Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: JEJAK YANG TERHAPUS SALJU
Napas Kai memburu, membentuk kepulan uap putih yang tebal di udara yang membeku. Di belakang mereka, suara deru mesin *snowmobile* mulai memecah kesunyian hutan pinus, memantul di antara batang-batang pohon yang menjulang seperti raksasa hitam.
"Lewat sini!" Kai menarik tangan Elara, membawa mereka masuk ke dalam celah sempit di antara dua tebing batu yang tertutup es.
Langkah kaki mereka terasa berat. Salju setinggi lutut menyerap setiap gerakan, membuat pelarian ini terasa seperti mimpi buruk di mana mereka berlari di tempat. Kai meraba tabung kaca di sakunya—benda itu masih di sana, memancarkan rona biru samar yang seolah menembus kain mantelnya.
"Kai... mereka semakin dekat," bisik Elara. Suaranya gemetar, bukan hanya karena takut, tapi karena udara dingin yang mulai menusuk paru-parunya.
Kai berhenti sejenak, mengamati sekeliling dengan matanya yang kini jauh lebih peka terhadap gradasi cahaya. Ia menyadari sesuatu. Di depan mereka, terdapat sebuah danau yang membeku, permukaannya tertutup lapisan salju tipis yang menipu mata.
"Jangan injak bagian tengahnya," peringat Kai. "Ikuti jejak kakiku di tepian batu."
Saat mereka merayap di sepanjang pinggiran danau, dua sosok berpakaian hitam muncul di tepi tebing yang baru saja mereka tinggalkan. Salah satu dari mereka memegang perangkat pemindai termal.
"Mereka ada di bawah! Jangan biarkan mereka mencapai perbatasan hutan!" teriak salah satu pengejar.
Tiba-tiba, sebuah tembakan peringatan dilepaskan. Peluru itu menghantam batang pohon pinus di dekat Elara, mengirimkan serpihan kayu dan salju ke udara. Elara terpekik, kehilangan keseimbangan, dan hampir terperosok ke bagian es yang tipis.
Kai dengan cepat menangkap tubuh Elara. "Jangan lihat ke belakang! Teruslah bergerak!"
Di saat kritis itu, Kai melihat sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik akar pohon tua yang besar. Ia tahu mereka tidak bisa terus berlari lebih cepat dari mesin. Mereka harus menghilang.
"Masuk ke sana," perintah Kai, menunjuk ke lubang gelap di bawah akar.
Mereka meringkuk di dalam gua yang sempit dan berbau tanah lembap. Kai menutupi pintu masuk dengan dahan-dahan pinus yang jatuh, lalu menaburkan salju di atasnya untuk menghapus jejak kaki terakhir mereka. Di dalam kegelapan yang pekat, mereka duduk berhimpitan, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar oleh telinga pengejar yang tajam.
Hanya beberapa meter dari tempat mereka bersembunyi, suara mesin *snowmobile* melambat, lalu berhenti.
"Jejaknya berhenti di sini," suara seorang pria terdengar dingin, hanya terhalang oleh lapisan tipis dahan pinus. "Mereka tidak mungkin menghilang begitu saja."
"Mungkin mereka mencoba menyeberangi danau."
"Bodoh. Es itu akan pecah. Periksa sepanjang pinggiran danau. Yudha boleh saja gagal karena dia seorang kriminal amatir, tapi konsorsium kita tidak akan mentoleransi kegagalan. Pigmen itu harus ada di tangan kita malam ini."
Kai merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seperti genderang perang. Elara menggenggam tangannya erat, kuku-kukunya menusuk kulit Kai, namun Kai tidak bergerak sedikit pun. Ia menatap tabung 'Spektrum Biru' di genggamannya.
Warna itu... warna biru itu seolah berbicara padanya. Di tengah kegelapan gua, pigmen itu berpendar lebih terang.
"Kai," bisik Elara sangat pelan, nyaris tak terdengar. "Gunakan suaraku."
Kai mengernyit, tidak mengerti.
"Ingat apa yang dikatakan ayahmu? Spektrum bereaksi terhadap harmoni," Elara menempelkan tangannya pada tabung kaca itu. "Jika aku menyanyi dalam frekuensi tertentu... mungkin pendaran ini bisa membingungkan sensor termal mereka. Cahaya dan suara yang menyatu bisa menciptakan distorsi."
Kai ragu. "Tapi jika kau bersuara, mereka akan menemukan kita."
"Bukan suara keras. Senandung frekuensi rendah. Percayalah padaku."
Elara mulai bersenandung. Itu adalah nada yang sangat rendah, sebuah resonansi yang lebih terasa sebagai getaran daripada suara. Ajaibnya, serbuk biru di dalam tabung mulai bergejolak, menciptakan gelombang cahaya yang tidak menyebar, melainkan terperangkap di dalam struktur kristal gua yang lembap.
Di luar, pria-pria itu mulai kebingungan. "Apa-apaan ini? Pemindainya gila! Sinyal panasnya menyebar ke seluruh penjuru gua dan dinding batu. Aku tidak bisa menemukan titik pusatnya!"
"Sialan! Pasti ada gangguan geomagnetik di lembah ini. Ayo cari ke arah tebing atas!"
Suara langkah kaki dan mesin menjauh, meninggalkan Kai dan Elara dalam keheningan yang menyesakkan. Kai mengembuskan napas panjang yang telah ia tahan selama berabad-abad.
"Kau melakukannya, Elara. Kau benar-benar melakukannya," bisik Kai. Ia menatap Elara dengan kekaguman yang baru. Wanita ini bukan lagi sekadar seseorang yang perlu ia lindungi; dia adalah kekuatannya.
Mereka menunggu hingga beberapa jam, sampai bintang-bintang mulai muncul di celah-celah dahan pinus. Saat mereka keluar dari persembunyian, dunia tampak berbeda bagi Kai. Dengan tabung biru di sakunya, ia mulai melihat bukan hanya warna, tapi aura dari segala sesuatu—kehangatan dari pohon, dinginnya es, dan kehidupan di dalam napas Elara.
"Kita harus kembali ke kota pusat," kata Kai, menatap cakrawala. "Tapi kita tidak akan lewat jalur biasa. Kita akan membawa pigmen ini ke Lumina Corp dan mengungkapkannya kepada dunia sebelum konsorsium ini bisa mengklaimnya."
"Dan kali ini," Elara menambahkan, "dunia tidak akan melihatnya melalui monitor atau layar digital. Mereka akan merasakannya melalui pameran 'Spektrum Hidup'."
Kai mengangguk. Perjalanan menembus salju malam itu menjadi saksi bisu lahirnya sebuah aliansi baru. Bukan lagi pelukis dan penyanyi yang hancur, melainkan dua pencipta yang siap mengubah dunia dengan frekuensi cahaya dan suara yang paling murni.
Di kejauhan, lampu-lampu Oakhaven berkedip, menyambut kembalinya sang pembawa warna.