(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 127: Kesengsaraan Surgawi
Pagi hari di Istana Kerajaan Zhao terasa luar biasa damai, sangat kontras dengan pembantaian brutal di Rawa Selatan semalam.
Di Paviliun Bunga Persik, Sang Ratu sedang duduk menikmati udara pagi. Zhao Xuan berjalan menghampirinya dengan senyum cerah, membawa secangkir teh krisan hangat di nampan kayu.
"Teh pagi untuk Ibu yang paling cantik," ucap Zhao Xuan manis.
"Terima kasih, Xuan'er sayang," Sang Ratu tersenyum lembut, menerima cangkir tersebut. Tanpa ragu sedikit pun, ia menyesap teh itu hingga habis.
Zhao Xuan mundur selangkah, mengawasi dengan saksama. Di dalam teh itu, ia telah melarutkan Pil Penyambung Bintang tingkat surgawi yang ia racik semalam menggunakan kekuatan ruang dan waktu.
Hanya dalam hitungan detik, mata Sang Ratu membelalak lebar. Cangkir teh terlepas dari tangannya, jatuh namun tidak menyentuh lantai. Cangkir itu tertahan di udara oleh sebuah medan energi yang tiba-tiba meledak dari tubuh wanita fana tersebut!
"I-Ini... energi ini..." Sang Ratu mencengkeram dadanya. Napasnya terengah-engah, namun bukan karena sakit, melainkan karena aliran kehidupan yang menderu layaknya galaksi yang baru lahir.
Di dalam Dantian-nya yang telah hancur selama belasan tahun, energi perak dari pil racikan Zhao Xuan bertindak seperti benang waktu. Serpihan-serpihan Dantian itu tertarik, menyatu, dan mengeras kembali menjadi fondasi spiritual yang sempurna.
Tujuh Roda Bintang Hitam yang selama ini retak dan redup, mendadak berputar dengan kecepatan gila, menyala terang dengan cahaya ungu keemasan!
Perlu diketahui, di dalam Klan Dewa Bintang, setiap anggota keluarga memiliki Roda Bintang dengan atribut dan pemanggilan yang sama sekali berbeda. Roda milik paman atau sepupu mungkin berfokus pada elemen penghancur, namun Tujuh Roda Bintang milik Sang Ratu adalah tipe Pemanggilan Kosmik Mutlak kemampuan untuk membuka gerbang ke dimensi Binatang Suci primordial.
Seiring berputarnya ketujuh roda itu, segel kultivasi Sang Ratu yang telah lama mati akhirnya hancur lebur.
Aura spiritualnya melesat naik menembus akal sehat. Foundation Establishment... Core Formation... Nascent Soul... Soul Transformation... Ascendant... dan akhirnya berhenti di puncak absolut Tahap Akhir Nirvana!
WUUUUUSSSSH!
Langit fana di atas Kerajaan Zhao langsung bereaksi terhadap anomali ini. Dunia Tianyun yang rapuh tidak sanggup menahan keberadaan entitas Nirvana Akhir. Awan hitam pekat bergulung dalam sekejap mata menutupi matahari. Petir Surgawi berwarna merah darah menyambar-nyambar di balik awan, mengunci koordinat Sang Ratu, bersiap menjatuhkan hukuman pemusnahan karena melanggar batas dunia bawah!
Raja Zhao, Zhao Tian, dan Zhao Ling yang berada di paviliun lain berhamburan keluar dengan wajah pucat pasi melihat petir yang tiba-tiba turun di atas rumah mereka.
"Petir Surgawi?!" Sang Ratu mendongak, matanya yang kini memancarkan keagungan seorang dewi bintang berkilat tajam. Air mata haru dan kebahagiaan mengalir di pipinya. Kekuatannya telah kembali!
Menyadari bahaya yang mengancam keluarganya, Sang Ratu dengan cepat melakukan segel tangan kuno. Ia meredam ketujuh Roda Bintangnya dan menyembunyikan kultivasi Nirvana-nya kembali ke kedalaman Dantian-nya yang kini utuh. Ia menekan auranya hingga tidak tersisa sedikit pun.
Kehilangan targetnya, awan Petir Surgawi di langit menggeram kecewa sebelum akhirnya perlahan memudar dan menghilang, mengembalikan langit pagi yang cerah.
Sang Ratu jatuh berlutut di tanah, menangis terisak-isak sambil memeluk dadanya. "Dantian-ku... utuh kembali. Roda Bintangku hidup. Siapa... ahli dewa tak kasat mata mana yang selalu melindungi Kerajaan Zhao ini dan kini menyembuhkanku?"
Zhao Xuan, yang sejak tadi berdiri mematung memancarkan kepolosan, segera berlari dan memeluk ibunya. "Ibunda! Ibunda kenapa menangis? Apa tehnya terlalu panas?"
Sang Ratu memeluk Zhao Xuan dengan sangat erat, menciumi puncak kepala putranya. "Tidak, sayang. Ibunda menangis karena bahagia. Mulai sekarang, tidak ada satu pun dewa dari Benua Tengah yang bisa menyentuh keluarga kita!"
Namun, saat pelukan itu merenggang, mata tajam Sang Ratu yang kini telah kembali ke ranah Nirvana menangkap sesuatu yang janggal. Ia menatap lekat-lekat pada jari telunjuk kiri Zhao Xuan.
Cincin abu-abu kusam itu. Sebelumnya, Sang Ratu tidak bisa merasakan apa-apa dari cincin itu karena Dantian-nya hancur. Tapi sekarang, dengan indera Nirvana-nya yang tajam, ia bisa melihat fluktuasi dimensi yang sangat masif tertutup dengan kikuk di dalam cincin tersebut.
"Xuan'er," suara Sang Ratu tiba-tiba berubah sangat lembut, namun nadanya mengandung otoritas seorang ibu yang tidak bisa dibantah. "Coba Ibunda lihat cincin mainan yang selalu kau pakai itu."
Jantung Zhao Xuan yang semalam baru saja membantai ratusan iblis tanpa berkedip tiba-tiba berdetak lebih cepat. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya.
"I-Ini cuma cincin batu biasa, Ibunda. Guru bela diriku yang memberikannya dari pasar loak," kilah Zhao Xuan, mencoba menyembunyikan tangannya ke belakang punggung.
"Berikan pada Ibu. Sekarang." Sang Ratu menengadahkan tangannya, tersenyum manis namun matanya menyipit penuh selidik.
Tidak berani melawan wanita yang baru saja memeluknya sambil menangis itu, Zhao Xuan dengan tangan gemetar melepaskan Cincin Jiwa Kuno dan meletakkannya di telapak tangan ibunya.
Sang Ratu mengalirkan setitik Qi Nirvana-nya untuk mengintip ke dalam ruang penyimpanan cincin tersebut.
Hanya dalam sedetik, wajah Sang Ratu membeku.
Di dalam ruang cincin itu, terhampar gunung Batu Spiritual tingkat tinggi, ribuan senjata spiritual, ratusan peti herbal berharga, dan gunung kristal Yin murni (harta karun yang baru saja dirampok Zhao Xuan dari Gerbang Neraka semalam, ditambah sisa rampasan Klan Yao). Jumlah kekayaan itu setara dengan perbendaharaan setengah benua!
Sang Ratu menarik napas panjang. Ia menatap Zhao Xuan yang kini sedang bersiul pelan sambil melihat ke arah langit-langit paviliun.
Anak ini... tidak memiliki kultivasi Qi, dari mana dia mendapatkan ini semua? batin Sang Ratu tercengang. Lalu, logika keibuannya mengambil kesimpulan yang paling "masuk akal". Pasti ahli dewa tak kasat mata itu yang menitipkannya pada Xuan'er! Ahli itu menyembuhkan Dantian-ku, dan meninggalkan sumber daya ini agar aku bisa membangkitkan garis keturunan anak-anakku!
"Xuan'er," Sang Ratu tersenyum cerah, senyum yang membuat Zhao Xuan merasakan firasat sangat buruk. "Mulai hari ini, cincin ini Ibu sita."
"A-Apa?!" Mata Zhao Xuan terbelalak, topeng anak polosnya nyaris retak. "T-Tapi Ibunda, itu hadiah untukku—"
"Tidak ada tapi-tapian," potong Sang Ratu tegas, langsung memasukkan cincin itu ke dalam kantong lengannya sendiri. "Anak kecil berusia dua belas tahun tidak boleh membawa barang-barang berbahaya. Ibu akan menyimpannya untuk keperluan masa depan keluarga kita."
Di dalam lautan kesadaran Zhao Xuan, terdengar suara tawa terbahak-bahak yang mencoba ditahan. Itu adalah suara Gu Tianxue, sang Iblis Tua yang kini jiwanya terikat pada Zhao Xuan, bukan pada cincinnya.
"Pffft... BWAHAHAHAHA! Astaga, Tuan Asura!" Gu Tianxue tertawa berguling-guling dalam kesadaran spiritual Zhao Xuan. "Tuan memeras waktu, merobek ruang, dan membantai iblis raksasa demi harta itu... lalu dirampok habis-habisan oleh ibu Tuan sendiri hanya dengan satu kalimat?! Bahkan seorang God Emperor tidak berdaya menghadapi sitaan ibu!"
"Diam kau, Iblis Tua," geram Zhao Xuan dalam hati, menggertakkan giginya. "Jika kau tertawa sekali lagi, aku akan melipat dimensimu menjadi bentuk kubus!"
Gu Tianxue langsung bungkam, meski masih terdengar suara cekikikan kecil yang membuat Zhao Xuan mendengus kesal. Usahanya merampok Gerbang Neraka semalam resmi lenyap tak berbekas dalam hitungan detik.
Beberapa menit kemudian, Raja Zhao, Zhao Tian, dan Zhao Ling tiba di taman dengan napas terengah-engah setelah melihat kilatan petir tadi.
"Istriku! Apa kau tidak apa-apa?!" Raja Zhao memeluk Sang Ratu dengan panik.
"Aku baik-baik saja, Suamiku," Sang Ratu tersenyum kejam yang sangat jarang ia perlihatkan. Ia menatap Zhao Tian dan Zhao Ling dari atas ke bawah.
Kini setelah Dantian-nya pulih dan tangannya memegang sumber daya yang luar biasa melimpah (hasil "sitanya" dari Zhao Xuan), Sang Ratu tahu persis apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi invasi dunia luar. Garis keturunan Klan Dewa Bintang anak-anaknya harus dibangkitkan secara paksa!
"Tian'er. Ling'er," suara Sang Ratu mengalun dingin, memancarkan wibawa Jenderal Bintang yang membuat kedua anaknya itu merinding ketakutan. "Mulai siang ini, kalian berdua akan ikut Ibu ke ruang bawah tanah istana."
"A-Ada apa, Ibunda? Kami harus berlatih militer..." Zhao Tian meneguk ludah.
"Ibu yang akan melatih kalian," Sang Ratu melipat tangannya, matanya berkilat menakutkan. "Ibu akan menggunakan seluruh herbal tingkat tinggi dan batu spiritual (melirik Zhao Xuan) untuk merendam kalian di dalam kawah pembersihan sumsum. Kalian tidak akan keluar dari ruangan itu sebelum tulang kalian patah dan tersambung kembali seratus kali, sampai salah satu Roda Bintang kalian bangkit!"
Wajah Zhao Ling memucat pasi teringat lumpur hitam di pagi sebelumnya. "T-Tapi Ibunda, bagaimana dengan Xuan'er?!"
Sang Ratu menatap Zhao Xuan yang masih berdiri dengan wajah polos, lalu mengusap kepala anak bungsunya dengan penuh kasih sayang.
"Xuan'er masih terlalu kecil dan rapuh. Garis keturunannya mungkin belum matang. Dia boleh tidur siang dan bermain di taman. Kalian berdua yang tertua, kalian yang harus menanggung penderitaan ini!"
"TIDAAAK! INI TIDAK ADIL!" jerit Zhao Tian dan Zhao Ling bersamaan saat mereka diseret tanpa ampun oleh Qi Sang Ratu menuju ruang penyiksaan maksudnya, ruang pelatihan bawah tanah.
Melihat kepergian kakak-kakaknya yang diseret menuju neraka pelatihan, Zhao Xuan hanya bisa berdiri di tengah taman bunga yang damai. Ia menghela napas panjang, menatap tangannya yang kini tanpa Cincin Jiwa Kuno. Harta dan cincinnya mungkin disita, namun Roda Bintang Gravitasi, Ruang, dan Waktu di dalam jiwanya adalah hal yang tidak bisa diambil oleh siapa pun.
"Setidaknya, aku tidak perlu repot-repot memikirkan cara membangkitkan garis darah Kak Tian dan Kak Ling lagi," gumam Zhao Xuan menghibur dirinya sendiri. "Dan aku bebas tidur siang."