Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal kecil namun penting
Renata berjalan dengan tumpukan kotak yang memenuhi tangannya. Langkahnya memelan. Menghela napas berulang kali.
Ia memang keberatan. Tapi, bukan karena keputusan sesaatnya, namun karena tidak pikir panjang dulu soal cara membawanya.
Untungnya ia tidak sendirian. Seorang gadis yang bertugas menjaga stan sedang membantunya mengangkut tumpukan kotak itu.
Meski tangannya terasa pegal, ia bersyukur sudah melakukannya. Perasaannya lega. Tujuannya untuk membalas uang yang pernah diberikan Bagas secara cuma-cuma telah tertunai.
Walaupun lelaki itu tidak tahu menahu, yang terpenting adalah perasaannya yang sudah tak terikat lagi dengan utang budi.
Berbanding terbalik dengan Renata, Linda belum lega sebelum tahu hubungan yang ada di antara Bagas dan gadis itu. Untuk itulah, ia sengaja mengajukan diri.
Tadinya ia hanya ingin sebatas memperhatikan seperti apa gadis itu, namun rasa penasarannya sudah tak terbendung. Selagi mereka bersama, selagi itulah ia punya kesempatan untuk menggali informasi,
"Kakak sudah lama kenal Bagas?" Tanyanya membuka perbincangan.
"Belum lama."
"Hah? Kakak bercanda, 'kan?"
Renata mengernyitkan dahi. Meskipun sesama perempuan, ia tidak mungkin bisa langsung bercanda dengan orang yang bahkan namanya saja tidak ia ketahui.
Ia jadi heran dengan kesimpulannya barusan,
"Aku bertemu dengannya beberapa minggu yang lalu ketika kami sama-sama dihukum."
"Lagi-lagi kakak membohongiku. Mana mungkin dia bisa akrab dengan perempuan yang baru kenal beberapa minggu saja?"
"Akrab? Dari mananya?"
Renata merasa komunikasinya dengan Bagas dalam batas wajar. Tidak berada di posisi yang bisa digolongkan sebagai "akrab".
"Aku sudah kenal Bagas sejak kelas 10. Selama itu, aku tidak pernah melihatnya berbincang dengan seorang gadis pun. Kalaupun ada, cuma perbincangan singkat, itupun dia tidak pernah menatap ke arah orangnya. Sementara kakak, berbincang dengannya seperti biasa. Bahkan kalian saling tatap. Seumur-umur, baru kali ini aku melihatnya seperti itu."
Langkah Renata tak surut. Ia merasa janggal dengan ceritanya, membuatnya belum berkomentar.
Berlalu beberapa menit, otaknya baru tersadar sudah melewatkan hal kecil yang sangat penting: fobia Bagas yang sedang ia ragukan.
Semua yang gadis tadi katakan sangat masuk akal jika dikaitkan dengan fobianya. Ia mulai mewajarkan kalau gadis itu terheran dengan interaksi mereka. Terlebih jika gadis itu sering memperhatikannya.
Berkat perkataan gadis itu, ia sadar akan satu hal lagi: Bagas tidak bersikap seperti itu kepada semua orang.
Muncullah sebuah tanda tanya besar dalam benaknya,
Apa mungkin hanya kepadaku ia begitu?
"Kami hanya kebetulan sering bertemu belakangan ini, itu saja." sanggah Renata.
"Semoga saja benar."
Renata menangkap kegundahan dari nadanya barusan.
"Kamu sangat mengenalnya ya? Apa jangan-jangan kamu suka dengannya?" Renata sengaja memanfaatkan momen untuk bertanya balik.
"Aku tidak yakin itu bisa disebut suka. Tapi, aku yakin kalau aku sedang kesal dengannya."
"Kenapa bisa?"
"Dia itu selalu menghindar dariku tahu! Padahal aku tidak punya salah apa-apa dengannya, jelas aku kesal dengan sikapnya yang kurang ajar itu." Nadanya meninggi tiba-tiba seolah kata hatinya tumpah.
Renata tersenyum hambar. Andaikata ia tidak tahu apa-apa soal Bagas, ia pasti akan setuju dengannya.
"Tapi menurutku dia tidak begitu. Coba saja kamu hadapi dengan cara yang benar, aku yakin dia tidak akan membuatmu kesal kok."
Linda menghela nafas. Sudah banyak cara yang ia lakukan hingga sampai di titiknya sekarang. Ia merasa tidak ada cara yang benar lagi saat menghadapi lelaki itu.
Langkah mereka terus berlanjut hingga sampai di tempat teman-teman Renata berkumpul.
"Ngomong-ngomong siapa namamu? Aku Renata."
"Aku Linda."
"Lin, terima kasih ya, sudah membantuku."
"Sama-sama, Kak."
...----------------...
Perhatian! Perhatian! Kepada seluruh murid diharap berkumpul di aula sekarang juga.
Suara barusan menggema seolah memaksa para murid untuk menunda kepulangannya.
Setelah bel panjang berbunyi, seluruh siswa, mau tidak mau harus berkumpul karena pagar tak akan terbuka sampai seruan tadi terpenuhi.
Sebagian besar siswa malas-malasan karena telah lelah beraktivitas seharian, sebagian yang lain buru-buru, berharap agar cepat dimulainya.
Ketika barisan telah berbentuk rapi, seseorang naik ke podium untuk memulai acara dadakan itu.
"Harap tenang, bapak minta waktunya sebentar saja." Ucap pak Nanang, menenangkan.
Kalimat yang kepala sekolah lontarkan berfungsi dengan baik. Ia paham kalau murid-muridnya gusar. Karena itu, ia mencoba untuk memberikan pengumuman sesingkat dan sepadat yang ia bisa.
"Seperti yang kita semua tahu, kita punya agenda tahunan. Di bulan depan ada pentas seni. Saya sebagai kepala sekolah yang akan pensiun di bulan depan juga, ingin membuat acara pentas seni tahun ini sebagai acara yang spesial. Saya ingin tema pentas seninya yaitu, perjuangan dan nasionalisme."
Belum selesai menyampaikan, keluhan langsung bermunculan,
"Temanya ketinggalan zaman, Pak!"
"Tidak seru nanti!"
"Temanya kurang keren, Pak!"
"Tenang! Tenang! Bapak paham maksud kalian, tapi saya juga sudah mendiskusikan hal ini dengan dewan guru dan pihak OSIS. Saya ingin pentas seni tahun ini juga sekaligus pesta perpisahan bapak. Atas dasar itu, pentas seni tahun ini akan dibuat dalam bentuk kompetisi antarkelas yang mana juaranya akan mendapat hadiah uang tunai."
Saat mendengar kata "hadiah", suasana mendadak berubah. Suasana mendadak tenang, menyimak dengan seksama.
"Karena ini dana pribadi saya, maka saya dan beberapa dewan guru akan menjadi jurinya. Sekali lagi, temanya perjuangan dan nasionalisme. Untuk detail selanjutnya, akan dijelaskan oleh pihak OSIS lebih lanjut."
Tanpa memperpanjang pembicaraan lagi, pak Nanang turun dari podium. Aula mulai riuh. Kelas Baga pun ikut menyumbang keriuhan itu. Bahkan menjadi penyumbang suara terbanyak.
Tak seperti beberapa kelas lain yang sebagian anak kelasnya langsung bubar, kelas Bagas justru tak ada yang beranjak.
"Kita harus menang apapun yang terjadi!"
"Iya, betul. Selain hadiahnya, harga diri kita sebagai anak ekskul drama juga dipertaruhkan di sini."
Mata mereka seolah sedang berapi-api. Tekad mereka memang lebih besar ketimbang kelas lain karena sebagian dari penghuni kelas—bahkan separuhnya—adalah anak ekskul drama.
"Tenang, kawan-kawan. Besok kita rapat untuk membahas soal ini." Ujar seseorang.
Mereka pun menurut bak mendapat titah dari raja mereka. Tanpa banyak berbincang lagi, mereka meninggalkan ruangan tanpa membahasnya lebih jauh.
Begitu pula Bagas yang hanya sebagai penyimak.
...----------------...
Selepas bunyi bel panjang berakhir, tak ada seorang pun yang meninggalkan kelas. Malahan kelas yang biasanya gaduh, kini tenang sampai seorang lelaki maju ke depan, memecah keheningannya.
Ia mengambil spidol, menulis di papan secepat lesatan anak panah, besar-besar.
Menang.
Diakhiri dengan lingkaran yang tak beraturan di sekeliling kata itu.
"Kalau kita ingin menang, pertama kita butuh seorang ketua untuk mengatur ini semua."
"Bukannya tidak perlu dipertanyakan lagi?"
"Iya, betul. Tidak ada yang selayak Linda."
Seisi kelas pun senada. Reputasi Linda sebagai andalan ekskul drama bukan omong kosong belaka. Tahun kemarin pun ia berhasil tampil mewakili sekolah dengan penampilan yang memukau.
"Kalian yakin? Aku tidak tertarik juara di pentas seni ini loh."
"Tolonglah, Lin. Kita butuh kamu agar bisa menang." bujuk salah seorang.
"Bilang saja kalian butuh uangnya."
"Tidak salah sih, hehe." sebagian orang ikut terkekeh.
"Aku mau, asalkan kalian memenuhi persyaratanku."
"Apa itu?"
Linda bangkit dari tempat duduknya. Melangkah maju ke depan. Mengambil spidol. Menggoresnya di papan tulis.
Pemeran utama 1 : Dery
Pemeran utama 2 : Bagas
Pemeran utama 3 : Herlinda
Seisi kelas tercengang. Bagas lebih-lebih. Mendapati namanya tertulis di depan. Apalagi tak ada nama Bagas selain dirinya di kelas itu.
"Kalau kamu dan Dery tidak masalah, tapi Bagas?" celetuk seseorang.
"Benar itu. Lagipula dia bukan anak ekskul drama. Kamu tidak salah tulis 'kan?"
Linda justru tampak tenang. Ia tak merasa ada yang salah dengan penulisannya.
"Kalau bukan mereka yang tampil, aku tidak akan ikut campur. Bahkan aku tidak mau tampil juga."
Tak ada seorang pun yang bersuara. Bagaimana pun juga, ia adalah harapan mereka. Tapi di sisi lain, syaratnya juga sangat beresiko mengingat ada nama asing yang tercantum di sana.
"Lin, kan banyak yang bisa melakukannya selain Bagas?"
Bagas ikut mengangguk. Ia jelas bukan sosok ideal untuk tampil. Bahkan tidak pernah akting seumur hidupnya. Sementara di kelasnya banyak anak ekskul drama yang lebih mumpuni ketimbang dirinya.
Bagaimana mungkin aku bisa terpilih? Jika Linda hanya ingin menjahiliku, sifatnya itu sudah tidak tertolong lagi.
"Ya, kalau kalian keberatan, aku tidak usah ikut, simpel 'kan?"
Linda kembali duduk ke kursinya. Seisi kelas sontak menghening. Mereka saling pandang satu sama lain, kebingungan.
Seisi kelas mengerti kalau Bagas adalah lelaki yang tidak suka unjuk gigi. Jangankan tampil di depan banyak orang, bahkan mereka saja tidak pernah melihat Bagas maju ke depan kelas hanya untuk sekadar menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.
"Tapi kamu punya ide tentang hal ini 'kan?" Tanya seseorang lain, memastikan.
"Tentu saja sudah ada."
"Baiklah, aku setuju."
Beberapa orang ikut menyahut suara barusan.
"Aku juga."
"Aku juga deh."
Hampir seisi kelas bersuara dengan kalimat serupa. Hanya Bagas yang masih tak habis pikir.
Tak ada yang bertanya apakah ia keberatan atau tidak. Apakah ia bisa atau tidak. Seolah sosoknya hanya menjadi pemicu agar Linda bersedia.
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan memberi tahu soal rencanaku."
Meski Bagas keberatan, tak ada yang bisa ia lakukan. Lagi-lagi dirinya terpilih begitu saja.