NovelToon NovelToon
Dikejar, Brondong

Dikejar, Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Murid / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Berondong
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: sky00libra

Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.

Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.

Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.

Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DB—02

Arumi menatap telapak tangan nya, yang bergetar, ia syok, ia tidak menyangka bisa menampar wajah muridnya.

Bumantara terkekeh, menyentuh sisi pipi kanan nya, dia baru saja di berikan cap lima, oleh wanita yang paling dia inginkan.

"Bumantara ... Kamu enggak apa-apa kan? Maaf tadi saya ...." Arumi mencoba menggapai wajah Bumantara.

"Saya baik-baik saja, dan saya menyukai nya Arumi," kata Bumantara, menurunkan kepalanya dan meletakan pipi nya ke telapak tangan Arumi, dan mengusap-usap kan nya.

Arumi mengatupkan bibirnya, mendongak menatap manik abu-abu itu. "Saya pikir, saya terlalu menyakiti murid saya. Namun, pikiran saya salah, anda pantas mendapat kan itu, dan anda sangat tidak sopan kepada saya Bumantara." Arumi menarik tangannya, dan pergi, ketika pintu lift terbuka. Dan, meninggal kan Bumantara yang masih menatap siluet perempuan itu yang menghilang.

"Pergilah sejauh yang kamu bisa baby. Karena jika saya berhasil menangkap mu, saya bersungguh-sungguh tidak akan membiarkan kamu menjauh bahkan saya akan mengurung kamu dalam dekapan saya." Bumantara terkekeh, sembari melihat kedua tangannya yang berhasil memeluk Arumi nya — wanita nya.

Didalam perjalanan. Arumi selalu memaki kejadian didalam lift tadi, rasa kesal dan marahnya membuat Arumi lapar. lalu saat melihat gerobak bakso, Arumi menghentikan motornya, dia ingin mengisi perutnya yang tiba-tiba terasa lapar. "Budhe, bakso nya masih ada kan?" tanya Arumi, mendekati budhe Tini.

"Banyak ... Masih banyak Neng Arumi," sahut budhe Tini semangat.

"Seperti biasa budhe, aku duduk disana aja," kata Arumi, sembari menunjukkan meja paling ujung.

"Siap, Neng." Arumi menghela napasnya, ia benci ketika mengingat kedua pria yang baru saja ia temui dalam sewaktu-waktu. Dengan Dipta si brengsek, tukang selingkuh. Dan ... Juga murid kurang ajarnya, yang selalu ingin ia hindari, Bumantara — laki-laki itu selalu saja mengganggunya di area sekolahan bahkan diluar sekali pun — seperti tadi.

Arumi bergidik ketika mengingat benda keras yang menekan bokong nya, itu jelas terasa keras dan besar. "Sial! Apa yang sedang kamu pikirkan Arumi," gumam Arumi, menepuk-nepuk pipi nya yang terasa menghangat.

"Neng lagi sakit yah? Pipi sampe merah gitu," tanya budhe Tini, sambil meletakan semangkok bakso pesanan Arumi.

Arumi menggeleng gaduh, lalu berdeham. "Aku baik-baik aja kok budhe. Oh ... Budhe air minum nya seperti biasa juga yah," sahut Arumi, tersenyum canggung, ia tidak ingin budhe Tini terlalu banyak bertanya soal apa yang sedang ia pikirkan. Itu terlalu memalukan karena sedang memikirkan barang laki-laki.

"Kirain budhe, Neng lagi sakit," kata budhe, terkekeh. "Lama enggak kesini Neng, kemana aja?"

Arumi menatap budhe Tini yang sedang membuatkan es teh. "Sibuk budhe. Dan baru sekarang ada waktu nya," sahut Arumi, sembari melihat arah jalan yang dilewati mobil dan motor yang bergilir.

"Owalah ... Pasti sibuk ngajarin murid yang nakal yah, Neng," ujar budhe Tini, terkekeh-kekeh, sambil meletakan es teh.

Arumi menyeruput teh itu, lalu mengangguk kecil. "Udah biasa budhe." Arumi menyelesaikan makanannya, lalu bangkit dari duduk nya sembari mengambil dompet dari dalam tas nya.

"Berapa budhe? tadi aku tambah sebungkus kerupuk itu," tanya Arumi, mendekati budhe Tini yang sedang meracik bakso nya, sambil menunjukkan arah toples terbuka yang berisi kerupuk di atas meja, tempat ia makan tadi.

"Oh, bakso 15, es teh nya 5 ribu, kerupuk nya dua ribuan. Tadi, Neng ambil satu kerupuk, jumlah nya 22 ribu Neng," kata budhe Tini.

Arumi mengangguk, mengambil duitnya didalam dompet, membayar nya dengan duit pas, tanpa perlu menunggu kembalian nya lagi. "Makasih budhe, mari, aku balik dulu," ucap Arumi.

"Sama-sama Neng, hati-hati dijalan," teriak budhe Tini.

Arumi hanya mengangguk, lalu menyalakan mesin motornya, dan mulai mengendarai motornya, memasuki tempat gang dimana tempat ia tinggal. Saat memarkirkan motornya, Arumi dikejutkan dengan sapaan tetangga nya.

"Arumi! Baru pulang yah," seru Elena. Arumi menengok kearah Elena, yang ternyata sedang mengandeng seorang laki-laki, dan mungkin saja pelanggan nya atau kekasih nya.

"Seperti yang kamu lihat, Na ...," sahut Arumi. "Mau kemana, Na? udah rapi begitu," tanya Arumi, sambil menatap pakaian Elena yang terlihat rapi.

"Enggak kemana-mana, Rum, aku baru balik dari tempat karokean," sahut Elena, sembari membuka pintu kontrakan nya.

Arumi tersenyum canggung, ketika tatapan nya dengan pria yang di gandeng Elena, entah kenapa ia tidak menyukai tatapan itu.

"Aku masuk duluan, Rum, aku mau berikan pelayanan yang terbaik dulu buat Mas Duta." Elena terkikik-kikik, sembari membawa pria bernama Duta itu untuk masuk kedalam kontrakan nya.

Arumi mengangguk kecil, bahkan bulu kuduk nya berdiri, saat pria itu memberikan kedipan sebelah mata, membuat Arumi bergegas membuka kunci pintu kontrakan nya. Arumi menghempaskan tubuhnya ke sofa, menghela napas beberapa kali, ia membenci ingatan nya yang selalu tertuju kedalam apartemen Dipta.

"Sejak kapan kamu selingkuh, Mas?" gumam Arumi, memejam. Sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan kepada Dipta. Namun, keburu benci saat menatap wajah Dipta, bahkan ia bergidik jijik saat benda milik Dipta, yang sedang dia gunakan memuaskan wanita selingkuhan nya tadi.

Dering ponsel dan bunyi notifikasi di ponsel nya, menyadarkan Arumi dalam lamunan nya, ia mengambil ponsel didalam tas nya, dan melihat sebuah nama yang tertera di layar ponsel nya. "Ck, apa lagi yang sedang dilakukan pria brengsek ini? Kenapa juga masih mencari-cari aku."

Arumi berdecak, sembari mematikan telpon dari Dipta, ia sedang tidak ingin berbicara kepada pria brengsek itu, karena ia butuh istirahat dari pikiran dan sakit hatinya. Namun, notifikasi justru muncul di layar ponsel nya.

Kenapa enggak mengangkat telepon ku sayang? Dan, apa kamu tadi kesini? Aku melihat paperbag, berisi kue diatas sofa. Kapan kamu kesini sayang? Arumi, balas chat aku! Apa kamu tadi kesini? Arumi! Arumi!

Bahkan beberapa kali pesan whatsapp yang dikirim Dipta, dan Arumi hanya melihat dan membacanya saja, tanpa ada rasa ingin membalas satu pun dari pesan itu. Dan ... Semua isi pesan whatsapp itu sama, bertanya tentang dia yang kapan datang ke apartemen nya, pasti Dipta sedang panik sekarang.

"Jelas kamu sedang panik kan, Mas?" lirih Arumi, bertanya kepada pada dirinya sendiri.

Arumi bangun dari duduk nya, ia sekarang butuh bersih-bersih dan beristirahat, karena besok ia mengajar anak murid seperti Bumantara lagi.

"Sial! Nama itu lagi. Aku benci saat mengingat nama kamu. Bumantara, pria yang tidak punya malu, etika, dan tidak sopan." Arumi mengeluarkan semua unek-unek di hati nya, saat nama Bumantara terlintas dipikirannya — bisa-bisanya saat nama itu terlintas ia justru mengingat kejadian didalam lift, rasa hangat dari pelukan laki-laki itu masih menjalar di seluruh tubuhnya.

"Oh, kamu sangat enggak tertolong lagi Arumi. Bisa-bisanya mengingat pria itu, dengan pipi yang memerah seperti ini," gumam Arumi, menepuk pipi nya yang memerah lewat cermin yang sedang ia tatap.

Bersambung....

1
mungkin
ya elah pakai bersambung
mungkin
hah....menghela napas
mungkin
bau kecemburuan sudah terlihat
mungkin
ugal-ugalan juga nih brondong, gimana ngga luluh juga tuh Arumi
mungkin
geng kapak ya?
mungkin
nih kerasa gemas nya
mungkin: jangan gini thor
total 1 replies
mungkin
muda ² udah punya pengaruh itu
mungkin
nih rasakan💪 dari Bumantara
mungkin
cam kan itu/Panic/
mungkin
namanya juga pesona brondong licik
mungkin
ya lanjutkan saja
mungkin
jangan malu-malu masih banyak yang perlu dibahas
Anala.: apa saja itu🤭
total 1 replies
mungkin
cinta tidak mengenal salah
Anala.: eyaasa🤭
total 1 replies
mungkin
nyaris saja
mungkin
ini itu tentang ngajar dan ngejar ya, dengan karakter tokoh yang keren
mungkin
lanjut thor. Arumi ngga simple aja thor pelajaran nya
Anala.: 1+1> gitu yah🤣
total 1 replies
mungkin
oh...manis
mungkin
jadi pebinor pun tak apa/Panic/
Anala.: menurut lo🤭
total 1 replies
mungkin
oh masih sopan awalan nya
mungkin
hahahaha
Anala.: yeee tau kan😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!