Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: TANGISAN PERTAMA DI BANGSAL HARAPAN
Sembilan bulan berlalu seperti hembusan angin yang menyejukkan di Sentul. Perut Arumi kini sudah membulat sempurna, namun semangatnya sebagai perawat senior tidak pernah luntur. Meskipun Arlan sudah memasang sepuluh sensor gerak dan melarangnya naik tangga, Arumi tetap bersikeras untuk memantau langsung pembangunan bangsal neonatologi baru di Universitas Medis Salsabila (UMS).
"Arlan, aku hanya ingin memeriksa suhu inkubatornya, bukan memindahkan gedungnya," protes Arumi suatu pagi saat Arlan mencoba menghalangi jalannya menuju mobil.
Arlan, yang kini memiliki tas darurat berisi oksigen portabel, air mineral alkali, dan handuk steril di bagasi mobilnya, hanya menghela napas. "Baiklah, tapi Dante akan mengemudi dengan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam. Dan kau harus duduk di kursi khusus yang sudah aku pasang suspensi tambahan."
Arumi tertawa, mencubit pipi suaminya yang kian hari kian protektif. "Ayah Siaga ini benar-benar tidak bisa santai, ya?"
Detik-Detik Ketegangan Ringan
Siang itu, saat matahari menyinari kubah kaca auditorium UMS, Arumi sedang memberikan pengarahan singkat kepada para mahasiswa angkatan pertama tentang pentingnya sentuhan manusia dalam merawat bayi prematur. Tiba-tiba, ia terdiam. Sebuah kontraksi hebat namun ritmis merambat di pinggangnya.
"Ibu Arumi? Ibu tidak apa-apa?" tanya seorang mahasiswa dengan cemas.
Arumi tersenyum tenang, meskipun keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. "Sepertinya... adik kelas kalian ingin segera mendaftar masuk hari ini. Tolong hubungi Pak Arlan dan siapkan Bangsal VVIP di lantai dua."
Dalam hitungan detik, suasana kampus yang tenang berubah menjadi kesibukan yang teratur. Dante, yang sedang berjaga di lobi, langsung bergerak secepat kilat. Raka mengaktifkan protokol "Lampu Hijau" yang membersihkan seluruh jalur lift untuk Arumi.
Arlan tiba di kampus hanya dalam waktu sepuluh menit. Wajahnya pucat pasi, lebih pucat daripada saat ia menghadapi pengadilan Victoria. "Arumi! Aku di sini! Napas, Sayang, ingat teknik pernapasan yang kita pelajari!"
Arumi, yang sedang dipindahkan ke kursi roda, menatap suaminya dengan jenaka. "Arlan, aku yang perawat. Aku yang seharusnya mengingatkanmu untuk bernapas. Duduklah, kau terlihat seperti mau pingsan."
Leon: Tugas Sang Kakak Pelindung
Sementara itu, di ruang tunggu, Leon duduk dengan tegak di kursi kayu besar. Ia mengenakan kemeja kecil yang rapi, tangannya memeluk sebuah boneka beruang rajutan yang sudah ia siapkan sebagai kado untuk adiknya.
"Paman Raka, apa Adik bayi akan menangis keras?" tanya Leon pelan.
Raka berjongkok di depan Leon, merapikan rambut bocah itu. "Mungkin sedikit, Leon. Tapi itu tandanya dia sehat. Tugasmu nanti adalah membuat dia tersenyum. Kau kan jagonya membuat bangunan bagus."
Leon mengangguk mantap. "Leon sudah buatkan menara balok di kamar. Kalau Adik bayi bangun, Leon akan tunjukkan menaranya."
Dante berdiri tak jauh dari sana, menjaga pintu ruang persalinan. Baginya, momen ini adalah penebusan. Ia telah menghabiskan bertahun-tahun menjaga nyawa dari kematian, namun hari ini, ia menjaga gerbang kehidupan.
Pukul 15.45, suara tangisan yang nyaring dan merdu pecah dari balik pintu kayu jati ruang persalinan. Arlan, yang sepanjang proses terus menggenggam tangan Arumi (dan hampir meremukkan jari-jarinya sendiri karena tegang), akhirnya bisa bernapas lega.
Dokter senior yang menangani Arumi tersenyum lebar. "Selamat, Pak Arlan, Nyonya Arumi.
Seorang putri yang cantik. Sangat sehat dan sangat vokal."
Bayi mungil itu diletakkan di dada Arumi. Kulitnya kemerahan, jemari kecilnya bergerak-gerak mencari pegangan. Arlan mendekat, matanya berkaca-kaca saat melihat pemandangan paling indah dalam hidupnya.
"Halo, Nirmala," bisik Arlan parau. "Selamat datang di dunia yang sudah Bunda rapikan untukmu."
Arumi menyentuh pipi bayinya dengan ujung jari. "Dia suci, Arlan. Benar-benar Nirmala."
Beberapa jam setelah kelahiran, suasana haru berubah menjadi perdebatan kecil yang lucu saat keluarga dan tim inti berkumpul di ruang rawat.
"Aku akan memanggilnya Mala," ucap Raka dengan penuh percaya diri. "Kedengarannya seperti melodi."
"Tidak, Mala terlalu pendek," protes Dante yang jarang sekali ikut campur urusan nama. "Nir saja. Unik dan kuat."
Arlan melirik kedua sahabatnya itu dengan tatapan mengancam yang dibuat-buat. "Dia anakku. Panggilan rumahnya adalah Nirmala. Tidak boleh dipotong-potong."
Leon masuk ke ruangan dengan langkah berjinjit, membawa bonekanya. Ia mendekati boks bayi, menatap adiknya dengan rasa ingin tahu yang besar. Saat Nirmala kecil menggenggam jari kelingking Leon, bocah itu tertegun.
"Dia panggil Leon 'Kakak' ya, Ayah?" tanya Leon polos.
Semua orang di ruangan itu tertawa. "Belum bisa bicara, Leon. Tapi dia tahu kau adalah pelindungnya," jawab Arumi lembut.
Malam harinya, setelah para tamu pulang, Arlan membantu Arumi bersandar di ranjang rumah sakit yang kini sudah dipindahkan ke paviliun pribadi di area kampus. Nirmala tidur dengan tenang di dalam boks di samping mereka.
"Kau tahu, Arumi," ucap Arlan sambil menatap bayangan pohon beringin dari jendela. "Dulu aku pikir kesuksesan adalah saat aku bisa membeli satu pulau. Tapi hari ini aku sadar, kesuksesan adalah saat aku bisa mendengar napas kalian berdua dengan tenang."
Arumi tersenyum, menggenggam tangan suaminya. "Ini baru awal, Arlan. Kita punya dua anak, 500 mahasiswa, dan ribuan pasien yang menunggu. Hidup kita akan sangat sibuk."
"Aku tidak keberatan sibuk selama itu bersamamu," balas Arlan.
Konflik-konflik besar dunia mungkin masih ada di luar sana, namun di dalam lingkaran keluarga Arkananta, hanya ada kedamaian. Aditya sudah menjadi sejarah, Victoria sudah menjadi debu, dan yang tersisa hanyalah masa depan yang dibangun di atas fondasi kejujuran.
Leon tertidur di sofa kecil di sudut ruangan, masih memeluk boneka beruangnya. Arlan menyelimuti putranya, lalu kembali duduk di samping Arumi.
"Selamat istirahat, Bunda Salsabila," bisik Arlan.
"Selamat malam, Ayah Arkananta."
Di luar, bintang-bintang Sentul bersinar lebih terang dari biasanya, seolah memberikan restu bagi sang "Malaikat Kecil" yang baru saja mendarat ke bumi. Salsabila bukan lagi sekadar nama kontrak atau yayasan; ia telah menjadi sebuah warisan abadi yang tak akan pernah lekang oleh waktu.