Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Bahagia
#3
“Apa maksud Bu Giana? Kenapa memanggilku dengan sebutan -Dek-?”
“K-karena— Tuan Yassir Huda bapak kau, adalah adik kandung Ayahku, Syamsir Huda.”
Dhuar!
Terbelalak kedua bola mata Ayu usai mendengar pengakuan Giana, tentang asal-usul bapaknya, Ayu memang tak pernah mengetahuinya. Karena Bapaknya juga tak pernah bercerita tentang masa lalu atau asal-usulnya.
“Dahulu—”
Yassir Huda jatuh cinta pada gadis yang bekerja sebagai ART di rumah orang tuanya, pada saat itu status bangsawan sangatlah terhormat, apalagi mereka secara turun-temurun adalah keluarga saudagar kaya raya. Jadi kisah cinta tersebut mendapat pertentangan keras dari Tuan Syarif Huda, ayah Tuan Syamsir dan Tuan Yassir.
Namun, Yassir tak menghiraukan pertentangan tersebut, dan memilih tetap ada di sisi gadis yang ia cintai, kendati ia harus melepaskan status sosial, serta segala macam kemewahan keluarganya.
Karena tak mengindahkan peringatan Tuan Syarif, maka Yassir pun diusir dari rumah, tanpa membawa apa-apa.
Namun, di hari pernikahan Yassir Nyonya Fatimah, tetap menghadiahkan sebuah kalung untuk Yassir sebagai mas kawin pada istrinya. Yang mana kalung tersebut, adalah kalung yang sengaja dibuat khusus untuk dua calon menantu keluarga Huda.
Satu kalung untuk istri Syamsir, dan satu kalung untuk istri Yassir.
“Kalung ini, adalah kalung yang dimiliki para menantu perempuan di keluarga kita.” Giana memperlihatkan kalung yang ia kenakan pada Ayu.
“K-kalung ini, kan—”
“Iya, serupa dengan kalung peninggalan ibumu.”
“Ini kalungnya,” kata Ismail yang keluar dari dalam bilik kamarnya, dengan kantong lusuh berisi perhiasan milik Mak Tinah. Perhiasan yang dahulu menjadi penyebab pertengkaran Ayu dan Restu.
Ternyata Mak Tinah menganggap kalung pemberian sang mertua sebagai benda pusaka keluarga, hingga ia tak pernah menjual benda tersebut, seberapapun sulit kehidupannya bersama Yassir.
Pada awalnya, Giana hanya curiga ketika untuk pertama kalinya melihat wajah Biru. Wanita itu merasa pernah melihat wajah biru, tapi entah di mana.
Hari berganti minggu, dan minggu terus berganti bulan. Suatu hari ketika Giana mengunjungi rumah orang tuanya, ia melihat sebuah foto lama yang mulai usang dimakan usia. Itu adalah foto Syamsir dan Yassir ketika masih anak-anak. Dan ternyata wajah Biru amat mirip dengan wajah Tuan Yassir ketika masih anak-anak.
Sayangnya, saat itu pun Tuan Syamsir sudah wafat, hingga Giana sendirilah yang bertekad menyambung kembali ikatan keluarganya yang tercerai berai hanya karena stigma masyarakat di masa itu. Yang mana para masyarakat dengan strata sosial rendah, tak layak menikah dengan kaum bangsawan.
Ayu mendekap kalung peninggalan ibunya, haru menyatu dengan tangis kesedihannya. “Kenapa kalian masih menyimpan benda ini? Padahal aku sudah meminta kalian menjualnya sebagai tambahan biaya untuk Biru.”
Karmila menggeleng pelan, “Biru sudah yatim sejak lahir. Berdosa bagi kami bila menjual harta milik anak yatim, Kak.”
“Selain itu, Biru adalah anak kami, jadi kami tak pernah merasa terbebani dengan hadirnya Biru. Justru Biru membuat rumah kami ramai dengan suara tawa, tangis, dan pertengkaran anak-anak,” tutur Karmila.
“Lalu, dimana Biru dan Firza sekarang?”
“Biru sudah kuliah di Ibu Kota, dan Firza kuliah di luar negeri. Pada mulanya Biru yang mendapat beasiswa, tapi dia menolak dengan alasan tak berminat pada jurusannya. Syukurlah beasiswa tersebut bisa dilimpahkan, jadi beasiswa tersebut di hadiahkan Biru untuk Firza, karena jurusannya sesuai dengan keinginan Firza.”
Ayu mengangguk haru, putranya sangat baik hati, padahal tak berayah, dan jauh dari pelukan ibunya. Itu saja adalah hal yang sangat patut untuk disyukuri.
Pembicaraan berlangsung hangat, Ayu banyak mendengar kisah masa kecil Biru, bagaimana kesehariannya, makanan apa saja yang ia suka, ketika kecil ia pernah sakit parah atau tidak. Ayu seperti menikmati dongeng indah dari ahlinya.
Tak lupa mereka menyantap makan siang yang terlambat serta menikmati kudapan ringan.
Selepas maghrib Ayu dan Giana pun pamit kembali ke Ibu Kota, Ayu enggan menginap di karenakan esok hari sudah ada pekerjaan menanti. Yakni persiapan kompetisi untuk para desainer.
•••
Hari sudah larut ketika mobil yang Mahar kemudikan tiba di rumah mewah miliki Giana, rumah yang akan menjadi tempat tinggal baru bagi Ayu. Karena Giana tak pernah membiarkan Ayu tinggal seorang diri setelah keluar dari penjara.
“Assalamualaikum—” ucap Giana ketika ART membukakan pintu untuknya.
“Waalaikumsalam,” jawab sang ART dengan santun.
Begitu masuk ke rumah, kedua mata Ayu dimanjakan dengan pemandangan rumah yang berisi perabotan mewah, serta sangat luxury. Wajar saja, karena Giana adalah seorang desainer sukses, serta direktur utama Huda Tex.
“Mbok, ini adik yang pernah aku ceritakan. Tolong bantu dia, bila butuh sesuatu, ya?”
“Iya, Nyonya.”
“Ayo, aku antar kau ke kamarmu.” Giana menggandeng tangan Ayu, tapi kemudian ucapan Mbok Sum menghentikan langkahnya.
“Nyonya, tadi Tuan Dandi datang kemari,” lapor Mbok Sum.
“Iya, Mbok. Nanti aku telepon beliau.”
“Bu—”
“Kakak! mulai sekarang panggil aku kakak.”
Ayu tersenyum, “Aku belum terbiasa.”
“Kalau begitu biasakanlah!” seloroh Giana yang mendapat anggukan dari Ayu.
Ada sebuah sudut yang menarik perhatian Ayu. “Bu— eh, Kak. Itu—” Ayu menunjuk sudut ruangan yang berhiaskan foto-foto lama para leluhur keluarga Huda.
“Besok saja aku ceritakan. Insya Allah masih ada banyak hari untuk kita saling bertukar cerita, lusa, tahun depan, dan semoga ikatan keluarga kita tak pernah lagi tercerai berai.”
“Amin.”
•••
Sementara itu di tempat lain, Tepatnya di sebuah apartemen yang kini menjadi tempat tinggal Biru.
“See you—”
“Hmm, bye! Dah, pulang sana! Di cari emak kalian tuh!” usir Biru susah payah. Jika tidak demikian maka teman-temannya tak akan beranjak dari rumah rasa basecamp milik Biru.
“Sialan, emang kami bocah ingusan!” Jordy menggerutu.
“Bukan ingusan, tapi nggak bisa tidur kalo gak dikelonin emak, hahaha—” ledek Biru.
Pluk!
Sendal melayang dan dengan gesit Biru menghindar, “Wleee, nggak kena.” Biru menjulurkan lidah sebelum menutup pintu apartemennya.
Pria muda itu mendengus sebal, kala melihat ruangan yang berantakan, sepertinya lain kali tak perlu mempersilahkan teman-temannya mampir. Karena Biru jadi punya pekerjaan tambahan selepas teman-temannya pulang, yakni bersih-bersih.
Biru menghampiri ponsel yang sejak siang kehabisan daya, kemudian di charge tapi Biru lupa menyalakannya. Rentetan panggilan tak terjawab dari kedua orang tuanya muncul di layar ponselnya.
Biru tersenyum, karena ingat hari ini belum menghubungi mereka.
“Assalamualaikum, Mak.”
“Waalaikumsalam, Nak. Dari mana saja? Sejak siang Mamak telepon, tapi tak kau jawab,” tanya Karmila.
“Maaf, Mak. Tadi siang ada pertandingan, dan ponsel habis baterai, karena semalam lupa ngecharge,” jawab Biru, sambil memasang handsfree agar ia bisa tetap bicara sambil membersihkan rumah.
“Alhamdulillah, gimana, kau senang setelah mendapatkan apa yang kau cita-citakan selama ini?” tanya Karmila yang baru tahu jika Biru menyimpan bakat terpendam menjadi pemain basket. Dan kini ia sudah tergabung menjadi salah seorang pemain inti tim basket ibu kota.
“Seneng, lah, Mak. Masa enggak,” jawab Biru.
“Ya kali aja kau bosan, lelah, dan ingin istirahat,” kekeh Karmila. “Kan kau juga terima job jadi model, bintang iklan, dan endorsement.”
“Nggak ada kata bosan, Mak. Yang ada aku bersemangat. Biar tabungan terkumpul, dan bisa beliin Mamak dan Ayah hadiah dari hasil keringatku,” kata Biru bangga.
Di seberang sana, Karmila dan Ismail menahan haru kala mendengar ucapan Biru. “Mamak dan Ayah, tak berharap hadiah, Nak. Asalkan Biru sehat, dan sukses dunia akhirat, itu sudah menjadi kebanggan buat Mamak dan Ayah.”
“Insya Allah, Mak. Oh, iya, Mak. Kenapa siang tadi menghubungiku berkali-kali?”
“Em— itu karena Mamak hendak memberimu kabar bahagia.”
“Kabar bahagia?” Biru bertanya-tanya dalam hati.
“Mamak kau, sudah bebas hari ini—”
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan