Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Labirin Menara
Pintu lift di lantai khusus keluarga besar Empire Group tertutup dengan bunyi dentum logam yang berat, seolah memutus oksigen dari dunia luar. Arkananta berdiri tegak, membiarkan punggungnya bersandar pada dinding lift yang dingin. Pelipisnya masih menyisakan sisa keringat darah yang mulai mengering, bekas dari tekanan tulang besi yang dipaksanya bekerja keras saat menghadapi Nyonya Besar beberapa saat lalu. Di sampingnya, Nayara menggenggam tasbih kayu dengan jari-jari yang memucat, retakan pada butiran kayu itu terasa semakin tajam menusuk kulit telapak tangannya.
"Arkan, terdeteksi anomali mekanis. Unit lift tidak melakukan mobilisasi vertikal. Posisi kita tertahan di antara zona publik dan area privat," bisik Nayara, matanya yang tajam mulai menangkap pendaran aura hitam yang merayap dari celah pintu lift.
Arkan tidak menjawab secara lisan. Ia sedang mengatur napas manualnya, mencoba menstabilkan resonansi ulu hatinya yang terasa seperti diremas. "Bayu, berikan laporan status. Mengapa sistem kendali mengalami kegagalan operasional? Saya tidak mendeteksi aktivitas motor penggerak."
Suara Bayu terdengar pecah melalui interkom lift. "Tuan Muda, terdeteksi sabotase pada pusat data. Seluruh High Tower berada dalam status mode isolasi darurat. Akses lift pribadi Anda telah dikunci dari otoritas luar. Terdapat upaya pengalihan unit ini menuju lantai servis yang sudah tidak beroperasi."
"Erlangga. Subjek tersebut tidak hanya melakukan agresi melalui instrumen media, dia mulai mengeksploitasi kendali infrastruktur gedung ini untuk melakukan penahanan," geram Arkan sembari menatap angka di panel kontrol yang mendadak mati.
Tiba-tiba, lift berguncang hebat. Lampu di dalam kabin berkedip lalu padam total, menyisakan kegelapan yang pekat. Suhu di dalam ruangan sempit itu turun drastis, menyentuh titik beku yang tidak wajar. Nayara merasakan sensasi jarum es kembali menusuk pori-porinya, sebuah tanda serangan ghaib dari Kyai Hitam sedang bekerja bersamaan dengan sabotase teknis.
"Pertahankan kontak fisik dengan instrumen tasbih tersebut, Nayara. Lanjutkan frekuensi sholawat Anda," perintah Arkan, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Nayara di tengah kegelapan.
"Saya mendeteksi aroma anyir, Arkan. Spektrum baunya identik dengan koagulasi darah yang dikombinasikan dengan residu kemenyan," Nayara mulai melantunkan sholawat secara refleks, sebuah senjata batin yang membuat udara dingin di sekitarnya sedikit menghangat.
Pintu lift tiba-tiba terbuka paksa secara otomatis, namun pemandangan di baliknya bukanlah lobi atau koridor apartemen mewah mereka. Di depan mereka membentang sebuah lorong beton yang panjang, hampa, and tanpa ujung. Dinding-dindingnya tampak berlumut secara ghaib, meskipun mereka tahu ini adalah gedung modern yang terbuat dari kaca dan baja.
Arkan melangkah keluar terlebih dahulu, menarik Nayara dalam perlindungan lengannya. Begitu kaki mereka menginjak lantai beton tersebut, resonansi Shared Scar meledak. Visi Arkan mendadak menyempit, hanya menyisakan titik fokus kecil di tengah bayangan hitam yang menari-nari di pinggiran matanya. Kepanikan batin Nayara yang sedang melihat ilusi ruang kini terserap sepenuhnya ke dalam sistem saraf Arkan.
"Dimensi dinding ini... mereka melakukan kontraksi ruang, Arkan! Lorong ini mengalami penyempitan setiap kali kita melakukan mobilisasi!" suara Nayara mulai bergetar, meskipun ia berusaha mempertahankan martabat sunyi.
"Itu adalah fabrikasi visual, Nayara. Tekstur beton ini memiliki status palsu. Abaikan input visual Anda, percayalah pada sensor dingin yang melakukan penetrasi pada tulang Anda," jawab Arkan dengan rahang yang mengunci rapat.
"Namun saya mendeteksi terminasi pintu di depan sana! Kita terjebak dalam labirin dimensi ini!" Nayara berhenti melangkah, tubuhnya tegak namun jemari gemetar hebat saat meraba dinding yang terasa seperti batu es.
Arkan berhenti. Ia mencoba memfokuskan sisa tenaganya untuk mengaktifkan Void Energy, mencari celah dalam sihir ilusi ruang yang mengepung mereka. Namun, setiap kali ia mencoba menarik energi tersebut, rasa sakit di tulang rusuknya—akibat sanksi politik semalam—terasa seperti diputar.
"Bayu! Lakukan pelacakan koordinat posisi kami sekarang!" Arkan menekan alat komunikasi di telinganya.
Hanya ada suara statis. "Tuan... koridor... jangan... ghaib..." Suara Bayu menghilang, digantikan oleh bisikan halus yang seolah memanggil nama Nayara dari arah kegelapan lorong yang lain.
"Arkan, terdeteksi input audio... Ibu Fatimah? Saya memproses suara Ibu Fatimah dari koordinat tersebut," Nayara melepaskan genggaman tangannya dari lengan Arkan, terpesona oleh ilusi suara yang menyerang titik terlemahnya—kerinduan pada panti.
"Nayara, batalkan pergerakan! Itu adalah prosedur Soul Grafting! Target mereka adalah melakukan disosiasi kesadaran Anda!" Arkan berteriak, namun visinya yang menyempit membuatnya kehilangan orientasi arah sesaat.
Nayara melangkah masuk ke dalam kabut putih yang tiba-tiba muncul di tengah koridor. Dalam sekejap, jarak beberapa meter di antara mereka terasa seperti bermil-mil jauhnya. Arkan meraba udara kosong, tangannya hanya menghantam dinding beton yang kasar dan dingin.
"Nayara! Berikan respon audio!" Arkan menghantamkan tinjunya ke dinding. Bunyi tulang yang beradu dengan semen terdengar nyaring, namun ia tidak merasakan sakit secara fisik; ia hanya merasakan kepedihan batin Nayara yang kini terisolasi di dalam labirin pikirannya sendiri.
Di sisi lain kabut, Nayara menyandarkan punggungnya pada dinding. Ia merasa ruangan ini benar-benar sedang menghimpitnya. Suara napasnya sendiri terdengar seperti dentuman jam besar di lobi gedung, setiap detiknya terasa seperti cambuk yang menghantam martabatnya sebagai istri yang kini dianggap "cacat" oleh keluarga suaminya.
"Saya dilarang mengeluarkan respon vokal meratap. Saya adalah pasangan Arkananta," bisik Nayara pada dirinya sendiri. Kuku jarinya menusuk telapak tangan, menciptakan bekas luka kecil untuk menjaga kesadarannya agar tidak larut dalam ilusi.
Ia memejamkan mata, membiarkan Mata Kebenaran (Truth Eye) miliknya bekerja tanpa gangguan visual mata fisik. Dalam kegelapan batinnya, ia tidak melihat dinding beton, melainkan jaring-jaring energi hitam yang bersilangan di seluruh koridor. Jaring-jaring itu bersumber dari satu titik di atas atap menara—tempat di mana Kyai Hitam kemungkinan sedang merapal mantra.
"Arkan! Hentikan penggunaan energi fisik terhadap dinding! Objek ini tidak memiliki massa nyata! Gunakan frekuensi suara Anda sebagai instrumen jangkar!" teriak Nayara, sholawatnya kini terdengar lebih nyaring, bergema di sepanjang lorong yang sepi.
Arkan, yang sedang berjuang dengan visinya yang semakin buram, mendengar suara Nayara sebagai sebuah frekuensi cahaya. Ia berhenti menyerang dinding secara fisik. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya terisi dengan oksigen yang terasa pahit seperti arsenik.
"Saya berada di koordinat ini, Nayara! Lakukan pelacakan pada frekuensi suara saya! Abaikan seluruh bisikan manipulatif tersebut!" Arkan memfokuskan sisa kekuatannya bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menyerap tekanan (Void) di sekitarnya.
Suhu ruangan mulai naik perlahan saat Arkan menarik energi dingin labirin itu ke dalam tubuhnya sendiri. Keringat dingin bercampur darah kembali menetes di dahinya. Arkan membiarkan dirinya menjadi "lubang hitam" yang menelan ilusi ghaib di sekitarnya agar Nayara bisa melihat jalan keluar yang nyata.
"Saya mendeteksi posisi Anda, Arkan! Proyeksi bayangan Anda... berada di depan!" Nayara mulai berlari menembus kabut, butiran tasbihnya beradu dengan kancing bajunya, menciptakan bunyi ritmis yang menenangkan.
Namun, tepat sebelum tangan mereka bersentuhan, lantai di bawah kaki mereka seolah mencair. Labirin itu belum selesai menyiksa mereka; ia sedang mempersiapkan jebakan fisik terakhir di tengah kelemahan energi mereka.
Lantai beton yang tadinya terasa padat mendadak seolah berubah menjadi rawa cair yang menyedot keseimbangan mereka. Nayara terpekik pelan, namun ia segera mengatupkan bibir, menolak memberikan kepuasan pada musuh yang mengintai di balik sensor gedung. Ia merasakan kakinya terbenam dalam kedinginan yang tidak logis, sementara dinding-dinding ilusi di sisi kiri dan kanannya mulai menutup dengan kecepatan yang mengerikan.
"Arkan! Lakukan kontak fisik dengan tangan saya!" Nayara menjulurkan tangannya menembus kabut Void yang pekat.
Arkananta berjuang melawan visi yang menyempit. Matanya hanya menangkap kilasan putih dari kulit tangan Nayara di tengah dominasi warna abu-abu labirin. Dengan sisa tenaga dari integritas tulang besinya, ia memaksakan tubuhnya untuk menerjang maju. Arkan tidak peduli jika sanksi politik semalam telah membuat otot-ototnya trauma; baginya, martabat istri yang terancam adalah sanksi yang jauh lebih berat.
"Pertahankan instrumen tasbih Anda, Nayara! Gunakan objek tersebut sebagai titik tumpu utama!" geram Arkan sembari berhasil menyambar pergelangan tangan Nayara.
Begitu kulit mereka bersentuhan, sebuah ledakan resonansi Shared Scar menghantam keduanya. Arkan merasakan sensasi dingin es yang membeku di rahim Nayara—sisa trauma dari fitnah mandul yang dikirim lewat surat kaleng—sementara Nayara merasakan panas membara dari sumsum tulang Arkan yang sedang bekerja di ambang batas. Panas dan dingin itu menyatu, menciptakan gelombang kejut yang meretakkan dinding ilusi di sekitar mereka.
"Instrumen detak jam tersebut... telah mengalami terminasi, Arkan," bisik Nayara saat ia berhasil ditarik ke dalam dekapan Arkan.
Arkan melirik jam tangan peraknya. Jarum detiknya benar-benar membeku, seolah waktu di dalam labirin ini telah diputus dari garis waktu Astinapura. "Ini bukan sekadar malfungsi teknis. Kyai Hitam telah melakukan penguncian dimensi pada lantai ini. Target mereka adalah asfiksia tanpa meninggalkan residu kekerasan fisik."
"Lalu apa protokol untuk melakukan ekstraksi? Lift dalam status non-aktif, dan lorong ini terus melakukan rotasi," Nayara menyandarkan kepalanya di dada Arkan, mencoba mencari ketenangan di tengah napas manual suaminya yang berat.
"Kita akan melakukan mobilisasi mengikuti sirkulasi udara dengan tingkat kepahitan tertinggi," jawab Arkan dengan mata yang mendingin. "Spektrum udara paling pahit adalah titik masuk energi destruktif. Itu adalah akses pintu keluar."
Arkan membimbing Nayara berjalan menyusuri koridor yang kini tampak berdenyut seperti nadi monster ghaib. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung yang terjal. Bau anyir darah dan bau ozon dari kabel yang terbakar menyengat penciuman mereka. Di ujung lorong, sebuah pintu baja berat dengan simbol keamanan Empire Group tampak berdiri angkuh, namun di mata batin Nayara, pintu itu diselimuti oleh kabut hitam yang pekat.
"Terdapat entitas di balik pintu tersebut, Arkan. Saya mendeteksi frekuensi kebencian yang murni," ucap Nayara, sholawatnya kini melambat menjadi gumaman yang penuh kewaspadaan.
"Kemungkinan itu adalah protokol penyambutan dari Erlangga," Arkan melepaskan gulungan lengan kemejanya, memperlihatkan buku jari yang masih berdarah. Ia menghantamkan telapak tangannya ke panel pintu, bukan untuk menekan kode akses, melainkan untuk menyalurkan energi Void yang telah ia serap dari labirin tadi.
Panel elektronik itu meledak dengan percikan api biru. Pintu baja itu berderit terbuka, menyingkap sebuah ruangan kontrol yang gelap dan dingin. Di sana, seorang pria dengan seragam teknisi tampak duduk mematung, kepalanya tertunduk kaku—sebuah boneka Soul Grafting yang sudah dikosongkan jiwanya.
"Estimasi Bayu akurat, mereka mengeksploitasi sistem gedung untuk melakukan eliminasi secara bertahap," Arkan melangkah masuk, matanya mencari pusat kendali manual.
"Arkan, lakukan observasi pada monitor tersebut," Nayara menunjuk ke deretan monitor pengawas.
Di layar-layar tersebut, mereka melihat diri mereka sendiri yang sedang berdiri di koridor kosong beberapa menit lalu. Namun, di layar itu, mereka tampak sedang mencekik satu sama lain. Sebuah manipulasi visual yang kemungkinan besar sedang disiarkan langsung ke ruang kerja Nyonya Besar atau bahkan ke media sebagai bukti "kegilaan" pasangan tersebut.
"Target mereka adalah mengonstruksi narasi destruksi diri secara publik," desis Nayara, rasa mual menghantam ulu hatinya.
"Itulah standar martabat yang mereka proyeksikan untuk kita, Nayara. Kehancuran reputasi secara total," Arkan mendekati konsol utama, menghancurkan layar monitor itu dengan satu hantaman tangan kosong. "Namun mereka mengabaikan fakta bahwa kebenaran tidak membutuhkan media transmisi untuk mempertahankan eksistensinya."
Arkan menarik sebuah tuas manual yang tersembunyi di balik panel beton. Seketika, getaran hebat mengguncang seluruh lantai. Suara mesin lift yang kembali bekerja terdengar dari kejauhan, memecah kesunyian labirin. Udara dingin perlahan berganti dengan aliran udara hangat dari ventilasi utama.
"Lakukan prosedur keberangkatan sekarang," ucap Arkan singkat.
Mereka berjalan kembali menuju lift yang kini lampunya sudah menyala kembali. Saat pintu lift tertutup dan membawa mereka naik menuju apartemen pribadi, Nayara menatap pantulan dirinya di cermin lift. Wajahnya tampak pucat, rambutnya sedikit berantakan, dan tasbih di tangannya kini memiliki retakan yang melintang hampir di seluruh butirannya.
"Arkan, apakah siklus ini akan mencapai terminasi? Ataukah struktur menara ini memang dirancang sebagai penjara permanen bagi kita?" tanya Nayara pelan saat lift berdenting sampai di lantai tujuan.
Arkan tidak langsung keluar. Ia menatap Nayara, matanya yang tadi mendingin kini melembut sesaat, meski rahangnya masih mengunci ketat. "Menara ini berstatus penjara selama kita memberikan valuasi lebih tinggi pada marmernya daripada pada tanah Terra. Mulai periode besok, kita tidak lagi hanya dalam mode defensif, Nayara."
"Apa maksud dari pernyataan Anda?"
"Jika mereka memilih instrumen labirin, maka saya akan mendemonstrasikan siapa otoritas sebenarnya di pusat kegelapan," Arkan melangkah keluar lift, jas hitamnya yang tertinggal di panti semalam kini terasa seperti perisai yang sangat ia rindukan.
Di dalam apartemen yang luas dan sepi, Nayara berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota Astinapura. Hujan telah berhenti, menyisakan lampu-lampu kota yang tampak seperti permata dingin yang tidak memiliki nyawa. Ia merasakan air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia segera menahannya. Ini bukan saatnya untuk menangis. Labirin ini baru saja dimulai, dan ia tahu, babak selanjutnya akan menuntut pengorbanan yang lebih dari sekadar air mata sunyi.