Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewi Waktu
Malam itu, kamar Wu Zetian kembali sunyi namun penuh dengan rencana, dendam yang harus ia balaskan. Ia berdiri di depan meja kayu tua yang permukaannya telah penuh goresan usia. Lilin kecil di sudut ruangan berkelip pelan, memantulkan bayangan wajahnya di dinding. Wajah yang dulu selalu tertunduk, selalu menerima hinaan tanpa perlawanan, kini menatap pantulannya sendiri dengan sorot mata tajam dan penuh ejekan.
“Mereka memang sengaja mempermalukanku. Mereka pasti berpikir bahwa dengan waktu yang begitu sedikit, maka tidak akan ada yang bisa ku persiapkan di pesta itu.” ucapnya dengan sudut bibirnya terangkat.
“Tapi mereka tidak tahu satu hal. Aku bukanlah Wu Zetian yang bodoh seperti yang mereka tahu. Aku Adalah Lilian yang takkan membiarkan satupun kejahatan yang bisa menjatuhkanku." Ucapnya menyeringai dengan suara tawanya yang ringan namun dingin.
Bagaimana mungkin ia tak memahami permainan busuk keluarga Wu?
Perjamuan ulang tahun Putra Mahkota adalah acara besar. Semua bangsawan akan hadir. Semua mata akan menilai. Mengundangnya dua hari sebelum acara jelas bukan suatu kebetulan, melainkan penghinaan terang-terangan. Mereka ingin dirinya datang tanpa persiapan, dengan pakaian lama, wajah buruk, dan sikap canggung, dan menjadi bahan olok-olok para selir dan nona bangsawan.
Namun, Wu Zetian mengangkat kepalanya.
“Tapi tidak semudah itu,” katanya, kali ini lebih tegas.
“Aku bukan Wu Zetian yang dulu.”
Tangannya mengepal perlahan, kuku menekan telapak tangan.
“Kalian tidak akan bisa menindasku semudah itu,” lanjutnya, matanya menyipit.
“Aku akan membuat kalian melihat bagaimana wujud penderitaan yang sebenarnya.”
“HAHAHA…”
Tawa rendah keluar dari tenggorokannya, pelan namun penuh tekanan.
Ia menunduk, menatap liontin lilac yang tergantung di dadanya. Permata itu berdenyut pelan, seolah merespons emosinya.
“Bahkan jika kalian memberitahuku satu hari sebelum acara,” katanya sambil menyeringai,
“semua yang kubutuhkan sudah ada di dalam liontin ini.”
Ia mengusap permata itu dengan ibu jarinya.
“Dan satu hal penting,” bisiknya,
“aku tidak akan kalah dari kalian.”
Tanpa ragu lagi, Wu Zetian menutup rapat pintu dan jendela. Tirai ditarik hingga tak ada cahaya bulan yang menyelinap masuk. Ia mengunci semuanya dari dalam dengan rapat tanpa celah.
Baru setelah itu ia memegang liontin lilac dan memusatkan pikirannya. Sekejap kemudian, Wu Zetian kembali berdiri di Dimensi Lilac.
Udara di sana terasa lebih lembut dari sebelumnya, seolah menyambutnya. Sungai Lilac mengalir tenang, memantulkan cahaya ungu pucat yang menenangkan mata. Tanpa membuang waktu, ia melangkah menuju sungai suci itu.
Ia perlahan masuk ke dalam air. Begitu tubuhnya terendam, sensasi dingin-hangat menyebar ke seluruh tubuhnya. Air itu terasa hidup, menyentuh kulitnya seperti ribuan tangan kecil yang membersihkan, menyembuhkan, dan memperindah. Setiap partikel air menyusup ke pori-porinya. Kulitnya yang sebelumnya sudah cerah kini semakin halus dan bercahaya, seperti porselen yang disinari cahaya bulan. Bekas kelelahan, sisa racun, dan ketegangan lenyap perlahan.
Wajahnya berubah semakin sempurna.
Mata abu-abu terangnya berkilau lembut. Bulu matanya lentik alami. Hidung mungilnya tampak anggun. Bibirnya merah alami tanpa polesan. Aura yang terpancar darinya bukan lagi aura gadis biasa, melainkan kehadiran agung yang membuat siapa pun tanpa sadar ingin menunduk.
Ia duduk bersila di tengah sungai. Mengatur napas dan mengingat kembali semua ajaran Kakek Zhou. Tenangkan hati, satukan pikiran dan dengarkan aliran energi.
Beberapa detik berlalu, dan
BOOM.
Cahaya terang meledak dari tubuh Wu Zetian. Segel yang selama ini mengikat kekuatannya retak satu per satu, lalu hancur sepenuhnya. Energi murni dari Dimensi Lilac mengalir deras memasuki tubuhnya, memenuhi setiap meridian.
Api menyala di sekelilingnya.
Air berputar lembut.
Angin berdesir cepat.
Tanah bergetar stabil.
Petir menyambar dengan cahaya putih kebiruan.
Gravitasi melengkung, menekan udara.
Daun hijau berkilau sebagai bentuk dari sihir penyembuhan murni.
Dan di atas semua elemen itu, sebuah lambang jam raksasa berputar perlahan. Waktu itu sendiri seolah berhenti tunduk padanya. Tidak ada yang pernah memiliki sihir ini di dunia luar.
Nana yang berdiri tak jauh dari sana langsung berlutut, kepalanya tertunduk dalam-dalam.
“Selamat datang kembali, Dewi Waktu” ucapnya dengan suara penuh hormat.
“Apa?!” Wu Zetian membuka mata, terkejut.
“Dewi Waktu?! Nana, apa maksudmu?!”
Nana tersenyum lembut, namun matanya serius.
“Kakak adalah penerus Dewi Waktu sebelumnya.”
“Bagaimana bisa aku...”
“Kau akan tahu sendiri nanti,” potong Nana.
“Biar waktu yang akan menjawabnya.”
Tanpa menunggu balasan, Nana berbalik dan menghilang, meninggalkan Wu Zetian sendirian di tengah sungai dengan pikiran yang bergejolak.
______________
Malam itu, Wu Zetian kembali ke dunia luar. Ia duduk di ranjangnya cukup lama, mencerna kata-kata Nana.
Dewi Waktu
Namun akhirnya ia menghela napas. Ia tak perlu memikirkannya sekarang.
_____________
Keesokan harinya, sebelum fajar benar-benar terbit, Wu Zetian sudah bangun. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi.
Ia mengeluarkan makanan siap saji dari Dimensi Lilac. Bahkan sebuah lemari khusus penjaga suhu ia keluarkan dan letakkan rapi di ruang tengah.
“Kek,” katanya pada Kakek Zhou,
“Kalau ingin makan, tinggal ambil saja. Aku akan beristirahat seharian.”
Kakek Zhou mengangguk, meski matanya menatap Zetian penuh rasa heran. Setelah itu, Wu Zetian kembali ke kamarnya dan masuk ke Dimensi Lilac lagi.
Dua jam di sana berarti dua puluh jam di dunia luar. Ia berendam, berkultivasi, menyempurnakan setiap elemen sihirnya hingga tingkat akhir. Setelah itu, ia menuju Walk-in Closet.
Gaun hanfu lilac dengan aksen perak. Sepatu hak elegan, tas kecil berkilau, make up tipis namun sangat cocok di wajahnya serta aksesoris sederhana tapi mewah. Semuanya sempurna.
Keluar dari dimensi, ia mengenakan jubah besar untuk menutupi penampilannya, menyemprotkan parfum beraroma mahal, lalu berpamitan pada Kakek Zhou dan menaiki kudanya.
Di tengah perjalanan, ia sempat tersesat.
“Permisi,” katanya pada seorang warga,
“apakah jalan ke istana lewat sini?”
“Oh, Nona harus belok kanan di depan sana,” jawabnya ramah.
“Terima kasih.”
__________
Aula besar istana kekaisaran Tang dipenuhi cahaya dan suara. Bangsawan bergosip, para nona tertawa kecil, dan aroma hidangan memenuhi udara.
Untungnya, Wu Zetian tiba lebih awal.
Ia melangkah masuk perlahan, jubahnya masih menutupi tubuhnya.
__________
Suara kasim menggema keras.
“Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri Tang, Putra Mahkota Tang Liwei, Pangeran Kedua Tang Ming! dan Pangeran Ketiga Tang Zecheng!”
Telah memasuki aula~"
Wu Zetian mengangkat pandangan.
Saat matanya menangkap wajah Pangeran Kedua, ia seperti mengenal wajah tersebut.
“Rui… Qingkai?” gumamnya pelan.
Namun kasim menyebut namanya dengan jelas:
“Tang Ming.”
Wu Zetian menyipitkan mata, kesal.
Dasar Penipu
Ia menatapnya tajam dari balik jubah.
Sementara itu, Tang Ming tiba-tiba merinding. Entah kenapa, jantungnya berdetak lebih cepat.
"Sepertinya ada yang mengutukku"
_________
Yuhuu~🌹
Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖
See you~💓