NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: tamat
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:389.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencuri?

Setelah semua baju, buku-buku kuliahnya, serta dokumen pribadinya dimasukkan ke dalam koper, Naomi menutup ritsleting pelan. Ia berdiri sejenak, menatap koper itu, lalu kembali membuka lemari kecil di sudut kamar.

Keningnya mengerut. “Tidak ada?”

Naomi berlutut dan membuka bagian paling bawah lemari. Tangannya meraba-raba, matanya menyisir setiap sudut. Namun benda yang ia cari tak kunjung ditemukan.

Padahal ia sangat yakin.

Kalung kecil itu bersama sepasang gelang dan cincin sederhana masih ada di sana. Ia menyimpannya rapi, tersembunyi, karena itu satu-satunya hadiah dari nenek dan kakek Elios saat pertama kali ia menginjak kaki di keluarga ini.

“Ke mana perginya?” gumam Naomi lirih.

Ia berdiri dan kembali mengobrak-abrik lemari, lalu berpindah ke bawah tempat tidur. Nafasnya sedikit memburu.

Tiba-tiba terdengar tawa kecil.

“Hihihi!”

Naomi berhenti bergerak.

Di ambang pintu kamar, tiga pelayan berseragam putih-hitam berdiri bersandar santai. Tatapan mereka sinis, penuh ejekan, seolah sedang menonton sesuatu yang menghibur.

“Sibuk sekali ya?” salah satu dari mereka berkata sambil menyilangkan tangan.

“Cari barang rongsokan, ya?”

Naomi perlahan berdiri dan berbalik.

Pandangan matanya langsung tertumbuk pada sebuah kalung kecil yang melingkar di leher pelayan pertama. Dadanya mengeras.

Matanya lalu bergeser. Di pergelangan tangan pelayan kedua, ada gelang dengan desain yang sama.

Dan di jari pelayan ketiga, tersemat cincin kecil yang sangat ia kenal.

Wajah Naomi langsung berubah dingin.

“Oh.” suaranya datar, tapi tajam. “Jadi kalian yang mencuri perhiasanku.”

Ketiga pelayan itu saling pandang, lalu tertawa kecil, sama sekali tidak merasa bersalah.

“Mencuri?” pelayan pertama mendengus. “Jangan asal nuduh, Nona.”

“Iya,” sahut pelayan kedua santai. “Ini milik kami.”

Pelayan ketiga melangkah maju sedikit, menatap Naomi dengan senyum meremehkan. “Kata Nona Viviane, semua barang di kamar ini bebas diambil. Lagipula, barang-barangmu itu … siapa juga yang mau?”

Ia tertawa kecil. “Masih mending tidak kami buang.”

Udara di kamar itu terasa semakin dingin.

Naomi mengepalkan tangannya. “Kembalikan,” ucapnya pelan. “Sekarang.”

Ketiga pelayan itu tertawa lebih keras. “Dengar itu?” pelayan pertama berkata sambil menepuk bahu temannya. “Dia menyuruh kita.”

Pelayan kedua mengangkat dagu. “Kamu ini siapa sih? Jangan berlagak seperti nona besar di rumah ini. Kau ini hanya anak angkat tak tahu malu.”

“Iya,” sambung pelayan ketiga. “Kamu itu nggak diinginkan di keluarga Elios. Harusnya sadar diri.”

Naomi tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, melainkan senyum dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Jadi begini ya,” katanya perlahan. “Kalian bukan cuma pencuri … tapi juga pengemis tak tahu malu.”

Tawa mereka langsung terhenti.

“Apa?” mata pelayan pertama membelalak. “Kau bilang apa tadi?!”

Naomi menatapnya tanpa gentar. “Aku ulangi. Kalian pencuri. Dan pengemis yang hidup dari belas kasihan orang lain.”

Wajah ketiganya langsung memerah karena marah.

Pelayan pertama mengangkat tangan. “Berani sekali mulutmu!”

Tamparan itu hampir mendarat, namun Naomi dengan cepat menangkap pergelangan tangan pelayan itu.

“Apa?!”

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi pelayan pertama. Tubuhnya terhuyung lalu jatuh ke lantai.

Brugh!

“Kau—” pelayan itu menjerit.

Pelayan kedua dan ketiga terkejut, tapi amarah lebih dulu menguasai mereka.

“Berani-beraninya!”

“Beri dia pelajaran!”

Keduanya menyerang bersamaan.

Namun Naomi bergerak lebih cepat. Ia menahan tangan mereka, lalu melayangkan tendangan bertubi-tubi.

Duaagh!

Duaagh!

Dua tubuh itu terpental ke arah dinding.

“Ah!”

“Sial!”

Mereka mencoba bangkit, napas terengah, mata penuh kebencian.

“Serang dia!”

Mereka kembali maju, tapi kali ini Naomi tak memberi kesempatan.

Ia menarik rambut pelayan pertama dan membenturkan kepalanya ke dinding.

Bugh!

Brak!

Pelayan itu menjerit kesakitan dan langsung terkulai.

Tak berhenti di situ, Naomi meraih rambut pelayan kedua dan ketiga, lalu menghantamkan kepala mereka satu sama lain.

Brak!

Keduanya langsung tersungkur. Naomi berdiri tegak, napasnya tetap stabil. Ia membungkuk, menarik paksa kalung dari leher pelayan pertama, gelang dari tangan pelayan kedua, dan cincin dari jari pelayan ketiga.

“Ini milikku,” ucapnya dingin. “Dan ini pelajaran supaya kalian tahu sopan santun.”

Ketiga pelayan itu terduduk di lantai, pakaian mereka kusut, wajah mereka pucat dan penuh ketakutan.

Pelayan ketiga menunjuk Naomi dengan tangan gemetar. “Kami … kami akan melaporkan ini pada Nyonya dan Tuan Elios!”

Naomi menatap mereka tanpa emosi. “Silakan,” katanya santai. “Aku tidak peduli.”

Ia menggenggam perhiasannya erat, lalu berbalik menuju koper meninggalkan tiga pelayan itu dengan tubuh gemetar dan rasa takut yang baru pertama kali mereka rasakan.

*

Nina, pelayan pribadi Viviane, berjalan cepat melewati koridor lantai bawah. Ia hendak mengantarkan minuman ke ruang tengah ketika langkahnya terhenti tepat di depan bekas kamar Naomi.

Pintu kamar itu terbuka.

Dan apa yang ia lihat membuat matanya membelalak.

Tiga pelayan berseragam putih-hitam terduduk di lantai dengan kondisi mengenaskan. Rambut berantakan, wajah memar, pakaian kusut, salah satu bahkan menahan kepalanya sambil meringis kesakitan.

“Astaga!” Nina refleks masuk. “Ada apa ini?! Apa yang terjadi pada kalian bertiga?”

Ketiga pelayan itu mendongak. Mata mereka langsung berkaca-kaca seolah menemukan penyelamat.

“Nina .…” suara pelayan pertama gemetar. “Itu … itu ulah Naomi.”

“Apa?” Nina mengernyit tajam. “Naomi?”

Pelayan kedua menunjuk ke arah koper yang sudah tidak ada.

“Dia memukuli kami lalu merampas perhiasan kami.”

“Iya!” sahut pelayan ketiga cepat, meski suaranya tidak stabil. “Dia bilang itu miliknya, tapi dia mencurinya dari kami! Gadis itu mengambil barang-barang milik kami.”

Nina berdiri tegak. Wajahnya langsung memerah karena marah. “Kurang ajar!” desisnya. “Gadis liar itu benar-benar keterlaluan! Dia harus diberikan pelajaran.”

Nina mengepalkan tangan. “Berani-beraninya dia membuat keributan di rumah ini!”

Nina berbalik dan melangkah keluar kamar dengan langkah cepat dan penuh amarah.

Sementara itu, Naomi sudah berjalan keluar dari koridor belakang, menarik koper kecil di belakangnya. Wajahnya tenang, langkahnya mantap.

Max berdiri tak jauh dari ruang tengah, menunggunya sambil menyandarkan tubuh di dekat pilar. Begitu melihat Naomi muncul, Max hendak melangkah maju. Namun tiba-tiba.

“Pencurii!”

Teriakan keras itu menggema di dalam rumah.

Naomi berhenti melangkah. Max langsung menoleh tajam ke arah suara itu.

Di ruang tengah, tawa Viviane dan teman-temannya langsung terhenti. Carlos yang sedang duduk bersandar di sofa mengangkat kepala. Erick berdiri dari kursinya, alisnya mengerut.

Nina berlari dari arah koridor dengan wajah merah padam.

“PencurjI!” teriaknya lagi, lebih keras. “Berhenti kau, Naomi!”

Semua mata tertuju pada Naomi.

Nina berhenti beberapa langkah di depan mereka, lalu menunjuk Naomi dengan tangan gemetar karena emosi.

“Itu dia!” serunya. “Dia mencuri perhiasan para pelayan dan memukuli mereka!”

1
Si Topik
Good Ending.. semua sudah menemukan kebahagiaan 😊
beberapa pergi dg penyesalan dan maaf, dan ada yg berakhir dg ending yg buruk 🙂
Si Topik
aku ngebayangin nya peradaban semi-futuristik
dunia yg baru, kehidupan baru, dan tantangan yg juga baru ☺️
Si Topik
alam mempunyai cara nya sendiri tuk pulih ☺️
Nining Chili
👍
Si Topik
asli, butterfly effect itu Fenomena mengerikan 🥲
kita tidak bisa menebak hal kecil yg keliatan nya sepele, bisa menjadi efek besar dimasa mendatang 🥲🥲
Si Topik
astaga, aku sampai lupa soal kiamat es nya euyy :"-V

ternyata ini gejala awalnya, ku kira lah serangan musuh 😭
Si Topik
Maxim : Tuhan, kalau dia jodoh orang, buatlah orang itu aku ya Tuhan 😭
Husna
heiii... ini bisa kita siapkan dr sekarang....
denger-denger world war 3 bentar lagi walaupun Indonesia katanya tdk masuk sasaran tp pasti kena dampaknya jg...

5 poin ini bisa kita aplikasikan di dunia nyata loh, bisa mulai dr sekarang
Si Topik
yang kata nya sejak Piyik di didik bisnis? nyata nya kosong, sama kek isi kepala nya, kosong 😂😂
tau nya menghamburkan uang, selamat menumpuk hutang Viviane wkwkwk 😂
Si Topik
semoga Naomi tidak luluh dan tidak kembali dg keluarga durjana ini 😐

memaafkan mungkin, tapi untuk kembali, Big No ☺️
Si Topik
penyesalan mah emang selalu belakangan, klo diawal nama nya pendaftaran :-v
Si Topik
wkwkwk kau tidak bisa mengalahkan orang tua sepuh yg kenyang dg berbagai asam garam pengalaman biawak 😂
Si Topik
Yeeeyyy Mamah Arumi mulai memancing awkwkwk 😂😂
Si Topik
biasa nya orang kek gini mesti dipancing dulu biar ketar ketir 🙂
Si Topik
awokwokwok koplak emang 😂😂
Si Topik
nangkep elu lah Tim, apalagi wkwk 😂
Si Topik
apa yg terjadi yaa kalo Volkov tau keterlambatan nya karena ulah Timmy dan bestie2 nya wkwkwk 😂
Si Topik
owalahhh.. maka nya kata si asisten di awal " tuan ingin penyelidikan tidak diketahui Nona Cecilia? "

ternyata oh ternyata ada udang dibalik bakwan ☺️
Si Topik
nama nya penyelidikan ya kali di umbar2 bjirr, tentu dilakukan dgn senyap tanpa terendus :"-v
yakali mau menyelidiki suatu individu, diberi info dulu
Si A : " heeii si B, aku mau menyelidiki kamu.. hati hati yaa "

si B : hohoo baiklah ☺️
Si Topik
terkadang penghianat justru berasal dari orang terdekat yg sudah kenal lama.. 🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!