NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:182.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencuri?

Setelah semua baju, buku-buku kuliahnya, serta dokumen pribadinya dimasukkan ke dalam koper, Naomi menutup ritsleting pelan. Ia berdiri sejenak, menatap koper itu, lalu kembali membuka lemari kecil di sudut kamar.

Keningnya mengerut. “Tidak ada?”

Naomi berlutut dan membuka bagian paling bawah lemari. Tangannya meraba-raba, matanya menyisir setiap sudut. Namun benda yang ia cari tak kunjung ditemukan.

Padahal ia sangat yakin.

Kalung kecil itu bersama sepasang gelang dan cincin sederhana masih ada di sana. Ia menyimpannya rapi, tersembunyi, karena itu satu-satunya hadiah dari nenek dan kakek Elios saat pertama kali ia menginjak kaki di keluarga ini.

“Ke mana perginya?” gumam Naomi lirih.

Ia berdiri dan kembali mengobrak-abrik lemari, lalu berpindah ke bawah tempat tidur. Nafasnya sedikit memburu.

Tiba-tiba terdengar tawa kecil.

“Hihihi!”

Naomi berhenti bergerak.

Di ambang pintu kamar, tiga pelayan berseragam putih-hitam berdiri bersandar santai. Tatapan mereka sinis, penuh ejekan, seolah sedang menonton sesuatu yang menghibur.

“Sibuk sekali ya?” salah satu dari mereka berkata sambil menyilangkan tangan.

“Cari barang rongsokan, ya?”

Naomi perlahan berdiri dan berbalik.

Pandangan matanya langsung tertumbuk pada sebuah kalung kecil yang melingkar di leher pelayan pertama. Dadanya mengeras.

Matanya lalu bergeser. Di pergelangan tangan pelayan kedua, ada gelang dengan desain yang sama.

Dan di jari pelayan ketiga, tersemat cincin kecil yang sangat ia kenal.

Wajah Naomi langsung berubah dingin.

“Oh.” suaranya datar, tapi tajam. “Jadi kalian yang mencuri perhiasanku.”

Ketiga pelayan itu saling pandang, lalu tertawa kecil, sama sekali tidak merasa bersalah.

“Mencuri?” pelayan pertama mendengus. “Jangan asal nuduh, Nona.”

“Iya,” sahut pelayan kedua santai. “Ini milik kami.”

Pelayan ketiga melangkah maju sedikit, menatap Naomi dengan senyum meremehkan. “Kata Nona Viviane, semua barang di kamar ini bebas diambil. Lagipula, barang-barangmu itu … siapa juga yang mau?”

Ia tertawa kecil. “Masih mending tidak kami buang.”

Udara di kamar itu terasa semakin dingin.

Naomi mengepalkan tangannya. “Kembalikan,” ucapnya pelan. “Sekarang.”

Ketiga pelayan itu tertawa lebih keras. “Dengar itu?” pelayan pertama berkata sambil menepuk bahu temannya. “Dia menyuruh kita.”

Pelayan kedua mengangkat dagu. “Kamu ini siapa sih? Jangan berlagak seperti nona besar di rumah ini. Kau ini hanya anak angkat tak tahu malu.”

“Iya,” sambung pelayan ketiga. “Kamu itu nggak diinginkan di keluarga Elios. Harusnya sadar diri.”

Naomi tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, melainkan senyum dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Jadi begini ya,” katanya perlahan. “Kalian bukan cuma pencuri … tapi juga pengemis tak tahu malu.”

Tawa mereka langsung terhenti.

“Apa?” mata pelayan pertama membelalak. “Kau bilang apa tadi?!”

Naomi menatapnya tanpa gentar. “Aku ulangi. Kalian pencuri. Dan pengemis yang hidup dari belas kasihan orang lain.”

Wajah ketiganya langsung memerah karena marah.

Pelayan pertama mengangkat tangan. “Berani sekali mulutmu!”

Tamparan itu hampir mendarat, namun Naomi dengan cepat menangkap pergelangan tangan pelayan itu.

“Apa?!”

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi pelayan pertama. Tubuhnya terhuyung lalu jatuh ke lantai.

Brugh!

“Kau—” pelayan itu menjerit.

Pelayan kedua dan ketiga terkejut, tapi amarah lebih dulu menguasai mereka.

“Berani-beraninya!”

“Beri dia pelajaran!”

Keduanya menyerang bersamaan.

Namun Naomi bergerak lebih cepat. Ia menahan tangan mereka, lalu melayangkan tendangan bertubi-tubi.

Duaagh!

Duaagh!

Dua tubuh itu terpental ke arah dinding.

“Ah!”

“Sial!”

Mereka mencoba bangkit, napas terengah, mata penuh kebencian.

“Serang dia!”

Mereka kembali maju, tapi kali ini Naomi tak memberi kesempatan.

Ia menarik rambut pelayan pertama dan membenturkan kepalanya ke dinding.

Bugh!

Brak!

Pelayan itu menjerit kesakitan dan langsung terkulai.

Tak berhenti di situ, Naomi meraih rambut pelayan kedua dan ketiga, lalu menghantamkan kepala mereka satu sama lain.

Brak!

Keduanya langsung tersungkur. Naomi berdiri tegak, napasnya tetap stabil. Ia membungkuk, menarik paksa kalung dari leher pelayan pertama, gelang dari tangan pelayan kedua, dan cincin dari jari pelayan ketiga.

“Ini milikku,” ucapnya dingin. “Dan ini pelajaran supaya kalian tahu sopan santun.”

Ketiga pelayan itu terduduk di lantai, pakaian mereka kusut, wajah mereka pucat dan penuh ketakutan.

Pelayan ketiga menunjuk Naomi dengan tangan gemetar. “Kami … kami akan melaporkan ini pada Nyonya dan Tuan Elios!”

Naomi menatap mereka tanpa emosi. “Silakan,” katanya santai. “Aku tidak peduli.”

Ia menggenggam perhiasannya erat, lalu berbalik menuju koper meninggalkan tiga pelayan itu dengan tubuh gemetar dan rasa takut yang baru pertama kali mereka rasakan.

*

Nina, pelayan pribadi Viviane, berjalan cepat melewati koridor lantai bawah. Ia hendak mengantarkan minuman ke ruang tengah ketika langkahnya terhenti tepat di depan bekas kamar Naomi.

Pintu kamar itu terbuka.

Dan apa yang ia lihat membuat matanya membelalak.

Tiga pelayan berseragam putih-hitam terduduk di lantai dengan kondisi mengenaskan. Rambut berantakan, wajah memar, pakaian kusut, salah satu bahkan menahan kepalanya sambil meringis kesakitan.

“Astaga!” Nina refleks masuk. “Ada apa ini?! Apa yang terjadi pada kalian bertiga?”

Ketiga pelayan itu mendongak. Mata mereka langsung berkaca-kaca seolah menemukan penyelamat.

“Nina .…” suara pelayan pertama gemetar. “Itu … itu ulah Naomi.”

“Apa?” Nina mengernyit tajam. “Naomi?”

Pelayan kedua menunjuk ke arah koper yang sudah tidak ada.

“Dia memukuli kami lalu merampas perhiasan kami.”

“Iya!” sahut pelayan ketiga cepat, meski suaranya tidak stabil. “Dia bilang itu miliknya, tapi dia mencurinya dari kami! Gadis itu mengambil barang-barang milik kami.”

Nina berdiri tegak. Wajahnya langsung memerah karena marah. “Kurang ajar!” desisnya. “Gadis liar itu benar-benar keterlaluan! Dia harus diberikan pelajaran.”

Nina mengepalkan tangan. “Berani-beraninya dia membuat keributan di rumah ini!”

Nina berbalik dan melangkah keluar kamar dengan langkah cepat dan penuh amarah.

Sementara itu, Naomi sudah berjalan keluar dari koridor belakang, menarik koper kecil di belakangnya. Wajahnya tenang, langkahnya mantap.

Max berdiri tak jauh dari ruang tengah, menunggunya sambil menyandarkan tubuh di dekat pilar. Begitu melihat Naomi muncul, Max hendak melangkah maju. Namun tiba-tiba.

“Pencurii!”

Teriakan keras itu menggema di dalam rumah.

Naomi berhenti melangkah. Max langsung menoleh tajam ke arah suara itu.

Di ruang tengah, tawa Viviane dan teman-temannya langsung terhenti. Carlos yang sedang duduk bersandar di sofa mengangkat kepala. Erick berdiri dari kursinya, alisnya mengerut.

Nina berlari dari arah koridor dengan wajah merah padam.

“PencurjI!” teriaknya lagi, lebih keras. “Berhenti kau, Naomi!”

Semua mata tertuju pada Naomi.

Nina berhenti beberapa langkah di depan mereka, lalu menunjuk Naomi dengan tangan gemetar karena emosi.

“Itu dia!” serunya. “Dia mencuri perhiasan para pelayan dan memukuli mereka!”

1
Nor Azlin
kenyataan itu pahit untuk di dengarkan yah ...bodoh amat tidak sedikit pun curiga sama sekali ni orang...Coba untuk sekali ini kamu lihat & dengar mengenai nya apa salah nya ayo Max tunjukkan bukti pada nya pasti kamu punya tu kannn😂😂😂lanjutkan thor
Nor Azlin
sifat asli seseorang itu akan terlihat masa dewasa nya yah kerana itu adalah sifat yang di turunkan oleh keluarga asli nya ...Vivian bukan dibesarkan sedari bayi tapi sudah belita kerana orang tua nya kemalangan mobil maka mereka mati di rumah sakit sebelum mati dia menyuruh kedua suami isteri Elios untuk menjaga nya yah...nah pada kemana kerabat keluarga nya si Vivian pasti ada kan ...mustahil banget kalau satu pun keluarga nya tidak ada sama sekali yah CK CK CK pasti ada koperasi di dalam nya kan ...kemungkinan orang tua Vivian sudah merencanakan itu yah atau sebalik nya aku pun penasaran ni bagai mana cerita nya deh😂😂 lanjutkan thor
Cindy
lanjut
syh 03
di kira seorang max ga bisa mukul perempuan..klo perempuanya kya ular betina viviane..emang pantas di gampar ampai keok 😆
Nor Azlin
aku rasa di maafkan aja tapi tidak dengan Vivian nya ...walau bagai mana pun mereka orang tua yang melahirkan nya ...namun dengan itu jangan memaafkan mereka demi kedua kakek nenek nya Naumi ...perkara yang menakutkan orang adalah dimaafkan tapi tidak diakui oleh anak sendiri itu lebih menyakiti nya itu bagi hukuman yang pantas ...buat Vivian biar keluarga Elios yang membuangkan nya kalau mereka memilih nya maka mereka tidak mendapat tempat di kalangan orang-orang yang ingin selamat yah...tapi bagi aku biarkan aja keluarga nya membusuk deh kalau masih membawa anak angkat nya itu ...bagi aja kakek nenek mu tempat biar mereka hidup bahagia bersama dengan mu 😂😂😂itu pendapat aku yah peribadi ...lanjutkan thor
Arbaati
kapokmu kapan
Kusii Yaati
nah kan kena gampar sama max, terlalu kepedean sih... tubuh max itu terlalu mahal untuk di sentuh sama yang murahan kayak elo... sakit nggak seberapa tapi malunya luar biasa, udah di tolak di depan umum kena gampar pula 🤣🤣🤣🤣
Atalia
mampus kau vivian 😂😂😂
Silla Okta
babang max emang the best,,, gak mungkin tergoda sama ulet keket,,,,, 🤣🤣🤣🤣🤣 next Thor
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Tumaan 🤣🤣 dipuskn berpa pri tuh 😤
Eka Haslinda
babang Max Seraaamm 👍👍👍
Hary Nengsih
salah sasaran y 🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Si Zane ini sensi banget dah 🤣
Nor Azlin
Rasakan lah anak orang lain yang kalian jaga & anggap anak sendiri malah menikam kalian dari belakang🤣🤣🤣🤣ini lah karma yang kalian cari sendiri ...buat yang kayak nyonya sama tuan Elios ini berpada2 lah mau menjaga anak orang yang kehilangan kedua orang tua nya kerana ini sangat berbahaya akibat nya mereka membuang anak sendiri kedesa namun meranti kan anak orang lain menjadi puteri mereka...sesuatu kebenaran sangat menyakitkan di saat semua nya terbongkar dengan sendiri disaat kalian di ambang kehancuran bukan bisa menolong malah membinasakan masa depan kalian semua yah 😂😂😂semoga ini titik pelajaran buat kalian para manusia busuk darah daging sendiri dituduh2 Mulu dasar orang tua bodoh percaya dengan orang luar berbanding anak yang di kandung kan nya sendiri ...ini lah contoh orang tua bodoh sudah ada anak sendiri masih mau ambil lagi beban yang akan membinasakan diri mereka sendiri deh...lanjutkan thor
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mantap Max walau menurut saya kurang tp tak apa itu sebagai perkenalan sama Viviane 😉😏😅
Passolle
lanjut thor
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Zane sblm kamu marah dan pertemananmu dngn Max hancur gara" tunangan mu itu mending selidiki dulu 😏
zylla
yakin? 🤣🤣🤣🤣
zylla
Zane benar" bodoh
Lesmana
wkwkwkwk brasa timmy lg ngejual sonya ke clay😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!