NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Udara masih dingin meski matahari sudah naik. Aroma kopi yang sudah lama tidak tercium di bulan Ramadhan, dan langkah-langkah orang terdengar sedikit lebih pelan. Seolah semua sepakat untuk tidak menghabiskan energi terlalu cepat.

Jam di dinding baru menunjukkan pukul 09:05. Coworking space lantai dua sudah mulai hidup. Beberapa orang duduk dengan laptop terbuka, sebagian masih menguap sambil membuka email. Lampu-lampu putih menyala stabil, memberi kesan bersih dan tenang.

Cyan menekan tombol lift, lalu melangkah masuk saat pintunya terbuka perlahan. Di dalam, ia berdiri sendiri, punggungnya bersandar ringan pada dinding, sementara pantulan wajahnya terperangkap di kaca lift yang dingin.

Angka digital di atas pintu menyala redup, lalu bergerak naik dengan ritme pelan satu per satu. Suara dengungan mesin lift mengisi ruang sempit itu, menemani detik-detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Hingga akhirnya, lift melambat dan berhenti di angka 4. Tanpa Cyan tahu itu angka sial bagi dirinya, setidaknya hari ini.

Pintu lift terbuka dengan bunyi lembut.

Cyan melangkah keluar dan langsung disambut suasana lantai empat yang terasa berbeda dari lantai-lantai yang lain. Area ini jauh lebih terbuka, dipenuhi ruang luas yang biasanya digunakan untuk event-event kecil.

Beberapa booth berdiri rapi, tersusun sejajar, dengan banner tinggi berwarna pastel menjulang di beberapa sudut ruangan.

Cyan menarik napas pelan.

Lantai empat selalu terasa sedikit lebih ramai, bahkan di pagi hari.

Cyan melangkah perlahan, matanya menyapu area. Ia naik ke sini bukan tanpa alasan. Sebagai atasan, ia perlu memastikan event hari ini berjalan sesuai prosedur.

Belum sempat ia mendekat ke booth terdekat, pandangannya menangkap sosok familiar di dekat salah satu booth.

Dan lelaki di dekat booth itu, adalah Magenta.

Magenta berdiri santai, dengan tangan diselipkan ke saku celana.

Di depannya, dua orang perempuan mengenakan seragam SPG sedang berbicara. Salah satunya tertawa kecil, dan yang satu lagi sibuk menjelaskan sesuatu.

Cyan tidak berniat memperhatikan.

Ya… awalnya. Ia hanya… melihat sekilas.

Lalu sekilas lagi.

Kenapa dia masih ngeliatin deh?

Kita semua juga nggak tahu arah mood Cyan yang berubahnya cepet kayak anak kecil tantrum.

Magenta mengangguk, lalu tersenyum, mengatakan sesuatu yang membuat salah satu SPG itu tertawa lebih keras.

Dada Cyan mengencang sakit.

"Sial. Ini dada kenapa sih? Tiba-tiba banget," batin Cyan.

Magenta tiba-tiba merapikan kerah bajunya. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan saat SPG itu menunjuk ke arahnya sambil tertawa kecil.

“Mas Magenta cocok sih kalau jadi brand ambassador,” kata salah satu SPG.

Cyan menatapnya dengan seksama, dan tanpa sadar ia membatin.

"Mas?"

Mas.

Kenapa kata itu tiba-tiba terasa... menyebalkan bagi Cyan?

Magenta tertawa ringan. “Wah, jangan gitu. Saya ini kerjaannya cuma ngopi sama duduk di depan laptop.”

“Justru itu cocok,” balas SPG lainnya. “Image-nya dapet.”

Cyan menggenggam notebook miliknya lebih keras. Ia tidak tahu kenapa, tapi kepalanya mulai menyusun asumsi-asumsi yang tidak diminta. Tidak ada yang salah sebenarnya, ini hanya obrolan biasa.

Tapi tetap saja.

"Kenapa Magenta keliatan nyaman? Kenapa harus senyum-senyum gitu sih?" batin Cyan.

“Cyan?” Suara Alya mengejutkannya.

Cyan tersentak kecil. “Iya, Al?”

“Kamu ngapain masih diem di sini? Semua udah aku urus.” tanya Alya heran.

Cyan mengangguk cepat. “Iya. Ini… sebentar.”

Alya mengikuti arah pandang Cyan. Matanya menyipit sedikit, lalu tersenyum samar. “Oh... waduh bentar lagi ada perang nih.”

“Apa?!” Nada Cyan setengah sewot.

“Enggak ah. Aku ke bawah duluan, ya,” kata Alya sambil berlalu, meninggalkan senyum kecilnya yang mencurigakan.

Cyan menghela napas, lalu tanpa aba-aba melangkah sedikit menuju booth terdekat.

Magenta adalah orang pertama yang menyadari kehadirannya. Lalu senyumnya berubah, bukan senyum ke SPG tadi, tapi tersenyum ke arah Cyan.

“Pagi, Bu Cyantik.”

Nada yang terlalu familiar.

Cyan menoleh, lalu menjawab singkat. “Pagi, Magenta.”

SPG di sebelah Magenta menoleh. “Ini…?”

“Bu Cyan,” kata Magenta cepat. “Atasan saya.”

Cyan mengangkat alis.

Atasan? CUMA ATASAN?

Bener sih, nggak mungkin Magenta bilang ‘itu calon istri pura-pura saya’, ‘kan? Kenapa hari ini kata atasan itu malah terasa seperti jarak?

“Wah. Selamat pagi, Bu,” kata salah satu SPG ramah.

“Pantesan. Auranya kelihatan.”

Cyan memaksakan senyum profesional. “Pagi. Kalian ada event?”

“Iya, Bu. Event kecil sampai sore.”

Magenta mengangguk. “Mereka butuh izin area.”

“Sudah diurus?” tanya Cyan.

“Sudah,” jawab SPG itu cepat. “Semua sudah sesuai prosedur.”

“Baik,” kata Cyan. “Silahkan dilanjutkan.”

Ia hendak berjalan pergi lagi, namun langkahnya tiba-tiba terhenti.

“Mas Magenta,” panggil SPG yang tadi tertawa paling keras. “Nanti mampir lagi ya, kalau jam istirahat.”

Cyan berhenti sepersekian detik.

Magenta tertawa kecil. “Kalau nggak ketiduran, saya usahakan mampir, ya.”

SPG itu tertawa. “Deal.”

Dan Cyan benar-benar berjalan pergi sekarang.

***

Di meja kerjanya, Cyan duduk dengan gerakan kaku. Ia membuka laptop, menatap layar, namun tidak ada yang masuk ke kepalanya.

"Ish! Kenapa jadi kesel gini, sih?" gumamnya.

Ia menarik napas panjang, lalu—

“Bu Cyan,” suara Raka muncul entah dari mana. “Hari ini, hatinya gimana? Masih aman?”

“Ada apa?" tanya Cyan tanpa menoleh.

Raka berdiri di seberangnya. “Tadi aku lihat sesuatu yang menarik di lantai empat.”

“Kalau mau kerja, kerja aja Raka,” potong Cyan.

Raka terkekeh. “Tenang, Bu. Aku puasa kok hari ini. Jadi gak bakal bikin ulah pagi-pagi.”

Cyan akhirnya menatapnya. “Oke. Semoga aja," tapi jawabannya masih sedikit ketus.

Raka mencondongkan tubuhnya, kemudian berbisik ke arah Cyan. “Mas Magenta laku juga, ya Bu. Padahal nggak ganteng-ganteng amat. Tinggi juga standar."

“Raka," panggil Cyan dengan tatapan sedikit tajam.

“SPG event itu senyumnya beda, loh Bu. Bajunya juga lumayan mengundang," ucap Raka.

“Raka, stop. Itu semua nggak ada kaitannya dengan pekerjaan.”

Raka mengangkat tangan. “Siap deh. Tapi… Bu Cyan keliatan nggak fokus hari ini.”

“Karena kamu gangguin saya terus, Raka.”

“Bukan karena lagi cemburu, Bu? Itu kepalanya udah ada asep sama api loh.”

Cyan berdiri. “Hari ini ada rapat, kayaknya lebih baik kamu segera bersiap daripada ngoceh nggak penting gini.”

"Baik, Bu,” ucap Raka akhirnya.

Cyan tidak menjawab lagi, ia memilih untuk melangkah pergi.

***

Saat jam istirahat, ruang rapat dilantai tiga tampak lebih lengang. Beberapa kursi tersusun rapi, meja panjang di tengah ruangan dipenuhi berkas dan map.

Cyan berdiri di sisi meja, merapikan tumpukan berkas, menyusunnya kembali agar sejajar. Ia menggeser satu map yang sedikit miring, memastikan semuanya tertata rapi.

Ia tidak menoleh saat langkah kaki yang dikenalnya berhenti di ambang pintu ruang rapat.

“O… ow… kamu... marah?” tanya Magenta.

“Marah kenapa?" jawab Cyan, tanpa menoleh.

“Kamu cuek banget hari ini.” ucap Magenta.

“Karena puasa.” jawabnya, masih sibuk dengan tumpukan berkas.

Magenta terkekeh kecil. “Aku juga puasa. Tapi senyum pas lagi puasa itu pahala, cantik.”

Kemudian, suasana kembali hening.

Magenta berjalan mendekat, kemudian mencondongkan tubuh sedikit. “Ngambek yah? Kenapa sih? Karena tadi?”

Cyan menoleh sekilas, nada suaranya datar. “Karena apaan deh?”

“Yang di lantai empat?”

Cyan kini menatapnya sungguh-sungguh. “Aku gak ngerti.”

“Aku tadi lagi urus izin mereka," jelas Magenta.

“Iya."

“Kamu ada masalah?” Magenta bertanya lagi, suaranya lebih lembut kali ini.

Cyan menarik napas. "Aku gak kenapa-kenapa, Magenta.”

Magenta diam sebentar, tatapan matanya serius. “Tuh, kamu jutek gitu. Sumpah demi apapun aku cuma ngobrol biasa, enggak lebih.”

“Aku gak nanya.” jawab Cyan ketus.

“Tapi kamu kayak lagi kepikiran.”

Cyan menoleh tajam. “Jangan kepedean.”

Magenta tersenyum kecil. Bukan senyuman menggoda, tapi tersenyum lembut. “Kalau gitu, aku balik ke atas lagi, ya?”

“Terserah,” jawab Cyan singkat, matanya kembali menatap berkas yang ia rapikan.

“Kan... kamu keliatan gak nyaman, Cyan," ucap Magenta pelan.

Hening mengisi ruangan itu lagi.

Cyan menelan ludah. "Terserah kamu mau pergi atau nggak juga. Itu bukan urusanku.”

“Oke,” kata Magenta ringan. “Satu yang harus kamu tahu, aku nggak tertarik sama mereka.”

Cyan menatap Magenta dengan sedikit heran.

Kenapa Magenta harus menjelaskan hal itu padanya? Bukankah Cyan ini… bukan siapa-siapa bagi Magenta? Seharusnya, hal itu tidak perlu dijelaskan sama sekali.

Cyan memalingkan wajah. “Ini sama sekali nggak butuh penjelasan," ujarnya datar.

“Tapi aku mau jelasin," kata Magenta lembut, nada suaranya tenang tapi tegas.

Kata-kata itu berhasil membuat Cyan berhenti sejenak dari aktivitasnya, jari-jari yang tadi merapikan berkas ikut terhenti. Ia menatap meja, menahan napas, mencoba menenangkan pikirannya yang tiba-tiba kacau.

“Aku turun duluan, ya. Kamu jangan overthinking. Mereka semua… gak ada apa-apanya dibanding kamu sayangku,” kata Magenta, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Cyan sendiri.

Pengakuan Magenta itu… terdengar begitu menenangkan bagi Cyan.

Ia tidak tahu, apakah pantas Magenta menjelaskan hal itu padanya? Lagi pula, Cyan bukan siapa-siapa dalam hidup Magenta. Hanya atasan, dan… pasangan pura-pura.

Namun, entah kenapa, kata-kata itu mengendap begitu saja di hati Cyan. Hangat, lembut, dan sulit diabaikan. Kini, Cyan menyadari sesuatu yang menakutkan.

Cemburu itu nyata.

Dan perasaan itu… tidak bisa lagi ia anggap pura-pura. Ia takut. Takut kalau apa yang ia rasakan kini… benar-benar lebih dari sekadar sandiwara.

“Gila banget, apa iya gue cemburu sama si kurcaci itu?”

1
Aruna02
laki laki mah kagak kelihatan lah syudah pernah gituan kalo cewek ada bekas nya 😭😭kok nggak adil ya
Aruna02
gentaaaa OMG jangan nyosor mulu
Laila Sarifah
Cyan pegangan ke bahu Genta dh kayak tukang ojek aja, peluk di perut kek✌️🤣
Rivella
lucu bnget deh Cyan dan Magenta🤣🤣
Rivella
lucu bnget namanya😭😭🤭
Aleaa
masa yang begini ngga pakai perasaan sih wkwkwk
Wulandaey
Lha si arga mau jadiin cyan bini kedua👍 jelas2 genta aj deketin stgh matii... klo kaga dicium jg g bkal genta brhasil tu dket sma bosnya yg galak introvert ini
Aleaa
wkwk genta gentw, lift pun berpihak padamu
Aleaa
Astagaaa ini dua orang dewasa kek bocil jadinya ya
Laila Sarifah
Apa itu yg namanya Karma? Mana suami Vira ini suka jelalatan lagi pasti di atas pesawat dia melakukan hal-hal aneh dgn pramugarinya
Drezzlle
Magenta ini pria yang blak2 an ada plus minusnya. Minusnya nggak bisa bedain lagi serius dan nggak
ainnuriyati
yaah vira sgitu doang kekuatan lu, blm apa2 sh kena sikat cyan
Drezzlle
cubit ya Magenta ih, masih pura-pura bilang nggak suka setelah semua yang terjadi.
brilliani
musang /Angry/ tolongg ada musang birahiyy tlongg
brilliani
jurus ngeles dan denial nya sama kuat🤣
Sinchan Gabut
Astaga Vi ma Ar ini pasangan 🚩🚩

Masing2 ud ad pasangan masih aj ganggu Genta n Cyan hih 😤
Alessandro
astaga berbagi iler....
ada2 aja,, cyan.. blh jg ngga baper2 club. cm jwb,
"ngga biasa aja, ud prnh lbh dr itu" 🤭
Alessandro
bs pas.. ini mo puasa yakkk🤭
jd gk sabar war takjil 🔪
Miley
genta heh wkwkw🤣
Miley
sehat² wanita karir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!