Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 : Pertemuan di antara bunga
Serah sedang duduk dan menulis sesuatu di di sebuah buku, sementara Cristine tampak berdiri mendampingi, menunggu. Gadis-gadis lain tak ada di dalam ruangan, karena mereka sedang menunggu di luar sesuai dengan permintaan Serah.
Setelah menunggu beberapa saat Serah menyerahkan buku itu kepada Cristine yang mulai hari ini resmi menjadi pelayan pribadinya dan akan mengurus segala keperluannya selama di istana.
"Aku ingin kau menyimpan dan mempelajarinya baik-baik, karena mulai sekarang segala urusan akan aku percayakan kepada mu, Lady Cristine," ujarnya setelah buku tersebut pindah tangan. Cristine membungkuk sedikit saat menerima buku tersebut dan kembali berdiri.
"Saya akan menjaga buku ini baik-baik, Yang mulia," balasnya dengan mata berbinar. Tangannya erat memegang buku tersebut.
"Nanti siang aku minta kau dan yang lain untuk menemani ku minum teh di taman."
"Baik, Yang mulia dengan senang hati!"
"Hm, sekarang kau bisa pergi."
Cristine kembali membungkuk hormat dan berdiri. Setelah itu ia bergegas meninggalkan ruangan sambil mendekap buku tersebut. Wajahnya ceria, senyumnya sumringah.
Begitu di luar para gadis segera mengelilinginya. Mereka tampak antusias saat melihat wajah cerah Cristine.
"Kau terlihat bahagia, bagaimana?" Patricia orang pertama yang langsung bertanya.
"Putri Serah sama sekali tidak membahas soal Helena lagi, dan dia sudah memberikan buku jadwalnya!" Jawab Cristine dengan nada senang.
"Selamat, Cristine! Itu artinya kau benar-benar resmi jadi kepala kami!" Anastasia menjerit tertahan agar suaranya tidak meledak keluar karena ikut bahagia.
Gadis-gadis itu melompat kecil saking senangnya. Lalu Patricia dengan semangat dan tak sabar langsung bertanya apa yang akan mereka lakukan sekarang. Cristine langsung tersenyum kecil dan melirik mereka semua.
"Cristine, jangan buat kami penasaran," ucap Anastasia yang langsung berjalan di sebelah wanita itu.
"Siang ini kita akan menemani Yang mulia minum teh di taman!" Ujarnya yang langsung mendapat respon positif dari gadis-gadis lain.
Semuanya terlihat bahagia, mereka berjalan kembali dengan langkah ringan sambil tertawa dan bercanda mengenai pekerjaan baru mereka. Kecuali Helena yang harus terjebak bersama Beatrice mempelajari tata krama dan cara melayani Ratu dan Raja dengan baik.
"Menyebalkan! Lihat saja, aku akan adukan ini ke Louis! Terutama kau, Serah! Aku ingin lihat bagaiman wajahmu saat Louis marah kepadamu, apa kau masih berani denganku?"
Helena membatin dengan penuh dendam. Dia tak terima merasa didiskriminasi seorang diri, terlebih ia harus direndahkan daripada Cristine. Padahal secara status bangsawan, kedudukannya jauh lebih tinggi dari mereka semua.
.
.
.
Sementara itu tak jauh dari kerajaan Mathilda, sebuah kereta kuda mewah, yang ditarik dengan enam kuda hitam yang gagah juga indah berjalan menelusuri jantung kota kerajaan.
Di dalamnya seorang bangsawan besar tengah duduk sambil memangku tangan menghadap ke arah kaca.
Pria itu memakai pakaian militer kerajaan, yang menjadi simbol kebesaran dan kebanggaan. Ia tak sendiri. Masih ada empat orang lain yang duduk bersamanya.
Mereka duduk dengan tenang tanpa bersuara. Namun ekspresi serius yang tampak seolah menjadi jawaban kalau kedatangan mereka ke Mathilda bukanlah sekedar kunjungan biasa.
.
.
Siang harinya para pelayan datang kembali ke ruangan serah dengan antusias kecuali Helena. Dia masih terlihat kesal dan sesekali menatap tajam ke arah Serah. Tapi tak ada satu pun yang mempedulikannya.
"Kalian semua siap?" Ujar Serah melangkah ke depan para gadis dengan tersenyum ramah.
"Kami siap, Yang mulia!" Gadis-gadis itu membungkuk dengan suara riang.
"Ayo kita pergi."
Serah melangkah lebih dahulu berjalan keluar yang diikuti oleh Cristine di belakangnya. Setelah itu, gadis lain mengikuti secara berurutan dan masing-masing membentuk formasi tiga di kiri dan tiga lagi di kanan membentuk baris ke belakang.
Para wanita berjalan menelusuri lorong istana dan langsung menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, mereka semua adalah wanita yang berkelas. Semuanya bangsawan, mereka terlihat anggun dan cantik, berjalan dengan cara yang elegan dan lemah lembut, terkhusus Serah yang tidak kehilangan auranya sebagai seorang Ratu yang bisa jelas terpancar.
Para pelayan juga pengawal istana membungkuk bersamaan saat melihat rombongan Ratu berjalan keluar istana. Kemunculan mereka seperti bidadari yang turun dari surga. Gak sedikit mata para pengawal pria mencuri pandang hanya untuk melihat sekilas wajah sang Ratu dari dekat dan para pelayannya yang juga mempesona.
Mereka menapaki kebun bunga istana, berjalan di atas jalan bebatuan hias yang memang sudah didesain khusus oleh sang Raja. Tujuan gadis-gadis itu tentu ke arah kubah putih bergaya arsitektur bergaya eropa, berdiri megah, indah dan elegan sebagai pelengkap yang berada tepat di belakang air mancur kebun dengan patung wanita.
Sesampainya di sana mereka pun langsung duduk di atas kursi putih yang mengalir sebuah meja bulat dari kayu dan dilapisi kaca. Sementara Serah duduk sendiri dan pandangannya menghadap langsung ke arah kebun istana dengan aneka ragam bunga yang sedang bermekaran di musim itu.
Tak lama beberapa pelayan dapur datang sambil membawa nampan di tangan. Mereka berjalan ke arah Serah dan yang lain.
"Yang mulia!"
Pelayan-pelayan itu membungkuk sesaat kepada Serah, baru setelahnya satu-persatu berjalan dan meletakkan semua makanan dari nampan-nampan yang mereka bawa.
Di atas meja langsung tersusun 8 gelas teh beserta tekonya yang terbuat dari keramik kualitas tinggi.Tak lupa beragam buah-buahan, seperti apel, anggur beberapa jenis, peach, stroberi, bahkan semangka yang dipotong kecil diletakkan di atas meja beserta dengan kue sebagai camilan.
"Silahkan, selamat dinikmati," ucap Serah kepada gadis-gadis itu.
"Terimakasih, Yang mulia," balas mereka sambil menunduk dan memulai jamuan kecil mereka dengan menikmati teh terlebih dahulu.
Tapi Helena lagi-lagi tak tau aturan. Sementara yang lain sedang menikmati teh, gadis itu malah secara sembarangan langsung mengambil beberapa stroberi dan satu tangkai anggur.
Cristine yang melihat itu langsung menatap tajam ke arah Helena yang duduk di seberangnya.
Helena hanya menggeram dan meletakkan kembali buah-buah itu dan mengambil minumannya, mengikuti yang lain.
Serah menikmati tehnya sendiri dengan pandangan fokus ke depan. Awalnya ia hanya melihat bunga-bunga yang bermekaran. Namun atensinya beralih ketika ia melihat ada serombongan pria berjalan di lorong istana yang terlihat di ujung sana.
Para pria itu berjalan dengan gagah dan kalau dilihat dari pakaian yang dikenakan, mereka jelas bukan bangsawan biasa, terlebih sosok yang memakai pakaian militer hitam.
Namun, seakan menyadari dirinya sedang diperhatikan, pria itu tiba-tiba saja menoleh ke samping. Seketika pandangan mereka bertemu di antara bunga.
Baik Serah dan pria itu saling menatap dengan rasa kekaguman yang sulit diungkap.
Pria itu kemudian menundukkan kepalanya dengan gestur tubuh sedikit membungkuk kepada Serah, dan sebaliknya. Serah yang sedang memegang cangkir teh tersenyum tipis dan menunduk perlahan.
Serah masih menatap rombongan itu sampai tidak terlihat lagi oleh matanya.
Si pria kembali berjalan tegap dengan fokus ke depan sambil menyunggingkan senyuman tipis.
"Ada apa, Yang mulia?" Tanya pria bertubuh lebih tinggi dengan rambut panjang sebahu yang diikat ke belakang.
"Aku baru saja melihat sesuatu yang cantik..., di antara yang cantik...," jawab pria itu menimbulkan teka-teki.
Tiga orang pria lainnya hanya saling melempar pandang bingung setelah mendengar ucapan sang Raja. Sementara Charles yang ada di sebelah sang pria berbaju hitam berusaha mencuri pandang melihat ke samping tapi tak menemukan apapun karena mereka sudah berjalan semakin jauh ke dalam lorong. Dia hanya bisa mengernyit bingung.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib