Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Back Where We Belong
"Aku tidak yakin bisa menyelesaikan ini sesuai deadline," kata Sena kepada Hana, selagi mereka mengerjakan makalah untuk salah satu mata kuliah. Mereka ada di apartemen, duduk berhadapan di meja makan.
"Benar ... sepertinya aku harus sering bergadang dalam seminggu ini jika ingin benar-benar menyelesaikannya." Hana menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil meneliti kembali hasil kerjanya.
Suara jemari Sena yang menari-nari di atas keyboard terhenti saat ponselnya berdering. Dia membalik benda pipih yang ditinggalkan di atas meja dengan posisi layar di bawah itu, memeriksa siapa yang menelepon. Namun, hanya sederet angka yang muncul. Pangkal-pangkal alisnya nyaris menyatu saat ia menyadari kode negara di nomor tersebut berasal dari Kanada.
"Halo?" Dia mengangkat panggilannya.
"Halo, apakah ini Elara Lee?" Seorang wanita di seberang telepon bertanya. Sena kebingungan, tidak tahu siapa yang sedang berbicara dengannya saat ini. Hana yang menyadari kebingungan di wajah Sena pun menghentikan aktivitasnya, turut membuka telinga mendengarkan percakapan di telepon.
"Ya, benar, itu saya. Dengan siapa saya bicara?"
"Elara, sayangku! Sudah lama sekali tidak mendengar suaramu. Ini aku, Jia."
Sena tersentak, hangat perlahan melingkupi dadanya setelah mendengar nama yang familier itu disebut. Sebuah nama yang membawa begitu banyak cinta dan kenangan.
"Nyonya Kim? Ya Tuhan!" Dia berseru, sontak berdiri antusias. Dia menatap Hana, mulutnya sedikit terbuka, dan matanya berbinar.
"Ibunya Andy?" Hana berbisik, Sena menjawabnya dengan mengangguk.
Tak lama, Nan mendekat, menggesekkan tubuhnya ke kaki Sena dengan ekor yang bergerak antusias. Sena merendahkan tubuhnya, mengusap bulu-bulu halus Nan dengan senyum terkembang.
"Apa kabar?" tanya Sena.
"Baik-baik saja. Aku mendapatkan nomormu dari ibumu, apakah itu tidak masalah?"
"Tentu. Tidak masalah."
"Bagaimana kabarmu, Sayang? Bagaimana kehidupan kuliahmu di Korea?" tanya Nyonya Kim.
"Semuanya berjalan lancar," Sena berjalan melintasi ruangan. "Aku sedang menempuh pendidikan magister sekarang."
"Oh wow," Suara Nyonya Kim kedengaran antusias. "Itu keren, Lara. Senang mendengarnya. Aku tahu kau akan selalu melakukan yang terbaik."
Senyum Sena semakin terkembang setelah mendengar kalimat positif dari Nyonya Kim. Ia menjatuhkan diri ke sofa, merebahkan punggungnya dengan nyaman dan meneruskan obrolannya dengan wanita yang sudah lama sekali tidak diajaknya berbicara itu.
"Bagaimana kabar Peter dan Tuan Kim?" tanya Sena, merujuk pada ayah dan kakak laki-laki Andy.
"Mereka baik-baik saja. Peter memiliki pekerjaan yang oke sekarang, dia sangat senang akan hal itu."
Kucing Sena, Mala, melompat ke atas sofa dan langsung merebahkan tubuh di atas pangkuannya. Sena memainkan jemarinya pada bulu-bulu halus Mala, merasakan setiap helainya menggelitik kulit tangannya.
"Andy meneleponku kemarin. Dia memberitahuku bahwa kalian bertemu kembali. Ah..." Sena mendengar Nyonya Kim mendesah lega, "aku senang sekali mendengarnya. Kalian adalah pasangan yang terbaik, sayang sekali jarak membentang sempat memisahkan."
Sudut-sudut bibir Sena tertarik ke atas. Nyonya Kim memang selalu antusias pada kehadiran Sena. Setiap kali ia datang berkunjung, wanita itu akan memperlakukannya dengan baik. Bagi Sena, Nyonya Kim sudah seperti ibu kedua. Sena telah menghabiskan banyak waktu di kediaman keluarga Andy, sehingga rasanya aneh saat kini ia tidak bisa lagi melakukannya sejak Andy pergi. Ia hanya sesekali berkunjung, karena sejak Andy pergi, rasanya sudah tidak ada lagi alasan baginya untuk datang sesering dulu.
"Aku cukup terkejut saat melihatnya lagi," Sena mengakui. "Tapi tentu, aku senang."
"Kalian sebaiknya terus berhubungan mulai sekarang, karena aku tidak ingin kalian terpisah lagi." Nyonya Kim berusaha terdengar seperti sedang mengancam, tak urung membuat Sena tertawa pelan.
"Baiklah, aku akan memberitahu Andy soal ini. Jangan khawatir, aku tidak berniat membiarkannya pergi lagi kali ini."
"Bagus. Baiklah, aku harus pergi sekarang, senang bisa mendengar suaramu lagi. Teleponlah aku sesekali, aku ingin mendapatkan life update darimu mulai sekarang."
"Ya, aku akan melakukannya. Terima kasih sudah menghubungiku, Nyonya Kim. Aku akan meneleponmu lagi nanti." Sena berjanji sebelum keduanya mengatakan salam perpisahan dan menutup telepon. Sena membiarkan ponselnya jatuh ke sofa, seraya ia menghela napas lega. Tentu saja bohong jika dia bilang tidak senang setelah mengobrol dengan Nyonya Kim. Wanita itu selalu ceria dan hangat, membuatnya merasa seperti berada di rumah.
Kini, setelah bertemu kembali dengan Andy dan mengobrol dengan Nyonya Kim, Sena merasa segala sesuatu telah kembali pada tempatnya. Segala sesuatu yang dirindukannya tentang rumah, perlahan datang lagi kepadanya. Rasanya seperti inner child yang terluka, yang merasa patah hati karena kehilangan teman baiknya, perlahan menemukan kesembuhannya.
Sena membayangkan bagaimana jadinya jika mereka bisa menjadi dekat seperti dulu kala; jika itu mungkin. Banyak hal telah terjadi selama bertahun-tahun mereka tidak berjumpa, mereka mungkin sudah banyak berubah, untuk bisa berhubungan kembali seperti sebelumnya. Dalam hal itu, Sena berharap mereka bisa memulai kembali hubungan pertemanan yang lebih kuat, secara perlahan tapi pasti. Walaupun banyak hal telah berubah, Sena meyakini masih ada beberapa hal yang tetap sama.
Selagi Sena memikirkan tentang hubungan pertemanannya dengan Andy, layar ponselnya menyala, menunjukkan adanya pesan masuk. Seolah tahu dirinya sedang dipirkan, Andy mengiriminya pesan.
Hai
^^^Hai^^^
^^^Apa kabar?^^^
Baik
Bagaimana denganmu?
^^^Baik^^^
^^^Esai ini hampir membunuhku, tapi selain itu, semuanya oke^^^
Oh no...
Tentang apa esai yang kau kerjakan itu?
^^^Soal mutasi DNA dan segala sesuatu tentang hewan. Demi Tuhan, ini melelahkan^^^
Kedengarannya mematikan
Aku yakin tidak akan bisa mengerjakannya
^^^Tentu, ini mematikan^^^
^^^Tapi tak apa^^^
^^^Aku hanya perlu bergadang beberapa malam untuk menyelesaikannya^^^
Tidak, kau tidak boleh melakukannya
Aku tahu kau ingin menyelesaikannya segera, tapi tubuhmu butuh istirahat
Coba pikirkan
Jika kau bergadang, otak dan tubuhmu akan kelelahan. Jika itu terjadi, kau mungkin tidak akan bisa menyelesaikan apa pun pada akhirnya
Jadi sebaiknya kau beristirahat agar bisa mengerjakannya lagi esok hari, dengan otak tubuh yang lebih bugar
^^^Wah... lihatlah, kau masih sangat peduli padaku^^^
^^^Itu manis sekali, terima kasih^^^
^^^Tapi kau tahu? Memang beginilah kehidupan perkuliahan^^^
Tidak, aku tidak peduli padamu
^^^Oh, baiklah^^^
^^^Maaf^^^
Hahaha tidak, tidak, aku hanya bercanda
...Okay. Apa yang sedang kau lakukan?...
Aku baru selesai latihan
^^^Oh... untuk persiapan comeback?^^^
^^^Kalian akan comeback dalam waktu dekat?^^^
Mungkin...
^^^Mungkin berarti iya^^^
Hahaha ya
By the way, sebelum aku lupa
Ada yang ingin aku tanyakan padamu
^^^Apa?^^^
Aku hanya ingin tahu, apa yang ingin kau lakukan di hari Rabu?
Karena kurasa aku hanya bisa keluar untuk makan malam atau sesuatu yang sejenis
Tapi jika kau ingin melakukan hal lain, itu tidak masalah. Aku akan mengusahakannya.
^^^Tidak masalah. Aku hanya ingin pergi denganmu.^^^
^^^Tapi apakah tidak masalah untukmu pergi makan malam denganku?^^^
^^^Maksudku... aku ini kan termasuk spesies wanita^^^
Tidak masalah. Aku bisa menyewa tempat private untuk kita
Ada satu tempat yang sering kudatangi bersama para member, dan semua yang ada di sana bisa dipercaya. Sejauh ini, tidak ada masalah.
^^^Baiklah, jika kau yakin akan baik-baik saja, aku ikut^^^
Oke, aku akan melakukan reservasi segera
Manajerku bisa mengantar kita, kami akan menjemputmu di rumah
^^^Siap^^^
Ini sudah larut, sebaiknya kau pergi tidur
^^^Baiklah. Kau juga^^^
Selamat tidur, Lara
^^^Ya... selamat tidur, Andy^^^
Bersambung....