"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : ANAK SI TELENG : CELANA ROBEK DAN SUMPAH DI POHON NANGKA
Dari celah bawah pintu kamar, aku melihat bayangan kaki-kaki besar itu mondar-mandir. Penagih itu tidak mau tahu alasan Mama. Karena uang tak ada, mereka mulai mengincar barang-barang di rumah. Televisi satu-satunya hiburan kami, radio tua, hingga barang-barang berharga milik Mama diangkut secara paksa sebagai jaminan.
Mama hanya bisa menangis sesenggukan, mencoba menghalangi tapi tenaganya tak sebanding. Di bawah kasur, aku mengepalkan tangan yang kurus kerempeng itu. Hatiku perih melihat Mama dihina di rumahnya sendiri sementara Bapak entah bersembunyi di mana.
Setelah para penagih itu pergi membawa sebagian nyawa rumah kami, suasana menjadi sunyi yang menyakitkan. Barulah tak lama kemudian, Bapak muncul dari balik pintu belakang dengan wajah tanpa dosa, atau mungkin wajah yang sudah terlalu malu untuk merasa bersalah.
"Dari mana kau, Pak? Barang-barang kita habis! Anak-anakmu ketakutan setengah mati!" teriak Mama, suaranya habis karena tangis.
Keributan hebat kembali pecah. Malam itu, bukan hanya barang yang hilang dari rumah kami, tapi juga rasa hormatku pada sosok laki-laki yang seharusnya menjadi tempatku bersandar. Di usiaku yang masih sekecil itu, mental kami dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Kami belajar bahwa dunia luar itu kejam, tapi ternyata, pengkhianatan dari dalam rumah sendiri jauh lebih menghancurkan.
Dalam diamku sebagai anak laki-laki berusia sepuluh tahun, aku sering menatap punggung Bapak yang semakin membungkuk. Aku mencoba mencari tahu apa yang ada di pikirannya. Apakah Bapak merasa gagal sebagai anak yang terusir dari Pelita 4? Apakah judi adalah cara Bapak melarikan diri dari kenyataan bahwa suaranya tak pernah didengar oleh keluarga besarnya?
Bapak seperti orang yang kehilangan kompas. Di satu sisi, aku memahami lukanya. Tapi di sisi lain, amarahku meluap. Kenapa harus kami yang dikorbankan? Bapak seolah lupa pada kami, dan yang lebih menyakitkan, ia lupa pada Tuhannya. Altar di rumah kami berdebu, tak pernah lagi ada doa yang tulus, hanya ada aroma asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel yang dianggapnya sebagai kitab keselamatan.
Ruang Kepala Sekolah: Penjara di Balik Meja
Kepahitan itu merembes hingga ke sekolah. Jika anak-anak lain takut pada ujian matematika, aku dan saudara-saudaraku lebih takut pada panggilan dari ruang administrasi atau kepala sekolah.
"Uang sekolah kalian sudah menunggak tiga bulan, Raymond. Ke mana uangnya?" tanya mereka dengan nada curiga.
Terkadang, guru-guru menatap kami seolah-olah kami adalah pencuri kecil yang sengaja menghabiskan uang sekolah untuk jajan. Kami dipaksa memendam malu, tak mungkin kami bilang kalau uang itu habis di meja judi Bapak. Kakak dan adikku pun mengalami nasib serupa. Setiap hari kami pulang dengan kepala tertunduk, mengadu pada Mama yang dadanya sudah sesak oleh beban.
Mama—dengan sisa keberaniannya—selalu datang ke sekolah. Aku melihatnya memohon-mohon pada bagian administrasi, memberikan janji-janji kosong tentang tanggal pembayaran yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu dari mana uangnya akan datang. Di sekolah, aku tumbuh menjadi anak yang sangat pendiam. Aku takut bergaul, takut jika pertanyaannya berakhir pada kehidupan pribadiku.
Rasa tertekan itu sesekali meledak menjadi kemarahan yang tak terkendali. Aku pernah bertemu dengan Johanes, seorang teman satu marga yang populer tapi jahil. Suatu hari, ia dan kelompoknya bermaksud menjadikanku sasaran empuk. Mereka memojokkanku setelah bel pulang berbunyi.
Aku yang biasanya diam, tiba-tiba merasa semua amarah terhadap Bapak dan para penagih utang meluap ke tanganku. Aku memukul bibir Johanes hingga berdarah parah. Besoknya, nyaliku ciut. Johanes membawa rombongan untuk mengeroyokku. Beruntung, ada teman sekelasku yang mengenal mereka dan menjadi penengah.
"Sudahlah, jangan pukul dia," katanya. Aku selamat, tapi mentalku semakin hancur. Aku merasa menjadi orang asing, baik di rumah maupun di sekolah.
Pelarianku satu-satunya adalah sore hari di Mandala. Meski Mama mewajibkan kami tidur siang agar tidak keluyuran, aku sering mencuri waktu untuk bergabung dengan anak-anak lingkungan.
Kami punya tempat bermain yang ekstrem: proyek jalan Tol Mandala yang saat itu masih dalam pembangunan atau belum rampung sepenuhnya. Di sana, gundukan tanah dan beton-beton besar menjadi taman bermain kami. Kami bermain perosotan di lereng-lereng beton yang kasar.
"Ayo Ray! Cepat!" teriak kawan-kawanku.
Aku meluncur bebas, merasakan angin menerpa wajah kurusku. Untuk sejenak, aku lupa soal uang sekolah, lupa soal Bapak yang berjudi, lupa soal penagih utang. Namun, saat mendarat, bunyi 'bret' terdengar keras. Celana satu-satunya yang layak kupakai robek di bagian belakang.
Sesampainya di rumah, Mama melihat lubang di celanaku itu bukan sekadar kain yang rusak. Bagi Mama, itu adalah tambahan beban ekonomi yang tidak sanggup lagi ia tanggung. Mama marah besar, suara omelannya bersahutan dengan suara Bapak yang entah sedang membahas nomor apa di sudut lain.
Aku hanya bisa berdiri mematung, menatap celanaku yang robek. Di usia sepuluh tahun, aku sadar bahwa hidupku memang seperti celana itu—tercabik-cabik oleh lingkungan, namun dipaksa untuk tetap menutupi malu keluarga yang tak kunjung usai.
Di Perumnas Mandala, nama baik adalah barang mewah yang tak mampu kami beli. Akibat pergaulan judi yang makin menjadi-jadi, tetangga mulai memberi julukan merendahkan untuk Bapak: "Si Teleng". Sebuah nama yang merujuk pada perilaku Bapak yang sudah dianggap miring atau tidak beres. Efeknya? Kami, anak-anaknya, harus menelan pil pahit dengan dipanggil "Anak Si Teleng". Setiap kali sebutan itu mampir di telinga, rasanya lebih perih daripada pukulan Mama.
Bapak benar-benar berubah. Dulu, ia adalah sosok PNS yang sangat rapi dan resik. Aku masih ingat bagaimana ia merawat motor Vespa-nya. Vespa itu selalu mengkilap, tak boleh ada debu setitik pun yang menempel. Bapak sangat benci kotor. Tapi itu dulu. Kini, Vespa kebanggaannya hilang entah ke mana. Bapak selalu bungkam saat ditanya. Kami curiga, motor itu sudah berpindah tangan ke lintah darat atau dijual untuk modal berjudi. Setelah itu, motor-motor lain datang dan pergi silih berganti, semuanya berakhir misterius.
Suatu hari, suasana rumah mencekam saat seorang anggota TNI AD datang bersama istrinya. Dadaku berdegup kencang—biasanya, penagih utang berarti keributan besar. Namun, kali ini berbeda. Setelah Mama menjelaskan dengan linangan air mata bahwa kami sama sekali tidak tahu-menahu soal utang Bapak, raut wajah sang prajurit itu melunak.
Ia menatap kami—anak-anak kecil yang perutnya sudah lama tak mencicipi makanan layak. Bapak TNI itu rupanya punya hati emas. Alih-alih marah, ia justru iba. Ia pergi sebentar dan kembali membawa sebungkus mie lidi mentah.
"Masak ini, Bu. Biar anak-anak makan," ucapnya pelan.
Mama, yang saat itu mungkin sedang kalut dan tak pernah memasak hidangan itu sebelumnya, mencoba mengolahnya menjadi mie gomak. Aku memperhatikan Mama di dapur dengan penuh harap. Namun, saat mie itu dihidangkan, di dalam hati aku bergumam, "Kayaknya ini bukan mie gomak yang seharusnya." Rasanya aneh, tidak sesuai ekspektasi. Tapi yang luar biasa, bapak TNI dan istrinya itu tetap duduk bersama kami, menyantap mie "gagal" buatan Mama dengan senyum tulus. Mereka bahkan merelakan utang Bapak begitu saja. Tuhan sedang mengirimkan pelindung berseragam hari itu.
Keajaiban tidak berhenti di situ. Di tengah kegelapan hidup kami, ada Pak Sarumpaet, seorang anggota polisi yang merupakan teman dekat Bapak. Meski Bapak sudah tidak keruan jalannya, Pak Sarumpaet tetap menunjukkan sisi kemanusiaannya.
Saat Hari Raya Idul Adha tiba, ketika dapur kami benar-benar kosong dan tak ada harapan untuk merayakan apa pun, Pak Sarumpaet datang membawa bungkusan daging kurban.
"Ini untuk kalian, makanlah," katanya singkat.
Mata Mama berbinar. Itu adalah kemewahan yang sudah lama tidak kami rasakan. Di saat Bapak mengabaikan kewajibannya sebagai pemberi nafkah, Tuhan menggunakan tangan orang-orang "asing"—seorang TNI dan seorang Polisi—untuk memastikan perut kami tidak kosong.
Momen-momen itulah yang menyadarkanku, Raymond. Bahwa meski nama kami dicemari dengan sebutan "Anak Si Teleng", kasih Tuhan tetap menjangkau kami lewat kebaikan orang lain. Harapan itu masih ada, sekecil apapun lubang di celana robekku atau sehambar apapun mie gomak buatan Mama.