Kisah sebuah balas dendam dari seorang wanita bernama Kiara yang dikhianati oleh kekasihnya sendiri, membawanya bertemu dengan sosok NYAI RONGGENG yang dapat menjanjikan kecantikan, dan digemari banyak pria.
Kisah mistis ini berasal dari daerah Dusun 16, Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan-Deli Serdang-Sumutera Utara (Sekitaran Medan).
Bagaimana kisah Kiara selanjutnya? ikuti kisahnya dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rama-1
"Ibu ngomong apa--Sih, Bu?" kan Pak Jono sendiri yang datang kemari, saya tidak ada menggodanya," Kiara bersikap santai, seolah bukan ia yang menjadi tersangkanya.
"Ya, karena kamu yang juga mau. Coba kalau gak kamu buka pintu, gak bakal ada yang terjadi! Tapi dasarnya kamu aja yang gatel, makanya bukain pintu buat mancing laki-laku!" Beidah tak dapat lagi mengontrol emosinya.
Sat bersamaan, suara dering panggilan masuk ke dalam ponselnya. Ia membaca nama yang tertera dilayar ponsel, dimana ketua Bank Keliling atau disebut bank Mekar sedang meneleponnya.
Ia tak mengangkatnya, tetapi membiarkannya begitu saja. Kemudian ia menatap suaminya. "Mana uang gaji, Bang?! Aku mau bayar angsuran Mekar!"
Jono melongo. Ia seperti bingung, sebab tanpa sadar uangnya sudah ia serahkan ke pada Kiara.
Melihat suaminya yang seperti bloon, Beidah semakin geram. Ia menggetok kepala suaminya menggunakan helm.
Taaaak
"Aaarrrgh," pekik Jono kesakitan. "Sakit, tau!" ucapnya dengan kasar, lalu mengusap kepalanya yang berdenyut.
"Makanya mana uang gajimu?!"
"Itu! Aku beri kepada Kiara!" tunjuknya ke arah kantong kresek yang dipegang oleh sang gadis.
Sontak saja hal itu membuat Beidah tercengang. "Dasar suami sialan!" Beidah kembali menendang Jono hingga membuat tubuh pria itu mundur kebelakang.
Kemudian ia berbalik arah, dan merampas uang yang dipegang oleh sang gadis. "Dasar, Jalang! Kalau mau uang kerja! Jangan cuma jualan apem busuk! Maki Beidah dengan kasar, lalu mengucapkan sumpah serapah pada sang gadis.
"Dengar, ya! Kamu jangan coba ganggu suami saya lagi! Dasar gak tak tau malu! Benar apa yang dikatakan oleh Bu Lastri, kalau kamu ini pelakor!" makinya lagi dengan kasar.
Kiara hanya tersenyum tipis, dan mengangkat pundaknya dengan santai.
Beidah sudah sangat amarah, dan memilih untuk pulang. "Bu Beidah, tunggu!" cegah Kiara dengan senyum misterius.
Beidah menghentikan langkahnya, lalu berbalik arah. "Ada apa lagi! Gak puas kamu jadi orang yang menghancurkan kehidupan orang lain? Ternyata untuk menjadi Pelakor itu tidak perlu cantik, yang penting gatal!" Beidah terua saja nyerocos tanpa memberi kesempatan pada Kiara untuk berbicara.
"Dengar, ya, Bu. Saya tidak pernah menggoda suamimu, hanya dia yang datang, dan menawarkan uang. Dan ingat ucapan saya, apa yang sudah ibu katakan, maka akan berbalik pada ibu. Kamu tidak akan mati sebelum berbuat dosa yang sama sepertiku!" ucap Kiara dengan nada penekanan.
"Eh, Kampret! Kau fikir aku ini jalang sama sepertimu?! Kita beda level, tau kau itu?!" Beida merasakan gemuruh didadanya yang memburu, dan rasa sesak yang cukup menghimpit.
"Ya, semoga saja ucapanmu tidak berbalik ke arah wajah Bu Beidah sendiri!"
"Preeeet! Yang terpenting pandai me jaga diri itu kuncinya"
Kiara hanya tersenyum smirk, dan menatap Beidah dengan sangat dalam.
Sementara itu, Beidah menarik tangan Jono untuk keluar dari rumah Kiara.
"Ayo, Pulang!" ucap Beida dengan kasar.
Jono yang merasakan hatinya bimbang seperti tak berdaya. Dia masih ingin berlama di rumah Kiara, disatu sisi ia masih menginginkan istri dan anaknya.
"kok Malah bengong?!" Beidah yang disulut amarah menarik pakaian gamisnya ke atas, lalu merogoh celananya, dan mencolek liang rahimnya, lalu dengan gerakan cepat menyapukannya ke wajah sang suami.
"Nih, biar sawanmu hilang!" ucap Beidah dengan kasar, lalu menarik Jono keluar dari rumah Kiara.
Pria itu menggelengkan kepalanya, aroma dari liang sang istri menyadarkannya dari jerat hasrat Kiara yang membuatnya hampir terperosok dalam kubangan dosa.
Duuuuuaaar
Suara petir kembali menggema diudara malam, dan membuat Beidah berdiri sejenak, lalu kembali membawa suaminya pulang.
***
Mentari bersinar dengan terik, setelah semalaman dilanda hujan yang cukup deras.
Seseorang mengerjapkan kedua matanya, terasa berat. Ia terus berusaha memaksa, hingga merasakan jika tubuhnya berada diatas tanah yang lembek dan berair hampir menenggelamkannya, dan sudah sebatas mata kaki.
Air hujan yang berwana merah bata dan berasal dari tanah liat, sudah sampai ditelinganya, hingga memaksanya terbangun.
"Hah!" ia tersentak kaget, lalu berusaha menggerakkan tubuhnya, tetapi tenaganya sudah terkuras habis, dan tubuhnya seperti tak bertulang, lemah.
Ia berusaha untuk meminta tolong, tetapi suaranya seperti tercekat ditenggorokan, bagaikan tersumbat biji kedondong.
Ia mencoba menggerakkan kedua matanya, menatap sekelilingnya, hingga melihat dirinya sedang berada didalam liang sebuah makam yang sudah lama dibuat.
Sebab terlihat ada beberapa rumput yang tumbuh.
Ketika ia melihat ke arah atas, terlihat rumpun pohon pisang dengan daunnya yang rimbun.
Pria malang yang tak lain adalah Rama, berusaha menggerakkan jemarinya, tetapi tetap saja tak dapat bergerak.
Hingga terlihat seseorang yang sedang mencari pakan ternak melintas didekat liang tersebut.
"Hah! Itu apaan?! Ia megggosok kedua matanya, lalu memastikan apa yang sedang dilihatnya. "Itu beneran orang?" gumamnya dengan perasaan yang campur aduk.
Tak ingin mendapat masalah, ia bergegas pergi untuk memanggil warga lainnya yang sedang bekerja disawah.
Langkahnya dipercepat, nafasnya memburu karena merasa takut, ia tak ingin terlibat dalam masalah, jika saja itu kasus kejahatan. "Tolong, tolong, ada orang dalam kubur." teriaknya dengan suara yang lantang, sehingga terdengar orang-orang yang sedang membajak sawah.
Mereka yang menyewa lahan milik Syamsuddin dan juga petani lainnya berhamburan menghampiri pria yang merupakan seorang pencari rumput.
"Ada apa, Bang?" tanya mereka serentak.
"I-itu, ada orang terjatuh didalam makam, entah siapa yang menggalinya," ucapnya dengan nafas yang terengah-engah, dan keringat mengalir dikeningnya.
"Dimana?"
"Diatas, dekat makam Nyai Punden Ronggeng,"
"Ayo, kita lihat," ajak yang lainnya.
Mereka bergegas menapaki tanah tempat dimana makam Nyai Punden Ronggeng berada.
Pagi yang seharusnya menjadi tempat mereka bekerja, harus berantakan karena penemuan orang yang asing.
Setibanya ditempat itu, mereka terkejut, sebab selama ini tak pernah melihat lubang galian tersebut.
"Sejak akapan ada galian makam disini?" tanya warga dengan rasa bingung.
"Iya, aku pernah coba ambil daun pisangnya tetapi gak ada liat," yang lain menimpali.
"Ya, sudah. Kita bantuin dulu, kita angkat ke atas," ajak yang lainnya. Lalu mereka turun ke dalam liang yang berisi air keruh.
"Lho, bukannya ini Rama? Kamu kenapa mau bunuh diri begini, Ram? Kamu berantem sama istrimu?" tanya seorang pria yang mengenali Rama, sebab sering bertemu disawa saat menjaga burung ketika padi mulai berbuah.
Rama tak dapat menjawab, sebab ia merasa cukup lemah.
"Oalah, Ram, Ram, kalau mau bunuh diri yang jangan begini, minimal direl kereta api, biar sakitnya gak kerasa," celetuk pria tersebut, lalu mengangkat tubuh Rama yang tak berdaya.
Mereka terpaksa mengantarkan tubuh Rama ke rumah Reva, sebab bagaimanapun, pria itu masih menjadi suaminya.
Ketika tiba didepan rumah milik Juleha, warga memanggil wanita itu, memberi tahu jika menantunya sedang sekarat.
Sedangkan Rama merasa serba salah, ia sebenarnya ingin dibawa pulang kw rumahnya, sebab tak ingin mendapat masalah dari sang ibu mertua yang belum selesai.
"Jul, Jul, Jeeelahaaa," panggil pria bernama Tono dengan suara keras.
Juleha yang baru selesai mencuci piring, keluar dengan raut bingung, sebab ada beberapa orang yang berkumpul didepan rumahnya.
"Ada apaan, sih?! Kok pakai teriak-teriak.
"Ini, Jul, menantumu kami temukan sekarat didalam makam kosong dekat makam.Nyai Punden Ronggeng." jawab salah satu warga yang ikut mengangkat tubuh Rama.
Juleha membolakan kedua matanya. Ia masih menyimpan rasa kesal pada sang menantu.
"Udah, ngapain dibawa kesini, antarkan saja balik kesana, kalau perlu ditanam saja sekalian!" jawab Juleha dengan bengis.
Rama butuh gol. darah O+ ,, aku nti ikutan nyumbang darah yaa Krn aku jg gol. darah nya O+ 🤣
tp spt nya Rama nti koit deh Krn sdh mau ikut sama iblis Nyai Ronggeng 🤣
apakah iblis Nyai Ronggeng mnta Tumbal yaaa ❓❓
maaf yaa kak ,, mmg TDK ada warga yg ngomong / ngadu ke orang tua nya Kiara yaa kalau anak nya JD Jalang Sampah Masyarakat 😤😤
Mungkin di mata Rama, Nyai Punden Ronggeng seperti Kiara kali yah.. 😁😁🤏
apakah kata-kata Kiara itu akan mjd kutukan untuk Beidah ❓❓
Bagus Rama gak mati di dalam galian kuburan yg di buat nya sndri 🤣🤣
Uang Gajian sebulan malah di berikan PD Kiara ,,, mmg nya nti mo d kasih makan apa tuh keluarga di rumah ,,, tp Alhamdulillah untung nya dh ketahuan duluan 💃
si Kiara di suruh nyari 100 orang laki-laki ,, sdgkan Kiara baru dpt 2 orang ( Tarman dan Rama ) ,,, tinggal 98 laki-laki lagi ,,, mmg kudu ke kota kau Kiara ,,,,,,, gaskeun 🤣🤣
Kiara untung bgt tuh , gak di garap tp ttp dapat uang 5jt dr Rama 💃💃