Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Jejak di gudang tua
Langit sore tampak kelabu ketika aku dan Raka meninggalkan rumah. Angin berembus cukup kencang, menggoyangkan ranting-ranting pohon di sepanjang jalan menuju pinggiran kota. Catatan kecil dari ayah masih kupegang erat di tangan.
Satu kata.
Danau.
Tetapi sebelum kami pergi ke sana, Raka bersikeras untuk memeriksa satu tempat lain terlebih dahulu.
“Gudang tua di kawasan pelabuhan,” katanya sambil menyalakan motor. “Ayah pernah menyebut tempat itu ketika membahas kasus lama.”
Aku mengingat percakapan itu. Beberapa hari lalu ayah mengatakan bahwa ada transaksi mencurigakan yang sering terjadi di sana dua puluh tahun lalu.
“Tempat penyimpanan barang lama,” kata ayah waktu itu. “Tapi beberapa orang menggunakannya untuk hal lain.”
Motor melaju melewati jalan yang semakin sepi. Rumah-rumah mulai jarang terlihat, digantikan oleh bangunan gudang tua yang sebagian besar sudah tidak terpakai.
Akhirnya kami berhenti di depan sebuah bangunan besar dengan dinding kusam dan pintu besi berkarat.
Gudang itu tampak kosong.
Namun justru itulah yang membuatnya terasa mencurigakan.
“Ayah mungkin pernah ke sini semalam,” kata Raka.
Aku turun dari motor dan menatap pintu gudang yang setengah terbuka.
Angin yang masuk membuatnya berderit pelan.
“Kalau kita masuk,” kataku pelan, “kita harus siap dengan apa pun yang ada di dalam.”
Raka mengangguk.
“Sudah terlambat untuk mundur.”
Kami masuk perlahan.
Udara di dalam gudang terasa lembap dan berbau kayu lapuk. Cahaya matahari yang masuk dari celah-celah atap menciptakan garis-garis terang di lantai beton yang berdebu.
Kotak-kotak kayu tua tersusun di beberapa sudut ruangan.
Sebagian sudah rusak.
Sebagian lagi tampak seperti belum pernah disentuh selama bertahun-tahun.
“Lihat ini,” bisik Raka.
Di lantai dekat pintu ada bekas jejak sepatu di atas debu tebal.
Jejak itu masih cukup jelas.
Artinya seseorang baru saja melewati tempat ini.
“Mungkin semalam,” kataku.
Kami mengikuti jejak itu perlahan menuju bagian dalam gudang.
Setiap langkah membuat suara gema kecil di ruangan kosong itu.
Jantungku berdegup lebih cepat.
Entah karena gugup atau karena perasaan bahwa kami sedang diawasi.
Jejak itu berhenti di dekat sebuah meja kayu tua.
Di atas meja ada beberapa benda.
Lampu senter.
Botol air.
Dan sesuatu yang membuat napasku tercekat.
Dompet kulit milik ayah.
“Astaga…”
Aku segera mengambilnya.
Di dalamnya masih ada kartu identitas ayah.
Tidak ada tanda-tanda dompet itu dirampok.
“Kalau dompetnya tertinggal di sini…” kata Raka perlahan.
“Berarti sesuatu terjadi.”
Aku mengangguk.
Ayah tidak mungkin meninggalkan dompetnya begitu saja.
Kami terus memeriksa sekitar meja.
Ada beberapa kertas berserakan di lantai.
Sebagian tampak seperti potongan dokumen yang sengaja dihancurkan.
Raka memungut salah satunya.
“Ini bagian dari map merah.”
Aku melihat potongan itu.
Tulisan yang tersisa hanya sebagian.
Tetapi cukup untuk membuatku mengenali satu nama.
Nama seorang pengusaha besar di kota ini.
Orang yang selama ini sering muncul dalam berita.
Orang yang juga disebut-sebut dalam catatan ayah tentang kasus lama.
“Berarti ayah memang bertemu seseorang di sini,” kataku.
“Tapi pertemuan itu tidak berjalan baik.”
Tiba-tiba terdengar suara logam jatuh di bagian belakang gudang.
Kami berdua langsung menoleh.
“Siapa di sana?” teriak Raka.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin yang masuk melalui celah-celah dinding.
Kami saling berpandangan.
Perlahan kami berjalan menuju arah suara tadi.
Langkah kami hati-hati.
Semakin jauh ke dalam gudang, cahaya semakin redup.
Akhirnya kami sampai di sebuah ruangan kecil yang dipisahkan oleh dinding kayu.
Pintunya setengah terbuka.
Raka mendorongnya perlahan.
Di dalam ruangan itu hanya ada beberapa kursi tua dan meja kecil.
Tetapi ada sesuatu di lantai.
Tali plastik.
Dan bekas goresan di lantai beton.
Seolah seseorang pernah diikat di sana.
Perutku terasa mual.
“Jangan bilang…”
Raka berjongkok memeriksa lantai.
Ada noda gelap yang sudah mulai mengering.
Bukan darah.
Tapi cukup untuk membuat situasi terasa semakin buruk.
“Ayah mungkin ditahan di sini,” katanya.
Aku menatap ruangan sempit itu dengan perasaan campur aduk.
Marah.
Takut.
Dan semakin yakin bahwa seseorang memang sengaja menculik ayah.
Saat kami hendak keluar dari ruangan itu, Raka tiba-tiba berhenti.
“Dengar.”
Aku menahan napas.
Suara mesin mobil.
Di luar gudang.
Kami berlari ke pintu depan dan mengintip melalui celah.
Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari pintu gudang.
Dua pria turun dari mobil itu.
Tubuh mereka besar.
Wajah mereka tertutup topi.
“Sepertinya mereka kembali,” bisik Raka.
“Untuk memastikan tempat ini bersih.”
Jantungku terasa seperti berhenti berdetak.
Jika mereka menemukan kami di sini....
Kami berada hanya beberapa meter dari orang-orang yang menculiknya.
Aku hampir bisa mendengar napas mereka.
Dari celah di antara peti kayu tua, aku melihat sepatu hitam salah satu pria itu melangkah perlahan di atas lantai beton yang berdebu. Setiap langkahnya meninggalkan jejak baru di atas jejak lama yang tadi kami ikuti.
Raka mencengkeram lenganku erat. Tangannya dingin, tapi genggamannya kuat seolah mengingatkanku untuk tetap diam.
“Bos bilang jangan tinggalkan apa pun,” kata salah satu pria dengan suara rendah.
“Termasuk dompetnya?”
Aku menahan napas.
Pria lain tertawa kecil. “Dompet? Ah, sial… mungkin jatuh waktu kita tarik dia kemarin.”
Jantungku berdegup semakin kencang. Mereka memang membawanya dari sini.
“Cari saja cepat,” lanjut pria itu. “Kalau ada orang lain yang datang ke sini, kita bisa dalam masalah.”
Langkah mereka semakin dekat ke arah meja tempat kami tadi menemukan dompet ayah.
Aku menatap Raka.
Matanya tajam, berpikir cepat.
Kalau mereka menemukan dompet yang sudah berpindah tempat dimana mereka akan tahu ada orang lain di gudang ini.
Suara kursi kayu bergeser.
“Di sini kosong,” kata salah satu dari mereka.
“Coba periksa ruangan belakang.”
Aku merasakan napasku tercekat.
Ruangan belakang.
Tempat kami baru saja berdiri beberapa menit lalu.
Jika mereka ke sana, mereka mungkin akan menemukan bekas kaki kami.
Raka perlahan meraih sebuah potongan kayu kecil di lantai.
Aku menatapnya bingung.
Ia memberi isyarat dengan matanya.
Lalu, dengan gerakan cepat namun hati-hati, ia melempar potongan kayu itu ke arah sisi lain gudang.
Brak!
Suara benda jatuh menggema di ruang besar itu.
“Siapa di sana?!” teriak salah satu pria.
Langkah mereka langsung berlari menuju arah suara.
Kesempatan itu hanya berlangsung beberapa detik.
“Sekarang,” bisik Raka.
Kami merayap keluar dari balik peti kayu dan bergerak cepat menuju pintu samping gudang yang tadi kami lihat setengah terbuka.
Langkah kami hampir tak bersuara di atas lantai berdebu.
Di belakang kami, suara pria-pria itu masih terdengar.
“Tidak ada siapa-siapa di sini!”
“Tunggu… aku dengar sesuatu tadi!”
Aku tidak berani menoleh.
Pintu samping hanya beberapa meter lagi.
Raka mendorongnya perlahan.
Engselnya berderit pelan.
Aku menahan napas.
Untungnya suara itu tertelan oleh gemuruh langkah kaki para pria di sisi lain gudang.
Begitu pintu terbuka cukup lebar, kami menyelinap keluar.
Udara luar terasa jauh lebih segar.
Tetapi kami tidak berhenti.
Kami berlari menyusuri sisi bangunan menuju deretan kontainer tua yang berkarat di dekat pelabuhan.
Setelah cukup jauh, kami berhenti di balik salah satu kontainer besar.
Napas kami terengah-engah.
“Gila…” bisikku.
Raka mengusap keringat di dahinya.
“Sedikit lagi kita ketahuan.”
Dari kejauhan kami masih bisa melihat pintu gudang.
Dua pria itu kini keluar dari dalam.
Mereka tampak berbicara dengan gelisah.
Salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel.
“Sepertinya mereka mulai curiga,” kata Raka pelan.
Aku mengangguk.
“Tapi sekarang kita tahu sesuatu yang penting.”
“Bahwa ayah masih hidup,” tambah Raka.
Kata-kata itu membuat dadaku terasa sedikit lebih lega.
Setidaknya mereka tidak menyebut sesuatu yang buruk.
Mereka mengatakan orang tua itu sudah kita bawa.
Artinya ayah masih menjadi tawanan.
Dan itu berarti masih ada kesempatan untuk menyelamatkannya.
Kami menunggu sampai mobil hitam itu akhirnya pergi meninggalkan gudang.
Baru setelah suara mesinnya benar-benar menghilang di kejauhan, kami keluar dari tempat persembunyian.
Langit kini mulai berubah menjadi jingga gelap.
Senja hampir berakhir.
“Sekarang apa?” tanyaku.
Raka berpikir sejenak.
“Gudang ini bukan tempat mereka menyimpan ayah.”
“Ini hanya tempat pertemuan.”
Aku mengingat kembali potongan dokumen yang kami temukan.
Nama besar itu.
Pengusaha yang selama ini sering disebut ayah dalam catatan kasus lama.
“Kalau dia terlibat,” kataku perlahan, “berarti semua ini jauh lebih besar dari yang kita kira.”
Raka mengangguk.
“Dan lebih berbahaya.”
Kami kembali ke motor yang diparkir di balik semak-semak.
Namun sebelum menyalakan mesin, Raka tiba-tiba berhenti.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
Ia membuka dompet ayah sekali lagi.
Di balik salah satu lipatan kecil, ada sesuatu yang tadi tidak kami perhatikan.
Selembar kertas kecil yang dilipat sangat rapi.
Raka membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya ada dua baris tulisan tangan ayah.
Tulisan yang tergesa-gesa.
Jika sesuatu terjadi padaku…
Cari kunci di tempat yang tidak pernah mereka pikirkan.
Aku mengerutkan dahi.
“Kunci apa?”
Raka menatapku.
Lalu perlahan senyum tipis muncul di wajahnya.
“Ayah selalu menyembunyikan barang penting di tempat yang paling sederhana.”
“Contohnya?”
Ia menatap ke arah kota yang mulai diselimuti cahaya lampu malam.
“Rumah.”
Aku langsung mengerti.
Ayah mungkin telah meninggalkan sesuatu di sana.
Sesuatu yang tidak sempat ia berikan kepada siapa pun.
Sesuatu yang mungkin menjadi kunci untuk menemukan di mana ia disekap.
Raka menyalakan motor.
Mesinnya meraung pelan.
“Kita pulang,” katanya.
Aku naik ke belakang motor dengan perasaan campur aduk.
Ketakutan masih ada.
Bahaya semakin nyata.
Tetapi sekarang kami memiliki jejak baru.
Petunjuk baru.
Dan yang paling penting....
harapan baru bahwa ayah masih bisa diselamatkan.
Namun jauh di dalam hatiku, ada perasaan lain yang sulit diabaikan.
Karena jika para penculik itu sampai mengetahui bahwa kami sudah mulai mengikuti jejak mereka
maka perburuan ini tidak hanya akan berakhir dengan menemukan ayah.
Tetapi juga bisa berakhir dengan kami menjadi target berikutnya.
kami mungkin akan bernasib sama seperti ayah.
Langkah kaki mereka mulai mendekat ke arah pintu gudang.
Debu berterbangan ketika pintu besi didorong sedikit.
Cahaya sore masuk lebih terang.
Dan bayangan dua pria itu memanjang di lantai gudang.
Raka menggenggam lenganku erat.
“Jangan bergerak,” bisiknya.
Kami bersembunyi di balik tumpukan kotak kayu tua, menahan napas.
Suara langkah kaki mereka semakin dekat.
Salah satu dari mereka berkata pelan,
“Bos bilang pastikan tidak ada yang menemukan tempat ini.”
Yang lain tertawa pendek.
“Tenang saja. Orang tua itu sudah kita bawa. Tidak mungkin ada yang tahu.”
Darahku terasa membeku.
Mereka memang membawa ayah.
Dan sekarang...
kami berada hanya beberapa meter dari orang-orang yang menculiknya.