Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Siang itu, matahari desa menggantung tinggi, menyebarkan hawa hangat yang memicu rasa kantuk. Di dalam rumah kayu yang tenang, Ashley kembali menyerah pada rasa lelahnya. Sejak kehamilan ini terkonfirmasi, tidurnya menjadi jauh lebih panjang dan nyenyak, seolah tubuhnya sedang mengumpulkan tenaga untuk kehidupan baru di dalam rahimnya.
Melihat istrinya terlelap dengan tenang, Kevin memutuskan untuk keluar sejenak, menghirup udara segar yang sudah setahun ini ia rindukan.
Kevin melangkah menyusuri jalanan setapak yang membelah perkebunan wortel. Namun, ada yang berbeda. Setiap langkah yang ia ambil kini menjadi pusat perhatian. Para warga desa yang dulu mengenalnya sebagai bocah berandalan yang rajin membantu di ladang, kini menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman bercampur segan.
Penampilan Kevin saat ini memang telah bertransformasi total. Ia mengenakan celana kain berkualitas tinggi dan sepatu kulit mahal yang tampak terlalu mengilap untuk jalanan desa yang berdebu. Setiap kali sepatunya menginjak tanah, para warga seolah merasa sayang; mereka merasa sepatu itu tidak layak terkena setitik pun noda tanah desa. Gaya Kevin saat ini benar-benar berbanding terbalik dengan Kevin yang dulu sering bertelanjang kaki atau hanya mengenakan sandal jepit usang saat memanggul karung hasil panen.
"Kevin? Itu kau, Nak?" sapa seorang kakek tua yang sedang beristirahat di bawah pohon beringin.
"Iya, Kek. Ini saya," jawab Kevin dengan senyum ramah yang tetap sama, meski aura di sekelilingnya kini terasa jauh lebih berkelas.
Ia terus berjalan, menyapa beberapa teman lama dan tetangga yang tampak pangling melihat perubahannya. Hingga akhirnya, langkah Kevin terhenti saat melewati jembatan kecil menuju area pasar desa. Di sana, seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda dan pakaian sederhana sedang membawa bakul belanjaan.
Gadis itu adalah Maria, teman masa kecil yang dulu sangat gencar mengejar Kevin.
Maria yang melihat sosok tinggi tegap itu langsung terpaku. Senyumnya mengembang sangat cerah, matanya berbinar seolah baru saja menemukan harta karun di tengah jalan desa. "Kevin! Benar ini kau?"
Maria langsung menghampiri dan mulai "memepet" Kevin dengan cara-cara yang khas—sedikit genit namun tidak seagresif Gwen di kampus. Ia berjalan sangat dekat di samping Kevin, sesekali menyentuh lengan Kevin dengan dalih memastikan apakah ini nyata atau sekadar mimpi.
"Kau berubah sekali, Kev. Lihat pakaianmu... kau terlihat seperti aktor dari kota besar," puji Maria sambil menatap Kevin dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Apa yang kau lakukan di kota selama ini? Kenapa tidak pernah memberi kabar?"
Kevin terkekeh canggung, ia menjaga jarak dengan sopan tanpa ingin menyakiti perasaan teman lamanya itu. "Hanya sibuk kuliah, Maria. Banyak tugas yang harus diselesaikan."
"Kuliah ya? Pantas saja kau terlihat semakin pintar dan... tampan," Maria menggoda sambil menyenggol bahu Kevin pelan. "Kau tahu, sejak kau pergi, desa ini terasa sepi. Tidak ada lagi yang berani memanjat pohon mangga Pak RT atau balapan lari di pematang sawah."
Mereka membicarakan banyak hal tentang masa lalu, tertawa mengenang kenakalan-kenakalan masa remaja. Kevin merasa nyaman bernostalgia, namun ia tetap berhati-hati. Ia sama sekali tidak menyebutkan soal pernikahannya dengan Ashley Giovano atau statusnya sebagai suami dari salah satu wanita paling berpengaruh di negara ini. Baginya, merahasiakan ini adalah cara terbaik untuk menjaga privasi keluarganya di desa.
"Ngomong-ngomong, Kev, sepertinya kita akan sering bertemu di kota nanti," ucap Maria tiba-tiba dengan nada bangga.
Kevin menaikkan alisnya. "Oh ya? Kau mau pindah ke kota?"
Maria mengangguk antusias. "Iya! Aku baru saja diterima bekerja di sebuah kediaman besar di pusat kota. Katanya itu milik salah satu konglomerat kaya yang sangat terkenal. Gajinya besar sekali, Kev. Cukup untuk membantu biaya pengobatan ibuku di sini."
"Itu bagus, Maria. Selamat ya," jawab Kevin tulus. "Konglomerat mana? Mungkin aku tahu."
Maria menggeleng pelan, ia tampak mencoba mengingat-ingat. "Aku lupa nama persisnya, agen penyalurnya bilang mereka sangat tertutup dan disiplin. Yang aku tahu, mereka memiliki lambang perusahaan berbentuk huruf 'G' yang sangat besar di depan gerbang kantor pusatnya. Pokoknya sangat hebat!"
Jantung Kevin berdesir pelan mendengar kata "huruf G". Ia memiliki firasat yang kuat, namun ia segera menepisnya. Tidak mungkin dunia sesempit itu, pikirnya.
"Yah, semoga kau betah di sana. Kota bisa jadi tempat yang keras," pesan Kevin.
"Tenang saja, aku kan kuat!" Maria memamerkan otot lengannya yang kecil, membuat Kevin tertawa. "Tapi janji ya, kalau nanti kita bertemu di kota, kau harus mentraktirku makan malam yang mewah. Kau kan sudah jadi 'orang kaya' sekarang."
Kevin hanya membalas dengan senyuman samar. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa hidupnya di kota tidak semudah yang dibayangkan Maria—bahwa ia bukan sekadar "orang kaya", melainkan sedang terjepit di antara tanggung jawab sebagai mahasiswa dan suami dari seorang "Singa Betina".
Setelah berpamitan dengan Maria, Kevin berjalan kembali menuju rumahnya. Pikirannya terbagi antara nostalgia masa lalu dan kemungkinan Maria akan bekerja di lingkungan yang berhubungan dengan Giotech. Namun, lamunannya buyar saat ia melihat mobil sedannya di depan rumah sudah menyala, dan Ashley berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tampak jauh lebih segar namun tetap menuntut penjelasan.
"Dari mana saja kau?" tanya Ashley saat Kevin mendekat.
"Hanya berjalan-jalan sejenak, Ash. Menghirup udara desa sebelum kita pulang," jawab Kevin tenang sambil merangkul pinggang istrinya.
Ashley menyandarkan kepalanya di bahu Kevin. "Ayo pulang. Aku merindukan tempat tidurku... dan aku ingin makan buah yang dingin."
Kevin mengangguk. "Ayo kita pulang."
Tanpa Kevin sadari, pertemuan dengan Maria siang itu adalah benih kecil dari sebuah drama baru yang akan tumbuh saat mereka kembali ke gemerlapnya kota nanti.