Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGETUK "PINTU" JANTUNG BAJA IBLIS
Debu pasir yang membubung tinggi perlahan mulai menipis, tersapu angin gunung yang berhembus kencang. Ribuan pasang mata di tribun penonton terpaku, menahan napas mereka. Tidak ada yang bersorak. Semua menunggu kepastian: apakah murid Level Nol itu sudah berubah menjadi bubur daging?
"Hah... hah... hah..."
Suara napas berat terdengar dari tengah kabut debu.
Wang Wei berdiri tegak dengan senyum kemenangan di wajahnya. Dia bisa merasakan hantaman tinjunya tadi mendarat telak. Tidak ada tulang manusia yang bisa bertahan dari pukulan seberat lima ton itu.
"Menyedihkan," cibir Wang Wei, menurunkan kepalan tangannya yang berasap. "Hanya segitu kemampuanmu? Bahkan tidak sempat menjerit?"
"Mas..."
Sebuah suara datar dan sedikit serak terdengar dari balik debu di depannya. Senyum Wang Wei seketika luntur.
Angin menyapu sisa debu terakhir, memperlihatkan Feng yang masih berdiri di sana. Kakinya memang terdorong mundur hingga membuat parit panjang di pasir sepanjang sepuluh meter, tapi dia masih berdiri tegak.
Feng menurunkan kedua lengannya yang tadi bersilang. Lengan jubahnya sudah hancur total, memperlihatkan otot-otot lengannya yang memerah dan mengeluarkan uap panas, tapi tidak ada tulang yang patah.
"Pijatannya lumayan, Mas," ucap Feng sambil memutar bahunya hingga berbunyi *kretek*. "Tapi agak kekencengan di bagian kiri. Nanti tolong dikurangi tenaganya sedikit, ya. Saya takut masuk angin."
Mata Wang Wei melotot nyaris keluar dari rongganya. "K-Kau... Kau masih hidup?! Bagaimana bisa?! Tinjuku tadi dilapisi Aura Penghancur Tulang!"
"Ya, untungnya tulang saya rajin minum susu kalsium," jawab Feng asal.
Padahal, di dalam kepalanya, notifikasi sistem sedang berbunyi gila-gilaan.
SISTEM: PERINGATAN KERUSAKAN JARINGAN OTOT LENGAN: 45%.
SISTEM: KALKULASI TAKTIK SELESAI.
METODE: RESONANSI GETARAN.
TARGET: MEMUTUSKAN JARINGAN PENGIKAT INTI BAJA DARI DALAM. JANGAN HANCURKAN BAJANYA, TAPI GETARKAN ISI DADANYA SAMPAI JANTUNGNYA MUNTAH KELUAR.
Feng menyeringai lebar melihat notifikasi itu. "Oh, jadi main ketuk pintu, ya? Oke, saya paham."
Wang Wei yang merasa dihina kembali meraung marah. Inti Baja Iblis di dadanya bersinar merah menyala, memompa tenaga dua kali lipat lebih besar.
"JANGAN SOMBONG, SAMPAH! ITU HANYA KEBERUNTUNGAN!"
Wang Wei kembali menerjang maju. Kali ini dia tidak menggunakan satu tinju, melainkan rentetan pukulan bertubi-tubi.
"MATI! MATI! MATI!"
Setiap pukulan Wang Wei menciptakan ledakan sonik kecil. Namun, kali ini Feng tidak bertahan. Dengan kelincahan yang diperkuat sistem, Feng meliuk-liuk di antara hujan tinju raksasa itu.
Feng bergerak seperti belut licin. Dia merunduk, melompat ke samping, lalu tiba-tiba meluncur ke bawah selangkangan Wang Wei dan muncul di belakang punggungnya.
"Giliran saya yang memukul, ya!" seru Feng.
Feng melompat ke depan dada Wang Wei. Tangan kanannya menggenggam erat palu kayu pemecah kepiting yang terlihat konyol itu.
"Hahahaha! Apa itu?!" tawa Wang Wei mengelegar melihat senjata Feng. "Kau mau memukul Inti Baja Iblis dengan mainan anak-anak?! Silakan! Pukul sekeras-kerasnya! Kau hanya akan menghancurkan tanganmu sendiri!"
Wang Wei membusungkan dadanya dengan sombong, sengaja membiarkan Feng memukul inti kelemahannya. Dia yakin seratus ribu persen, baja iblis itu tidak akan tergores.
Feng tidak mempedulikan ejekan itu. Matanya terkunci pada satu titik di tengah dada Wang Wei.
"Permisi! Paket!" teriak Feng.
*TOK!*
Palu kayu kecil itu mendarat tepat di tengah Inti Baja Iblis.
Suaranya bukan suara hantaman keras, melainkan suara ketukan kayu yang nyaring dan... aneh.
"Hah?" Wang Wei bengong. Dia tidak merasakan sakit sama sekali. "Itu seranganmu? Menggelitik saja ti—"
*TOK! TOK! TOK!*
Feng tidak berhenti. Tangannya bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Dia mengetuk titik yang sama berulang-ulang dengan irama yang sangat spesifik dan konstan.
*TOK-TOK-TOK-TOK-TOK!*
"Apa yang kau lakukan, Bodoh?!" Wang Wei mencoba menepis Feng, tapi Feng menempel di tubuhnya seperti koala, kakinya melilit pinggang Wang Wei sementara tangannya terus mengetuk dada baja itu.
"Sistem! Pertahankan frekuensinya!" batin Feng.
SISTEM: FREKUENSI RESONANSI TERKUNCI PADA 40 HERTZ. MENINGKATKAN AMPLITUDO GETARAN KE ORGAN DALAM.
Awalnya Wang Wei masih tertawa. Tapi di ketukan ke-lima puluh, tawanya mendadak berhenti.
Wajah Wang Wei berubah hijau. Dia merasakan sesuatu yang aneh di dalam rongga dadanya. Rasanya bukan sakit di kulit, tapi... jantungnya seperti sedang dikocok di dalam toples.
"Uhuk!" Wang Wei terbatuk. Bukan darah, tapi air liur asam. "K-kenapa... kenapa dadaku mual?"
"Tahan sebentar, Mas. Ini paketnya belum sampai ke dalam!" Feng mempercepat ketukannya.
*TRRRRRRRT!*
Suara palu kayu itu kini terdengar seperti suara bor jalanan saking cepatnya. Getaran yang dihasilkan merambat lewat Inti Baja Iblis, tapi tidak diserap oleh bajanya. Getaran itu diteruskan langsung ke daging lunak di balik baja—jaringan otot yang menahan inti tersebut agar tetap menempel di tubuh Wang Wei.
"Hentikan! HENTIKAN!" Wang Wei mulai panik. Kakinya goyah. Dia merasa organ dalamnya berputar-putar. Pandangannya kabur. Inti Baja di dadanya mulai terasa panas membara, bukan karena energinya, tapi karena gesekan getaran yang ekstrem.
"LEPAS!" Wang Wei memukul punggung Feng sekuat tenaga, tapi Feng menggigit kerah baju Wang Wei agar tidak terlempar.
"DIKIT LAGI! KELUAR KAU!" teriak Feng dengan mulut penuh kain baju.
SISTEM: INTEGRITAS JARINGAN PENGIKAT JANTUNG MENURUN KE 10%. SUHU INTI MENCAPAI TITIK DIDIH. SIAPKAN PUKULAN TERAKHIR UNTUK EJEKSI!
Feng melepaskan gigitannya. Dia melompat mundur ke udara, melakukan salto satu kali untuk mengambil momentum, lalu mengangkat palu kayu kecil itu tinggi-tinggi.
"Jurus Ketuk Pintu Penagih Utang: BAYAR SEKARANG!"
Feng mengayunkan palu itu sekuat tenaga, dibantu gaya gravitasi dan ledakan otot lengan kanannya.
*PRAAAANG!!!*
Suara yang terdengar kali ini sangat nyaring, seperti lonceng raksasa yang dipukul tepat di samping telinga. Palu kayu di tangan Feng hancur berkeping-keping menjadi serbuk gergaji.
Dada Wang Wei membusung ke depan secara tidak wajar. Matanya melotot putih semua.
"HOEEEK!"
Mulut Wang Wei terbuka lebar, memuntahkan darah hitam. Namun, yang paling mengerikan terjadi di dadanya.
Akibat getaran resonansi yang mencapai puncaknya, Inti Baja Iblis itu tidak pecah, tapi... *terlepas*.
*POP!*
Suara letupan basah terdengar jelas. Bongkahan logam hitam sebesar kepalan tangan orang dewasa itu terlontar keluar dari rongga dada Wang Wei, melesat ke udara membentuk parabola yang indah.
Hening.
Satu stadion sunyi senyap. Ribuan orang menatap dengan mulut menganga pada benda hitam yang melayang di udara itu.
Wang Wei jatuh berlutut, memegangi dadanya yang kini bolong dan kosong. Dia menatap ngeri ke arah sumber kekuatannya yang terbang menjauh. Tanpa inti itu, dia hanyalah manusia biasa yang cacat.
"Intiku... Jantungku..." rintih Wang Wei lemah, tangannya menggapai-gapai udara.
Feng mendarat dengan mulus di pasir. Dia meniup sisa serbuk kayu di tangannya. "Wah, copot beneran. Sistem fisika memang tidak pernah bohong."
Namun, horor yang sebenarnya baru dimulai.
Di pinggir arena, sepasang mata perak sudah mengunci target sejak benda itu melayang di udara.
Buntel, yang sejak tadi diikat rantai di tiang beton, sudah memperhitungkan lintasan benda itu dengan akurasi matematika tingkat naga.
"Kyuk!"
Buntel menarik napas dalam-dalam, lalu menyemburkan api kecil ke arah rantai emas yang mengikatnya. Emas itu meleleh sedikit, cukup untuk membuatnya longgar.
Dengan satu sentakan kuat...
*KRAK!*
Rantai itu putus.
Buntel melompat ke udara dengan gerakan *slow motion* yang agung. Mulutnya terbuka lebar, menampilkan deretan gigi tajam dan tenggorokan yang siap menerima asupan gizi.
"JANGAN!!!" jerit Wang Wei histeris. "JANGAN DIMAKAN!!! ITU HARTA KELUARGAKU!!!"
Terlambat.
*HAP.*
Buntel menangkap Inti Baja Iblis itu tepat di titik tertinggi lompatannya.
Naga buncit itu mendarat di pasir dengan gaya superhero, lalu melakukan gerakan menelan yang sangat jelas.
*GULP.*
Leher Buntel menggembung sebentar saat benda keras itu turun ke perutnya, lalu kembali normal.
"Buuurp."
Sebuah sendawa panjang yang berbau besi terbakar keluar dari mulut naga itu. Asap hitam tipis mengepul dari hidungnya.
Buntel menepuk-nepuk perutnya dengan puas, lalu menatap Wang Wei sambil nyengir, memamerkan gigi-giginya yang bersih.
Wang Wei menatap kosong. Wajahnya lebih pucat dari mayat. Dunianya runtuh. Kekuatan yang dia banggakan, yang dia dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa di Hutan Kematian, kini menjadi camilan seekor naga buncit di siang bolong.
"K-kau..." Wang Wei menunjuk Feng dengan jari gemetar, lalu matanya berputar ke atas.
*BRUK.*
Wang Wei jatuh pingsan dengan wajah mencium pasir arena. Busa putih keluar dari mulutnya karena syok berat.
Wasit arena berdiri mematung di pinggir lapangan. Benderanya masih terangkat setengah, lupa diturunkan. Dia menatap Feng, lalu menatap Buntel, lalu menatap tubuh Wang Wei yang berlubang dadanya (tapi untungnya tidak mati karena kultivator tingkat tinggi masih bisa hidup tanpa inti tambahan, meski jadi cacat).
"P-Pemenangnya..." Wasit menelan ludah, suaranya terdengar mencicit di pengeras suara sihir. "...MURID FENG! MELAJU KE SEMI-FINAL!"
"YEEEEEAAAAHHH!!!"
Tribun meledak. Kali ini bukan sorakan kekaguman, tapi sorakan kegilaan murni.
"Gila! Dia benar-benar mencopot jantung baja pakai palu kayu!"
"Naga itu memakannya! Naga itu benar-benar memakannya!"
"Siapa lawan berikutnya?! Siapa yang berani lawan orang gila ini?!"
Di tribun VIP, Long Chen yang duduk di barisan murid inti meremas sandaran kursinya hingga hancur menjadi bubuk. Wajah tampannya kini dipenuhi keringat dingin.
Feng menang lagi. Dan kali ini, dia mengalahkan peringkat sepuluh murid inti tanpa menggunakan senjata tajam, hanya dengan "mengetuk pintu".
"Monster..." desis Long Chen. "Dia bukan manusia... Dia monster berwujud murid luar."
Feng berjalan menghampiri Buntel, lalu menjitak pelan kepala naga itu.
"Sudah kubilang jangan dimakan semua! Nanti kau sakit perut makan besi kotor begitu!" omel Feng layaknya ibu-ibu memarahi anaknya yang jajan sembarangan.
"Kyuk?" Buntel memasang wajah polos tanpa dosa, lalu memuntahkan sedikit lempengan emas—sisa rantai pengikat tadi—sebagai tanda dia masih punya ruang di perutnya.
Feng menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah tribun VIP, tepat ke arah Patriark yang sedang memijat pelipisnya dengan kedua tangan.
"Pak Patriark!" teriak Feng santai. "Lawan selanjutnya siapa? Kalau bisa yang senjatanya dari bahan organik saja ya, naga saya kolesterolnya naik kalau makan besi terus."
Patriark tidak menjawab. Dia hanya melambaikan tangan lemah, memberi isyarat agar Feng segera pergi dari hadapannya sebelum dia terkena serangan stroke mendadak.
Namun, di balik bayang-bayang lorong peserta, sepasang mata yang jauh lebih dingin dan tua dari siapa pun sedang mengamati Feng.
"Menarik," gumam suara itu. "Tubuh tanpa Qi yang bisa beresonansi dengan materi... Dia adalah wadah yang sempurna untuk *Eksperimen Terlarang*."
Sosok itu melangkah mundur ke dalam kegelapan, meninggalkan jejak aura berwarna ungu beracun yang mematikan rumput di sekitarnya. Babak Semi-Final tidak akan semudah memukul baja. Feng akan menghadapi mimpi buruk yang sesungguhnya.