NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LATIHAN DI PAGI HARI

Suara azan subuh dari masjid kampung yang berdiri di tepi sungai masih terdengar jelas di udara pagi yang sejuk ketika Evan membuka mata. Tangannya secara naluriah meraih baju latihan yang sudah ia siapkan di sisi kasur semalam – baju olahraga putih yang sudah sedikit lusuh dan celana panjang warna hitam yang sudah dipotong menjadi celana pendek agar lebih mudah bergerak. Ia bergegas mandi dengan air dingin dari sumur belakang rumah, merasa kesegaran yang mengalir ke seluruh tubuhnya dan menghilangkan rasa kantuk yang masih menyertai.

Setelah menyelesaikan salat subuh bersama ayahnya, Evan berjalan cepat menuju rumah Kakek Darmo. Langit mulai menunjukkan warna jingga muda di ufuk timur, dan kabut tipis masih menyelimuti sawah yang membentang luas di sepanjang jalan yang ia lalui. Burung perkutut sudah mulai berkicau dari cabang-cabang pohon yang tumbuh di tepi jalan, dan aroma kopi yang sedang diseduh di rumah-rumah kampung mulai menyebar di udara pagi yang segar.

Ketika tiba di halaman rumah Kakek Darmo, Evan menemukan leluhurnya sudah berdiri di bawah pohon beringin yang besar, mengenakan baju latihan warna putih yang bersih dan sarung yang sudah dilipat dengan rapi di pinggangnya. Badannya berdiri tegak dengan sikap yang penuh kedamaian, namun juga menunjukkan kekuatan yang tersembunyi di balik setiap serat ototnya yang terlihat jelas di bawah baju yang dikenakannya.

"Sudah siapkah kamu, cucu?" tanya Kakek Darmo dengan suara yang tenang namun jelas terdengar di kesunyian pagi hari.

"Siap, Kakek!" jawab Evan dengan penuh semangat, berdiri dengan sikap yang sesungguhnya meskipun masih terlihat kaku.

Kakek Darmo tersenyum lembut, kemudian mengajak Evan untuk berdiri di tengah lapangan yang sudah dirapikan bersih. Ia berjalan mengelilingi Evan dengan langkah yang lambat namun stabil, memeriksa sikap berdiri cucunya dari setiap sudut.

"Sikap berdiri yang benar adalah dasar dari semua gerakan dalam ilmu beladiri kita," ujar Kakek Darmo sambil berhenti di depan Evan. "Kamu tidak bisa membangun rumah yang kokoh jika pondasinya tidak kuat, bukan? Begitu pula dengan tubuh kita – jika sikap berdiri kita salah, maka semua gerakan yang kita lakukan akan menjadi tidak efektif dan bahkan bisa menyebabkan cedera pada diri kita sendiri."

Ia menunjukkan cara berdiri yang benar – kaki sedikit terbuka selebar bahu, tumit sedikit mengangkat agar berat badan terdistribusi dengan merata pada seluruh bagian telapak kaki, punggung lurus namun tidak kaku, bahu rileks dan sedikit mundur, serta kepala tegak dengan pandangan yang tenang ke arah depan. Evan mencoba menirukan sikap tersebut dengan sebaik mungkin, merasa sedikit tidak nyaman pada awalnya namun perlahan mulai merasakan kenyamanan dan stabilitas yang diberikan oleh sikap yang benar.

"Perasakan tanah di bawah kakimu, Evan," instruksi Kakek Darmo dengan lembut. "Bayangkan bahwa akar-akar yang kuat tumbuh dari telapak kakimu ke dalam tanah, seperti pohon besar yang tidak bisa roboh oleh angin kencang. Ini bukan hanya tentang kekuatan fisik melainkan tentang hubunganmu dengan alam sekitarmu – ketika kamu bisa merasakan hubungan itu, kamu akan mendapatkan kekuatan yang jauh lebih besar dari kekuatan fisik semata."

Setelah Evan cukup mahir dalam sikap berdiri dasar, Kakek Darmo mulai mengajarkan langkah-langkah dasar yang digunakan dalam ilmu beladiri mereka – langkah maju, mundur, ke kiri, ke kanan, dan langkah melingkar yang digunakan untuk menghindari serangan musuh dan mencari posisi yang menguntungkan. Setiap langkah diajarkan dengan sangat detail – dari cara mengangkat kaki, menempatkan tumit dan ujung kaki di tanah, hingga cara menggerakkan pinggul dan badan secara bersamaan agar gerakan menjadi lancar dan efisien.

"Setiap langkah harus dilakukan dengan kesadaran penuh," jelas Kakek Darmo sambil menunjukkan langkah maju yang benar. "Jangan hanya bergerak karena kamu harus melakukannya – rasakan setiap gerakan dengan seluruh tubuhmu, perhatikan bagaimana berat badanmu berpindah dari satu kaki ke kaki lainnya, dan pastikan bahwa setiap langkahmu memberikan kamu stabilitas maksimal."

Evan berlatih langkah-langkah tersebut berulang kali hingga matahari mulai naik lebih tinggi dan sinarnya mulai menyinari lapangan di bawah pohon beringin. Kadang-kadang ia salah langkah dan hampir terjatuh, namun Kakek Darmo selalu berada di dekatnya untuk menstabilkan tubuhnya dan memberikan koreksi dengan sangat sabar. Tidak pernah ada kata-kata yang menyakitkan atau celaan yang keluar dari mulut leluhurnya – hanya petunjuk yang jelas dan dorongan yang penuh kasih sayang.

Setelah cukup mahir dengan langkah-langkah dasar, Kakek Darmo mulai mengajarkan gerakan tangan dasar – dari cara mengangkat tangan dengan benar, cara membentuk tinju yang tepat agar tidak melukai tangan sendiri, hingga cara melakukan pukulan dasar yang kuat namun terkontrol. Ia menjelaskan bahwa setiap gerakan tangan harus selaras dengan gerakan kaki dan tubuh agar menghasilkan kekuatan yang maksimal.

"Kekuatan dalam ilmu beladiri kita tidak berasal dari otot yang besar semata," ujar Kakek Darmo sambil menunjukkan cara melakukan pukulan lurus yang benar. "Ia berasal dari koordinasi yang sempurna antara pikiran, tubuh, dan napas. Ketika ketiga elemen ini bekerja sama dengan sempurna, kekuatan yang dihasilkan akan jauh lebih besar dari yang bisa kamu bayangkan."

Ia juga mengajarkan Evan tentang pentingnya napas yang terkontrol – bagaimana bernapas dengan benar saat menyerang dan saat menghindari serangan, bagaimana mengumpulkan energi dalam tubuh melalui napas yang dalam, dan bagaimana melepaskannya dengan tepat saat melakukan serangan atau pertahanan. Evan belajar cara bernapas melalui hidung saat dalam kondisi tenang dan melalui mulut saat melakukan gerakan yang membutuhkan lebih banyak energi, selalu menjaga ritme napas agar tetap stabil dan terkontrol.

Setelah beberapa jam berlatih gerakan fisik, Kakek Darmo mengajak Evan untuk duduk bersila di bawah pohon beringin yang memberikan teduh yang sejuk. Ia mengambil secangkir teh hangat yang sudah disiapkan sebelumnya dari termos kecil yang ada di dekatnya, memberikan secangkir kepada Evan sebelum mulai menjelaskan filosofi yang menjadi dasar dari ilmu beladiri mereka.

"Ilmu beladiri yang kita pelajari ini tidak diciptakan untuk menyakiti orang lain, cucu," ujar Kakek Darmo dengan suara yang penuh makna. "Ia diciptakan untuk melindungi diri kita sendiri, melindungi orang-orang yang kita cintai, dan menjaga kedamaian di sekitar kita. Kita hanya boleh menggunakan kekuatan yang kita miliki ketika tidak ada pilihan lain dan ketika itu benar-benar diperlukan untuk melindungi yang lemah."

Ia melihat jauh ke arah sawah yang sudah mulai dipenuhi oleh petani yang sedang bekerja. "Seperti petani yang menggunakan parang untuk membajak tanah dan memotong rumput liar yang menghalangi pertumbuhan tanaman – ia tidak menggunakan parang untuk menyakiti orang lain melainkan untuk membantu tanaman tumbuh dengan baik. Begitu pula dengan kita – kekuatan yang kita miliki harus digunakan untuk kebaikan dan untuk menjaga keseimbangan dalam kehidupan."

Kakek Darmo juga menjelaskan tentang pentingnya menghormati lawan – bahwa bahkan ketika kita harus melawan orang lain untuk melindungi diri atau orang lain, kita harus tetap menghormati mereka sebagai manusia yang juga memiliki hak untuk hidup. Ia mengatakan bahwa sebaiknya kita mencoba menemukan solusi damai sebelum harus menggunakan kekuatan fisik, karena setiap kali kita menggunakan kekuatan untuk menyakiti orang lain, ada bagian dari kita yang juga akan terluka.

"Bagaimana jika kita harus melawan orang yang benar-benar jahat dan ingin menyakiti banyak orang, Kakek?" tanya Evan dengan rasa ingin tahu yang mendalam.

Kakek Darmo terdiam sejenak sebelum menjawab. "Maka kita harus bertindak dengan tegas namun dengan hati yang tetap tenang, cucu. Kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan untuk melindungi yang lemah, namun kita tidak boleh membiarkan kebencian atau hasrat untuk membalas dendam menguasai diri kita. Karena ketika kita membiarkan emosi negatif menguasai diri kita, kita sama saja dengan orang yang jahat itu."

Ia menepuk lutut Evan dengan lembut. "Itulah mengapa kita berlatih tidak hanya gerakan fisik namun juga melatih pikiran dan hati kita untuk tetap tenang dalam segala kondisi. Hanya dengan pikiran yang jernih dan hati yang damai kita bisa membuat keputusan yang benar dan menggunakan kekuatan yang kita miliki dengan cara yang tepat."

Setelah istirahat sebentar dan menyelesaikan secangkir teh hangat mereka, Kakek Darmo kembali mengajak Evan untuk berlatih. Kali ini ia mengajarkan gerakan pertahanan dasar – cara menghindari serangan dengan menggerakkan tubuh dengan cepat dan tepat, cara menyangkut tangan atau kaki lawan untuk menghentikan serangan mereka, dan cara menjatuhkan lawan tanpa harus menyakiti mereka secara parah.

Evan merasa bahwa setiap gerakan yang dia pelajari memiliki makna yang dalam – tidak hanya sebagai cara untuk melindungi diri namun juga sebagai cara untuk memahami hubungan antara diri sendiri dengan orang lain dan dengan alam sekitarnya. Ia mulai merasakan bagaimana setiap gerakan yang dia lakukan terhubung dengan napasnya dan dengan getaran alam di sekitarnya, seolah tubuhnya menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Ketika matahari sudah mulai tinggi dan sinarnya mulai terasa panas di kulit mereka, Kakek Darmo menghentikan latihan untuk hari itu. Ia mengajak Evan untuk berjalan ke sungai yang ada di belakang kampung untuk membersihkan diri dan menghilangkan kelelahan setelah berlatih selama beberapa jam. Air sungai yang dingin dan jernih menyegarkan tubuh mereka yang lelah, dan suara aliran air yang tenang membantu menenangkan pikiran yang sudah terbiasa fokus pada gerakan-gerakan latihan.

"Saat kamu berlatih setiap pagi, ingatlah selalu apa yang telah saya ajarkan padamu hari ini, cucu," ujar Kakek Darmo sambil membersihkan wajahnya dengan air sungai. "Ilmu beladiri adalah tentang kedisiplinan, kesabaran, dan penghormatan terhadap kehidupan. Kamu tidak akan menjadi ahli dalam semalam – ini membutuhkan waktu bertahun-tahun dan usaha yang terus-menerus. Tapi jika kamu melakukannya dengan hati yang benar dan dengan tujuan yang baik, kamu akan menemukan bahwa ilmu ini akan memberikan kamu banyak hal selain kekuatan fisik."

Evan mengangguk dengan penuh pemahaman, melihat ke arah sungai yang terus mengalir dengan tenang ke arah hilir. Ia merasa bahwa tubuhnya terasa lelah namun juga terasa lebih kuat dan lebih terhubung dengan dirinya sendiri. Ia sudah tidak lagi melihat ilmu beladiri sebagai sesuatu yang hanya tentang bertarung atau menunjukkan kekuatan – ia mulai memahami bahwa itu adalah cara hidup yang penuh dengan makna dan nilai-nilai yang mendalam.

Pada hari berikutnya dan hari-hari setelahnya, Evan selalu bangun lebih awal dari biasanya untuk berlatih bersama Kakek Darmo di bawah pohon beringin yang besar itu. Setiap pagi mereka berlatih gerakan-gerakan dasar dengan penuh kesabaran, mengulanginya berulang kali hingga setiap gerakan menjadi bagian dari naluri Evan. Kakek Darmo secara perlahan mulai menambahkan gerakan yang lebih kompleks dan teknik yang lebih mendalam, selalu menjelaskan filosofi yang ada di balik setiap gerakan agar Evan memahami bukan hanya cara melakukannya namun juga mengapa ia harus melakukannya.

Selama latihan di pagi hari yang tenang dan damai itu, Evan tidak hanya belajar tentang ilmu beladiri namun juga tentang diri sendiri – tentang kekuatan yang ada di dalam dirinya, tentang pentingnya kesabaran dan kedisiplinan, dan tentang tanggung jawab yang melekat pada setiap orang yang memiliki kekuatan untuk melindungi orang lain. Dan di bawah naungan pohon beringin yang sama tempat leluhur leluhurnya juga pernah berlatih, Evan mulai membangun pondasi yang kuat untuk menjadi penerus warisan yang telah diwariskan selama berabad-abad – sebuah warisan yang tidak hanya tentang kekuatan fisik melainkan tentang kebijaksanaan, kebaikan hati, dan tekad untuk menjaga kedamaian di dunia yang seringkali penuh dengan konflik dan ketidakadilan.

Di kejauhan, suara burung berkicau semakin meriah dan matahari mulai menyinari seluruh kampung Cibuntu dengan sinar yang hangat dan penuh harapan. Dan seperti matahari yang memberikan kehidupan bagi semua makhluk di bumi, latihan pagi yang dilakukan Evan bersama Kakek Darmo memberikan kehidupan baru bagi dirinya – kehidupan yang penuh dengan tujuan, makna, dan harapan untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dan bagi dunia yang ada di sekitarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!