NovelToon NovelToon
Warisan Pedang Naga

Warisan Pedang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.

Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8: Perjalanan Menuju Gunung Tianwu

Sinar matahari pagi menyinari gerbang utama Kota Yunlong saat rombongan perjalanan siap berangkat. Lima belas prajurit terbaik dari Keluarga Ye berdiri dengan sikap tegak di belakang tiga kuda yang membawa Chen Feng, Ye Linglong, dan Ye Chen. Setiap orang membawa persediaan yang cukup untuk perjalanan selama seminggu, serta senjata yang sudah diasah dengan cermat.

Ye Tianhong berdiri di depan rombongan, memberikan nasihat terakhir sebelum mereka berangkat. “Jalan menuju Gunung Tianwu akan penuh dengan bahaya. Selain Sekte Ular Hitam, kalian juga harus berhati-hati dengan makhluk-makhluk mistis yang hidup di hutan dan pegunungan. Jangan pernah melakukan perjalanan sendirian dan selalu jaga komunikasi satu sama lain.”

Ia menoleh ke Feng dengan mata yang penuh perhatian. “Ingat apa yang telah kita pelajari—kekuatan datang dari kedamaian, bukan dari kemarahan. Pedang Naga hanya akan mengikuti orang yang memiliki hati yang benar dan tujuan yang jelas.”

“Kami akan mengingatnya, Ayah,” jawab Linglong sambil mengambil tangan Feng dengan lembut. Kedua mereka saling melihat mata sebentar, lalu Feng mengangguk kepada Ye Tianhong dengan hormat.

“Kami akan kembali dengan Pedang Naga, Tuan Ye. Saya berjanji akan melindungi Linglong dan semua orang yang mengiringiku.”

Dengan itu, rombongan mulai bergerak keluar dari kota, diiringi oleh doa dan harapan dari penduduk Kota Yunlong yang berkumpul di gerbang utama untuk melihat mereka pergi. Jalan awal melewati perkebunan teh yang luas dan ladang padi yang hijau segar, tapi seiring mereka semakin mendekati pegunungan, pemandangan mulai berubah menjadi lebih kasar dan menantang.

Setelah dua hari perjalanan, mereka mencapai hutan bambu yang lebat yang dikenal sebagai Hutan Rambut Putri Dewi. Jalannya menyempit dan berkelok-kelok, dengan rintangan bambu yang tumbuh liar di setiap sisi. Udara menjadi lebih sejuk dan lembap, dan kabut tipis mulai memenuhi udara.

“Kita harus berhati-hati di sini,” ujar Ye Chen sambil menarik pedangnya setengah keluar dari sarungnya. “Hutan ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya pemburu bayaran dan penyamun yang bekerja untuk Sekte Ular Hitam.”

Baru saja kata-katanya keluar, suara lonceng kecil yang aneh terdengar dari kejauhan. Suaranya menyelinap dan menyihir, membuat beberapa prajurit mulai merasa grogi. Linglong segera menarik tombaknya dan berdiri di sisi Feng.

“Itu adalah sihir bunyi dari Sekte Ular Hitam,” bisiknya. “Mereka mencoba untuk membingungkan kita dan membuat kita kehilangan arah.”

Feng segera menutup matanya dan fokus pada energi alam di sekitarnya. Dia merasakan getaran lembut dari tanah, aliran air di sungai yang tersembunyi, dan keberadaan makhluk-makhluk yang menyembunyikan diri di balik rerumputan tinggi. Dengan tenang, dia mengangkat tangannya dan menunjukkan arah yang benar.

“Jalan kita ada di sana,” katanya dengan suara yang jelas dan yakin. “Jangan dengarkan suara itu—fokus pada jalan yang harus kita lalui.”

Rombongan mengikuti arahan Feng dengan hati-hati, menghindari setiap jebakan yang telah disiapkan oleh musuh mereka. Ketika mereka keluar dari bagian hutan yang paling berbahaya, mereka menemukan lima penyamun berpakaian hitam terbaring tidak sadarkan diri di tanah, dengan wajah mereka penuh dengan kekaguman dan takut.

“Kamu bagaimana bisa mengetahui di mana mereka bersembunyi?” tanya Ye Chen dengan rasa kagum yang tidak bisa disembunyikan.

“Energi alam memberi tahu saya,” jawab Feng dengan senyum kecil. “Setiap makhluk meninggalkan jejak energi yang bisa dirasakan jika kita tahu cara mencariinya.”

Pada malam hari, mereka memasang kemah di tepi sungai yang jernih. Linglong dan beberapa prajurit memasak makanan untuk semua orang, sementara Feng dan Ye Chen menjaga keamanan sekitar kemah. Saat makan malam selesai dan sebagian besar prajurit sudah tidur, Feng dan Linglong pergi ke tepi sungai untuk berbicara dengan tenang.

Air sungai yang mengalir dengan lembut memberikan irama yang menenangkan, dan cahaya bulan yang tercermin di permukaan air membuat pemandangan menjadi sangat indah. Linglong duduk di atas batu besar, menarik kedua lutut ke dada sambil menatap ke arah pegunungan yang gelap di kejauhan.

“Kamu tahu, aku pernah datang ke sini dengan ayahku ketika aku masih kecil,” ujarnya dengan suara lembut. “Kita datang berburu dan berkemah di sekitar daerah ini. Saat itu aku berpikir bahwa ini adalah tempat paling indah di dunia.”

Feng duduk di sisinya, merasakan panas tubuhnya yang dekat dengan dirinya. “Aku tidak pernah pergi jauh dari desa ku sebelum ini,” katanya. “Tapi melihat pemandangan yang indah seperti ini membuatku berpikir bahwa mungkin ada lebih banyak hal di dunia ini selain balas dendam.”

Linglong menoleh dan melihatnya dengan mata yang penuh dengan perhatian. “Ada banyak hal yang indah di dunia ini, Feng. Dan aku ingin melihat semua hal itu bersamamu setelah kita mengalahkan Sekte Ular Hitam. Kita bisa pergi berkeliling Tanah Seribu Pegunungan, melihat tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi.”

Feng meraih tangannya dengan lembut, menyadari bahwa dia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa wanita ini di sisinya. “Aku juga ingin itu, Linglong. Setelah semua ini berakhir, aku ingin kita bisa hidup dengan damai dan bahagia bersama-sama.”

Saat mereka duduk berdampingan, tangan saling memegang dan menikmati kedamaian malam itu, bayangan besar muncul di atas air sungai. Naga Putih Tianwu muncul sekali lagi, melayang dengan anggun di atas permukaan air sebelum menghilang kembali. Tapi kali ini, dia tidak sendirian—seekor naga merah kecil menyertainya, seolah menjadi perlindungan tambahan bagi rombongan perjalanan.

Keesokan paginya, mereka melanjutkan perjalanan dengan semangat yang baru. Jalan menjadi semakin terjal saat mereka mulai mendaki kaki pegunungan. Tanah menjadi longsor dan berbahaya, dengan jurang yang dalam di setiap sisi jalan. Namun dengan bimbingan Feng dan keahlian Ye Chen dalam membaca medan, mereka berhasil melalui setiap rintangan dengan aman.

Pada sore hari, mereka mencapai gerbang alam semula jadi yang dikenal sebagai Gerbang Langit—suatu celah sempit di antara dua gunung yang tinggi dengan bentuk yang menyerupai mulut naga yang terbuka lebar. Di dalamnya, jalan menuju puncak Gunung Tianwu semakin sempit dan gelap.

“Ini adalah jalur terakhir sebelum kita mencapai gua tersembunyi,” ujar Feng sambil melihat ke dalam celah yang gelap. “Buku kuno mengatakan bahwa hanya mereka yang benar-benar layak yang bisa melewati Gerbang Langit ini.”

Sebelum mereka bisa memasuki gerbang itu, suara tertawa yang sinis terdengar dari dalam celah. Sosok Hei Yu muncul bersama dengan dua puluh anggota Sekte Ular Hitam yang berpakaian hitam, dengan wajah mereka penuh dengan hasrat untuk membunuh.

“Kita sudah menunggu lama untuk bertemu denganmu lagi, Chen Feng,” ujar Hei Yu dengan suara yang kasar. “Kali ini, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu. Kalung dan Pedang Naga akan menjadi milik Sekte Ular Hitam, dan kamu akan mati bersama dengan semua temanmu yang tidak bijak ini!”

 

1
takupr
gass tur
ajanh
good
ajanh
gass truss ye chen🔥🔥
mamak
semangat
mamak
🔥🔥🔥
aure
🔥🔥
aure
mantap luar biasa
zoro
gass🔥
zoro
uraaa💪
zoro
luar biasa
tyson
keren
andi
luar biasa
sambo
👌👌👌
lukman
krren
ciko
luar biasa
bara
mantap
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Untungnya Ye Fang masih selamat
adul
kerrn
adul
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!