Alexandra Quina tak punya pilihan selain menerima tawaran gila Nenek Evelyn, majikannya yang lumpuh. Sebagai perawat yatim piatu, hidupnya berubah total saat diminta menikahi Nicholas—cucu Evelyn yang koma selama dua tahun hanya demi memberikan keturunan bagi keluarga Rich melalui prosedur medis.
Harta dan kehidupan layak sudah di depan mata. Namun, saat janin mulai tumbuh, Evelyn meninggal. Di tengah ancaman pembunuhan dari keluarga Nicholas, Alexa memilih lari dan menghilang tanpa jejak.
Lima tahun kemudian, Nicholas terbangun sebagai—Presiden Gila—yang arogan dan tak tersentuh. Hingga di sebuah kompetisi renang, seorang gadis kecil menarik jas mahalnya dengan berani.
“Om Plesdil, mau ndak jadi Daddy kita?”
“Aku sudah punya istri,” jawab Nicholas dingin.
“Buang aja istlinya, Om itu Daddy kita.”
Nicholas mengira itu lelucon, sampai empat anak lainnya muncul dengan wajah yang merupakan jiplakan dirinya. Saat ia berhasil menemukan Alexa, Nicholas mengira ia bisa mengatur wanita itu dengan mudah. Tapi ia salah.
“Kalau mereka anakmu, apa yang kau mau? Hak asuh?” tantang Alexa.
“Ayo menikah!” titah Nicholas.
“Jadi istri kedua? No way! Lebih baik aku menjanda selamanya daripada jadi madumu. Jangan kira aku lemah seperti dulu!”
Alexa yang dulu penurut telah berubah menjadi wanita cerdas dan tangguh. Itu membuat Nicholas justru makin tergila-gila.
Akankah Nicholas berhasil menaklukkan hati Alexa yang sedingin es dan sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. Cari Siapa?
Mobil Kattie melaju membelah malam. Bukannya menuju terminal atau jalan raya utama, Mona justru mengarahkan kendaraan itu ke area jalan yang sepi tanpa penerangan.
Saat meninggalkan mansion Robertho dengan mobil Kattie, Alexa sudah mulai merasa ada yang tak beres. Ia menoleh ke arah Mona yang tampak fokus menyetir dengan wajah datar.
"Mona, kenapa kita lewat jalan ini? Di sini sepi banget, nggak ada siapa-siapa, lho. Kamu nggak salah jalan, kan?" tanya Alexa deg-degan.
Mobil itu tiba-tiba berhenti di pinggir jalan. Suara Mona yang biasanya lembut dan penuh perhatian, seketika berubah menjadi sedingin es saat satu kata keluar dari bibirnya.
"Keluar!"
"Ha? Keluar? Ta-pi aku—” putus Alexa begitu Mona menodongkan sebilah pisau tepat ke arah wajahnya. Kilatan logam tajam itu memantulkan cahaya bulan yang pucat.
Alexa terkesiap. Sahabat yang paling ia percayai, kini menatapnya dengan tatapan kosong penuh kebencian.
Mona terus mengarahkan ujung pisau itu ke arah perut Alexa. Napasnya memburu serta matanya memerah menahan sesuatu yang berkecamuk dalam dadanya.
"Keluar, Al! Aku bilang keluar!" bentak Mona parau.
Dengan susah payah, Alexa membuka pintu mobil. Ia melangkah turun dengan hati-hati sambil memegangi perutnya yang terasa kian berat dan kencang. Di sekeliling mereka hanya ada pepohonan rimbun dan kegelapan malam yang pekat. Dinginnya angin malam menusuk hingga ke tulang, namun tak sedingin tatapan Mona saat ini.
"Kenapa, Mon?"
"Kenapa kau tiba-tiba begini?" tanya Alexa menuntut penjelasan. Air matanya mulai menggenang.
Mona tak menjawab. Ia ikut keluar dari mobil melangkah maju hingga ujung pisaunya nyaris menyentuh gaun yang dikenakan Alexa.
"Gimana sama persahabatan kita? Mona, kita sudah bersama bertahun-tahun, lho! Pikirkan perasaanku saat ini, Mon,” seru Alexa menepuk dadanya yang sesak.
Ia kemudian mundur perlahan sampai punggungnya membentur pohon besar. Alexa ingin sekali lari tapi tubuhnya yang hamil besar tak lagi bisa diajak berkompromi. Jangankan berlari, untuk berdiri tegak saja ia sudah kewalahan. Kini, ia hanya bisa memohon pada sahabat yang paling ia percayai.
"Tolong, Mon... kalau kamu benci aku, jangan libatkan bayi ini. Dia nggak salah apa-apa. Mon, kamu sahabat terbaikku. Kamu nggak mungkin setega ini..."
Mona berhenti melangkah. Ia menunduk dalam-dalam, menatap tanah yang gelap. Genggamannya pada pisau dapur itu mengencang. Badannya gemetar hebat seperti sedang bertarung dengan iblis di dalam kepalanya sendiri.
"Aku tidak membencimu..." bisik Mona lirih, suaranya hampir hilang ditelan angin.
"Kattie… dia mengancam keluargaku, Al. Adikku… dia akan dibunuh kalau aku nggak habisin kamu malam ini."
Mona mengangkat wajahnya, menatap Alexa dengan tatapan keputusasaan. "Persahabatan kita nggak ada harganya di mata orang kaya itu, Al! Mereka bisa beli segalanya, termasuk nyawa kamu!"
Mona melangkah maju lagi sambil mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Di bawah sinar bulan, logam itu berkilat mengerikan, siap untuk mengakhiri segalanya.
"Maafkan aku, Al... maafkan aku!" teriak Mona pecah oleh tangis.
"Mon, dengerin aku..." lirih Alexa tak lagi mundur. Ia justru melangkah maju dan membiarkan ujung pisau itu nyaris menyentuh dadanya.
"Kalau membunuhku bisa menyelamatkan adikmu, lakukan. Kalau dengan kematianku kamu bisa bebas, silakan."
"Jangan sok pahlawan, Alexa! Kattie nggak main-main! Aku nggak punya pilihan!" pekik Mona.
"Kamu punya pilihan, Mon," potong Alexa, air matanya kini bercampur dengan rintik hujan gerimis yang mulai turun membasahi bumi.
"Kamu ingat? Kita tumbuh besar di panti asuhan yang sama. Kita makan satu piring, tidur satu ranjang sejak kecil. Kamu bukan cuma sahabat, Mon. Kamu itu kakakku. Aku sayang banget sama kamu, melebihi nyawaku sendiri."
Kata-kata—sayang—itu seperti peluru yang menusuk dada Mona. Ingatan masa kecil mereka di panti saat mereka saling menguatkan ketika lapar dan saat mereka berjanji akan sukses bersama berputar cepat di kepala Mona.
Klontang!
Pisau itu terjatuh ke aspal jalanan yang mulai basah. Tubuh Mona meluruh, jatuh berlutut di bawah rintikan gerimis. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, berteriak dalam tangisan.
"Apa yang aku lakukan... Tuhan, mengapa aku bisa sebodoh ini!" raung Mona histeris. "A-aku hampir membunuh sahabatku sendiri... hampir membunuh ka-kamu, Al!"
Alexa segera bersimpuh di depan Mona. Ia memeluk sahabatnya itu erat-erat tanpa peduli pada perutnya yang terhimpit. Mereka berdua terisak di tengah jalan yang sepi dan dingin itu.
"Pergi, Al... kamu harus pergi sekarang," isak Mona di sela tangisnya. Ia mencoba mendorong bahu Alexa.
"Kattie pasti akan mencarimu. Kalau dia tahu aku gagal, dia nggak akan tinggal diam. Lari selagi ada kesempatan!"
Alexa menggeleng kuat-kuat. Ia menggenggam tangan Mona yang dingin. "Enggak, Mon. Aku nggak akan pergi kalau kamu nggak ikut. Kita berangkat sekarang, berdua. Kita cari tempat yang nggak bisa dijangkau sama keluarga Robertho."
"Tapi keluargaku, adiku… Al...."
"Kita bangun mimpi baru bersama, Mon. Tapi aku nggak bisa sendirian. Aku butuh kamu," mohon Alexa dengan tatapan yang sangat tulus. “Ayo kita pergi dulu, Mon. Kita jemput adikmu pakai mobil itu. Percayalah padaku.”
Mona menatap wajah Alexa yang pucat namun penuh harap.
________
Apaaa?
Kalian kehilangan mereka?
Bahkan Adiknya pun tidak ada?
Sial! Bodoh!
Kalian semua tidak berguna!
Mati aja sana!
Pranggg!
Dengan kesal, Kattie melemparkan guci di atas meja ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Mukanya merah karena amarah.
“Dengan tubuh hamil seperti itu, kau masih saja lolos dari rencanaku. Brengsek! Pembantu itu juga bodoh!” umpat Kattie mendengus lalu menjatuhkan dirinya ke sofa.
“Benar kata Jessy, seharusnya aku bunuh saja dia sejak awal. Kalau begini, sia-sia saja aku menunggu!” lanjutnya frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah notif dari Jessy muncul di layar hpnya dan berhasil mereda emosi Kattie sementara. Tertulis bahwa adik tiri mereka sudah sadar.
“Nicholas sungguh sudah siuman?” Mengetahui hal itu, seolah mendengar badai bergemuruh. Ia ingin membalas pesan itu tapi pesan baru muncul lagi.
[Kat, gawat! Kayaknya Ayah udah mau terima bayi Alexa. Tapi kita nggak perlu khawatir, ada Ibu yang urus. Gimana rencanamu di situ? Berhasil nggak?]
Kattie menggigit bibir bawahnya, bingung bagaimana menjawab pesan adiknya.
[Aman, udah aku beresin si babu jelek itu bersama pembantu idiot itu. Sekarang kamu fokus awasi Ayah sama Nicho]
Ting!
Hanya stiker jempol yang Jessy kirim, tanda mengerti.
Ck, aku nggak bisa diam saja di sini. Aku harus sewa orang lain cari dua j4lang itu!
Kattie kembali mengirim pesan misterius ke seseorang.
_______
Di sisi lain, sebuah mobil melaju cepat meninggalkan kota metropolitan itu sebelum jejaknya tercium pembunuh bayaran. Ia tak lain adalah Mona yang sudah membeli mobil baru hasil menjual mobil Kattie berkat usulan dari Alexa. Alexa yang duduk di kursi tengah tampak mengelus perutnya dan sesekali melirik ke arah gadis kecil yang merupakan adik Mona.
“Cantik juga adiknya Mona,” gumam Alexa membelai rambut gadis kecil itu yang terlelap.
“Mon, sebelum ke bandara, kita singgah rumah sakit dulu yuk. Aku belum melakukan pemeriksaan bulan ini,” mohon Alexa.
Mona langsung menancap gas. Tak lama kemudian, dua wanita itu masuk ke rumah sakit, meninggalkan Naira di mobil karena tak tega membangunkannya.
Setelah diperiksa menyeluruh, sontak saja dua wanita itu kaget bukan main. Matanya melotot serasa mau copot.
“Alhamdulillah, bayi-bayi Ibu sehat,” ucap Dokter.
“HA?! BAYI-BAYI?”
“Bayinya nggak cuma satu, Dok?” tanya Mona.
Dokter mengangguk sambil tersenyum.
“Berapa bayinya, Dok? Dua biji?”
Dokter menggeleng lalu mengangkat semua jari tangan kanannya. “Lima biji—eh maksud saya.. lima anak, Bu.”
Jeddarr! Jeddar! Jeddar!
Whatt? Li-lima sekaligus?
BRUK!
Dokter sontak berdiri karena syok tapi lebih syok lagi Alexa yang melihat Mona jatuh dari kursi dan hampir saja pingsan.
"Lho aku yang hamil, kok Mona yang pucat? Harusnya itu aku, kan?" gumam Alexa bingung.
Usai melakukan pemeriksaan, mereka kembali ke mobil dan disambut senyum hangat dari Naira.
Kalian berdua dari mana saja?
Gadis kecil itu bertanya melalui isyarat tangan.
Alexa tersenyum lalu membalas dengan isyarat.
Kami habis periksa kandungan. Maaf sudah membuat Naira menunggu.
Apa itu kandungan? Tanya Naira lagi.
Mona pun menunjuk perut Alexa.
Maksudnya… Naira akan segera punya lima adik.
Lima adik, Kak? Mata Naira membulat sempurna.
Plak! Alexa menepuk jidat sendirinya.
Bukan lima Adik, Mona. Tapi lima keponakan. Kamu kira aku ini Ibumu?
Gemas Alexa, tapi Mona malah tertawa, disusul Naira merasa senang ia akan punya lima teman bermain.
Kakak Alexa sudah punya nama untuk mereka? Tanya gadis kecil manis itu lagi.
Astaga...
Aku nggak pernah kepikiran sampai kesitu!
Hahaha…
Mereka tertawa bersama, tawa yang mencairkan suasana tegang dan rasa takut di antar mereka. Alexa lalu mengusap pipi Naira, kemudian pindah mengusap lembut perutnya. Alexa berharap ia mampu bertahan sampai kelima anaknya berhasil dilahirkan selamat.
Di sisi lain, Anggina tengah memeluk Nicholas yang sepenuhnya telah sadar. Namun pria itu tampak mencari-cari seseorang sambil memegang kepalanya yang masih terasa pening.
“Cari siapa, Nico?” tanya Anggina.
“A-alexa... Sama Nenek juga kemana?"
Anggina kira Nicholas akan menyebut nama kekasihnya, tapi rupa-rupanya si perawat itu.
______
______
Jangan lupa like, komen, vote, dan subscribed supaya author semangat nulis sampai tamat>Terima kasih~
To be continued...