desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13: Geliat Ular
Seminggu telah berlalu sejak pertemuan penentu itu. Seminggu sejak Lita diusir dari apartemen The Rosewood. Seminggu sejak Aira dan Raka akhirnya saling memahami tanpa kata-kata.
Jakarta tetap sibuk. Macet di mana-mana. Hujan turun setiap sore. Tapi di apartemen itu, ada kedamaian yang baru.
Aira datang hampir setiap sore. Kadang hanya sebentar, main dengan Arka. Kadang lebih lama, makan malam bersama. Raka selalu mengantar sampai lift, dan selalu berkata, "Hati-hati di jalan, Nona."
Tapi panggilan "Nona" itu mulai terasa berbeda. Tidak lagi formal. Lebih hangat. Seperti panggilan sayang yang diucapkan malu-malu.
Arka semakin ceria. Ia sering menggambar. Kini gambar-gambarnya selalu bertiga: Aira, Bapak, dan Arka. Kadang ada Bi Inah juga. Tapi tak pernah ada Lita.
Suatu sore, Aira datang dengan bawaan besar. Sebuah kardus berisi mainan dinosaurus koleksi lengkap.
"Wah! Aira, apa itu?" Arka berlari kegirangan.
"Ini hadiah buat Arka. Karena Arka anak baik."
Arka membuka kardus. Matanya berbinar. Satu per satu dinosaurus dikeluarkan. T-rex, triceratops, brontosaurus, velociraptor. Lengkap.
"Aira hebat! Aira hebat!"
Arka memeluk Aira erat. Aira tertawa. Raka yang baru pulang kerja, melihat adegan itu dari pintu. Ia tersenyum.
"Hari ini beli mainan?" tanyanya sambil melepas jas.
"Iya, Pak. Arka kan lagi suka dinosaurus."
Raka mendekat. Melihat koleksi itu. "Wah, ini mahal, Nona. Saya ganti saja uangnya."
Aira menggeleng. "Jangan, Pak. Ini hadiah. Bukan jualan."
Raka tersenyum. "Baik, kalau begitu. Terima kasih, Nona."
Arka sudah sibuk mengatur dinosaurus-dinosaurusnya di karpet. Ia membuat barisan. Yang besar di belakang, yang kecil di depan.
"Aira, lihat! Ini pasukan dinosaurus!"
Aira ikut duduk di karpet. "Wah, keren. Ini pasukan apa namanya?"
"Pasukan... Pasukan Pelindung!"
Raka ikut duduk. "Pasukan Pelindung? Keren juga."
Arka menatap mereka bergantian. "Aira, Bapak, kalian jadi anggota pasukan Pelindung ya?"
Aira dan Raka saling pandang. Tersenyum.
"Boleh," kata Raka.
Arka senang. Ia memberi mereka masing-masing satu dinosaurus. Aira dapat dinosaurus kecil warna pink. Raka dapat yang besar warna hijau.
"Ini tugas kalian: lindungi Arka dari monster jahat!"
"Monster jahat apa?" tanya Raka.
Arka berpikir. Lalu berkata polos, "Monster yang bikin Bapak sedih. Monster yang bikin Aira pergi."
Udara di ruangan itu berubah. Aira dan Raka diam. Arka mungkin tak sadar, tapi kata-katanya menusuk.
Aira meraih tangan Arka. "Ark, Aira janji enggak akan pergi. Aira akan lindungi Arka dari monster apa pun."
Raka mengusap rambut Arka. "Bapak juga, Nak. Bapak akan selalu lindungi Arka."
Arka tersenyum. Lalu kembali asyik dengan dinosaurusnya.
Aira menatap Raka. Raka menatapnya balik. Ada kehangatan yang tak terucap.
---
Malam harinya, Aira pamit pulang. Raka mengantar seperti biasa.
Di depan lift, mereka berdiri bersebelahan. Pintu lift terbuka. Tapi Aira tak segera masuk.
"Pak Raka," panggilnya pelan.
"Iya, Nona?"
Aira menunduk. Tangannya memainkan ujung jilbab.
"Saya... saya mau tanya sesuatu."
Raka menatapnya. "Tanya saja."
Aira mengangkat kepala. "Apa Bapak... apa Bapak bahagia? Dengan saya ada di sini?"
Raka terkejut. Pertanyaan itu tak terduga.
"Nona, kenapa tanya begitu?"
Aira tersenyum getir. "Saya hanya... saya takut. Takut kalau suatu hari nanti Bapak bosan. Atau Bapak menyesal. Saya cuma orang biasa. Saya bukan siapa-siapa."
Raka diam sejenak. Lalu ia melangkah maju. Berdiri sangat dekat dengan Aira.
"Nona Aira, lihat saya."
Aira mengangkat kepala. Menatap Raka.
"Saya sudah kehilangan banyak dalam hidup. Kehilangan Lita, meskipun dia bukan istri baik. Kehilangan kepercayaan pada orang. Kehilangan kebahagiaan. Tapi sejak Nona datang, saya dapat lagi. Dapat senyum Arka. Dapat tawa di rumah ini. Dapat... ketenangan."
Raka berhenti. Menarik nafas.
"Nona, saya bukan pria sempurna. Saya punya masa lalu kotor. Saya punya luka yang mungkin tak sembuh-sembuh. Tapi jika Nona mau, saya ingin Nona tetap di sini. Bukan cuma untuk Arka. Tapi untuk saya juga."
Aira tertegun. Jantungnya berdetak kencang.
"Pak Raka, maksud Bapak..."
Raka tersenyum. "Maksud saya, saya... saya suka Nona. Bukan sebagai teman Arka. Bukan sebagai desainer. Tapi sebagai... sebagai wanita. Wanita yang saya kagumi."
Aira diam. Air mata menggenang di pelupuknya.
"Pak, saya..."
"Katakan tidak apa-apa. Saya mengerti. Mungkin ini terlalu cepat. Mungkin Nona belum siap. Tapi saya hanya ingin jujur. Saya tak mau menyimpan perasaan ini sendiri-sendiri."
Aira menggeleng. "Bukan, Pak. Bukan tidak siap. Saya... saya juga suka Bapak. Tapi saya takut."
Raka mengernyit. "Takut apa?"
Aira menunduk. "Takut saya tak pantas. Takut orang akan bilang saya cuma pemburu harta. Takut nanti Bapak sadar saya cuma wanita biasa, lalu pergi."
Raka mengangkat dagu Aira pelan. Menatap matanya.
"Dengar, Aira. Saya tak peduli apa kata orang. Saya tak peduli Nona dari mana. Yang saya tahu, Nona wanita terbaik yang pernah saya temui. Nona tulus. Nona baik. Nona sayang Arka. Itu lebih dari cukup."
Aira menangis. Tapi tangis bahagia.
"Pak..."
"Panggil Raka saja. Tak usah Pak-Pak."
Aira tersenyum. "Raka."
Raka tersenyum lebar. "Ya?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk percaya sama saya."
Raka menggeleng. "Bukan saya yang percaya. Tapi Nona yang layak dipercaya."
Mereka saling menatap. Lift sudah terbuka sejak tadi, tapi tak ada yang masuk.
Arka tiba-tiba muncul dari pintu apartemen. "Bapak! Aira! Liftnya jalan!"
Mereka terkejut. Lalu tertawa.
Aira cepat masuk lift. "Sampai jumpa, Ark! Sampai jumpa, Ra... Raka."
Raka melambai. "Sampai jumpa, Aira."
Pintu lift tertutup. Arka memegang tangan Raka.
"Bapak, Aira jadi Mama Aira sekarang?"
Raka mengacak rambut Arka. "Doakan saja, Nak."
Arka tersenyum. "Arka doa tiap malam, biar Aira jadi Mama Aira."
Raka memeluk Arka. Hatinya hangat.
---
Di hotel berbintang, Lita duduk di kamarnya. Di hadapannya, laptop terbuka menampilkan dokumen-dokumen perusahaan Raka. Laporan keuangan. Kontrak rahasia. Data klien.
Ponselnya berdering. Panggilan dari "Sayang".
"Halo."
"Gimana?"
"Masih dipelajari. Ini dokumen berharga. Bisa hancurin perusahaannya."
"Bagus. Tapi jangan buru-buru. Kita tunggu momen tepat."
"Momen kapan?"
"Saat mereka paling bahagia. Saat mereka pikir semua baik-baik saja."
Lita tersenyum. "Kau memang jahat."
"Bukan jahat. Cerdas."
Lita tertawa. "Oke, Sayang. Aku tunggu."
Telepon ditutup. Lita memandangi foto Raka dan Arka yang masih tersimpan di ponselnya.
"Maaf, Rak. Kau pilih dia. Sekarang kau harus terima konsekuensinya."
Ia hapus foto itu. Lalu kembali membaca dokumen.
Ular itu sedang menyiapkan serangan. Dan kali ini, targetnya bukan Aira. Tapi Raka. Perusahaannya. Hidupnya.
---
Di Tanah Abang, Aira duduk di kamar kost. Ia memandangi foto di ponselnya. Foto mereka bertiga: Aira, Raka, Arka. Foto yang diambil Bi Inah waktu pesta ulang tahun.
Ia tersenyum. Lalu mengetik status di WhatsApp:
"Kadang, kebahagiaan datang dari tempat yang tak pernah kita duga. Terima kasih sudah hadir."
Tak lama, balasan masuk dari Raka.
"Kebahagiaan juga datang dari hati yang tulus. Terima kasih sudah mau hadir di hidup kami."
Aira tersenyum. Membaca pesan itu berulang kali.
Di luar, Jakarta malam itu ramai. Lampu-lampu kota berkelap-kelip. Tapi di kamar kecil itu, Aira merasa memiliki dunia.
Ia tak tahu, di balik keramaian Jakarta, ada ular yang merayap pelan. Mendekat. Siap menerkam.
Tapi malam itu, ia bahagia. Dan kebahagiaan itu, meskipun mungkin sementara, adalah miliknya sepenuhnya.
---