"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 12
"Aku tidak ingin punya anak dari mu. "
Kalimat itu menjadi hal pertama yang Indira dengar pagi itu, setelah semalam mereka berperang lewat kertas perjanjian kontrak yang sama sekali tidak Indira setujui seratus persen.
Ia baru saja selesai merapikan tempat tidur ketika pintu kamarnya dibuka tanpa diketuk. Seno berdiri di ambang pintu, rapi dengan kemeja kerja abu- abu dan jam mahal di pergelangan tangan.
Di tangannya, sebuah kotak kecil berwarna putih tergenggam. "Minum ini. " Ia meletakkan kotak itu diatas meja rias, suaranya datar seolah sedang memberikan perintah pada bawahan.
Indira menoleh perlahan, tatapannya jatuh pada tulisan kecil di kemasan obat itu. Tablet penunda kehamilan.
"Aku tidak mau ada kemungkinan kau hamil, " lanjut Seno, tanpa menunggu reaksi. "meski kita melakukan 'hubungan' itu nanti,ini adalah salah satu pencegahan nya. "
Indira tidak langsung bereaksi dengan kata- kata pria itu, ia lebih memilih meraih kotak itu dan membukanya sebentar, lalu menutup kembali dengan tenang. Tanpa emosi berlebih, ia berjalan ke arah meja nakas dan menyimpan nya ke dalam laci.
"Baik, " katanya singkat.
Dahi Seno mengernyit. Hanya itu?
Ia mengira akan ada penolakan, drama atau air mata dari perempuan itu, tapi ternyata itu semua hanya angan-angan nya saja. Indira tampak santai dan terkendali, itu membuat egonya sedikit tergores.
Ia lantas melangkah mendekat. "Itu saja respon mu? "
Indira menoleh, wajahnya tetap tenang, terlalu tenang hingga membuat Seno tidak nyaman.
"Apa kau berharap aku menangis? " tanya Indira ringan. "atau memohon agar kau tidak harus memperlakukan ku seperti ini? "
Seno terdiam sejenak. "Kau terlihat... terlalu biasa saja, " ucapnya dingin.
Indira tersenyum kecil, lebih ke sinis. "Maaf kalau reaksi ku mengecewakan. Tapi sejujurnya pun, aku tidak pernah membayangkan punya anak dari lelaki yang bahkan tidak menganggap ku istri. "
Indira kemudian maju satu langkah. "Pernikahan ini saja juga sudah cukup salah tanpa perlu anak yang mempersulit segala nya. " Ia tersenyum lagi, kali ini terlihat aneh di mata Seno. " bukankah kau berpikir yang sama dengan ku? "
Seno menegang.
"Tentu saja, apa yang kau katakan itu memang benar, itu sebabnya aku memberikan ini. Aku hanya memastikan tidak ada resiko, " katanya tajam.
"Dan aku hanya memastikan kau tidak perlu khawatir, " balas Indira cepat. "Lagipula, apa gunanya punya anak dari pernikahan yang sejak awal kau sebut sandiwara?"
Seno mendecak. " jangan memutarbalikkan kata- kataku! "
"Aku tidak memutarbalikkan apapun, " Indira menatap nya lurus. "Aku hanya menyederhanakan. "
Lantas keheningan jatuh diantara mereka. Bukan karena tidak ada yang ingin bicara, tapi karena keduanya tahu-- kalau ada satu kalimat lagi yang keluar, maka pertengkaran akan meledak.
Seno akhirnya memalingkan wajah. "pastikan kau meminum itu sebelum kita... melakukan kewajiban. "
Indira mengangguk. "Tenang saja. aku tidak tertarik menjebak mu dengan cara murahan. "
Kalimat itu sontak membuat rahang Seno mengeras. Tanpa menambah kata, ia berbalik dan pergi. Menutup pintu dengan suara yang lebih keras dari seharusnya.
Indira berdiri sendirian di kamar itu. Ia membuka kembali laci, menatap kotak kecil itu lama. Lalu menutupnya kembali dengan gerakan tergesa, sebab hatinya yang tiba-tiba terasa sesak.
Indira menutup mata.
"Sabar Indira... hanya satu tahun. bersabarlah satu tahun saja. "
Semalam sebenarnya ia sudah merencanakan untuk pergi dari sini, ia kira tidak akan kuat menjalani pernikahan penuh kepura-puraan ini.
Tapi ayahnya tiba-tiba menelpon, memintanya untuk menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan untuk adiknya di perusahaan Seno.
Benar- benar permintaan yang tidak tahu malu setelah membuat hidupnya hancur seperti ini. Lantas ia mengatakan ingin berpisah dari Seno, dan apa reaksi ayahnya?
Tentu saja ayahnya marah besar, ia masih ingat setiap perkataan ayahnya di telpon itu.
"Dasar anak tidak tahu di untung! sudah benar mendapatkan suami yang punya status dan tajir melintir, malah mau berpisah!"
"Jangan lagi kau berpikir untuk berpisah dari suami mu, ayah baru saja membeli mobil dan merenovasi rumah kita dan itu butuh dana besar, uang mahar mu bahkan tidak bisa menutupi nya, kalau sampai kau bercerai jangan salahkan ayah kalau akan membongkar makam ibumu dan menjual tanah nya! "
"Kau dengar itu? jangan mempermalukan keluarga kita, kalau sampai ayah dengar kau berbuat masalah di rumah suami mu, ayah benar-benar akan membongkar makam ibumu! "
Ayahnya tahu betul kelemahan nya dan tentu saja ia tidak punya pilihan selain bertahan. Bertahan entah sampai kapan.
Ibunya meninggal karena overdosis obat, sebab ayahnya yang menjalin kisah cinta di belakang sang ibu. Sebenarnya kisahnya dan Seno tak jauh berbeda soal penghianatan di dalam keluarga, tapi berbeda dengan dirinya, ibunya tidak menyerah dengan hidup, hanya saja kemiskinan dan ketamakan dari ayahnya yang merenggut ibunya dari sisinya dan meski tragis, itu tidak membuat pandangan Indira berubah soal cinta dan pernikahan.
Menurut nya tidak semua pernikahan akan sama seperti ayah dan ibunya, dan ia masih percaya akan adanya cinta meski sampai sekarang ia belum mendapatkan nya.
Indira terduduk di tepi ranjang, mengusap keningnya.
Ayahnya tidak sedang mengancam kosong, ia tahu itu. Makam ibunya yang berada di tanah peninggalan kakeknya adalah wasiat terakhir sang ibu, jika ia ingin di makamkan disana di dekat makam orang tuanya.
Wasiat itu hanya bisa di jaga olehnya, dan satu-satunya yang bisa ia kabulkan atas segala keinginan ibunya yang tidak terpenuhi.
Dan pria yang sama yang dulu menjual perhiasan terakhir peninggalan ibunya demi gengsi, kini tak akan ragu menyeret nama orang mati demi memaksa anak perempuannya bertahan dalam neraka yang tidak ia pilih.
Indira seperti berjalan seperti di atas benang tipis, jika ia terjatuh di tempat mana pun, tak ada tempat yang aman.
Ia menunduk. Sekarang tak ada pilihan lain selain bertahan, bukan karena kalah tapi karena lelah.
Lelah harus menjadi anak yang selalu diminta mengalah.
Lelah menjadi perempuan yang harus menanggung akibat ambisi orang lain.
Lelah dipaksa kuat, bahkan ketika hatinya sudah terlalu remuk untuk diperbaiki.
Kotak obat di dalam laci itu terasa seperti simbol paling kejam dari hidupnya saat ini. Bukan sekadar pil penunda kehamilan, melainkan pengingat bahwa tubuhnya pun kini bukan miliknya sendiri.
Ia menarik napas panjang, menahannya sejenak, lalu mengembuskannya perlahan. Cara yang sama seperti yang ia lakukan setiap kali harus menahan diri agar tidak runtuh di depan pasien-pasiennya dulu.
Tarik napas. Hitung sampai tiga. Jangan menangis.
Indira bangkit, berjalan ke kamar mandi, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin. Pantulan dirinya di cermin tampak asing--mata sembap, wajah pucat, tapi rahang mengeras menahan segalanya.
“Kau tidak boleh jatuh sekarang,” bisiknya pada diri sendiri.
“Bukan sekarang.”
Ia merapikan rambutnya, mengganti pakaian, dan turun ke lantai bawah dengan langkah yang terlihat tenang--meski di dalam dirinya, semuanya sedang berantakan.
Pelayan-pelayan rumah itu menyapanya dengan hormat.
“Nyonya Indira.”
Sapaan itu terasa seperti ironi yang pahit. Ia membalas dengan senyum kecil, senyum yang ia pelajari sejak lama--senyum perempuan yang tidak ingin orang lain tahu betapa rapuhnya dirinya.
Siang itu, Indira membantu Nyonya Athaya menata bunga di ruang tamu. Tangannya bekerja otomatis, tapi pikirannya melayang entah ke mana.
“Indira,” panggil Nyonya Athaya lembut. “Kau terlihat pucat. Apa kau tidak enak badan?”
Indira menggeleng cepat. “Tidak, Nek. Hanya kurang tidur.”
Ia berbohong. Tapi bukan karena ingin menipu, melainkan karena tidak tahu harus mulai bercerita dari bagian mana.
Belum sempat Nyonya Athaya berkata lagi, suara mobil terdengar berhenti di halaman depan. Tak lama kemudian, tawa perempuan menggema di dalam rumah.
Indira mengangkat wajahnya.
Dan di sanalah Windya berdiri--dengan gaun sederhana namun mahal, riasan sempurna, dan senyum yang terlalu percaya diri untuk seseorang yang datang ke rumah pria yang sudah menikah.
“Nenek Athaya!” serunya ceria. “Aku mampir sebentar sebelum makan siang.”
Nyonya Athaya menyambutnya hangat, tidak menyadari perubahan udara yang mendadak menegang.
Windya baru melirik Indira setelah itu. Tatapan mereka bertemu.
Senyum Windya tidak memudar. Justru berubah menjadi lebih tipis, lebih tajam.
“Oh,” katanya pelan. “Kau.”
Indira juga menatapnya lurus, tak gentar. "Ya? "
...----------------...
Mereka duduk berhadapan ketika Nyonya Athaya kembali ke dapur. Hening menggantung beberapa detik, sebelum Windya yang memecahkannya.
“Aku dengar semuanya dari kak Seno,” ucapnya santai, seolah membicarakan cuaca. “Tentang pernikahan kalian dan kontrak itu.”
Jantung Indira mencelos.
“Kontrak?” ulangnya pelan.
“Iya,” Windya tersenyum. “Lucu juga. Menikah tapi dengan batas waktu. Seperti sewa rumah.”
Kalimat itu disengaja, Indira tahu.
“Aku tidak menyangka Seno akan menceritakan hal itu ke orang lain,” ujar Indira akhirnya, suaranya tetap terkendali.
Windya terkekeh kecil. “Aku bukan orang lain.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Aku tunangannya.”
Indira menatapnya tanpa berkedip. “Aku tahu, " Katanya meski sebetulnya ia baru mengetahui fakta itu.
“Dan aku juga tahu,” lanjut Windya, “posisimu di rumah ini.”
Indira menyilangkan tangannya di pangkuan. “Kalau begitu, seharusnya kita tidak perlu ada percakapan ini.”
“Justru karena aku tahu posisimu,” Windya tersenyum manis, “aku ingin memastikan kau juga sadar diri.”
Indira menghela napas pelan. “Sadar diri bagaimana?”
Ia menarik satu alis, wajahnya tetap tanpa ekspresi dan Windya merasa kesal karena Indira terlihat tidak terganggu dengan ucapannya.
Tapi ia tak menyerah.
Windya mencondongkan tubuh, menurunkan suaranya. “Aku dan kak Seno sudah bertunangan jauh sebelum ini. Pernikahan kalian hanya formalitas. Dan setelah kontrak itu selesai… aku yang akan menikah dengannya.”
Indira menatapnya tanpa berkedip. “Kau terdengar sangat yakin.”
“Aku memang yakin,” Windya tersenyum manis. “Kak Seno tidak akan pernah lepas dariku.”
Indira tersenyum balik. Kali ini lebih dingin.“Kalau begitu, seharusnya kau tidak perlu repot datang ke sini hanya untuk mengingatkanku.”
Windya terdiam sesaat, jelas tidak menyangka balasan itu.
“Aku hanya tidak ingin ada yang lupa diri,” katanya kemudian.
Indira mengangguk pelan. “Dan aku hanya tidak ingin ada yang lupa sopan santun.”
*****
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah