NovelToon NovelToon
Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nelramstrong

Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.

Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.

Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.

"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran

"Dini, Ayah udah ganteng belum?"

"Ayah Dini ganteng banget," puji Andini sambil tersenyum lebar. Ia memperhatikan ayahnya yang bercermin sambil duduk menopang dagu.

"Ayah masih keliatan muda nggak menurut kamu, Din? Bidan Rini kan masih muda banget. Sementara ayah udah kepala tiga," tanya Arga, meminta pendapat putrinya.

Andini menegakkan tubuhnya. "Kepala ayah cuma satu kok. Tiga dari mana?" tanya gadis itu polos.

Arga tertawa kecil. Ia berbalik dan berlutut di hadapan putri kecilnya. "Maksud Ayah, Ayah udah tua, sementara Bidan Rini masih muda. Ayah merasa nggak pantes," bisik Arga.

"Takutnya Bidan Rini malu punya suami udah tua kayak Ayah," lanjutnya merasa insecure.

Andini menggeleng cepat. Ia berdiri lalu menyentuh pipi ayahnya. "Ayah Andini masih muda dan tampan. Andini pokoknya bangga banget punya ayah kayak Ayah Arga," puji gadis itu, kemudian memeluk leher sang ayah.

Arga mengecup pipi putrinya dan mengangkat tubuh itu. "Kalo gitu, kita berangkat sekarang temui Bu bidan. Takutnya kemalaman."

Andini bertepuk tangan ceria. "Yeee! Andini mau punya ibu baru!" serunya.

Arga pergi menemui orangtua Rini tidak sendiri. Selain bersama Andini, dia juga mengajak Ruslan, sahabat sekaligus rekan kerjanya. Pria itu ditinggal ibunya saat masih SD, dan ayahnya menyusul setelah beberapa bulan pernikahannya dengan Nadira.

"Andini seneng banget," celetuk Ruslan, ia ikut senang melihat Andini dan Arga bahagia.

"Iya dong, Om. Kan Andini mau punya ibu baru, Bu bidan Rini," jawab Andini dengan bangga.

Mereka pergi ke rumah orangtua Rini menaiki sepeda motor milik Ruslan.

"Sebenarnya aku gugup, Mas. Takut orangtua Rini menolak," ungkap Arga.

Malam itu, angin berhembus kencang, namun Arga justru berkeringat.

"Takut wajar, Mas. Tapi jangan sampai mundur!" sahut Ruslan berteriak, ia tengah mengendarai motor.

"Semoga aja lancar, ya. Kalo gagal, Andini pasti ngamuk," ucap Arga penuh harapan.

"Kalo lamaran ini lancar, berarti memang aku harus menikah dengan Rini," batin Arga, berusaha mengumpulkan keberaniannya.

Motor yang dikendarai Ruslan akhirnya tiba di depan sebuah rumah sederhana milik keluarga Rini. Pintu rumah itu terlihat terbuka, seolah sengaja ingin menyambut kedatangan tamu istimewa.

"Ayo, Mas, turun!" titah Ruslan.

Arga tidak langsung turun. Ia duduk di motor sambil memandang ke arah pintu dengan jantung yang berdebar keras.

"Saya takut, Mas," kata Arga lagi.

"Kamu ini... kayak bukan laki-laki saja. Tunjukkan dong, kalo kamu ini pria sejati!" ucap Ruslan memberi dukungan.

"Ayah, ayo turun! Andini udah nggak sabar ketemu Bu bidan!" seru Andini yang duduk di tengah. Tubuh mungilnya terjepit antara dua tubuh pria dewasa.

Andini, karena tak kunjung mendapatkan respon dari ayahnya langsung berteriak, "Bu bidan!"

Mata Arga melotot. Ia langsung melompat turun dari motor membuat Ruslan terkekeh.

"Bagus, Din. Ayah kamu ini memang pengecut!" ujar Ruslan sambil mengacungkan ibu jari.

Andini turun dengan sedikit kesusahan lalu berlari masuk ke dalam rumah. "Bu bidan..."

Sepi. Tak ada siapapun di ruangan itu. Hanya ada beberapa toples makanan.

"Ayah, Bu bidannya nggak ada!" panggil Andini sembari melambaikan tangan.

"Andini!"

Andini memutar kepala. Senyumannya mengembang melihat sosok Rini muncul. "Eh, ternyata ada. Andini kira Bu bidan belum datang ke sini," kekeh gadis itu sambil menutup mulut yang tersenyum dengan telapak tangan.

"Bu bidan lagi masak di dapur. Ayo, masuk. Ayah kamu mana?" Rini mendekat dan melihat keluar.

Ia mengigit bibir bawah untuk menahan senyuman. Penampilan Arga malam ini terlihat sangat rapi dan tampan dengan memakai koko putih dan celana jeans berwarna hitam.

"Masuk Mas, Mas Ruslan," kata Rini mempersilahkan.

Ia segera membimbing Andini masuk, menyembunyikan wajahnya yang terlihat gugup.

"Tunggu dulu ya, Mas. Aku panggilkan Ayah dulu," pamit Rini tanpa memperlihatkan wajahnya yang bersemu merah pada Arga dan Ruslan.

Perempuan itu melangkah dengan cepat meninggalkan ruang tamu menuju kamar orangtuanya.

"Mas, kalo aku ditolak, aku nggak bakal berani nunjukin wajah lagi pada bidan Rini," bisik Arga di telinga Ruslan.

"Kamu ini terlalu negatif thinking, Mas. Aku aja yakin kamu pasti diterima, masa kamu nggak yakin," kata Ruslan lalu meriah toples kue di dekatnya.

"Dini, mau nggak?" tawar Ruslan menyodorkan toples yang sudah terbuka.

Andini menggeleng cepat. "Nggak mau. Nanti mulut dini kotor, baju Dini juga nant kotor. Andini kan mau ambil foto sama ibu baru," jawab Andini dengan ekspresi polos.

Ruslan tertawa kecil. "Andini aja percaya diri, tapi Ayahnya cupu gitu," ejek Ruslan bergurau.

Arga baru akan menimpali saat mendengar suara yang mendekat. Ia mengalihkan perhatian pada ambang pintu, dan melihat seorang pria yang duduk di kursi roda. Itu ayah angkat Rini.

Ruslan mencolek-colek lengan Arga, memberi kode. Namun, Arga yang tak paham malah menatap rekannya itu dengan tatapan bertanya.

"Ngobrol dulu sama Ayah ya, Mas. Aku mau bantu ibu masak di dapur," ujar Rini, ia tidak bisa membiarkan Arga melihatnya gugup.

"Bu bidan, Dini ikut!" seru Dini sambil berlari mendekat.

Keduanya langsung pergi ke dapur, membiarkan para pria dewasa berbincang dengan serius.

"Rini, kopinya mana?!" panggil pria yang duduk di kursi roda, bernama Bagas.

"Iya, Ayah. Sebentar!"

Arga meremas sarung yang dikenakan Ruslan. Suasana ruangan itu hangat, namun terasa begitu canggung bagi Arga. Ia tidak tahu harus memulai dari mana.

Padahal, dia pandai bergaul, tapi tiba-tiba merasa cupu jika harus berhadapan dengan wanita apalagi calon mertua.

"Saya dengar kamu kerja di proyek bendungan air, Arga?" tanya Bagas, membuka suara.

Arga mengangguk kaku. "I-iya, Mas. Alhamdulillah, Pak kades mempercayai saya sebagai pengawas," kata Arga gugup. Ia sampai menarik-narik sarung Ruslan.

"Hidup itu terus berputar. Begitu juga nasib kita. Saat di bawah, jangan sedih berlarut. Saat di atas, jangan sampai lupa diri," petuah Bagas.

"Saya dulu punya banyak uang, tapi kalo udah waktunya jatuh, sekarang saya hidup sederhana bahkan duduk di kursi roda," lanjutnya.

Arga tidak menanggapi, hanya menunduk. Pesan itu sangat berarti baginya supaya tidak terlena.

"Tapi saya beruntung, di sisa hidup saya, saya punya istri dan anak yang sayang sama saya. Itu pentingnya memiliki keluarga yang menyayangi kita."

"Setelah berumah tangga, keluarga itu yang utama. Kamu juga pasti sudah paham karena pernah menikah," tutur Bagas panjang lebar.

Arga mengangguk pelan. Sekilas bayangan Andini yang menangis sambil memeluk kakinya dulu saat ditinggal pergi Nadira terlintas di benaknya. Saat itu, dia berjanji akan berjuang keras membahagiakan putrinya.

Bagas terdiam, tak mengatakan apapun lagi. Apa yang ingin dia katakan sudah keluar, dia tinggal menunggu apa yang ingin Arga sampaikan.

Ruslan menendang kecil kaki Arga, memberi kode untuk bicara. "Ngomong sekarang, Mas," bisiknya.

Arga mengangguk. Jantungnya berpacu dengan denting jam di dinding yang terdengar lebih kencang. Tangan yang berkeringat dingin saling mengepal di atas pangkuan.

“Saya pernah gagal sebagai suami, Mas. Tapi saya tidak ingin gagal lagi."

Arga menghela napas pelan, sebelum melanjutkan, "Rini mungkin sudah cerita alasan kedatangan saya kemari. Kedatangan saya kemari sebenarnya ingin melamar putri Mas Bagas, Rini."

"Jika Mas Bagas mengizinkan, saya ingin menjadikan Rini istri sekaligus ibu untuk putri saya, Andini." Ia berbicara dengan penuh kehati-hatian.

Napas Arga tertahan, menunggu jawaban.

Bagas nampak menghela napas berat sambil menatap Arga lekat.

Sementara di balik pintu, Rini menguping dengan air mata yang hampir tumpah. Tubuhnya sedikit tegang sambil menggenggam erat tangan Andini yang justru tersenyum lebar, tak sabaran.

Bersambung...

1
Wanita Aries
cuit cuit bu bidan di lamar 🤭
Wanita Aries
ya kerja lah nadira jgn berpangku tangan
Nelramstrong: keenakan dikasih 😆
total 1 replies
Wanita Aries
deritamu nadira mau aja di bodohi
Nelramstrong: 🫢🫢🫢 jangan diketawain, kak. kasihan
total 1 replies
Wanita Aries
haduhh nadira nasibmu makin ngenes
Nelramstrong: nasibbbbb, kak 🤭🤭
total 1 replies
Wanita Aries
nah nah makin seru
Wanita Aries
arga makin sukses, nadhira makin nelangsa
Nelramstrong: itu karma baik dan buruk buat mereka, kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
suka thor gk bosen bacanya
Nelramstrong: aaaa... Makasih, kak
total 1 replies
Wanita Aries
kyknya nadira korban selanjutnya
Wanita Aries
nah lhoo siap2 aj nadira menyesal nntinya
Nelramstrong: harus sih 😄
total 1 replies
Wanita Aries
bagus thorr
Nelramstrong: terima kasih 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
mampir thor
Nelramstrong: hai, kak. terimakasih sudah mampir, ya 🙏
total 1 replies
Arema Nia
semoga sukses untuk penulisnya
Arema Nia
ceritanya bagus dan lancar
Ani
nahkan pasti Mamanya Bima juga dijadikan pembokat sampe stroke.
Ani
bau baunya Si Nandira mau dijadikan pembokat sekalian pengasuh mamanya Bima nih...
Nelramstrong: lanjut baca yuk, kak. terima kasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
Arema Nia
bagus danenarik
Nelramstrong: Terima kasih ulasannya, Kak. Ditunggu bab selanjutnya, ya 😁
total 1 replies
Arema Nia
pertama baca bagus ceritanya ...sukses selalu
Nelramstrong: Terima kasih, kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!