NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:84.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

“Kita bantu, Pak,” ucap dokter akhirnya. “Kami yang akan jadi saksi pernikahan Arsy dan pak Syakil.”

Suster mengangguk cepat sambil menyeka

air matanya yang jatuh tanpa izin. Syakil berdiri kaku. Lututnya terasa lemas, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap berdiri tegak. Tangannya menggenggam jemari Arsy yang terasa dingin dan gemetar. Arsy sendiri seperti kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya. Ia tahu momen ini akan datang, tapi saat benar-benar berada di depannya, rasa sakit itu tetap tak tertahankan.

Pak Rahman menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan seluruh sisa hidupnya dalam satu tarikan.

“Syakil…” panggil pak Rahman lirih dan membuat Syakil mendekat, lalu duduk di kursi kecil di samping ranjang. Tubuhnya sedikit membungkuk, penuh hormat.

“Iya, Pak.”

"Mari kita lakukan sekarang akad nikahnya," pinta pak Rahman dengan lirih dan membuat Syakil mengangguk.

Dengan tangannya yang gemetar, pak Rahman meraih tangan syakil dan menjabatnya dengan erat.

"Siapa nama lengkap kamu nak?"

"Nama lengkap saya adalah Syakil Arrafiy, pak." Jawab Syakil yang membuat pak Rahman menatap wajah Syakil dengan matanya yang mulai redup.

“Saudara Syakil Arrafiy, ayah nikahkan kamu dengan putri Ayah yang bernama Arsy Raihana Syahira…” ucap pak Rahman pelan dan dengan napasnya yang tersendat namun jelas. “Dengan mas kawin surat Ar-Rahman, dibayar tunai.”

Ruangan itu terasa sesak saat pak Rahman mulai membimbing Syakil untuk mengucapkan kalimat ijab qobul. Syakil menutup matanya sejenak. Tangannya gemetar. Dadanya terasa penuh. Ia membuka mata kembali dan menjawab dengan suara yang bergetar namun tegas.

“Saya terima nikahnya Arsy Raihana Syahira binti Rahman dengan mas kawin surat Ar-Rahman, dibayar tunai.”

Suasana kembali hening. Untuk sepersekian detik terasa seperti keabadian. Dokter dan suster menatap monitor jantung Pak Rahman yang berdetak tidak stabil, tapi masih bertahan. Mereka menatap Arsy dan Syakil, lalu saling berpandangan.

"Bagaimana saksi?" Tanya pak Rahman dengan lirih.

“Sah,” ucap dokter dengan suara parau sementara suster menutup mulutnya untuk menahan tangisnya.

Arsy membeku. Kata itu masuk ke telinganya, tapi hatinya terlambat mencerna. Ia telah resmi menjadi istri dari Syakil. Dan ayahnya, ayahnya itu baru saja menuntaskan tugas terakhirnya di dunia. Pak Rahman tersenyum. Senyum yang begitu damai, begitu lega, seolah beban puluhan tahun terangkat dari dadanya.

“Alhamdulillah,” bisik pak Rahman lirih. Tangannya yang gemetar meraba di udara seolah-olah tengah mencari sesuatu.

“Ayah…” suara Arsy pecah. Ia mendekat, menggenggam tangan ayahnya erat-erat. “Ayah…”

Pak Rahman menatap putrinya. Mata mereka

bertemu. Namun tak ada lagi kata yang perlu diucapkan.

“Jaga diri kamu baik-baik, Arsy” ucap Pak Rahman pelan. “Sekarang… kamu sudah ada yang menjaga, ayah merestui kalian berdua.”

Mata pak Rahman perlahan terpejam dan membuat monitor jantung mengeluarkan bunyi panjang dan datar.

Dokter tersentak, sementara suster menutup wajahnya. Air mata mereka jatuh secara bersamaan.

“Pak Rahman…” dokter memeriksa denyut nadi, lalu menghela napas panjang dengan matanya yang basah. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Arsy tidak langsung menangis. Ia hanya memandang wajah ayahnya yang kini tampak begitu tenang. Tidak ada lagi rasa sakit di sana. Tidak ada lagi napas berat yang terlihat pada tubuh ayahnya.

“Ayah?” panggil Arsy dengan lirih namun tidak ada jawaban. “Ayah…” suara Arsy bergetar. “Ayah bangun…”

Tangisan Arsy akhirnya pecah. Keras dan Menyayat. Seperti jeritan kehilangan yang tak bisa ditahan lagi.

“AYAHHHH—!”

Tubuh Arsy ambruk ke ranjang. Tangannya mencengkeram jasad ayahnya. Bahunya terguncang hebat. Syakil ikut menangis. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah. Ia memeluk Arsy dengan sekuat tenaga, membiarkan perempuan itu menangis di dadanya, memanggil ayahnya berkali-kali dengan suara yang semakin melemah.

“Arsy… sayang…” bisik Syakil dengan parau. “Tolong ikhlaskan kepergian ayah mu, Ayahmu sudah tenang sekarang.”

“Enggak… enggak…” Arsy menggeleng keras di pelukan Syakil. “Aku belum siap mas, aku belum siap kehilangan Ayah.”

Syakil memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak.

“Arsy…” ia mengusap punggung istrinya perlahan. “Ayahmu pergi setelah memastikan kamu aman… itu tanda cintanya sebelum pergi.”

Tangis Arsy semakin menjadi. Dokter dan suster tak sanggup menahan air mata mereka. Mereka diam-diam memberi ruang dan membiarkan keluarga kecil itu tenggelam dalam duka.

Sore itu, langit tampak mendung. Awan abu-abu menggantung berat, seolah ikut berkabung dengan meninggalnya pak Rahman. Jenazah Pak Rahman telah dimandikan dan dikafani. Tubuh yang tadi pagi masih berbicara kini terbaring kaku. Arsy berdiri terpaku di depan keranda. Tangannya terlihat gemetar saat menyentuh kain penutup keranda yang didalamnya terdapat tubuh ayahnya.

“Ayah…” bisiknya. “Maafin Arsy…”

Syakil yang berdiri di belakangnya, menopang tubuh Arsy yang nyaris roboh. Ambulans melaju pelan menuju pemakaman umum dekat kontrakan kecil tempat Arsy dan Pak Rahman selama ini tinggal. Jalanan basah sisa hujan siang tadi. Suasana hening menyelimuti perjalanan itu. Di pemakaman, tanah merah sudah digali. Beberapa warga berdiri dengan wajah sendu. Mereka semua tidak menyangka kalau pak Rahman akan pergi meninggalkan mereka dalam waktu yang secepat itu.

Saat jenazah Pak Rahman diturunkan ke liang lahat, tangisan Arsy kembali pecah. Tubuhnya lemas, dan bersandar penuh di pelukan Syakil.

“Ayah… jangan tinggalin Arsy… ayah.” isak Arsy dengan lirih dan membuat Syakil memeluknya erat. Air matanya jatuh membasahi hijab Arsy.

“Kamu harus kuat Arsy, kita kirimkan doa terbaik kita buat ayah.” bisiknya. “Biar Ayah tenang di alam sana.”

Setelah jasad pak Rahman berada di tanah, beberapa orang mulai menutup liang lahat. Suara tanah jatuh seperti palu yang menghantam hati Arsy satu per satu. Saat semua selesai, Arsy terduduk lemah di makam ayahnya. Pandangannya terlihat kosong saat menatap nisan sederhana itu. Di pelukan Syakil, Arsy akhirnya mengerti satu hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya.

Hari itu, ia telah kehilangan ayahnya sekaligus penopang penting dalam hidupnya.

Beberapa saat kemudian Orang-orang mulai melangkah pergi, meninggalkan pemakaman pak Rahman yang kini menjadi penanda perpisahan paling pahit dalam hidup Arsy. Beberapa tetangga mendekat. Wajah-wajah yang selama ini terlihat akrab dan sering menyapa ayahnya setiap pagi, kini menatap Arsy dengan mata berkaca-kaca.

“Yang sabar ya, Nak Arsy. Semoga almarhum husnul khotimah.”

"Ayahmu orang baik, Nak. InsyaAllah Allah akan menempatkan ayahmu ditempat yang mulia.”

Arsy mengangguk pelan setiap kali menerima ucapan belasungkawa itu. Bibirnya bergetar, tapi tak lagi ada air mata yang keluar. Seolah seluruh tangisnya sudah habis terkuras sejak jenazah ayahnya dikuburkan tadi. Syakil berdiri di sampingnya, satu tangannya menopang punggung Arsy, sementara tangannya yang lain menggenggam jemari istrinya erat-erat. Ia tahu tubuh istrinya itu sudah berada di batasnya. Ketika ucapan belasungkawa terakhir disampaikan, Syakil menunduk sedikit ke arah Arsy.

1
Yeni Wahyu Widiasih
bagus
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak🙏😍
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Dia lupa dimana ia pertama kali beli kolor, dan dimana dia dapat dukungan itu. Semoga keputusan yang kamu ambil, tidak buat kamu menyeseal di kemudian hari
Panda%Sya🐼
Radit lo butuh obat depresi? sini aku bagi dalam dosis tinggi /Skull/
Panda%Sya🐼
ohh otaknya buntung ternyata 😏
Panda%Sya🐼
Kawan makan kawan ini
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Aaaa/Scream/
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Ibu Syakil The best❤
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Jangankan Arsy, ak yg baca nya aja tiba" ngikut merah ni pipi🙏😂
-Thiea-
mama syakil tipe mertua idaman sekali. 🤭
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Aku tetiba menghalu jdi arsy ka😭😂🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
dokter kok gak mikirin orang yang sedang sakit. dokter gadungan kali ya
Nifatul Masruro Hikari Masaru
gak kebalik
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cinta yang tulus
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Arsy, kamu beruntung❤
Nifatul Masruro Hikari Masaru
tenang aja arsy baru batal nikah
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang sabar ya arsy
Nifatul Masruro Hikari Masaru
udah ketahuan baru ngomong gak cinta
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Idaman sekali🙏😌
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: ada kak tapi seribu satu, dan langka banget.
total 3 replies
-Thiea-
gimana perasaannya Arsy dicintai secara ugal-ugalan.🤭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: yang pasti bahagia dan beruntung banget kak🤭
total 1 replies
Riya Hairi
semangat Thor 💪
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak terima kasih dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!