NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Malam Pertama

Pintu ganda setinggi tiga meter itu tertutup dengan dentum logam yang berat, menyegel Arkananta dan Nayara di dalam kamar utama lantai tertinggi High Tower. Ruangan itu luas, namun terasa mencekam dengan pilar-pilar marmer yang memantulkan cahaya redup dari lampu gantung kristal. Di tengahnya, sebuah ranjang berukuran raksasa dengan sprei sutra abu-abu pucat berdiri seperti altar yang kaku. Atmosfernya dingin, bukan hanya karena sistem pendingin udara yang berdesis sunyi, tetapi karena setiap sudut ruangan ini seolah memiliki mata yang tidak pernah berkedip.

Arkan melepaskan jam tangan peraknya, meletakkannya di atas meja nakas dengan bunyi klik yang tajam. Ia melirik sekilas ke arah sensor asap di plafon yang memiliki kedipan lampu merah terlalu ritmis.

"Batasi aktivitas visual di area terbuka, Nayara. Kamar ini sedang melakukan transmisi melalui lensa," ucap Arkan, suaranya rendah dan parau, membawa sisa kelelahan setelah mereka menjahit robekan gaun di panti asuhan tadi sore.

Nayara berdiri mematung di tepi ranjang. Jemarinya yang masih kebas karena tusukan jarum sutra tajam kini meremas butiran tasbih di pergelangan tangannya. Ia merasakan hawa dingin sprei itu menembus alas kakinya, sangat berbeda dengan hangatnya lantai semen di dapur panti saat Arkan menyantap nasi goreng bawang buatannya.

"Jadi, Nyonya Besar bahkan tidak memberikan izin atas privasi satu inci pun di kediaman Anda sendiri?" bisik Nayara, matanya yang mampu melihat kebenaran menangkap distorsi kecil pada ornamen dinding—tempat kamera pengintai disembunyikan.

"Di High Tower, privasi adalah komoditas terlarang. Mereka sedang memantau celah perilaku untuk membuktikan bahwa aliansi kita hanyalah konstruksi politik," Arkan berjalan menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Astinapura, membelakangi istrinya. "Sedikit saja Anda menunjukkan defisit mental atau rintihan, Nyonya Besar akan menggunakan data visual itu untuk menghancurkan stabilitas psikis Anda di depan dewan keluarga."

"Saya telah beradaptasi dengan pengawasan di panti, namun koordinat ini berbeda. Udara di sini terkontaminasi oleh aroma arsenik yang menekan batin," Nayara duduk di tepi ranjang. Bantal yang ia sentuh terasa terlalu empuk, hampa, tanpa memberikan rasa menapak pada bumi.

Arkan berbalik, menatap istrinya. Tiba-tiba, ulu hatinya terasa seperti ditinju dengan keras. Resonansi Shared Scar aktif secara spontan. Melalui getaran di atas ranjang, Arkan menyerap kecemasan murni Nayara. Jantungnya mulai berpacu mengikuti ritme ketakutan istrinya yang sedang ditekan habis-habisan.

"Aktivasi napas manual, Nayara. Jangan biarkan sensor merekam distorsi napas Anda," Arkan melangkah mendekat, suaranya sedingin es namun tatapannya mengandung proteksi.

"Terjadi hambatan sistemis, Arkan. Aroma mawar di ruangan ini... ini bukan senyawa alami. Ini adalah wewangian kepalsuan yang menyumbat sirkulasi batin saya," Nayara menatap suaminya, jemarinya menekan telapak tangan hingga meninggalkan bekas luka bulan sabit agar ia tidak meledak dalam tangis.

Arkan duduk di sisi lain ranjang, menjaga jarak yang lebar namun tetap dalam jangkauan radar batin. Ia melepas sepatu kulitnya, memperlihatkan balutan kain di kakinya yang mulai merembeskan darah lagi akibat terlalu banyak berdiri saat menjahit gaun tadi.

"Kaki Anda... terdeteksi perdarahan ulang," ucap Nayara, matanya tertuju pada kain yang memerah itu.

"Biarkan material ini merembes. Rasa perih fisik ini jauh lebih otentik dibanding seluruh kemewahan di ruangan ini," Arkan mengatur napasnya, mencoba menstabilkan resonansi agar Nayara tidak semakin terbeban. "Lakukan fase istirahat. Saya akan menjaga perimeter di sisi ini. Secara fisik, keamanan terjamin, namun saya tidak bisa memblokir transmisi frekuensi suara kita."

"Bagaimana saya bisa memasuki fase tidur jika setiap sudut dinding ini memberikan penilaian terhadap kasta saya?"

"Lakukan visualisasi pada uap nasi di dapur panti kemarin. Anggap struktur ranjang ini sebagai balai-balai kayu yang kaku namun jujur," Arkan merebahkan diri tanpa melepas kemeja putihnya, tangannya mengepal erat di atas sprei. "Target kita adalah bertahan malam ini. Besok, saat Anda mengenakan gaun dengan aksen kain panti itu, Anda akan memiliki otoritas martabat tertinggi di antara mereka."

Lampu kamar meredup secara otomatis, menyisakan pencahayaan kemerahan yang temaram. Nayara merebahkan diri, merasakan dinginnya sutra yang seperti menyerap panas tubuhnya. Di tengah kesunyian itu, ia mulai melantunkan sholawat dalam hati, menciptakan dinding spiritual di sekeliling batinnya.

"Arkan, apakah terdapat probabilitas Kireina akan melakukan agresi pada gaun itu besok?" tanya Nayara pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desis AC.

"Dia akan mencoba melakukan penetrasi, namun dia tidak mengalkulasi bahwa serat panti yang Anda integrasikan memiliki resistensi yang tidak bisa ditembus oleh kebenciannya," Arkan menjawab tanpa membuka mata, meski otot pipinya berkedut menahan nyeri sendi yang kembali meradang.

"Apa motivasi Anda melakukan proteksi ini untuk saya? Anda memiliki opsi untuk membiarkan saya di panti dan menghadapi High Council secara mandiri."

"Karena Anda adalah satu-satunya elemen dalam hidup saya yang masih memiliki frekuensi jantung manusia, Nayara. Jika integritas Anda hancur, maka Arkananta yang tersisa hanyalah entitas besi tanpa nyawa."

Nayara terdiam mendengar pengakuan itu. Keheningan kembali merayap, lebih berat dari sebelumnya. Di bawah pencahayaan kemerahan yang temaram, ia bisa melihat dada Arkan yang naik turun secara tidak teratur. Ia tahu, suaminya sedang melakukan absorbsi paksa terhadap rasa sesak yang seharusnya menjadi miliknya. Arkananta sedang menarik paksa racun emosional dari udara High Tower agar tidak menyentuh paru-paru Nayara.

"Arkan, hentikan prosedur ini. Jangan menarik seluruh residu sakit saya ke tubuh Anda," bisik Nayara sembari menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat.

"Heninglah, Nayara. Peran saya adalah menjadi tameng, bukan sekadar pasangan dalam dokumen hukum," Arkan mengerang pelan, rahangnya mengunci rapat. Ia merasakan denyut jantung Nayara melalui permukaan ranjang yang bergetar. Frekuensi itu tidak stabil, menunjukkan ketakutan yang murni terhadap pengintaian di balik dinding.

Arkan mengulurkan tangannya di atas sprei dingin, telapak tangannya terbuka lebar tepat di antara mereka. "Berikan tangan Anda. Gunakan saya sebagai jangkar stabilitas. Jika Anda merasa akan kehilangan kendali batin, lakukan tekanan pada tangan saya sekuat mungkin."

Nayara ragu sejenak, menatap telapak tangan Arkan yang terlihat pucat namun kokoh. Perlahan, ia meletakkan tangannya di sana. Saat kulit mereka bersentuhan, sebuah kejutan panas mengalir melalui sarafnya. Nayara merasakan integritas tulang besi Arkan seolah mengalir masuk ke dalam dirinya, memberikan kekuatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.

"Suhu tangan Anda... sangat tinggi," Nayara merasakan jemari Arkan segera mengunci jemarinya.

"Ini adalah api yang akan melakukan anihilasi pada siapa pun yang berani mengganggu Anda malam ini," Arkan berbisik, matanya menatap tajam ke arah sudut langit-langit, seolah sedang menantang mata-mata di balik sensor asap itu. "Tidurlah. Saya tidak akan melakukan pemutusan kontak hingga fajar tiba."

Nayara memejamkan mata. Di bawah tekanan sensor dan intrik politik High Council yang mengintai dari balik monitor, dua manusia itu berbaring dengan jarak yang tetap terjaga, namun tangan mereka terikat erat. Nayara terus melantunkan sholawat, mengubah frekuensi ketakutan di kamar itu menjadi ketenangan yang dalam. Perlahan, rasa sesaknya menghilang, digantikan oleh aroma samar tanah basah Desa Sunyi yang seolah dipanggil oleh batinnya.

Arkan merasakan perlawanan spiritual Nayara mulai bekerja. Ia tersenyum tipis dalam gelap, sebuah ekspresi manusiawi yang disembunyikan dari kamera. Di saat semua orang di High Tower menganggap Nayara sebagai titik lemahnya, Arkan justru menyadari bahwa istrinya adalah satu-satunya sumber kekuatannya yang tidak bisa dihancurkan oleh strategi politik mana pun.

Malam itu, di lantai tertinggi gedung paling sombong di Astinapura, tidak ada percakapan puitis atau kemesraan yang lazim. Hanya ada dua pejuang yang sedang memulihkan tenaga di atas ranjang yang terasa seperti medan perang, bersiap menghadapi badai fitnah dan manipulasi media yang akan diledakkan oleh Erlangga esok pagi.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!