Yin Chen menemukan papan catur ajaib di hutan bambu—setiap gerakannya mempengaruhi dunia nyata. Saat kekuatan gelap mengancam keseimbangan alam, dia bertemu Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran dan mengetahui bahwa pemain lawan adalah saudara kembarnya yang hilang, Yin Yang. Bersama mereka harus menyatukan kekuatan untuk mengakhiri permainan kuno yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PENEMUAN KUNO DI BALIK BATU
Ketika Yin Chen tiba kembali di lokasi papan catur ajaib, dia menemukan bahwa ada sesuatu yang berubah pada papan tersebut. Cahaya kebiruan yang biasanya terpancar dari permukaan dan bidak-bidaknya kini tampak lebih terang, dan beberapa simbol baru telah muncul di sekitar tepi papan—simbol yang bentuknya mirip dengan tulisan kuno yang pernah dia pelajari dari buku-buku tua di rumahnya. Ia berhenti beberapa langkah dari papan, mengamati setiap perubahan dengan cermat sambil mengocokkan kalung yang baru saja diterimanya dari penduduk desa Wanli. Kalung tersebut mulai bergetar dengan lembut dan cahayanya menjadi semakin terang saat dia mendekati papan.
“Kau kenal tempat ini, bukan?” bisik Yin Chen sambil menatap kalung di lehernya. Ia menyentuh permukaan papan dengan hati-hati menggunakan ujung jari telunjuknya, dan kali ini tidak ada kilatan cahaya yang menyilaukan seperti pada pertemuan pertama. Sebaliknya, dia merasakan aliran energi yang hangat mengalir dari papan ke dalam tubuhnya—energi yang sama dengan yang dirasakan oleh penduduk desa Wanli namun dalam jumlah yang jauh lebih besar dan lebih murni.
Saat dia terus menyentuh papan, gambar-gambar mulai muncul di dalam benaknya—gambar tentang masa lalu yang jauh, ketika manusia masih hidup berdampingan dengan kekuatan alam dan memahami hubungan antara dunia nyata dengan dunia spiritual. Ia melihat bagaimana leluhur manusia telah menciptakan permainan catur ajaib ini sebagai sarana untuk menjaga keseimbangan alam semesta, dengan setiap bidak mewakili sebuah kekuatan alam atau kelompok manusia yang berbeda. Namun gambar-gambar tersebut kemudian berubah menjadi pemandangan yang lebih gelap—pertempuran antar kelompok manusia yang ingin menguasai kekuatan papan untuk kepentingan diri sendiri, yang akhirnya menyebabkan permainan tersebut hilang dan terlupakan selama berabad-abad.
Ketika gambar-gambar tersebut menghilang dan Yin Chen kembali sadar akan sekitarnya, dia menemukan bahwa dia telah jatuh ke tanah dengan tangan masih menyentuh permukaan papan. Keringat menetes di dahinya akibat kekuatan emosional yang dirasakan selama melihat masa lalu yang jauh tersebut. Ia berdiri perlahan, menatap papan dengan pandangan yang kini lebih jelas tentang tujuan sebenarnya dari permainan ini.
“Sekarang aku mengerti,” ucapnya dengan suara yang penuh keyakinan. “Ini bukan sekadar permainan—ini adalah cara untuk menjaga keseimbangan yang telah hilang jauh sebelum aku lahir.”
Ia mulai mengamati setiap bidak pada papan dengan mata yang baru saja terbuka. Bidak putih yang telah dia anggap sebagai pihaknya ternyata mewakili kekuatan alam yang melindungi dan menjaga kehidupan—raja putih mewakili keseimbangan, ratu putih mewakili kecerdasan alam, bidak kuda mewakili kecepatan dan kelincahan, bidak gajah mewakili kekuatan dan ketahanan, bidak benteng mewakili perlindungan, dan bidak pion mewakili harapan dan masa depan. Di sisi lain, bidak hitam mewakili kekuatan yang bisa membawa kehancuran jika tidak terkendali—raja hitam mewakili kekuasaan mutlak, ratu hitam mewakili keinginan yang tidak terbatas, dan bidak-bidak lainnya mewakili berbagai bentuk kekerasan dan kerusakan.
Saat ia sedang mempelajari pola posisi bidak-bidak tersebut, tiba-tiba ada suara langkah kaki yang terdengar dari arah hutan. Suara tersebut tidak seperti langkah kaki hewan liar yang biasanya ditemui di hutan bambu Mengyou—melainkan langkah kaki manusia yang terlatih, dengan irama yang teratur dan jelas menunjukkan bahwa orang tersebut tahu dengan pasti kemana dia sedang pergi. Yin Chen segera mengambil tongkat kayu pendeknya dan bersiap menghadapi datangnya tamu yang tidak diundang.
Dari balik hamparan bambu yang rindang, muncul seorang wanita muda dengan rambut hitam pendek yang diikat rapi di belakang kepala. Dia mengenakan baju lengan panjang berwarna hijau tua dengan aksen emas di bagian tepi, dan sebuah pedang kecil yang tergantung di pinggangnya. Wajahnya yang cantik namun tegas menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang bisa dianggap remeh, dan matanya yang berwarna coklat tua menyala dengan semangat yang kuat saat melihat Yin Chen dan papan catur di depannya.
“Kamu harusnya adalah Yin Chen,” ucap wanita tersebut dengan suara yang jelas dan tegas. “Aku adalah Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran. Kami telah mencari kamu dan papan ajaib ini selama bertahun-tahun.”
Yin Chen tidak menjawab langsung, tetap berada di posisi yang siap menghadapi bahaya jika diperlukan. Ia mengamati gerakan dan ekspresi wajah wanita tersebut dengan cermat, mencoba membaca niat sebenar-benarnya. “Apa yang kamu ketahui tentang papan ini?” tanya Yin Chen dengan suara yang dingin dan hati-hati.
Lan Wei mengambil langkah maju dengan hati-hati, menunjukkan bahwa dia tidak memiliki niat jahat. “Kami tahu bahwa papan ini adalah kunci untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran yang akan datang,” jawabnya. “Leluhur kami telah menyimpan catatan tentang Permainan Cermin—sebuah ritual kuno yang akan kembali muncul saat dunia berada di ambang kehancuran. Kita semua memiliki peran yang harus dimainkan dalam permainan ini, dan kamu adalah satu-satunya orang yang bisa menjadi Pengatur Papan untuk pihak baik.”
Yin Chen mendengarkan dengan saksama setiap kata yang keluar dari mulut Lan Wei. Meskipun dia merasa bahwa wanita tersebut tidak berbohong, dia juga tidak bisa sepenuhnya mempercayainya begitu saja. Setelah bertahun-tahun hidup sendirian di hutan, dia telah belajar untuk berhati-hati terhadap orang asing yang datang dengan berbagai alasan. Namun ada sesuatu dari aura Lan Wei yang membuatnya merasa bahwa mereka memiliki tujuan yang sama—melindungi dunia dari bahaya yang tidak bisa dilihat oleh kebanyakan orang.
“Bagaimana kamu tahu tentang papan ini?” tanya Yin Chen lagi, tetap menjaga jarak yang aman antara mereka berdua.
Lan Wei menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Saya memiliki kemampuan untuk merasakan energi ajaib yang kuat di sekitar saya,” katanya sambil menunjukkan tangannya ke arah papan catur. “Saat energi dari papan ini muncul kemarin malam, saya merasakannya dari jauh dan langsung bergerak untuk menemukannya. Saya tahu bahwa ini adalah papan yang kita cari, dan saya juga tahu bahwa kita tidak bisa menangani ini sendirian.”
Yin Chen terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata Lan Wei. Dia tahu bahwa wanita tersebut benar—sendirian dia tidak akan mampu menguasai kekuatan papan catur ajaib ini dan melindungi dunia dari bahaya yang mengancam. Dia membutuhkan bantuan dari orang lain yang memahami pentingnya tugas ini. Namun dia juga harus berhati-hati agar kekuatan ini tidak jatuh ke tangan yang salah.
“Sit,” kata Yin Chen akhirnya dengan mengangkat tangan ke arah sebuah batu besar yang terletak di dekat papan. “Kita perlu berbicara dengan jelas tentang apa yang kita hadapi dan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Karena apa yang kita putuskan sekarang akan berdampak pada masa depan semua orang di dunia ini.”
Lan Wei mengangguk dengan senyum yang lembut muncul di wajahnya. Dia berjalan ke arah batu yang ditunjuk Yin Chen dan duduk di atasnya, sambil terus menatap papan catur ajaib yang bersinar dengan cahaya kebiruan di tengah hutan yang semakin gelap. Mereka berdua mulai berbicara tentang segala sesuatu yang mereka ketahui tentang papan dan Permainan Cermin, bertukar informasi dan pemahaman tentang kekuatan yang mereka hadapi. Lan Wei memberitahu Yin Chen tentang kelompok Pencari Kebenaran yang telah ada selama berabad-abad, yang bertugas melindungi pengetahuan kuno dan menjaga keseimbangan alam semesta. Dia juga mengatakan bahwa ada kelompok lain yang disebut Gelap Suci yang mencari papan ini dengan tujuan untuk menguasai dunia dengan kekuatan yang diberikan oleh permainan tersebut.
“Saya telah melihat efek dari gerakan bidak hitam kemarin malam,” kata Yin Chen sambil memberitahu Lan Wei tentang kondisi desa Wanli dan penduduknya yang terkena dampak hilangnya energi alam. “Setiap langkah yang diambil pada papan ini memiliki konsekuensi yang nyata di dunia nyata. Kita tidak bisa membiarkan Gelap Suci mengendalikan permainan ini.”
Lan Wei mengangguk dengan wajah yang semakin serius. “Kamu benar,” jawabnya. “Menurut catatan yang kami miliki, setiap ronde permainan akan mempengaruhi dunia dengan cara yang lebih besar dari yang sebelumnya. Jika kita tidak bertindak cepat, maka efeknya bisa menjadi bencana yang tidak bisa diperbaiki.”
Saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba papan catur ajaib mulai bersinar dengan lebih terang dari biasanya. Salah satu bidak hitam—bidak kuda yang terletak di sisi kanan raja hitam—mulai bergerak dengan sendirinya, melompat melewati beberapa bidak putih dan mendarat di kotak yang terletak tepat di depan bidak benteng putih. Gerakan tersebut disertai dengan suara seperti guntur yang jauh dan getaran yang kuat yang dirasakan oleh kedua mereka. Yin Chen merasakan bahwa ada sesuatu yang salah di arah yang berlawanan dengan desa Wanli—seolah-olah sebuah kekuatan besar telah muncul dan mulai menyebabkan kerusakan yang jauh lebih parah.
“Ada yang terjadi di tempat lain,” kata Lan Wei dengan suara yang tegang. “Saya bisa merasakannya—energi yang jauh lebih gelap dan kuat daripada kemarin malam. Kita harus segera mencari tahu apa yang terjadi.”
Yin Chen berdiri dengan cepat, mengambil tongkat kayu pendeknya dan siap untuk bergerak. Dia melihat ke arah papan catur, memperhatikan posisi bidak hitam yang baru saja bergerak. Dari posisinya, dia bisa menebak bahwa lokasi yang terkena dampak adalah dekat dengan kuil kuno yang terletak di lereng gunung sebelah timur hutan—suatu tempat yang juga disebutkan dalam legenda tentang Permainan Cermin.
“Kita harus pergi ke kuil kuno Tianlong,” kata Yin Chen dengan keputusan yang tegas. “Saya merasa bahwa ada jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana kita bisa menghentikan kekuatan gelap ini di sana. Namun saya harus memperingatkanmu—jalan menuju kuil tidak mudah, dan kita mungkin akan menghadapi banyak rintangan di sepanjang jalan.”
Lan Wei juga berdiri, menarik pedang kecil dari sarungnya dan memegangnya dengan erat. “Saya sudah siap menghadapi apa pun yang datang,” jawabnya dengan suara yang penuh keyakinan. “Ini adalah tugas yang telah kami nantikan selama bertahun-tahun, dan saya tidak akan menyerah begitu saja.”
Sebelum mereka berangkat, Yin Chen kembali menyentuh papan catur ajaib dengan hati-hati. Ia merasakan bahwa papan tersebut sedang memberinya pesan—bahwa perjalanan yang akan mereka tempuh tidak hanya untuk melindungi dunia dari kehancuran, tetapi juga untuk menemukan kebenaran tentang masa lalunya sendiri yang masih tersembunyi dalam misteri. Kalung di lehernya kembali bersinar dengan cahaya kebiruan yang lembut, seolah-olah memberikan dukungan dan perlindungan bagi mereka yang akan menghadapi tantangan besar di depan.
Saat mereka berjalan menjauh dari papan catur dan memasuki kedalaman hutan bambu Mengyou yang lebih gelap, bulan mulai muncul dengan jelas di atas kepala mereka, menerangi jalan yang akan mereka lalui. Mereka tahu bahwa perjalanan ini akan menguji batas kemampuan mereka, dan bahwa mereka mungkin akan menemukan kebenaran yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Namun mereka juga tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain maju—karena masa depan dunia yang mereka cintai tergantung pada kesuksesan misi yang akan mereka lakukan.
Di kejauhan, suara angin yang bertiup kencang di antara batang bambu terdengar seperti nyanyian kuno yang menyertai mereka dalam perjalanan, sementara cahaya dari papan catur ajaib masih terlihat bersinar jauh di belakang mereka—sebuah pengingat akan tugas yang berat yang mereka emban dan harapan yang harus mereka jaga untuk masa depan yang lebih baik.