Arrkkhhh sakit! Tuan tolong lepaskan aku, aku mohon. Delisa Jenifer
Diam! Kau sekarang adalah istriku, dan aku berhak melakukan apapun terhadap dirimu. Bahkan sampai melenyapkan mu pun aku sanggup. Albert Halston Xanders
Delisa gadis cantik yang tiba-tiba di culik dan dipaksa menikah dengan seorang pria yang tidak dia kenal sama sekali.
Menjalani pernikahan dengan Tuan Muda yang kejam, membuat hari-hari Delisa seperti di neraka.
Mampukah Delisa bertahan dengan pernikahan ini?
Atau mampukah Delisa mengubah sosok Tuan Muda yang kejam menjadi pria yang baik?
Yang penasaran dengan ceritanya, langsung saja kepoin ceritanya disini yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bilqies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Aku
"Apa kau suka?" tanya Ferdi saat mereka berada di pinggir pantai.
"Suka, aku sangat suka Ferdi. Aku sudah lama tidak ke pantai," jawab Delisa sambil menikmati udara segar di sekelilingnya.
"Delisa, aku sudah membuktikan jika orang tuamu tidak bersalah, sekarang kau bisa bebas dari Kak Albert."
"Makasih Ferdi, kau betul-betul teman yang bisa di andalkan," ucap Delisa membuat Ferdi terdiam.
"Ferdi, apa Albert belum tahu sampai saat ini aku siapa?"
"Belum, aku belum memberitahunya."
"Ferdi, kenapa kau begitu baik dan ingin menolongku?" tanya Delisa.
Saat ini Delisa dan Ferdi tampak duduk bersampingan di bibir pantai, melihat ke arah laut.
"Karena aku mencintaimu," jawab Ferdi.
"Maaf Ferdi," lirih Delisa.
"Jangan jawab sekarang Delisa, aku akan menunggumu sampai kau siap."
"Makasih Ferdi."
"Baiklah Delisa kita pulang sekarang. Angin semakin kencang, aku takut kau akan jatuh sakit."
🌷Mansion Albert🌷
Dua jam lebih perjalanan, kini mobil mewah Ferdi telah tiba kembali di mansion Albert. Dengan cepat Ferdi turun, dan berjalan memutari mobilnya, kemudian membukakan pintu mobil untuk Delisa.
"Istirahatlah, besok pagi aku dan Devan akan menjemputmu," pesan Ferdi.
"Makasih Ferdi," ucap Delisa sambil tersenyum.
Tanpa mereka sadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang telah memperhatikannya. Siapa lagi kalau bukan Albert yang diam-diam melihat dari jendela yang berada di ruang tamu. Ada perasaan lega saat melihat Delisa yang sudah kembali lagi ke mansion nya. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena hatinya masih merasa khawatir. Apalagi mengingat janjinya pada Ferdi yang akan membebaskan Delisa setelah semuanya terbukti.
Tanpa menunggu waktu lama, Albert berjalan menghampiri Delisa kala Delisa memasuki mansion nya.
"Delisa ...," sapa Albert.
Sementara Delisa yang mendengar saat namanya di panggil, dia langsung menoleh ke sumber suara.
"Tuan Albert." Delisa terkejut akan keberadaan Albert yang secara tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Kau darimana?" tanya Albert basa basi.
"Maaf Tuan karena aku keluar tanpa minta izin terlebih dulu," ucap Delisa menundukkan kepalanya menatap lekat lantai.
"Panggil aku Albert, jangan Tuan! Aku tidak ingin lagi kau memanggilku seperti itu," tegas Albert menatap lekat wajah cantik Delisa.
Delisa mendongakkan wajahnya menatap heran ke arah Albert. Dia seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
'Apa aku tidak salah dengar? Albert menyuruhku untuk memanggil namanya saja tanpa ada embel-embel Tuan.' Delisa
"Baiklah Tuan, eh Albert. Kalau begitu aku masuk dulu," pamit Delisa dan mulai melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Namun, saat dia hendak menaiki anak tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti kala mendengar Albert berucap.
"Maaf," ucap Albert pelan yang masih terdengar di indra pendengar Delisa.
Akhirnya sebuah kata yang mustahil di ucapkan Albert lolos juga dari bibir tipis nan seksinya. Ucapan Albert berhasil membuat Delisa mematung, membelakangi Albert.
"Maafkan aku karena telah berbuat kasar padamu."
"Maafkan aku karena menuduh orang tuamu membunuh orang tuaku."
"Maafkan aku yang tidak pernah ingin mendengar ucapanmu."
"Maafkan aku ...," ucapan Albert terputus kala Delisa menyela.
"Aku sudah memaafkan mu. Jadi berhentilah meminta maaf Albert," ucapnya sambil membalikkan badan menghadap ke Albert.
"Tapi, aku sudah melakukan ...."
"Stop! Aku bilang berhentilah meminta maaf karena jika kau terus berkata seperti itu. Maka sama halnya kau mengingatkan ku pada kejadian yang sangat membuat hatiku terluka. Jadi berhentilah meminta maaf," tegas Delisa lalu membalikan badannya.
"Besok aku akan pergi. Jadi tolong jangan halangi jalanku," ucap Delisa kembali, dan berjalan meninggalkan Albert seorang diri.
Albert yang mendengar ucapan Delisa kini hanya diam membeku. Entah kenapa ucapan Delisa membuat luka di hati Albert. Ucapan yang mengatakan bahwa besok dirinya akan pergi, membuat Albert merasa sakit walau tak berdarah.
'Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Delisa.' Albert
🌷Kamar Delisa🌷
Di bukanya pintu kamar, lalu dia berjalan melangkahkan kakinya menuju ranjang. Tanpa membersihkan diri, Delisa langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang queen size-nya. Bahunya bergetar hebat menangis dalam diamnya, Viona yang melihat itu hanya diam menatap tubuh Delisa dari belakang.
"Kak Delisa, apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya Viona yang baru saja masuk ke dalam kamar Delisa.
Sementara Delisa hanya diam membisu tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan Viona.
"Aku berjanji, siapapun yang menyakiti kakak, akan aku beri pelajaran," ucap Viona sungguh-sungguh.
Delisa bangun dan duduk tepat di bibir ranjang, lalu menyeka air matanya. "Jaga Aston dengan baik Viona, besok aku akan kembali bersama kakak ku."
"Besok ...?" Viona terkejut mendengar ucapan Delisa, dia seakan tidak percaya bahwa sesingkat itu kah pertemuan nya dengan Delisa, orang yang sangat dia sayangi setelah kedua orang tuanya, dan juga Albert.
Delisa mengangguk sebagai tanda jawaban dari pertanyaan Viona. Delisa masih belum sadar bahwa dirinya telah menyebut nama Aston di hadapan Viona. Dan membuat Viona membelalakkan matanya saat Delisa menyebut nama kecil kakaknya, karena yang tahu nama itu hanya kedua orang tuanya, dirinya dan juga gadis kecil kakaknya yang telah menjadi malaikat penyelamat untuk sang kakak.
"Tunggu! Darimana kakak tahu nama Kak Albert itu Aston? Karena setahuku nama itu yang tahu hanya Daddy, Mommy, aku dan juga ...." Viona memicingkan kedua matanya menatap wajah Delisa.
"Kak Delisa, apa kakak gadis itu? Gadis yang Kak Albert cari ...," tebak Viona sambil menelisik wajah cantik Delisa yang berhasil memikat Albert.
"Kak, jawab aku ... kenapa diam?" tanya Viona kembali, tangan nya mengguncang bahu Delisa.
"Diam mu menjawab semuanya kak, aku akan memberitahu Kak Albert," ucap Viona lalu berjalan, namun dengan cepat Delisa menahannya.
"Viona, jangan katakan padanya," pinta Delisa.
"Kenapa kak? Kau tahu sendiri, Kak Albert begitu lama mencarimu kak." Viona menatap lekat wajah Delisa.
"Biar aku sendiri yang bilang padanya," sahut Delisa.
”Kapan?" tanya Viona penasaran.
"Saat waktunya tiba," jawab Delisa.
"Tapi kapan itu kak?"
"Besok."
"Tapi, besok kan kakak pulang. Dan itu artinya kakak akan meninggalkan kami," ucap Viona yang membuat Delisa terdiam.
"Aku harus katakan ini pada Kak Albert," tegas Viona, lalu berlari menuju kamar Albert.
Sementara Delisa sudah tidak bisa berkata-kata lagi, bahkan dia sudah pasrah jika Albert akan mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Toh besok juga dia akan pergi dari mansion ini, jadi cepat atau lambat Albert juga akan mengetahui fakta sebenarnya.
"Kak Albert ...," teriak Viona saat melihat Albert telah terbaring di atas lantai dengan keadaan yang mabuk.
"Kak Albert, bangunlah. Apa yang kau lakukan?" Viona mengguncang tubuh Albert.
"Dia ingin meninggalkanku Viona, dia ingin pergi ...."
"Kak, sadarlah ku mohon. Kau tahu Kak Delisa lah gadis yang kakak cari selama ini. Jadi sadarlah kak, pertahankan Kak Delisa di mansion ini."
.
.
.
🌷Bersambung🌷
Nggak tahu deh bagaimana reaksi Al kalau tahu Delisa masih hidup dan selama ini Ferdi yang bantuin.
Aku tahu niat Delisa, tapi apa pun yang Delisa lakuin juga nyakitin hati, terutama hatinya Flo.
Semoga semuanya baik-baik aja setelah semuanya terbongkar🤲🥲🥲🥲
Seneng karena Delisa masih hidup, tapi kasihan Al sama Flo😭😭😭
Semoga Delisa segera pulih seutuhnya🤲🤲