncul, minta dicarikan jawaban secepat mungkin. Tapi, Andy sendiri tidak mampu menanganinya. Dia tidak mampu mengatur prioritas, pertanyaan mana yang harus ditanyakannya lebih dulu. Tidak tahu dari mana harus memulai, karena semuanya terlalu mendadak, terlalu membuatnya kebingungan.
"Tunggu ... kau serius?" tanyanya setelah hening menyelimuti mereka selama beberapa saat. Berdiam cukup lama, akhirnya hanya pertanyaan itu yang bisa keluar dari mulutnya.
Sena membalas tatapannya, tertawa canggung. "Jangan dipikirkan terlalu dalam," katanya. "Toh sudah lama berlalu, dan itu cuma sekadar suka biasa. Aku sudah lama moven on, kok."
Andy mengernyitkan dahi dan meneliti ekspresi di wajah Sena, mencari jejak apa pun yang bisa ditemukannya, yang bisa mengindikasikan bahwa gadis itu sedang bercanda. Tapi, Andy malah dibuat semakin tidak bisa berpikir saat apa yang dicarinya tidak ada. Sena tidak tampak seperti sedang ingin mengerjainya. Gadis itu jujur. Apa yang disampaikannya adalah sebuah kebenaran, yang entah sudah berapa lama dipendam sendirian.
Jadi... Sena betulan pernah menyukainya, ya?
Entah mengapa, Andy mulai merasa tidak enak. Dia memutus kontak mata dengan cepat dan menghela napas panjang, lalu menarik tubuhnya bangkit dari sofa. "Aku—oh, kalian mau minum apa?" tanyanya kikuk. Dia memandang Sena dan Joana bergantian, lalu berdeham canggung. Tangannya bergerak tanpa sadar, mengusap tengkuknya yang mendadak terasa tidak nyaman. Oh, ayolah... kenapa aku seperti ini? gerutunya di dalam hati.
Bukan Joana ataupun Sena yang lantas bereaksi, melainkan Jeremy. Diam-diam begitu, Jeremy memperhatikan kecanggungan yang meliputi ketiganya, dan langsung dengan sukarela membantu memperbaiki suasana.
"Ayo, aku bantu ambil," katanya. Lengan Andy ditariknya, dibawanya pria itu meninggalkan para gadis menuju dapur.
Andy mengikuti dengan langkah yang sedikit tersandung, seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang dan belum sepenuhnya sadar, tapi sudah dipaksa untuk melakukan sesuatu. Pikirannya masih berkutat dengan pengakuan Sena tadi, memutar lagi kata-kata gadis itu berulang kali dalam kepalanya. Aku pernah menyukaimu. Aku pernah menyukaimu. Aku pernah menyukaimu.
"Itu tadi ... apa, sih?" celetuk Joana selepas kepergian Andy dan Jeremy. Dia mencoba mencairkan suasana dengan tertawa, tapi tawanya malah kedengaran lebih canggung daripada keadaan yang ada.
Sena hanya mengedik. Sesaat ia menatap Joana, lalu mengalihkan pandangan ke arah dapur. Dari tempatnya sekarang, dia hanya bisa melihat punggung Jeremy. Pria itu tampak sedang berbicara dengan Andy—yang tubuhnya tenggelam di balik tembok—namun suara mereka tidak terdengar sama sekali. Dia jadi penasaran, apa yang sedang dibicarakan oleh mereka? Membicarakan soal dirinya? Atau soal reaksi Andy yang aneh? Atau malah hal lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan situasi saat ini?
"Entahlah," balas Sena begitu kembali menatap Joana. "Aku tidak tahu Andy akan bereaksi seperti itu. Ini juga tidak seperti aku sedang mengajaknya pacaran atau apa. Ini bukan masalah besar, benar?"
Ada sedikit keragu-raguan di akhir kalimatnya, sebuah pertanyaan yang bukan sepenuhnya ditujukan pada Joana, melainkan lebih pada dirinya sendiri. Apakah memang bukan masalah besar? Atau sebenarnya, tanpa sadar, dia telah membuka kotak Pandora yang seharusnya tetap tertutup rapat?
Joana menghela napas pendek, menepuk pundak Sena pelan. "Mungkin karena itu adalah Andy," katanya. "Si canggung yang tidak bisa bersikap normal di depan seorang gadis. Makanya reaksinya begitu."
Kepala Sena naik turun. "Ya ... mungkin dia tidak menduga ada seorang gadis yang pernah menyukainya. Terlebih orangnya adalah aku, teman yang tumbuh bersama dengannya."
Sena mencoba tidak ambil pusing atas reaksi Andy, tapi kemudian pikirannya jadi dipenuhi tanya. Apa jadinya jika dulu Andy tidak pergi ke Korea, dan mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama di Kanada? Apakah perasaan 'suka' yang dulu Sena definisikan sebagai rasa suka biasa terhadap teman paling favorit, akan tumbuh menjadi sesuatu yang lain? Apakah akan ada hari di mana dia mengungkapkan perasaannya pada Andy, dan hubungan mereka sepenuhnya berubah?
Atau justru sebaliknya—mungkin kepergian Andy adalah penyelamat bagi mereka berdua. Mungkin jarak ribuan kilometer itulah yang membuat perasaan Sena tidak sempat berkembang lebih jauh, tidak sempat menjadi sesuatu yang rumit dan menyakitkan. Mungkin itu adalah cara semesta melindungi persahabatan mereka, menjaganya tetap sederhana dan tidak terluka.
Semua pertanyaan itu mengendap di kepala Sena, dan dia tidak bisa menemukan jawaban yang pasti. Lagi pula, semuanya sudah lama berlalu. Dulu dia hanyalah remaja polos dan naif, berbeda dengan dirinya sekarang yang sudah tumbuh, seiring bertemunya ia dengan lebih banyak manusia berbagai warna.
Pikirannya terputus, ketika Jeremy dan Andy kembali dari dapur. Hal pertama yang Sena lakukan adalah menelusuri wajah Andy, mencari sesuatu yang mungkin bisa menjawab pertanyaannya tentang mengapa Andy bereaksi begitu canggung atas pengakuan tadi. Tapi tidak ketemu. Saat Andy sadar sedang diperhatikan dan tatapan mereka bertemu, Sena hanya menemukan pria itu tersenyum palsu padanya.
"Aku mengambilkan jus mangga untukmu," katanya seraya menyodorkan jus kalengan rasa mangga kepada Sena. Jemari mereka sempat bersentuhan saat prosesi serah terima kaleng jus, dan Andy jelas terburu-buru menarik tangannya agar tidak terjadi kontak lebih lanjut.
Sena mengernyit, tapi tetap menerima kaleng jus itu dan berusaha mengabaikan fakta bahwa Andy sedang mencoba menghindar. "Terima kasih," katanya.
Andy hanya mengangguk, dengan tatapan yang sibuk menelisik sekitar, lalu dengan cepat ia cerewet sekali mengajakJeremy bicara. Segala topik yang belum pernah dibicarakan, dikeluarkannya tanpa henti. Jeremy menanggapinya dengan baik pula, malah seakan lupa pada keberadaan Joana.
"Tidak usah terlalu dipikirkan," bisik Joana, ketika para pria tertawa begitu keras setelah berbagi gosip hot di perusahaan. "Aku percaya Andy hanya bingung. Bet me, sikapnya akan kembali normal segera."
Sena mengangguk pelan, matanya tidak lepas menguliti keberadaan Andy. "Ya. Aku tahu," sahutnya pelan.
Sepanjang sisa sore itu, Andy bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, dan Sena memutuskan untuk mengikuti permainannya.
Bersambung....