DURI Di Dalam PERNIKAHAN ternyata bukan hanya PELAKOR saja. Ada banyak DURI-DURI lainnya yang bisa menjadi CUCUK TAJAM dalam PERNIKAHAN. Salah satunya adalah karma orang tua yang melakukan perjanjian gaib yang ternyata harus ditanggung pula oleh anaknya.
Seorang perempuan BIASA bernama LIANA WULANDARI, ketika berusia 32 tahun dan pernikahannya tepat 10 tahun justru harus mengalami PERCERAIAN karena ulah PELAKOR.
Tapi siapa sangka, LIANA yang hanya perempuan BIASA akhirnya justru berubah menjadi LUAR BIASA setelah suaminya resmi menceraikan dirinya.
Perjalanan hidup membawanya pada PERUBAHAN NASIB yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Satu persatu tersingkap misteri yang berada di putaran hidup orang-orang terdekat.
Novel ini novel fiksi pernikahan yang unik. Genrenya beragam selain PELAKOR, CERAI, MENGUBAH NASIB, dan juga ROH SPIRITUAL.
Semoga pembaca Budiman terhibur dan juga bisa mengambil hikmahnya.
Please... LIKE, FAVORIT, KOMENTAR dari para pembaca yang baik hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 - MULAI TERSADAR DICINTAI DUA PRIA
Azan Subuh berkumandang terdengar dari masjid dekat area pabrik.
Aku bangun dan segera ke kamar mandi untuk bebersih lalu berwudhu.
Tubuh masih terasa kaku juga ngilu-ngilu karena perjalanan jauh.
Semoga Boss Gege tidak merasakan sakit badan seperti yang kurasa. Doaku dalam hati untuk pria terbaik yang baru saja kukenal.
Kembali teringat yang kemarin dan semalam. Membuatku menghela nafas. Bingung dengan yang saat ini kurasa.
Harusnya aku senang. Harusnya aku bahagia. Tapi... Entahlah. Yang kurasa hanyalah perasaan melayang dan jiwa yang hampa. Entah. Sepertinya aku belum siap untuk memikirkan pendamping baru setelah apa yang terjadi sebulan lebih yang lalu.
Aku juga belum bertemu Bang Irsyad lagi untuk menanyakan keputusan ketok palu di pengadilan agama demi mengurus akta surat cerai kami.
Dia memang sudah menikah dengan Katliya. Tetapi hanya menikah siri saja. Belum bisa menikah resmi kecuali ada surat keterangan duda. tapi entahlah. Jaman sekarang orang mudah mendapat jalan meskipun lewat jalur ilegal alias jalan haram yang tidak diperbolehkan. Hm...
Setelah sholat, aku membuka ponselku. Dan seperti dugaanku. Ada banyak chat masuk dari Jordan. Bahkan juga ada 45 panggilan yang dia coba lakukan.
...Liana. Bagaimana keadaanmu? (pukul 04.30)...
...Liana. Papa dikebumikan dimana? (pukul 04.31)...
...Panggilan tak terjawab dari Jordan 4x...
Liana, please. Nyalakan hapemu. Please share loc biar aku datang ke rumah orangtuamu (pukul 05.03)
Panggilan tak terjawab dari Jordan 5x
...Liana (pukul 07.12)...
...Liana come on, please (pukul 07.30)...
...Liana, kamu dimana? Bagaimana keadaanmu? Proses pemakaman Papa berjalan lancar? (pukul 09.00)...
Aku menarik nafas sebentar. Seperti ikut merasakan sesak yang Jordan rasakan karena menunggu ponselku kembali menyala.
...Liana, semangat y (emoji tangan mengepal) semangat. Aku mengerti sekali keadaanmu, karena aku pernah ada diposisimu saat ini. Liana, cepat hubungi aku jika kamu sudah merasa lebih baik. Aku selalu ada untukmu. Aku menunggumu. (pukul 10.25)...
Panggilan tak terjawab dari Jordan 4x
...Liana. Sudah makan belum? Jangan lupa makan, nanti kamu sakit. Makan ya? Please hubungi aku. Aku kangen kamu (pukul 11.02)...
...Liana. Hai (pukul 13.00)...
Panggilan tak terjawab berjeda setiap setengah jam dari Jordan.
Treeet... Treeet... Treeet
"Hallo? Jordan!"
...[Lianaaa! Liana bagaimana keadaanmu?]...
Meleleh air mataku. Aku langsung terisak mendengar suara Jordan yang gusar.
Seperti ada dorongan kuat untuk bermanja dan bersandar pada teman SD ku itu. Mencari perlindungan dari perhatiannya selama ini.
"Jordan... Hik hik hiks! Jordan...! Papaku telah tiada, Jordan!"
...[Liana! Liana! Aku ingin VC, ya?]...
Kami video call-an dengan mata saling bertatapan. Ada riak kesedihan di mata indah Jordan membuatku tak lagi malu memperlihatkan aliran air mataku kepadanya.
"Jordan..."
...[Yang sabar, ya Lian!? Aku ada untukmu, jangan takut. Aku... Aku akan menjagamu semampuku. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu, Liana!]...
Mendengar perkataan Jordan membuat jantungku berdebar kencang.
Aku merasa... Jordan sedang mencoba memberitahukan perasaan terdalamnya padaku. Dan aku jadi merasa sangat bersalah pada Jordan juga Mas Jonathan boss-ku.
"Jordan...! Apakah aku ini teman yang menyebalkan? Aku... Seperti sedang memanfaatkanmu."
...[Tidak, Liana. Itu wajar bagi siapapun yang sedang sedih dan nyaris terpuruk. Kamu butuh teman curhat juga teman tempat berkeluh kesah. Kita ini lebih dari teman. Bukankah begitu, Liana?]...
Deg.
Benar dugaanku.
"Tapi pertemanan kita baru terjalin lagi dua mingguan ini. Aku...sudah begitu kurang ajarnya menceritakan semua keluh kesahku padamu. Semua, selalu saja tentang kesedihan. Padahal...aku ingin berbagi kebahagiaan juga padamu, Jordan!"
...[Liana, dengarkan aku. Mendapat kebaikanmu seperti ini saja aku sudah bahagia, Liana! Kamu... Teramat berarti bagiku. Mengerti? Kamu... Adalah segalanya bagiku! Kamu jangan merasa sendiri lagi. Karrna ada aku kini tempatmu berbagi. Percayalah padaku.]...
Deg deg deg
Deg deg deg
Deg deg deg
Jantungku berpacu di pagi hari. Matahari malu-malu menyembul perlahan dari balik peraduannya.
Sama seperti diriku yang merasa kembali merona diusia 32 tahun. Disaat suamiku mengatakan ingin menikah lagi, dan kemudian mencampakkan aku demi selingkuhannya yang sudah hamil. Aku... Diantara dua pria tampan yang terlihat begitu tertarik padaku dari sisi naluri kewanitaanku.
Tuhan! Inikah bahagia yang Kau berikan kepadaku? Inikah dua cinta yang datang setelah yang terhempaskan?
Tuhan! Aku harus apa? Harus bagaimana? Harus senang ataukah sedih mendapati dua cinta ini? Dan yang mana yang harus kupilih? Jordan ataukah Mas Jonathan?
Tok tok tok
Tok tok tok
"Sebentar!"
...[Siapa, Liana?]...
"Entahlah, Jordan! Mungkin Genta adikku! Kami akan bekerja mulai hari ini. Jordan! Aku tutup teleponnya ya? Nanti ku chat jika tidak sibuk!" bisikku pada Jordan di telepon.
...[Iya, Liana! Semangat! Selamat bekerja, ya? Jangan lupa sarapan sebelum masuk kerja!]...
"Iya. Assalamualaikum!"
...[Waalaikum salam]...
Klik.
Kututup video call-ku dan setengah berlari membuka pintu kamar.
"Mbak Citra?"
"Kak Liana! Ini... Pakaian untuk Kakak dari Boss Gege!"
Citra berdiri di depan pintu dengan senyum manisnya. Ditangannya tertenteng hanger baju terbungkus plastik parasut.
"Ayo, Kak...kubantu. Boss Gege menunggu di meja makan untuk sarapan!"
Aku ternganga bingung ketika Mbak Citra mendorongku lembut masuk kamar.
Ada beberapa pakaian sangat cantik sesuai ukuranku. Dan Mbak Citra membantuku mencobanya satu persatu.
"Wah, Kak Liana terlihat cantik dan elegan!" puji Citra dengan mata berbinar.
"Yang ini juga. Cantik, anggun mempesona!" pujinya lagi membuat merah merona wajahku.
"Mbak Citra! Aku suka pakaian yang terakhir ini! Lebih tertutup dan lebih sopan!" kataku yang asyik mematut-matut diri di cermin.
"Iya. Baju yang ini juga yang paling cantik dipakai Kakak! Ayo, Boss menunggu!"
"Tunggu! Koq, kerja di pabrik pakai baju ini? Ini bukan baju seragam kerja khan?" tanyaku karena merasa aneh dan janggal.
"Bukanlah! Kakak akan jadi asisten pribadi Boss mulai hari ini. Ayo semangat!"
"Hah? Asisten pribadi? Khan Boss punya sekretaris pribadi? Siapa itu namanya, aku lupa, Mbak!"
"Bu Febri? Ada. Tapi Boss ingin Kakak jadi asisten pribadinya."
"Mbak Citra! Aku tak punya kemampuan apa-apa lho? Aku juga..., gendut. Kurang menarik dan penampilanku ini malah mencolok mata!" kataku agak protes dan bingung pada Citra, ART Boss Gege Jonathan.
Tetapi Citra hanya tertawa sambil mengangkat bahunya dan menarik pergelangan tanganku dengan canda.
"Ayo! Boss Gege jarang-jarang mau makan bersama cewek. Kurasa hari ini ia berbeda sekali. Jauh lebih segar dan lebih semangat. Padahal kalian baru saja pulang dari kota yang jauh. Tapi... Mmm... Ayo cerita padaku, pasti ada yang terjadi di antara kalian!" bisik Citra membuatku merona.
Ah, malu aku!
BERSAMBUNG