Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan kecil
Drrrrrt ....
Ada suara getaran handphone. Rupanya milik Alana yang bertengger di atas meja.
Alana meraihnya. Ia mengangkat panggilan yang mungkin dari salah satu temannya.
"Halo!" sapa Alana. Ia tampak mendengarkan ucapan seseorang di seberang telepon.
"Job? Kapan?" Ia menimpalinya.
"Besok?
"Aku pikir-pikir dulu ya. Soalnya aku_" Alana tampak kesusahan memberi alasan.
Aku tahu apa yang sedang Alana bicarakan dengan temannya. Sepertinya Alana mendapatkan tawaran pekerjaan tak baik seperti tadi siang. Dan rasanya aku tak rela dia menekuni sesuatu yang akan menghancurkan dunianya. Dia adik Liliana, maka dia adalah adikku juga.
"Mulai besok kamu bekerjalah di klinik Mas." Aku tiba-tiba berbicara seperti itu saat Alana menyudahi obrolannya di telepon.
Tak hanya Alana, Liliana juga terkejut mendengarnya.
"Maksud kamu apa, Mas?" Liliana langsung ingin mendengarkan penjelasanku.
Tampaknya ia tak begitu menyukai ideku.
"Dari pada dia bekerja di luar, lebih baik dia bekerja di klinikku," terangku.
"Tapi dia hanya lulusan SMA, Mas. Dia tak bisa apа-ара. Dia malah akan mengacaukan klinikmu."
"Dia bisa bantu-bantu sebisanya. Dia bisa meringankan pekerjaan Rini."
Liliana serasa tak percaya dengan aku yang begitu yakin atas keputusanku.
"Kamu mau kan, Alana?" Aku menatap Alana.
"Iya, Mas, aku mau." Alana setuju. Bahkan tak ada sedikitpun keraguan di matanya.
Sedang Liliana, kali ini ia bungkam. Karena ia tak punya hak untuk mengacaukan rencanaku.
***
Jam sebelas malam aku masih duduk di depan televisi. Menunggu rasa kantuk yang tak kunjung datang. Mataku menatap ke depan. Tetapi sebetulnya aku tak benar-benar memperhatikan tayangan yang sedang kulihat. Karena menurutku sama sekali tak menarik. Aku hanya iseng. Pikirku dari pada aku berkutat dengan gadgetku.
"Mas Juna belum tidur?"
Terdengar suara Alana. Aku menengok. Aku melihat Alana muncul di ruangan yang saat ini kusinggahi. Ia mengenakan baju tidur terbuka. Wajahnya sedikit memucat karena tak bermake-up. Tetapi menurutku lebih menarik seperti ini. Wajah yang sesuai usianya.
"Belum." Aku sambil tersenyum simpul.
Alana berjalan mendekat. Ikut duduk di sofa yang sedang aku duduki.
"Kenapa belum tidur?"
"Belum mengantuk."
"Padahal ini udah malam."
"Kalau malam Mas memang susah tidur."
"Iya kah?"
"Paling baru terasa ngantuk kalau nanti udah jam satu."
Alana mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku temenin ya?" katanya.
"Kamu nggak ngantuk?"
"Tadi aku udah tidur dari jam sembilan. Terus kebangun. Terus samar-samar denger suara TV. Terus aku keluar deh. Eh, ternyata Mas Juna yang lagi nonton TV."
Aku tersenyum kecil menanggapi penjelasannya.
"Mas Juna lagi liat acara apa?"
"Entahlah ini apa. Mas cuma asal. Nggak ada yang menarik."
"Gimana kalau kita ngobrol
"Ngobrol apa?"
"Ya apapun."
"Mas nggak ada obrolan."
"Aku ingin denger tentang Mas Juna." Aku malah tersenyum menanggapi permintaannya.
"Semua tentang Mas nggak ada yang menarik."
"Bagiku menarik, kok."
Aku menoleh. Serasa tak percaya ada yang berkata seperti ini.
"Gimana kalau Mas Juna nyeritain awal mula kenapa Mas Juna bisa jadi Dokter gigi."
Kali ini aku tertawa.
"Kenapa kamu bertanya hal yang membosankan kayak gitu?"
"Apanya yang membosankan?"
"Itu, pertanyaan kamu. Biasanya kan orang-orang nggak ada yang ingin tahu."
"Aku ingin. Apa alasannya? Kan masih banyak spesialis-spesialis yang lainnya yang bisa Mas Juna ambil. Tentu yang lebih keren dari sekedar Dokter gigi. Misal spesialis jantung, penyakit dalam. Atau, Mas Juna kenapa nggak jadi CEO aja. Atau jadi pilot, atau jadi dosen. Atau yang lebih wow lagi, kenapa nggak jadi artis. Kan secara visual Mas Juna ngedukung banget."
"Serius kamu ingin dengar cerita, Mas?"
"Iya. Buruan ceritain." Alana merubah posisi duduknya jadi menghadap ke arahku. Sangat antusias. Dan aku pun sama juga menghadap ke arahnya. Kini kami sama-sama menyandarkan salah satu lengan di sandaran kursi.
"Dulu waktu SD, Mas pernah pindah ke sekolah baru. Mas mengenal seorang anak. Namanya Ronal, dia satu kelas dengan Mas. Dia selalu menyendiri. Dia duduk di pojokan kelas. Dia seperti terasingkan dari teman-teman yang lain.
"Kadang Mas kasihan sama dia. Dia dibully oleh teman-temannya. Semua orang selalu mengejeknya. Hanya karena dia memiliki gigi yang tak rata. Akhirnya Mas berteman dengannya. Bahkan kami jadi bersahabat.
"Sayangnya saat lulus SD, kita berpisah. Dan ketika Mas masuk SMA, Mas baru melihatnya lagi. Tapi dia sudah tak lagi seperti dulu. Giginya sudah rapi. Penampilannya jauh lebih menarik. Dia jadi begitu percaya diri. Dia tak lagi menyendiri. Dia memiliki banyak teman. Tak ada lagi orang-orang yang bisa mengejeknya.
"Sejak itu lah Mas jadi berpikir, penampilan gigi bisa memperbaiki kepribadian seseorang. Bisa merubah sesuatu dari yang buruk, menjadi lebih baik. Dan Mas jadi beranggapan seorang Dokter gigi ternyata juga bisa membuat sebuah keajaiban. Yang mungkin bagi orang lain adalah sesuatu yang sepele, tapi bagi segelintir orang itu adalah sesuatu yang luar biasa.
"Makanya Mas tiba-tiba memutuskan untuk jadi Dokter gigi. Dokter yang tugasnya memang bukan untuk menyelamatkan nyawa, tetapi untuk menyelamatkan kepribadian seseorang agar bisa lebih percaya diri."
"Kamu bosan ya dengar cerita, Mas?"
"Sama sekali enggak." Alana menggelengkan kepalanya.
"Aku malah jadi semakin kagum sama Mas Juna. Mas Juna keren."
Aku tersenyum. Tetapi sambil menahan wajahku yang terasa memanas.
"Kamu nggak tidur lagi? Ini udah hampir jam dua belas." Aku mengalihkan pembicaraan. Aku sambil menengok jam yang melingkar di tanganku.
"Aku kan udah bilang, aku mau menemani Mas Juna," timpalnya.
"Aku udah terbiasa sendiri."
"Selama ada aku, Mas Juna nggak akan sendiri lagi."
Aku tertawa kecil. Aku tak bisa berkata-kata. Aku tak bisa mengimbangi Alana yang pandai berbicara.
"Mas, aku boleh nanya lagi?"
"Silahkan!"
"Mmm ...." Alana tampak ragu berucap.
"Mas Juna bahagia nggak?"
Deg ....