Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI GALAK.
Malam itu Adnan tidak bisa memejamkan mata setelah melihat notifikasi peringatan di ponselnya. Ia segera menghubungi Dion melalui sambungan terenkripsi. Suaranya rendah agar tidak membangunkan Nayla dan Adiva yang sudah terlelap. Setelah Dion memastikan bahwa tim IT telah memperkuat dinding pertahanan sistem rumah dan pendaftaran kuliah Nayla sudah aman, barulah Adnan bisa bernapas lega. Ia baru bisa tertidur saat jam menunjukkan pukul tiga pagi.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan singkat. Dua jam kemudian, sebuah suara cempreng mulai merobek keheningan fajar di vila apung tersebut.
"ByBy! Bangun! Sudah pagi, matahari sudah mau senam aerobik, Biby masih saja molor!" teriak Nayla sambil menggoyang-goyangkan kaki Adnan yang tidak digips.
Adnan mengerang pelan, matanya terasa sangat berat. "Nayla, lima menit lagi. Saya baru tidur dua jam."
"Tidak ada lima menit lima menitan! Ayo bangun, kerjakan kewajiban bapak sama Rabb-nya dulu baru boleh lanjut mimpi jadi superhero! Adiva, ayo bantu Myma bangunkan Papa!" seru Nayla memprovokasi gadis kecil itu.
Adiva yang sudah rapi dengan mukena kecilnya mulai memanjat ranjang dan menepuk-nepuk pipi Adnan. "Papa... ayo... sholat."
Melihat wajah polos Adiva dan mendengar ocehan Nayla yang tidak berhenti seperti burung beo, Adnan akhirnya menyerah. Ia pun bangun dan berpindah duduk di kursi rodanya dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia pergi kekamar mandi. Setelah selesai berwudhu ia bersiap, meski dengan keterbatasan fisiknya, Adnan tetap menjalankan perannya sebagai imam. Di dalam kamar yang tenang itu, suara rendah Adnan saat melantunkan ayat suci membuat suasana menjadi khusyuk, menenangkan hati Nayla yang tadinya berisik.
Setelah selesai, Nayla langsung bersemangat menuju dapur vila. "ByBy istirahat saja di teras, biar chef Nayla yang siapkan sarapan paling spektakuler!" Lalu ia beranjak ke dapur.
Tiga puluh menit kemudian, bau gosong mulai tercium sampai ke teras. Adnan segera memutar kursi rodanya menuju dapur dan menemukan pemandangan yang mengerikan. Roti panggang sudah berubah warna menjadi arang, telur mata sapi bentuknya sudah tidak karuan, dan dapur sudah penuh dengan asap putih.
"Nayla, apa yang kamu lakukan pada dapur cantik ini?" tanya Adnan sambil menepuk keningnya sendiri.
Nayla hanya menyengir polos sambil memegang sutil yang menghitam. "Tadi apinya terlalu semangat, By. Saya cuma mau bikin roti bakar ekstra krispi, eh malah jadi kerupuk karbon. Maaf ya, sepertinya bakat saya memang cuma di makan, bukan masak."
Adnan menghela napas pasrah. "Sudah, jangan dilanjutkan sebelum vila ini terbakar. Saya pesan makanan dari restoran hotel saja." Dan tak berapa lama pesan datang, dan mereka pun sarapan bersama.
Setelah sarapan pagi, Nayla tampak sudah tidak sabar untuk terjun ke pantai. Ia sudah memakai baju renang muslimah yang dipadukan dengan hijab bewarna senada dengan bajunya, dan tak lupa ia memakai topi pantai lebar yang ukurannya hampir menutupi separuh wajahnya nya.
"ByBy, ayo ke pantai! Adiva sudah siap tempur ini!" teriak Nayla sambil membawa pelampung berbentuk bebek.
"Nayla, saya masih mengantuk. Kamu bermain saja berdua dengan Adiva di depan teras," ucap Adnan.
"Nggak mau! Bapak harus ikut! Kalau kami diculik gurita raksasa bagaimana? Ayo By, nanti saya yang dorong kursi rodanya lewat jalur tikus supaya cepat!" Nayla terus mendesak sampai akhirnya Adiva ikut menarik-narik tangan Adnan.
"Ayo, Papa, ayo berenang,"
Adnan tak bisa menolak permintaan si kelcil. Sebenarnya ia masih khawatir dengan ancaman saingan bisnisnya. Maka sebelum turun ke pantai, ia mengirim pesan singkat pada Dion untuk mengirimkan beberapa anak buah tambahan ke pulau ini untuk berjaga-jaga dari jarak jauh. Setelah memastikan keamanan, barulah ia setuju untuk ikut.
Mereka tampak asyik bermain di pinggir pantai yang agak sepi. Nayla sibuk mengubur kaki Adiva dengan pasir putih, sementara Adnan memperhatikan mereka dari kursi rodanya di bawah pohon peneduh. Tiba-tiba, seorang wanita dengan pakaian pantai yang sangat seksi dan kacamata hitam besar berjalan mendekat.
"Adnan? Adnan Hasyim? Benarkah itu kamu?" suara wanita itu terdengar sangat manja.
Adnan menoleh dan seketika wajahnya berubah menjadi sedingin es. Wanita itu adalah Bella Shofie, cinta pertama Adnan yang dulu meninggalkannya demi pria kaya lain tepat sebelum acara pertunangan mereka. Luka yang dibuat Bella dulu adalah salah satu alasan mengapa Adnan menjadi pria yang kaku dan dingin sebelum bertemu Nayla.
Bella membuka kacamata hitamnya, menatap Adnan dengan tatapan penuh kerinduan yang dibuat-buat. "Adnan, aku dengar soal istrimu. Aku turut berduka. Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini. Mungkin ini takdir."
Adnan tidak menjawab, ia hanya menatap Bella dengan tatapan muak. Bella yang merasa mendapatkan panggung langsung berlutut di samping kursi roda Adnan, memegang tangan Adnan dengan lembut.
"Adnan, aku menyesal dulu meninggalkanmu. Pria itu ternyata jahat. Aku sadar hanya kamu yang tulus mencintaiku. Bisakah kita mulai lagi dari awal? Aku berjanji akan menjagamu dan Anak kamu," ucap Bella dengan suara yang hampir menangis.
Nayla yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan mulai merasakan suhu tubuhnya naik. Ia segera berdiri, membersihkan pasir dari tangannya, dan berjalan menghampiri mereka dengan gaya seperti bos preman.
"Heh, Mbak yang bajunya kurang bahan! Lepaskan tangan suami saya sekarang juga!" bentak Nayla tanpa basa-basi.
Bella menoleh, menatap Nayla dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Siapa kamu? Pembantu baru Adnan? Tolong jangan ganggu momen pribadi kami."
Nayla tertawa sumbang, tawa yang membuat Adnan diam-diam merasa bangga. Tanpa peringatan, Nayla mendorong bahu Bella sampai wanita itu terjatuh terduduk di atas pasir.
"Aduh! Kamu kasar sekali!" teriak Bella sambil meringis.
Nayla berkacak pinggang di depan kursi roda Adnan, menghalangi pandangan Bella. "Saya istrinya, Mbak! Istri sah, dunia akhirat, dan tercatat di kartu keluarga! Perlu saya tunjukkan buku nikah saya yang tebal itu?!"
"Istri? Adnan, kamu menikahi anak kecil seperti ini?" tanya Bella tidak percaya.
"Biar kecil tapi cabe rawit, Mbak! Daripada Mbak, sudah besar tapi nggak tahu malu mengemis sama suami orang! Dengar ya, Adnan Hasyim ini sudah ada pemiliknya. Dan pemiliknya itu galak, persis anjing herder yang belum makan tiga hari! Kalau Mbak berani sentuh ByBy saya lagi, saya pastikan Mbak pulang dari pulau ini tanpa bulu mata palsu!" cerocos Nayla dengan ceplas-ceplos.
Adnan yang melihat itu malah tersenyum tipis. Ia senang melihat Nayla yang biasanya tidak peduli, kini nampak sangat cemburu dan posesif.
"Bella, sebaiknya kamu pergi. Apa yang dikatakan istriku itu benar. Saya tidak punya waktu untuk masa lalu yang sudah saya buang ke tempat sampah," ucap Adnan tegas.
Bella berdiri dengan wajah merah padam karena malu dilihat oleh beberapa pengunjung lain. "Kamu akan menyesal, Adnan! Anak kecil ini tidak akan bisa mengurus kamu sesempurna aku!"
"Halah, mengurus apa? Mengurus dompet pak Adnan maksudnya? Sudah sana pergi! Hus! Hus! Jangan sampai saya panggilkan hiu buat makan Mbak!" usir Nayla sambil menggerakkan tangannya seperti mengusir ayam.
Setelah Bella pergi dengan langkah seribu, Nayla berbalik menghadap Adnan. Napasnya masih memburu karena emosi. "ByBy! Kenapa diam saja tadi dipegang-pegang begitu? Keenakan ya dilihatin sama Mbak-mbak seksi?"
Adnan menarik tangan Nayla, menariknya hingga Nayla terduduk dipangkuan Adnan, hingga jarak sangat dekat dengannya. "Kamu cemburu, Nayla?"
"Iikh, apaan sih Byby? Cemburu? Mana ada! Saya cuma menyelamatkan reputasi keluarga Hasyim supaya nggak dikerubuti lalat hijau seperti dia!" bantah Nayla sambil ia membuang muka, meski pipinya sudah merah merona.
"Terima kasih sudah menjaga saya, ya Istri Galak," bisik Adnan sambil terkekeh pelan.
Nayla tersentak ia bangkit dari pangkuan Adnan. "Sama-sama! Tapi kalau ada yang begitu lagi, saya nggak mau pakai tangan kosong. Saya mau pakai semprotan merica biar dia tahu rasa!" balas Nayla yang kembali ke mode tengilnya.
Adiva menghampiri mereka sambil membawa ember pasir. "Papa... Myma... ayo main."
Adnan menatap kedua wanitanya itu dengan perasaan lega. Namun di kejauhan, Bella Shofie tidak benar-benar pergi. Ia berdiri di balik pohon kelapa sambil memegang ponselnya. Ia mengambil foto Adnan dan Nayla dengan wajah penuh dendam.
"Kita lihat saja nanti, anak kecil. Aku tidak akan membiarkanmu memiliki Adnan sesederhana itu," gumam Bella jahat.
Ternyata, ancaman bukan hanya datang dari saingan bisnis, tapi juga dari masa lalu yang belum terselesaikan. Liburan yang seharusnya tenang kini mulai dibayangi oleh intrik baru yang lebih personal.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥